Kuliah Umum Bersama Pak Menteri Kominfo
Sabtu lalu tanggal 23 Pebruari 2008, Teknik Elektro mengadakan kuliah umum dan dosen yang mengajar bukan orang sembarangan. Beliau adalah Prof. Dr. Ir. H. Muhammad Nuh, DEA yang pasti sudah sangat terkenal karena selain sebagai mantan rektor ITS juga saat ini menjabat sebagai Menteri Komunikasi dan Informatika pada kabinetnya Bapak Presiden Susilo Bambang Yudoyono.Kuliah umum yang dijadwalkan dimulai jam 09.00 pagi, tetapi baru bisa dimulai jam 09.15 bertempat di ruang 404. Pak Nuh memasuki ruangan diikuti oleh jajaran pejabat di lingkungan Jurusan Teknik Elektro dna langsung menempati kursi yang telah disiapkan. Sedangkan peserta dosen dan mahasiswa dari S1, S2 dan S3 telah hadir terlebih dahulu didalam ruangan, dan sebagian ada yang menyusul masuk mengikuti rombongan Pak Nuh.
Tanpa basa-basi kuliah dibuka dan wakutu diserahkan kepada Pak Nuh sepenuhnya. Sebelumnya Pak Hariadi selaku sekretaris jurusan bidang administrasi akademik ditunjuk menjadi moderator duduk mendampingi Pak Nuh didepan. Materi kuliah umum kali ini adalah tentang “Kebijakan-Kebijakan Departemen Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia”. Sebuah tema sesuai dengan peran dan posisi Pak Nuh saat ini selaku Menkominfo yang sudah dijabatnya selama hampir 1 tahun.
Pak Nuh memulai materi dengan menceritakan bagaimana cara beliau masuk ke sebuah sistem yang baru dengan pendekatan sifat dari sistem itu sendiri. “Sistem adalah sekumpulan element yang saling mengikat dengan variabel-variabel tertentu dan membentuk tujuan yang sama”. Pendekatan sifat dari sistem inilah yang kemudian dipakai untuk masuk pada sebuah lingkungan baru dengan mengenal dan memahami terlebih dahulu element-elemnt yang menyusunnya dan bagaimana mereka saling berinteraksi dan mengikatkan diri. Sebuah ilmu untuk menguasai sistem pasti akan bisa didapat sambil jalan tentunya.
Menurut Pak Nuh, hal utama yang harus dilakukan oleh kementriannya saat ini adalah diprioritaskan pada ketersediaan infrastruktur yang mendukung Information Accessibility. Ketersediaan infrastruktur tersebut mutlak perlu sebagai landasan pelayanan yang maksimal. Oleh karena itu pembuatan Backbone dengan FO (Fiber Optic) sepanjang 11 ribu km saat ini akan menjadi saluran komunikasi digital utama dalam proyek bernama Palapa Ring.
Selain itu, kebijakan-kebijakan yang diambil harus memenuhi 2 prinsip utama yaitu workability (dapat dikerjakan) dan Accessbility (keterjangkauan). Sebuah rencana kegiatan tentunya harus berpijak pada realitas yang menjadi dasar apakah kebijakan kemudian dapat diaplikasikan dengan baik atau tidak. Sebuah kebijakan akan dapat dikerjakan jika semua stakeholder (masyarakat, operator, pemerintah) memiliki sifat ownership atau self of belonging. Rasa memiliki tersebut dapat ditumbuhkan dengan mengajak seluruh stakeholder terlibat didalamnya sebagai sebