Lintang Alihan

Cerita No Comments

Hawa adhem iki sajake wis ora kena dipenggak maneh, siji mbaka siji pori-pori kulitku wis lekas ngrasake remasuke hawa adhem iki. Mendhung wis sumilak na langit sak ndhuwurku. Lintang-lintang wis tumata kaya adat sabene, kepara endah lan peni ngrenggani wengi iki.

Tanduran-tanduran ana tengahing sawah wis padha mari rasa ngelake sawise sauntara tak grojok banyu kalen. Swarane kompa banyu isih keprungu gumrenggeng ing sapinggiring kalen, mbuh wis pirang ewu liter banyu sing disok glogok na kedhokan.

Tak benakke kethu sing na sirahku ra ketang nampeg angin sing mlebu kuping kanggo ngurangi atising wengi iki. Ora lali rokok sak pak kanggo kanca cangkem ben e ora patia blangkemen banjur tak sumet. Sedhal-sedhul dhewekan ana pinggiring dalan, dengkul tak tekuk sinambi lungguh leyeh-leyeh ngenteni banyu.

Dumadakan tak sawang ing langit lor katon cemlorot sakeplasan lintang alihan. Padhang lan dawa buntute, kaya-kaya cemetine Ki Ageng Sela sing di gawe saka thathit di seblake na punjering bawana iki. Sauwen-uwen agek iki aku ngerti lintang alihan sing gedhene kaya iki mau, biasane buntute mung cilik wae tur ya ora pati padhang . Dawane lintang alihan ik mau kira-kira ping telune dawane lintang gubuk penceng. Wah nek di sawang ya pancen endah tur niggalke rasa sing rada was-was,gek-gek mengko ana apa-apa. Jare wong tuwa nek ana lintang alihan ki mengkone ana pageblug gedhe.

Aku banjur kelingan biyen pas jaman isih rame-ramene lindhu tur bebarengan pisan karo gegering Gunung merapi sauntara wektu wingi kae. Aku isih kelingan, ana caya padhang ana langit sisih kulon, caya warna putih memplak tur padhang mlaku ngidul. Gedhene mbokmenawa kaya lampu sewu watt-an di sawang sekitar sepuluh meteran. Mbokmenawa apa iki ya sing diarani ndaru, iya iki sing jenenge ndaru, ora salah maneh. Muga-muga iki pertandha apik wae ngono cekaking pikirku.

Pancen ya percaya ra percaya, sarehne ndaru kuwi mau katon kahanan ya katon luwih tentrem, ateges ora let suwe geger lindhu karo gunung Merapi wis rada lerem sajake. Ndaru kanggone wong jawa jare pancen lambang kanugrahan nganti ana unen-unen ‘kaya ketiban ndaru’ kae aeges oleh kabegjan,oleh kamulyan lan sakpiturute.Nanging nek lintang alihan iki mau jan ninggal cingak lan kagol ing pikiranku ora beda karo pas nengahi nyawang ndaru biyen. Mbuh iki sing jenenge firasat apa apa aku dhewe ya ora pati dhong, aku dhewe dudu wong sing weruh sak durunge winarah. Mbuh, ya mung Gusti Allah sing kuwasa sing pirsa apa sing bakal kelakon. Muga-muga kabeh padha waras-wiris ora ana gudha lan rubeda sing banget nyengsarake ing tembe.

Misteri Perut Buncit

Cerita No Comments

Bagi kaum pria masalah perut buncit adalah sesuatu yang misterius jikalau ini dipikirkan, tetapi kalau tidak dipikirkan bukanlah suatu hal yang misterius lagi, bahkan bisa berubah menjadi sesuatu hal yang menggelikan.

Bukan merupakan suatu rahasia bagi kaum lelaki jikalau umur sudah menginjak umur 25 ke atas urusan perut ini kadang menjadi suatu bahan obrolan yang menarik. Meski kadang sedikit ‘main fisik’ bisa di bilang bukan sesuatu hal dan lelucon yang berlebihan.

Sebuah teori meluncur dari kakakku seorang jebolan mesin UNS beberapa waktu hari yang lalu. Kata dia bahwa ketenangan otak ini berbanding lurus dengan buncitnya perut. Semakin otak atau pikiran kita ini nyaman dan tentram maka kemungkinan untuk mendapati perut buncit itu semakin besar.

Asumsi itu ada karena latar belakang dia adalah seorang wiraswasta. Ketika seseorang mempunyai penghasilan yang sudah bisa dipastikan setiap bulannya maka seseorang itu kecenderungan untuk merasa nyaman sangat besar, lain halnya dengan seorang wiraswasta yang harus setiap saat berusaha bagaimana caranya usaha dia berkembang terus.

Kalau di pikir sebenarnya kerja otak yang sangat keras akan lebih fatal daripada kerja fisik dengan porsi yang sama. Hal ini ada pembatasan masalah bahwa sebuah aktifitas semisal fitnes dan olah raga tidak dilakukan secara rutin.

Dia berasumsi seperti dia itu karena adanya sebuah bukti dan pembenaran ketika ada perubahan yang sangat kentara, terlihat dari tubuhnya yang kliatan lebih kurus dari pada sebelum dia banting stir jadi wiraswasta.

Nah berbicara masalah perut buncit ndhak ada salahnya kita tengok beberpa tipe-tipe perut yang beredar di masa-masa sekarang ini. Berikut ini adalah macam-macam perut yang bisa dilihat dari laki-laki, menurut saya ada tiga kategori, dan ini tidak mutlak, sampeyan-sampeyan bisa nambahi juga :

Perut six pack

Ini bentuk perut yang ideal indah dipandang dan nyaman bagi yang mempunyai. Contohnya bisa di lihat di iklan Elemen. Asupan gizi yang seimbang dan latihan yang tepat dan kontinyu adalah jalan yang tepat mendapatkan keidealan seperti ini

Perut pelampung
Ini adalah fenomena melipatnya perut secara horisontal dan banyak ditemui di kalangan teman-teman sekitar. Banyaknya pelampung/lipatan ini macem macem ada yang satu, dua , tiga bahkan enam(ini yang istrimewa, mawuuut!!! :P ). Di tinjau dari asupan gizi sebenarnya perut jenis pelampung ini mencukupi, tetapi kurangnya olahraga dan latihan yang tepat membuat pendistribusaian gizi tidak merata, walhasil hanya menumpuk pada organ perut saja.

Perut One Pack
Alias perut yang murni buncit bisa dikarenakan bawaan badan yang gemuk. Tetapi ini bisa saja menimpa seseorang yang tadinya kurus kemudian menjadi gemuk. Seringnya pengambilan posisi duduk adlaha yang mempengaruhi tulang belakang menjadi penyebab kenapa perut ini tidak melipat dan menjadi pelampung. Tetapi kemungkinan yang lain adalah bahwa sang empunya perut terkena cacingan atau bahkan gizi buruk yang sedang merajalela hehehehe.

Ada seorang yang rajin ibadah, menyarankan sampeyan kalo sujud itu yang agak lama dan yang tuma’ninah mas,insyaallah nanti perut buncit bisa tereduksi. Wah ini ndhak tahu lagi ilmu dari mana asalnya tapi jikalau di renungkan ya cukup masuk akal juga.Logis.

Akhir kata saya hanya bisa berkata, perut itu hanya instrumen dan semoga saja kita tidak tertipu oleh yang namanya instrumen itu. Alat yang seharusnya membantu tidak selayaknya menjadi beban, perkara bentuknya buncit atau apalah itu,itu nomer sewidak(bc:60) njaran.

Pasrah

Cerita No Comments

Lingkaran kejadian yang akhirnya singgah di kepalaku menyatakan bahwa selama ini banyak hal yang menurutku menuntunku ke jalan yang tak akan aku kira sebelumnya. Semua begitu runtut dan teratur dalam perjalanannya. Sebuah ketidaksengajaan yang selalu berakhir dengan diselingi rasa takjub di hati. Kurasakan ada sebuah tangan yang menuntunku meski aku tak tahu dimana tangan itu berada.

Kulangkahkan kakiku dengan sadar dan sesadar-sadarnya orang menuju tujuan.
Tetapi dengan seiring waktu berjalan kesadaran ini mulai menuntunku kearah yang berbeda jauh dengan apa yang kusadari sejak awal. Sekuat apapun aku melawannya aku tak kuasa menahan kesadaran dan kenyataan itu. Semakin aku berusaha menolak semakin lebih besar pula rasa menghujam kembali kepadaku.

Sebuah kekuatan yang memaksa aku harus bertekuk lutut. Pembelokan-pembelokan arah dan tujuan yang sangat pelan tetapi pasti disertai visi yang menakjubkan. Sebuah kejadian yang kecil dan tidak berarti bisa menjelma menjadi sebuah kejadian yang sangat berarti,dalam hal ini bukan aku melebih-lebihkan sesuatu dengan buaian pikiran dan imaji. Akan tetapi yang aku lihat begitu jelas penggambarannya dan aku tak bisa menyangkal dan mengelak meski hanya dalam bersitan pikiranku.

Akhirnya aku pasrah dan harus menyadari bahwa ketidaksengajaan-ketidaksengajaan itu sebenarnya adalah sesuatu yang sangat disengaja. Kebanyakan kesadaran itu akan muncul beberapa waktu kemudian atau pada saat itu juga ketika mengalami kejadian itu. Sungguh aku tak berolok-olok sedikitpun tentang hal ini.

Sarapan Pagi

Cerita No Comments

Panas matahari belum seberapa menyengat kulit,namun bagi sebagian orang ini sudah kelewat panas. Tanpa satupun penghalang antara kami berdua dengan matahari. Terik matahari begitu bebas menembus dan mendarat dikulit ini.Di pematang, pembatas antara sawah satu dengan sawah yang lainnya kami duduk mungunggu sarapan yang diantar.

Duduk disebelahku seorang tua dengan penampilan sederhana dan bersahaja. Peluh bercucuran di sekujur tubuhnya, Membuat baju kumalnya yang tipisnya basah akan keringat. Sekilas tangannya cekatan mengeluarkan bungkusan tembakau yang dibawanya dari rumah. Di jumputnya beberapa tembakau dan tidak lupa cengkeh sebagai bumbu penyedap rokok buatannya. Kertas rokok kecil yang wangi dan tentu saja beraroma manis tempat menaruh tembakau dan cengkeh tadi digulungnya dengan trampil. Sebentar saja rokok buatanya sudah jadi dan mulai disulutnya,sshshshh.. fuuuhhh… terdengar kenikmatan menghembuskan asap rokok yang habis dihisapnya barusan,asap berwarna biru mulai membubung tinggi keluar dari mulut.

“rokok lho Le,ning nglintinga dhewe ya?” katanya menawarkan kepadaku
“nggih maturnuwun, niki sampun wonten kok” tolakku halus,sambil ku rogoh saku celanaku dan mengambil rokokku sendiri.

Lelaki tua ini selama hidupnya adalah sebagai petani, seorang lelaki yang seumur-umur tidak akan pernah merasakan yang namanya internet, apalagi dengan fasilitas Wi-Fi. Seseorang yang selamanya tidak akan merasakan nikmatnya subsidi BBM karena selamanya dia tidak akan bisa membeli apa yang dinamakan kendaraan bermotor.Sebagai petanipun bukanlah petani yang menggarap sawah miliknya sendiri melainkan menggarap sawah milik orang lain. Petani seperti inilah yang dinamakan petani penggarap.

Tapi lelaki tua ini bagiku sangatlah bijaksana, bagiku dia adalah seorang guru. Guru, guru bagiku adalah seseorang yang lebih daripada mengajar dan melebihi seseorang yang namanya pengajar, kalo di bahasa inggris dinamakan teacher kalo tidak salah. Teacher atau pengajar hanyalah seorang yang hanya mengajarkan teknis dari sesuatu tanpa membubuhinya dengan nilai nilai sosial yang terkandung didalam ajarannya. Sedangkan guru pasti tidak akan lupa menyelipkan sebuah nilai-nilai meski kadang nilai-nilai yang disampaikan bertentangan dengan kehidupan sosial ada, tetapi bukan bermaksud agar melakukannya,tetapi lebih karena agar bisa menjauhi dan tidak melakukannya.Dan sebagai guru tentu saja dia adalah ahli dibidangnya.

Guru menurut orang jawa itu digugu lan ditiru yang artinya dituruti dan dikuti meski kadang-kadang ada orang memlesetkan guru itu sebagai kepanjangan dari wagu tur saru-ini kerjaan orang-orang iseng pastinya.

Sementara itu dari kejauhan seseorang menenteng tas dari plastik berwarna biru menuju kearah kami berdua. Tampaknya laki-laki kecil itu agak keberatan dengan tas yang dibawanya apalagi berjalan di sebuah pematang yang kebetulan terlalu kecil untuk ukuran sebuah jalan. Untuk berjalan di sebuah pematang keseimbangan sangat diperlukan .

Demi melihat ia begitu kewalahan aku mulai menjemputnya. Setelah pembicaraan kecil yang tidak begitu penting dia berpamitan pada kami berdua.

Jatah makan telah tiba, saatnya pesta pora. Kubuka dengan hati hati tas itu setelah tiba di tempat kami berdua kami duduk. wah, dua buah rantang berisi nasi dan sebuah tempe dan sebuah tahu. Rantang yang lainnya berisi sayur tahu dan kulit melinjo dengan kuah santan. Tapi nampaknya sayur ini umurnya sudah lebih dari dua hari karena kuah di sayur ini hampir habis tak bersisa karena beberapa kali proses penghangatan, dan justru akan menambah gurih rasa sayur ini. Sebuah plastik berisi krupuk beras yang sering disebut karak menemani makan kami dengan suara renyahnya dan gurihnya rasa. Tidak lupa seceret berisikan air teh dan dua gelas yang sudah diisi dengan gula pasir, menjamin kami tidak kehausan sampai siang nanti.

Rokok ditangan kami berdua masih separo dan terpaksa acara menghisap tembakau ini berhenti sejenak dan akan diteruskan nanti setelah acara sarapan pagi selesai. Kutaruh rokokku di atas rumput.

“Mangga pun dhahar mbah, sawontene” kataku mempersilakan
“Ya wis, ayo ndang dipangan wae” sahutnya
“Karake niki mbah” seraya menwarakan bungkusan krupuk beras tadi.
“Ndi gawanen mrene”

Kami makan dengan nikmatnya, tangan dan badan yang kotor tidak menjadi halangan dan alasan untuk tidak melahap sarapan pagi ini. Kadang cukup dengan cuci tangan di kali atau sungai  yang menurut sebagian orang diragukan kebersihannya, tetapi menurut simbah dan aku  justru imune atau daya tahan tubuh akan penyakit semakin bertambah dan tidak akan mudah terserang penyakit. Buktinya dia sehat walafiat meski kebiasaan sering dilakukan tiap hari dan bahkan jarang terkena penyakit2 yang aneh-aneh.

Syarat syahnya makan nikmat itu menurut simbah ini hanyalah satu, lapar. Apapun makanannya jikalau lapar pastilah enak. Kebersihan dan yang lainnya itu nomor dua. Dan yang pokok halal, cukup.

Suasana makan seperti ini hanya akan anda temui hanya ketika anda makan disawah saja. Tidak akan anda temui di McDonald, di Starbuck, yang saya sendiri nggak akan pernah tahu apa yang namanya Starbuck(atau Starbug…) itu atau di resto-resto mewah dengan harga makanan yang serba mahal. Hamparan langit biru nan luas menghampar di atasku dengan hiasan sedikit awan putih yang menyerupai lintasan dari pesawat jet. Hamparan hijau tanaman sawah turut menyejukan mata. Angin yang bertiup menyegarkan badan yang bersimbah air keringat. Panas terasa menyapa hangat dikulit,panas yang sehat yang kaya akan vitamin D, katanya, ini baru katanya. Jikalau beruntung semut api sawah menyapa telapak kaki dengan sengatan yang rasa sakitnya tidak akan hilang dalam waktu semalam.

“Le, kowe gelem lawuh enak tur gratis, ning kowe kudu golek bagor utawa goni dhisik, soale lawuhe iki mlayu-mlayu” kata mbah ini kepadaku sambil mengunyah nasi di mulutnya
“Lha lawuh napa ta mbah kok ndadak butuh goni, tur lawuh kok isoh mlayu-mlayu niku?” jawabku
“Lha kae, sawangen kidul sawah kae…”tangannya menunjuk kearah selatan
“Pundi ta mbah” tanyaku agak kebingungan
“Halah.. kae apa, sing mangani tanduran nggone pakdhe Kardi kae…” tangannya kembali menunjuk dua ekor ayam yang mulai memakan daun jagung di sawah pakdhe Kardi.
“Husssah….ssahhh” teriak mbah sambil mengambil sebongkah tanah kemudian dilemparkan ke kedua ekor ayam tersebut.

Grossak..!!! suara bongkahan tanah mendarat diantara tanaman jagung yang mulai setinggi lutut.Keok-keoook, keeeook demikian suara kedua ayam tersebut mengikuti mendaratnya bongkahan tanah yang mendarat ditubuh kedua ekor ayam tersebut.

“Hahahaha Njenengan niku lo mbah, wong pitik golek pangan kok diarani lawuh niku nek ra Njenengan napa nggih enten ta mbah..mbah..”Tawaku tak bisa kutahan lagi,hampir saja aku tersedak.

“Lha iya ngono, pitik ra urus we, mangani tandurane wong liya, enake dadeke lawuh wae” selorohnya,Aku masih terkekeh dengan guyonannya.

Kebetulan aku selesai makan duluan, kemudian kedua gelas mulai kutuangi dengan air teh. Teh manis hangat sudah siap untuk di hirup. Nikmatnya..Teringat rokok yang tersisa kemudia kunyalakan lagi dan kuhisap, wuuuuhh kurasakan surga dunia sedang ku genggam. Tidak ada kenikmatan dunia melebihi kenikmatan sarapan pagi di tengah sawah. Setelah acara rokokan selesai acara mencangkul dilanjutkan lagi sampai sekitar jam setengah duabelas siang, karena tak lama setelah itu suara muadzin sudah mulai berkumandang.Kami berduapun pulang.

Romantisme Revolusi (3)

Cerita No Comments

Dalam keheningan kami berdua tiba-tiba sebuah tangan dingin menyapa tanganku. Hatiku begitu tersayat begitu melihat tatapan matanya. Wajahnya yang pucat pasi membuatku ingin mendamaikan hatinya dengan pelukanku, tetapi dekapanku tertolak oleh ketegarannya dan aku tak kuasa menolaknya. Seiring penolakannya dia berkata,akan ku dengar sebuah kata yang seumur hidup tidak akan pernah akan aku lupakan.

“Jah, kalau aku terawang dengan mata batinku diantara moyangku maupun moyangmu tidak ada sejarahnya yang merugikan orang lain atau bahkan hutang nyawa kepada siapapun, kecuali Mbah Mindik buyutku. Beliau pernah menombak seorang pencuri yang berusaha masuk kedalam rumahnya sehingga mati, itupun kalau ditelusuri tombakannya tidak langsung membuat mati pencuri tersebut.Apalagi posisi mbah Mindik sedang menjaga hartanya, dalam agama itu menjaga harta termasuk mulia bukan?” kedua tangannya memegang erat telapak kiri tanganku. Kurasaklan getaran yang begitu memancarkan kepedihan yanga amat dalam.

Aku belum mengerti maksud dalam kalimatnya. Tetapi perubahan roman wajahnya sangat membuatku bertanya-tanya. Kenapa ia tiba-tiba bercerita tentang moyangnya. Sungguh aku tak tega melihat wajah suamiku seperti ini. Dengan kondisi semacam itu ia masih melanjutkan kata-katanya. Perlahan rasa sesak di dada yang kurasa sekejap menghampiri.

“Jah” panggilnya dengan nada yang kelu, seakan ludahnya kering tersedot oleh kesedihan yang tak terkira. “Besok, jikalau ada bunyi kentong titir itulah masa akhir hidupku. Suara kentongan titir itu pertanda manusia manusia laknat itu telah meraih kemenangan, dan kau tahu konsekuensinya terhadapku. Tetapi aku yakin Gusti Allah itu Maha Adil, jika gusti Allah masih berkenan aku akan tetap bersamamu, jika tidak….” dengan cepat kuletakkan dua jariku kemulutnya aku tak mau mendengarnya lagi.

Cukup, cukup sudah, aku sudah tak bisa menangis lagi semua air mataku sudah kering. Yang terasa hanya sesak di dalam hati ini. Ya Allah, dia berpamitan padaku untuk pergi selama-lamanya. Seumur hidupku baru aku lihat cahaya orang yang begitu pasrah akan kematiannya sembari mencari celah untuk mengumpulkan ketegaran yang tersisa. Dan itu kudapati pada wajah suamiku hari ini.Dengan segera ia memegang tanganku melepaskan mulutnya dari kedua jariku. Dengan sisa ketegaranya yang didapatnya ia hirup seteguk teh yang tersisa di cangkirnya.

Sarung, caping, dan parangnya kembali ia sandang dengan cekatan. Aku masih ingat betul tatapan terakhirnya,aku masih ingat. tatapan itu seolah-olah mnegisyaratkan bahwa ia benar-benar akan meninggalkanku. Tanpa ada sepatah kata terucap.Dengan cepat ia hilang dari pandanganku. Dengan sisa-sisa kekuatanku aku kembali tertunduk diatas kedua tanganku.Kucoba menangis, tapi air mata ini menolak mengalir di tiap lekuk liku sudut mataku.

Keesokan harinya petaka itu benar-benar terjadi, suara-suara kentongan begitu menggema. Aku hanya larut dalam keheningan sujudku karena dalam kondisi seperti ini aku tak tahu apalagi yang harus kulakukan. Tak urung aku pasti juga menyusul suamiku. Aku kembali tersungkur ketika aku melihat anak-anakku sedang tidur dengan lelap. Aku bisa saja gila, tapi aku tak mau,sungguh aku tak mau.

Memang benar manusia-manusia buas itu sudah memangsa 7 perwira tinggi angkatan darat di Ibu kota menurut kabar berita.Tak lama berselang kudengar kabar kaum komunis itu menyerbu barak tentara di kota ini guna merampas seluruh senjata tentara. Keinginan kaum komunis itu di setujui oleh perwira lokal di barak itu, Semua orang yang ingin mengambil senjata di barak di persilahkan. Tapi apa lacur ternyata itu hanya jebakan tentara sejati yang masih setia dengan negara ini. Orang-orang laknat yang merampas senjata itu semua terkunci didalam barak dan hanya tinggal menunggu ajalnya karena panser-panser telah berjaga-jaga diluar barak. Tamatlah mereka.

Kabar baik tersebut,atas izin Allah, mengiringi kabar baik dari suamiku yang akhirnya selamat tanpa kurang satu apapun. Doaku telah terkabulkan oleh Allah SWT dan telah benar apa kata suamiku. Allah menyertai suami beserta anak-anakku.Alhamdulillah .

Romantisme Revolusi (2)

Cerita No Comments

Bayi yang kukandung ini kelihatannya sudah menunjukan kuasanya kalau ia ingin menghirup udara dan menikmati hingar bingar dunia yang penuh kebusukan. Lelaki yang kuharapkan belum juga datang. Haruskah aku lalui jalan ini tanpa hadirnya. Ku kuatkan diriku menjalani ini meski kecemasan mencekam diriku dengan amat sangat.Oh,Dimanakah engkau wahai kekasihku, kuatkan aku Ya Allah.

Oh,Laki-laki lagi, syukur alhamdullah aku ucapkan kehadirat Allah atas lahirnya anakku dengan selamat tanpa kurang satu apapun. Kupanjatkan doa untuk si mungil yang masih merah ini, semoga dengan keprihatinan dan segala cobaan saat ini yang kulalui akan membuatnya manusia yang teguh dengan pendiriannya pada Tuhannya diatas kejamnya dunia ini.

Sementara itu lantunan lagu Genjer-genjer semakin berkumandang, hampir setiap kubuka telingaku lagu itu yang kudengar, kubuka mataku lagu itu melantun lagi. Seakan-akan suara-suara lagu itu menelan suamiku kedalam jurang maut. Suamiku yang sampai kini belum juga menampakkan wajahnya. “Sungguh aku merindukannya Ya Allah” pekiku dalam hati. Semoga Allah selalu melindungi suamiku,hanya itulah doaku.

Benar saja, Allah akan selalu bersama orang-orang yang sabar dan tawakal kepada-Nya. Kasih dan sayangnya tak pernah habis untuk hamba-hamba yang di cintaiNya. Allah masih bersama suamiku. Selang beberapa hari aku melahirkan, betapa bahagia hatiku ketika aku bisa melihat sosoknya lagi yang selalu kutunggu dan kurindukan. Entah kata apa yang harus kuuncapkan, aku tak tahu lagi. Pakaian lusuh bahkan compang-camping kalau bisa kukatakan masih melekat ditubuhnya, ah juga sarung itu. Tapi semua takkan mengurangi kasih dan sayangku padanya. Setidaknya masih bisa kurasakan lagi dekapan hangat dan kecupan manis di dahi yang sanggup menembus relung hati ini. Aku bahagia hari ini.

Aku pikir secangkir teh hangat dan singkong rebus yang kusiapkan akan bisa sedikit meringankan kesedihannya. Karena ketika kulihat wajahnya hari ini itu bukan wajah suamiku, kerapuhan yang amat sangat begitu menyergapnya. Sementara itu ia kubiarkan membersihkan diri dan menata hatinya. Setidaknya hari ini, aku nikmati tiap detik kebahagiaan bersamanya karena bisa saja kebahagiaan ini sirna dalam sekejap mata. Tentu saja orang-orang laknat itulah yang akan merenggutnya dariku.

Setelah semuanya selesai kutemani ia menghabiskan secangkir teh hangatnya. Diam. Kami berdua diam dan tenggelam dalam alam pikiran masing-masing. Dalam situasi seperti ini, diam adalah kebahagiaan kami, tak ada yang ingin membuat kisah yang akan merusak suasana bahagia kami berdua selain kisah kelahiran anak kami.

Romantisme Revolusi (1)

Cerita No Comments

Tahun ini nampaknya bukan tahun yang baik bagiku. Dan ini bukan lingkungan dan suasana yang kuharapkan ketika sedang mengandung seorang bayi. Kedamaiam kota yang kecil ini tak bisa kuharapkan lebih lama lagi demi semakin berkembangnya manusia-manusia dibawah panji-panji palu arit sedang berjaya.

Perutku sepertinya tak lagi muat membawa calon bayi yang sebentar lagi akan lahir. Kurasakan tendangan kakinya menendang perutku beberapa kali, mungkin ia sudah tak sabar lagi untuk merasakan hangatnya sinar matahari dan usapan lembut sang angin juga kasih ibunya.

Lihatlah keempat anakku yang masih kecil-kecil,entah sampai kapan aku bisa melihat tingkah polah mereka yang menggemaskan. Mereka kelihatan sangat mengharapkan adiknya segera lahir. Sangat jelas kulihat berbinarnya harapan di lubuk mata mereka ketika mereka mengahmpiriku dan mengelus perut buncitku ini. Seharusnya aku turut larut dalam bahagia bersama mereka seiring akan kelahiran anakku yang kelima, tapi aku tak bisa. Sulit kuhilangkan khawatir dan gundah gulana ini.

Malam mulai merambat dan burung malam mulai berkeliaran bersamaan dengan bunyi-bunyi burung kematian yang mendirikan bulu kudukku. Semilir angin yang kurasa selembut bisikan setan yang merasuk ke telinga jiwaku. Kulihat suamiku mulai bersiap-siap untuk meninggalkan rumah. Diikatkan sarung yang agak lusuh itu di pinggangnya, tak lupa caping dan sebilah parang yang selalu ia bawa.

Selalu, selalu wajah yang sama, wajah yang aku lihat kemarin dan kemarinnya lagi. Kulihat diwajah suamiku, raut yang menggambarkan ketegaran dan kepasrahan yang sangat mendalam. Raut wajah yang selalu dibayangi kematian dan harapan untuk menghindarinya.Kupandangi dekat tegas wajah suamiku,kubayangkan seakan-akan ini adalah pertemuan terakhirku denganya. Kudekap erat kekar tubuhnya, aku tahu aku takkan melepaskannya walau sedetik. Tapi usap lembut bisik tangannya di rambutku memaksaku rela melepasnya dari dekapku.

Tidak, rasa itu kembali menghampiri ketika ia mulai meninggalkan pintu pendhapa rumah. Segala macam rasa ketakutan dan kehawatiran menghantuiku, bayangan bayangan yang mengerikan selalu saja menyeruak di kepalaku begitu suamiku mulai menghilang diujung jalan. Menyeretku kedunia yang begitu gelap dan kelam, memaksaku mananti datangnya cahaya dimana suamiku akan segera hadir dan mengulurkan tangannya, menarikku kembali kedalam hangat dekapannya. Aku selalu mengkhawatirkan keselamatnya. Doa-doa tak hentinya kulantunkan mengiringi langkah kepergian suamiku, hingga fajar menjelang.

Suamiku kini tak ubahnya kelinci buruan orang-orang komunis terkutuk itu. Orang-orang yang sampai kapanpun takkan mengakui akan adanya Tuhan. Yang takkan pernah senang melihat suamiku hidup dengan tenang. Aku takkan pernah lupa beringas wajah serigala dibalik kesopanan mereka ketika datang mengetuk pintu rumahku. Taring dan cakar-cakar kotornya tak akan mungkin bisa mereka sembunyikan dariku. Dan sekali-kali tak akan pernah mereka temukan apa yang mereka kehendaki. Aku yakin Tuhan masih besertaku dan suamiku.

Oktober 1965 beberapa hari lagi menjelang, tapi suasana tak kunjung mereda. Hanya belakangan ini banyak orang menyerukan revolusi semakin kuat, aku tak tahu apa itu revolusi. Yang kutahu hanyalah orang-orang yang tak berperikemanusian dan bernafsu hewan sedang berkeliaran. Mereka akan menghabisi apapun yang menjadi penghalang, termasuk suamiku.

Sandhal Japit: Kejahatan Tak Terperikan!!

Cerita 4 Comments

Sandal = Srandhal = Sendhal
Meski harganya relatif murah dan terjangkau(sekitar 4000 an) dengan warna warna yang memikat dari yang kalem sampe yang norak.Hampir setiap orang  mempunyainya. Dari orang tua sampe anak-anak,dari yang ganteng sampe yang nggak ganteng banyak yang pake. Intinya semua suka sama sandhal jepit. Apalagi dalam saat santai, sandhal jepit merupakan alas kaki yang pas dan pilihan yang tepat untuk dipakai.

Tetapi sungguh anda jangan terpedaya dengan yang namanya sandal jepit. Sandhal jepit ini bisa menimbulkan suatu kejahatan yang tak terperikan. Apakah ini merupakan cara balas dendam sandhal jepit yang notabene posisinya selalu terjepit di antara ibu jari dan telunjuk kaki. Kenyataannya memang begitu, sudah dalam kondisi terjepit,dan lagi, selamanya akan terinjak kaki-kaki manusia pemakai sandhal jepit yang kadang-kadang sering lupa cuci kaki dan bau. Sedang bagian bawah tak jarang barang-barang menjijikan dan tidak senonoh macam tembelek mampir di bodi sandal jepit :D.

Lantas kejahatan macam apa yang bisa ditimbulkan oleh sandhal jepit ini? Begini kisahnya. Beberapa waktu yang lalu saya hati tergerak untuk membeli sebuah sandhal jepit warna biru-sengaja warna biru karena warna ini warna favorit saya. Dengan menukar uang sebesar 4000 rupiah saya dapatkan sandhal jepit baru. Sandhal jepit ini saya beli di Surabaya, lantas tak tanggung-tanggung, sandhal jepit ini langsung melakukan perjalanan panjang yang menyenangkan sampai ke Klaten pulang pergi. Saya pikir kamu harus bangga wahai sandhal jepitku !!

Setelah menikmati perjalanan 6 jam bolak-balik entah benci atau gimana sandhal jepit baruku menghilang. Ceritanya saya diharuskan untuk ngenet, kebetulan saya waktu itu ngenet di suatu warnet yang lumayan gedhe dan bisa dikatakan tidy dan neat. Sehingga mewajibkan semua pengunjung untuk melepas alas kakinya. Tak-tanggung-tanggung 1 jam saya ngenet(wahahahah ngenet  1 jam bangga…).

Bahan yang saya inginkan kebetulan sudah ketemu dan saya-siap-siap untuk cabut dari warnet. Begitu terhenyaknya hati saya ketika menyadari bahwa sandal jepit biru saya sudah tidak ada pada tempatnya. Gudah gulana hati saya. Piye iki?? mosok aku kudu cekeran mulih. Entah angin dari mana, hasil rasa mangkel yang bercampur aduk akhirnya saya putuskan untuk mencari gantinya. Kalo anda bayangkan saya akan pergi ke kios dan membeli sandal jepit baru anda SALAH BESAR nggak ada anggaran untuk sendhal jepit baru, tapi kalo buat rokok selalu ada hahahahaha!!! Tapi mosok sandhal jepit wae di colong(ini lah letak kemagisan sendhal jepit, banyak disukai orang sampe rela ngambil milik orang lain)

Sungguh saya terpaksa melakukan ini. Mata saya mulai bereaksi memilah dan memilih calon sandhal jepit yang mana yang akan menjadi sandhal jepit baru saya. Kriteria sandhal jepit pilihan yang dalam pikiran saya kala itu YANG PALING JELEK, demi mendengarkan hati nurani saya tak mau mengambil ganti yang berlebihan. Tapi demi setan bergentayangan, sandhal yang paling jelek disitu adalah sandhal jepit karet tebal hitam dengan tali yang agak lebar berbeda dengan sandhal jepit biru lama saya. Sandhal itu bermerk CONVERSE sedang yang hilang bermerk SWALLOW-swallow ini artinya emploken kan kalo nggak salah???

Nah disini letak kejahatan yang tak terperikan, efek domino akan terjadi,orang akan selalu mencari sendal yang lain sampai salah seorang rela membeli sandhal yang baru(boleh jadi orang yang terakhir ngenet). Tapi maaf yang tersisa di Warnet waktu itu ternyata nggak ada sendhal yang jelek kebetulan, nah lo. Bisa bayangin sendiri kaya apa jadinya nanti.

Sampai dikos teman-teman langsung pating berok menilai demi melihat sandhal jepit hitam ‘baru’ saya. Saya ceritakan kejadiannya pada mereka dan mereka menceritakan pada saya kalo sebenarnya sandhal CONVERSE itu sandhal mahal. Saya yang nggak gaul ini nggak tahu kalo sandhal ini sandhal mahal. Berapa harga barunya,tanya saya? ternyata 40.000 rupiah bro!! woww saya terkejut untuk kedua kalinya. Dan baru kali ini saya melakukan apa yang sering dikatakan para ustad di pengajian, ambilah yang baik(mahal) tinggalkanlah yang buruk(lebih murah) :D !! Tapi kalo boleh saya bilang sandhal ini sudah dipakai lama, lha tali nya saja sangat longgar pertanda bahwa pemakai sebelum saya telapak kakinya lebih besar dari saya.Nilai ekonomisnya tinggal 20 % lah kira2.NAh 20% dari 40000 kira-kira 8000 rupiah, jadi masih lebih mahalan sandhal ini dari pada sandhal baru saya. :P hahahahaha

Sandhal jepit ini akhirnya nggak bertahan lama di kaki saya. Beberapa hari setelah saya pakai sendhal sebelah kiri akhirnya harus rela berpisah dengan pasangannya,talinya putus. Tetapi sandhal sebelah kanan saya ini tak lama mendhudha dan segera menemukan pasangannya kembali meski dengan merk berbeda kali ini, pasangannya bermerk ABBE. WADUh… Rela,saya rela pake sandhal selen/sisihan.

Tak lama berselang saya pergi ke warnet lagi, bukan berharap untuk ganti sandal lagi(wakakakaka…), ini serius ngenet. Nah ndilalahe di warnet ini pengunjung diwajibkan melepas alas kakinya juga. Pas saya keluar selese ngenet, mata saya melihat satu sandal hitam yang sama dengan merk sandal sebelah kiri saya ABBE. Wah, pikiran jahat saya muncul. Tetapi Gusti Allah masih melindungi dari tindakan jahat ini, ternyata setelah saya perhatikan sandhal itu juga sandhal sebelah kiri(blaen..). Dan yang aneh lagi sandhal itu pasangannya bukan juga bermerk ABBE juga, bahkan bodong alias gak bermerk.Saya tobat.

Akhirnya saya sampai hari ini sandal saya berwarna hitam(hitam itu kuat dan elegan bro..!!) tapi sayang berbeda merk,dan kalo diperhatikan besarnya nggak sama. Saya sampai hari ini masih berharap kalo sandhal saya ini hilang di warnet dan kemudian saya….. hahaha-tertawa.Nggak wah.

Salah kedaden-bag 2

Cerita No Comments

Iki sing jenenge “kutuk marani sunduk”, sida klebu wuwu. Saka krenahe mBah Tih Sengkuni, apus krama bakal disowanake lan ditemokake, sebab paman Janaka isih sedulure Kurawa. Nanging kanthi janji supaya gelem dadi patah penganten dhaupku mengko. Jujur lan bares kures, kenya loro iki malah yen bisa malah dadi darbekku pisan, nyatane ya ora kalah karo dhiajeng Sri Sendari. Nanging sajake cantrik tuwa kuwi cubriya, nggengkeng yen arep nyowanake dhewe. Aku kok dipancahi. Sedulur Kurawa murina. Sulayaningn rembung dadi pancakara. Sepira banggane cantrik tuwa ngiyeyet. Prasasat ora nganti sepenginang wis ngemasi. Pergiwa Pergiwati keweden keplayu, dibujuk dening para Kurawa. Jelih-jelih njaluk tulung. Aku wis nyicil bungah, sepira kekuwataning wanita, sedhela maneh bakal dadi gawan. Nanging surak bungahing Kurawa malih dadi klakep, malih dadi jerit klaran. Pating bilulung ditladhung saka akasa dening si Purubaya Gathutkaca. Bosah-baseh katrajang kridhaning Abimayu sakadang putra Pandhawa. Kurawa lepeksa kethetheran ngunduri payudan. Pergiwa lan Pergiwati sida dadi “patah penganten” kanggo ngiring pahagyan agung Dwaraka. Abimanyu kang kesinungan kabegjan bisa mboyong Sri Sendari. Atiku tansaya nabet sering kepati marang Angkawijaya. Aku kudu bisa males ukum mbesuk. Pancen mbokmenawa Siti Sendari pancen dudu jodhoku.

Nanging wewayange Pergiwa lan Pergiwati ora bisa ilang saka impen lan telengin ati. Beda banget karo para putri Ngastina, sing sasuwene iki tansah gilir gumanti dadi rerengganing tilam sariku. Putri kembar iki ngluwihi samubarange. Nuruti brantane ati aku sesidheman ninggalake praja, tumuju mring Ngamarta. Gancaring kandha aku bisa mlebu ing taman sari tanpa kadenangan, ndilalah ing kono si Pergiwa kok lagi ijenan ngincupi kupu kang ngisep maduning kembang petamanan. Swasaning uga sepi kaya ngerti krenteging ati. Pergiwa kudu bisa tak dustha menyang Ngastina, dene yen bangga bakal tak rudhapeksa. Wis kadung kenthip, nalika lena dak tubruk lan dak dekep supaya ora bisa njerit. Dak arih-arih supaya nurut dak boyong nang praja, nanging tansah bangga. Saka polahe kasemekane mlorot. Mungal payudarane sesisih kang nyengkir gadhing, petak resik nanthang birahi. Umod sakal getihku tan kuwawa ndeleng endahing raga, nedya nutasake paripeksa. Saka daya kang kesesa aku lena. Tanganku dicokot wani, kelaran uwal saka kancingan. Njerit sora nedha tulung. Tan ngerti sangkaning bilahi, anggaku mencelat digawe pangewan-ewan dening Gathutkaca. Dirante dadi bandan mlebu pakunjaran, ngenteni pengadilan. Saka swara slenthingan nalika aku eling saka kantaka ing pakunjaran, yen Endang Pergiwa wis dilamar lan bakal dadi sisihane Gathutkaca, bakal ngrenggani dhampar Prameswari ing Pringgondani. Kojur apes dhedes, remuk rempu rasane awakku. Perih keju laraning atiku. Kagol sedyaning ndriya nggarwa Endang Pergiwa.

Saka panangising ibuku Banowati marang uwa Puntadewa ing Ngamarta lanmarang para Pandhawa, panyuwun pangapura mligine marang paman Arjuna. Lilih penggalihe aku diluwari lan kapurih bali mring Ngastina. tan kocapa dukane rama prabu marang aku, nanging uga lilih lan leren nalika mireng tangise ibuku sing ditresnani. Atiku saya njarem marang para putra Pandhawa, apa maneh aku uga krungu yen Pergiwati bakal dadi garwane Pancawala, putrane uwa Puntadewa. Aku suthik kedhisikan maneh. Sadurunge Pergiwati dadi garwane Pancawala pangeran pati Ngamarta, kudu dak dustha, yen perlu ora entuk siji ora entuk kabeh. Pancawala nyadhing Pergiwati kudu ora “suci” maneh. Atiku muntab kebranang, kebak rasa pangigit-igit. Ora watara suwe, aku wis nular kasatriyan kanthi sesidheman. Ra urus yen saoungkurku padha komung kontrang-kantring, lungaku tumuju mring alas gung Krendhawahana, ya kahyangan Setra Gandamayit. Paleremane Dewi Durga dewining kadurakan. Miturut ujaring kandha sang bethari iki malihan ruoa saka bethari Uma, garwane Hyang Jagatnata kang kesiku, kena supatane Hyang Jagat Pratingkah. Ngrenggani pura Krendhawahana jejuluk ratu Permoni. Marikelu semadi manengku puja supaya bisa entuk kasihing Hyang Durga. Kaleksanan sedyaku Sang Bethari kersa nemoni lan ngabulake sedyaning gati. Bakal kajangkung sedyaku tumeka ing tamansari Ngamarta, bakal bisa ndustha sang dewi, kaleksanan kang sinedya. Mung kanthi piweling, ora kena gawe gendra lan netesake ludira, gedhene nganti ngadani rajapati. Yen wani nerak bakal rugi lan nanggung akibat sengsarane.

Kinanthi aji palimunan saka Hyang Dewi Durga, aku bisa mlebu ing gandhok tilamsarine Pergiwati. Sang ayu nembe nendra kepati, awit wancine pancen lingsir wengi. Anggone kepati nganti jarit agemane nglingkap dhuwur ngatonake pupu lan wentis kang mukang gangsir. Yen mrangguli kahanan kaya ngene iki aku nora tahan. Getih lanang bakal enggal ngrangsang. Apamaneh ndeleng blegere sang edi, weweg isi milangoni. Ora nunggu kesiwen, dak ruket anggane sang Endhang. Kaget polah nanging ora kuwawa ngedalake swara. Kridha- sumedya uwal saka pangrangsangku, agemane dadi saya morat-marit, nambahi brantaku. Bali saka keusu anggonku wuru, lena pangawasku sang dewi nyaut patrem kang gumlethak ing meja caket dhipan rinengga. Nedya beladhiri namakake patrem ing anggaku, dak cekel astane kuwalik ganti nyuduk jajane. Njerit kapidara gumonthang ing kasatriyan, tan suwe wis kinepung jurit sing dipandhegani Raden Pacawala. Bramantya kerot padoning lathi ngerti calon garwane kapidara, nrajang nedya mikut anggaku. Sadurunge kedhisikan aku ndhisiki. Keris pusakaku dan tamakake pas nembus jaja tumeka walikat. Pancawala tiwas kapidara. Geger kasatriyan, sepira banggaku satriya leda-lede. Kapikut dadi bandan bali mlebu pakunjaran. Dumeling pangandikane sang Bethari, aku wis nrajang pepali. Kang mesthi aku bakal nompo paukuman pati.

Kabar aku dadi bandan ing Ngamarta wis tumeka ing Ngastina. bali ing kene rama Kurupati tedhak dhewe kadherekake ibu Banowati, kairing tetungguling sepuh Kurawa lan para sesepuh. Kepeksa tapak asma ing kekancingan perjanjen, yen aku tan kena maneh tindak dur angkara. Laku culika ing praja Batanakawarsa ya Indrapasta. Nganti mbaleni lan kadenangan nora bakal ingapura maneh, paukuman abot bakal daksandhang. Kayangapa isinku nalika kudu napak asmani perjanjian rontal kuwi, sineksen oara aji kalbeu Prabu Swarawati kang wis maluyakake Pergiwati kanthi kembang Wijayakusuma. Semono uga Pancawala kang wis bali waras wiris sawise “kalarung” ing benawi minangka syarate nirmala jati. Aku mung tumungku sedhih atiku nangis kasangsaya. Isin, serik, jengkel numpuk dadi siji. Mung bisa nggetuni laku jantraning uripku. Urip prasasat tanpa guna, mung bisa nyalahake liyan. Lali lan ora nglenggana yen kuwi saka undhuh-undhuhing brahala.Karma saka laku tumindakku. Apa ya kaya mengkono pangadikane para dwija winasis. Prek mbelgedhes. Lesmana Mandrakumara ora percaya. Wis ora perlu golek bojo, enak bojo-bojonan wae. Wis ra urus kiwa tengen. mbuh ibuku arep terus-terusan slingkuh karo Permadi, ramaku tetep bungkem yo wis ben. Adhiku wadon dewi Lesmanawati tetep ndhugal ya wis karepe. Malah ing sawijine lakon carangan, dheweke dislingkuhi dening Bathara Guru Pangwasa Tribana ya terserah. Njur didhaupake karo raden Warsakusuma putrane paman Karna ing Awangga ya ben.

Nalikane pecah perang Baratayuda, perang antarane kulawarga trah Barata ing Tegal Kurusetra. Miturut ujaring kandha kuwi perang gedhe kaloro ing madyapada, sawise bubruh Alengka ing jaman Ramayana. Mbok arep paten pinaten yo wis ben, atiku kadhung serik mrekitik ora bakal mari. Utamane mring putra-putra Pandhawa, mligine si Abimanyu. Mula nalikane uwa Kartamarma bali saka pabaratan nggoleki aku ing kasatriyan, kandha yen Abimanyu wis klebu wuwu ing gelar perang “gedhong minep”e Kurawa, atiku padhang, batinku surak.

“Ngger Saroja Kusuma, pun wancine andika mbengkas karya. Suwe mijet wohing ranti yen badhe mungkasi Abimanyu. Putra Plangkawati niku mpun kentekan daya rinanjap senjatane Kurawa. Andika mung kantun njuss…. nyublesake keris pusaka, nguntapaken nyawane Abimanyu ing neraka. Monggo ngger mumpung taksih wonten wekdalipun, selak kedhisikan Hyang Yamadipati. Andika paman kanthi mring Kurusetra.

Rindhik asu digitik, nyongklang jaran cemani tumuju ing rananggana. Abimanyu katon semu ngadeg semu gemeter, soca nutup menthang langkap. Pancen aku meri marang satriya kukuh teguh iku. Sanajan tatune arang kranjang kinrocok rinajap ing lembing, tumpak lan panah, nanging isih kuwawa ngadeg senajan ora jejeg adus ludira.
Gemendhung lumalungkung ngguyu latah-latah, aku ngisis curiga nyedhaki papan ngadege Abimanyu. Saya gemeter anggane, sikile wis nekuk separo kari ambruke. “Hmmm…, Abimanyu kowe bakal mati rinanjap, mandi kepangan sumpahmu dhewe. Kowe ngapusi Utari putri Wiratha. Ngaku jaka senajan wis mbojo Sendari. Huh… merga pokalmu kuwi Kalabendana nganti kepeksa mati saka tangane Gathutkaca. Nyatane kowe yo satriya sing culika tega apus krama. Nyatane kowe dudu satriya tama. Beda kaya aku Lesmana Mandrakumara, pancen satriya kesuwur ala. Nyatane kowe bakal mati saka tanganku. Aja kuwatir Sendari lan Utari sakpungkurmu, bakal ngrenggani dhampar Ngastinapura ndampingi aku minangka prameswari. Ra entuk prawane yo randhane. Durung yen Gathutkaca lan Pancawala modar sisan,Pergiwa lan Pergiwati bakal tak boyong sisan. Saiki Abimanyu, tampanana pusakaku. Modar ko…egh…kekgkk…
Lho, dhadhaku kok panas perih. Lho bedor panah nancep nembus dhadhaku. Abimanyu isih bisa nglepaske panah pusaka Kyai Gusara marang aku, aku ngglebag, donyaku dadi peteng ndedhet. Saiki malah entheng, eee… aku bisa ndeleng ragaku dilangkahi Abimanyu. Para Kurawa kang nedya ngrebut kawandaku kapeksa mundur saka lepasing jemparinge Abimanyu, ora ana kang wani nyedhak. Abimanyu kaya bali entuk kekuwatan thikel, jemparinge isih mangan kurbaning prajurit lan Kurawa.

Paman Jayadhata adipati Banakeling sisihane bibi Dursilawati saya murina. Ngeprak dwipanggane nrajang papane Abimanyu. Mbabitake pusakane Kyai Glinggang, pecah sirahe Angkawijaya, ragane diidak-idak remuk dening gajah perange paman Jayadhata. Kaangkat jisimku mundur saka payudan, rawat-rawat sekar “Megatruh” ngumandhang saka tegal Kurusetra. Ibu Banowati nangis ngguguk ngrakul layonku kang sinucenan. Rama prabu mung kerot waja karo njenger, nalika geni mulat ing pancaka mbesmi ragaku.

Sawetara kau isih bisa nyekseni ragane Abimanyu kan uga kabesmi ing pancake, tinangisan kaluwarga. Lan laku “sati” Siti Sendari bela pati ambyur ing geni ngalad-alad. Utari mung ngungun cinandhet, amarga nggarbini bayi calon “ratu gung binthara ing Nusa Jawa” kaya kang wis kaweca. Sumpahe paman Arjuna bakal merjaya paman Jayadrata ing dina sesuke. Kumleyang sya ndedel ing ngawiyat sukmaku, tinuntun sukmane Abimanyu lan sukmane para prajurit kurbaning Baratayuda. Saya adoh lan saya dhuwur.
 

(tancep kayon)

Salah Kedaden-bag 1

Cerita No Comments

 masih tentang abimanyu and the side story.SEMBARI NGURI-URI BAHASA JAWA. JANGAN LUPA BAWA KAMUS BAHASA JAWA KALO BACA -jaga2 kalo ada kosakata aneh bahasane udah nggak krama inggil lagi, ada beberapa bahasane dhalang -……..   :).  

dening BP. Soedarsono, SG
Kapethik saka Panjebar Semangat 28-29/2007

Aku kalairake minangka pembayun nata agung Ngastinapura Prabu Duryudana lan Ibu Dewi Banowati. Adhiku wadon sesilih Dewi Lesmanawati. Tata lair aku pancen putrane rama prabu. Nanging sejatine aku lan adhiku asil slingkuhe ibu Banowati lan pamen raden Janaka. Lha bener tho..!! Ing kalangan elit pura bae ana paselingkuhan. Kisah roman selingkuh wong agung kraton iki nyatane wis akeh kecatet ing lakon-lakon parwa, sadurunge kraton Ngastinapura ana. Klebu dewa-dewi, widadara-widadari uga akehkang slingkuh. Kelbu inga antarane ratuning ya Hyang Girinata. Mual jeneng ora salah miturut panemuku yen aku ya seneng slingkuh lan nylingkuhi. Lha wong ono sing tak tiru. Nyatane ibuku slingkuh, rama ya api-api ora ngerti.
Samubarang sarwa cumepak, kekarepan mesthi keturutan. Wiwit bayi tumeka ngacik diwasa ora ana sing wani mancahi ujar utawa panjaluking putra nata Ngastina. Aku dadi bocah kang ugungan, kesed, seneng reropyan lan ngumbar napsu angkara. kabeh tumindak pokale paman-paman Kurawa tansah dak tiru. Unjukan banderek, ciu, lan liyane sing bisa gawe mabuk, wis dadi pasedhiyan saben ndinane. Dhadhu, kertu, adu jago lan main ngabotohan liyane wis dadi lalaban. Nglirik, njawil, lan ngawe wanita kaajak saresmi, wis minangka pakulinan. Mbuh kuwi prawan anake punggawa, bupati utawa natapraja. Klebu yen perlu bojone liyan, yen pancen ta ayu lan narik kawigatenku, kudu klebu lan mlebu ing tilamsari patengganku. Yen ta nganti suwala untawa sulaya, pasiksan lan pakunjaran papane. Yen ta malah sendika lan atur pisungsun maremake, gedhe ganjarane. Ora urus yen padha nyebut aku iki “thukmis”. Thukmisku iku wajar wong kanjeng ramaku “peteng” Permadi, rak ya eis kesuwur satriya kang thukmis, ta??

Yangkung Desarata lan yangti Gendarai ya malah nyengkuyung lan ora nyegah utawa nyaruwe. kanjeng ibu lan rama ya ora ngrewes. Kabeh kagubel urusane dhewe. Dadi cethane kaluwargaku kuwi kalebu kaluwarga “broken home” istilahe saiki. mBah toh Sengkuni lan para paman Kurawa malah saya ngububi tingkah polahklu. Lho, apa aku salah, lan salahku ing ngendi? Paedah apa dadi satriya utawa putra nata gung, kok kudu tirakat, mertapa semadi. truthusan mlebu metu alas, nyasak jurang cerung munggah gunung, kok golek rekasa!! Ya salah bodhone dhewe blusukan alas blegedhegan kandhane merguru golek ngelmu jaya kawijayan. Praja gajah Oya gundhange brahmana, pandhita lan resi pinunjul, yen perlu kari milih. Golek ngelmu ben digdaya dhungdeng.

“Nggeer Saroja Kusuma, putraningsung bocah sigid, bocah bagus kekundanging keng rama. Miturut petunge para waskitha nimpuna praja Ngastina, ing wektu ora suwe maneh jawata bakal nurunake wahyu “cakraningrat”. Wahyu utama kang dadi piyandeling para sinatriya. Sapa kang bisa nggayuh lan kedunungan wahyu mau, bakal bisa nurunake wiji ratu-ratu binathara ing Nusa Jawa. Mula ngger pamundhutingsun, paripeksa sira sun utus ngupadi wahyu mau. Minangka nganthi pengiringira, pamanira Adipati Ngawangga lan para kadang Kurawa sawadya bala pethingan, bakal tut wuri lampahira. Pangestuku mbanyu mili ngiringi lakumu.”, kaya mangkono pangandikane rama Prabu Kurupati ing sawijining pisowanan agung Ngastina.

Kanggo njaga wibawa lan mamerake kasubdibyan, aku sumanggem dhawuh senajan sabenere ngono wagah blasakan mlebu metu alas. Nanging khasisat bab wahyu “Cakraningrat” mau ngosikakke pepenginaku. Yen ta aku bisa nggaduh wahyu mau.., satriya-satriya saka praja liyane mesthi bakal dheku-dheku ing sangarepku. Aku bakal luwih ndhangak maneh ing mengkone, yen milih calon prameswari.
Cekaking kandha.., aku wis tumeka ing aldaka kang karamal papan tumuruning wahyu kasebut. Pasemeden wis kacepakake dening paman Kurawa, banjur pasang gelar kanggo ngawekani bebaya satengahing wana. Miturut kabar saka telik sandi, Raden Abimanyu satriya Plangkawati kadherekake deing panakawan catur, lan diampingi dening Raden Gatutkaca sasedulure, mapan ing lengkeh sisih kulon aldaka. Dene ing lengkeh sisih kidul papan pesanggrahane Raden Samba saka praja Dwaraka, diampingi paman Sentyaki lan paman Udawa. Kabeh mau padha dene nduwe sedya nggayuh wahyu “Cakraningrat”.
Kanggo mbutekke sapa ingsung senajan banget kapeksa, aku kudu tirakat lau semadi, nyegah babahan hawa sanga. Meleng muhung paminta mring Hyang Jagatnata, supaya maringake lan nyawijikake wahyu manjing jiwaku. Lungkrah lan lemes anggaku, klemun-klemun ung enering netra, cat eling cat ora. Ing petung sapta ari saka rumangsaku ana wanodya sulistya turah rupa kurang candra, prapta ing ngarepku. Ngrepepa arep suwita pasrah jiwa lan raga. Whelelah, thenguk-thenguk nemu gethuk iki. Dhasare wis suwe ngempet hardaning birahi, iki ana prawan ayu nyaketi malah pasrah bongkokan. Dudu Lesmana Mandrakuma yen ta ora nglanggati sedya. Badhar saka ing tapa aku nedya nubruk sang kenya sulistya. Badhar wujuding putri pindha hapsari kuwi, malih cahya mencorong mlesat saka ngarepku, tumuju sisih kiduling aldaka.

Gurawalan mbah tih Sengkuni lan mbah Durma ngandika yen kuwi wujuding wahyu “Cakraningrat” kang mlesat. Enggal prentah ngoyak lan nguber palyuning wahyu. sauruting marga mbah Kuni nggremeng semu gela. “Dhasare pancen wadhah kosong, arep diiseni sarana legi ya bali mlompong. Dospundi niki wakne gondhel?”
Karo krenggosan melar mingkus yang ndhita Durna njawab”Monyor..monyor… mprit ganthil. Satriya yen kurang cegah dhahar lan sare…ee ya ngene iki dhi. Ya wis saiki kudu tetep diupadi, sapa reti iki mung cobane wahyu mau.”

Paman Citraksi nyala atur,”Man.. man Kun..dhi…eh.. Kun..Kuni…, mlom..mlom..pong nik…niku…rak nggih…nggih kaya…sam…sampeyan..man. Lha….nik…niku..wa..rah..rahane…mpe…yan…man…!!”
“ooo dhasar dhegleng..bocah ra urus tenan… Dursasana..keplakna adhimu kuwi ngger…Cumanthaka tenan cah ji ki.” Paman Dursasana sing lageyane sraweyan karo ngguyuiku mung glegas-gleges. Mung paman Dipati Karna kang tansah jinem. Mbokmenawa saka prabawane para Kurawa banjur meneng lan lumaku cepet nasak grumbul pepalang ri, ngupadi mlayune wahyu.

Kacarita ora beda adoh kaya kahanan sing tak alami. Kakang raden Samba uga direridhu godha dening wanodya sulistya panjilaming wahyu mau. Serupa lakuning wuwus..nyatane raden Samba kapilayu gandrung kaya wong gemblung. Wusana wahyu mau bali oncat saka parangkule raden Samba, kumleyang munggah ladaka tumuju lengkeh sisih kulon, papan mesu raden Abimanyu sakadang putra Pandawa. Ing kene wahyu luwih kuwat anggone nyoba mbadharake tapane putra paman Arjuna iki. Nanging dhasare satriya pethingan tan pasrah godha rencana. Senajan ta wahyu wujud wanodya hapsari mau nganti nglegena, tan keguh sang sinatriya. Wusana wahyu mau manjing ing anggane raden Abimanyu. Cethane sing kasil ngayuh lan darbeni wahyu “Cakraningrat” si Angkawijaya iki. Aku ora trima, nedya tak jaluk kanthi peksa. Merga den kukuhi ing wasana ndadekake pancakara. Nanging Kurawakaseser kapeksa bali ing praja tanpa kasil. Aku serik lan mangkel banget marang Abimanyu. Sepisan merga dheweke pancen satriya bagus jatmika lan pilih tandhing, Kaping pindho dheweke kang bakal nurunake ratu-ratu binathara ingNusa Jawa ing tembe.

Lakon kang meh padha uga dak temoni, nalika aku kejibah nggayuh wahyu “Makutharama”. Wahyu keprabon kang gedhe banget sawabe. Kaya kawuri aku kadherekake para Kurawa lan diampingi dening para sesepuh mirunggan, tumuju mring gunung Suwelagiri papan kang ditenggarani bakal dadi panggonan tumuruning wahyu. Ing kene bali gagar wigar, wahyu mau katampa dening pama Harjuna. Gendheng tenan..!! Sing kepungkur anake, saiki sing ketiban pulung bapake. Kabeh kuwi kaluwarga Pandhawa. Atiku tambah anyel maneh. Eloke lelorone kok ya ora welas karo aku, mbok yo ngalah. Mbok ngelingi ngono lho!! Kanggo ngurangi stress, aku tansaya ndadi ambyur ing malima. Dinar kencana kari ngeruk saka kahartakan prha, para paman Kurawa saputrane padha nyengkuyung, wis arep opo maneh. Raden Lesmana Mandrakumara putra pati nata gung Ngastina, prasasat idu geni. Apakang sinedya kudu dadi..aku kok….
Nanging ya saka polah tumindakku iki sing ndadekake aku angel lan tansah “gagal” nggolek prameswari. Bola-bali tansah kesandhung. Ing antarane kaya pengalamanku iki. Nalikane kabar bakul sinambiwara yen outra nata Dwarawati Dewi Siti Sendari wis nedheng diwasa. Ucaping kidung kang katulis ing rontal, pindha widadari ngejawantah. Aku nyuwun marang kanjeng rama Kurupati, lumantar ibu Banowati supaya nglamarake. Kanjeng rama nyarujuki lan enggal tata rakiting lamaran agung. Bebanjengan berisan saka Ngastina nggawa mas picis rajabrana lan nawala rontal panglamar ngiring lakuku nitih kreta kencana tumuju Dwaraka. Ing kana lamaranku katampa, nanging dhiajeng Siti Sendarai nyuwun bebana “patah sakambaran kang sulistya ing warna tanpa cacad”. awit mbarengi saka Madukara uga atur panglamar kanggo Abimanyu. Sapa kang bisa luwih dhisik nyembadani pamothahe sang retna, kuwi kang wenang mboyong mustikaning keputren Dwaraka. Aku lan Abimanyu saguh ngupaya tyasing bebena, madal pasilan pisah marga. Sajake para dewa lagi njangkung sedyaku. Durung adoh saka praja Dwaraka aku ketemu paraga sulistya sakembaran, kaya sinebut ing patembaya. Paraga kenya sakembaran mau katon yen lugu, putri saka arga. Sesilih Dewi Endang Pergiwa lan Endang Pergiwati saka pertapan Andong Cinawi. Kadherekake cantrik tuwa Janaloka, saperlu ngupadi ramane Raden Arjuna.

(ana candhake)

« Previous Entries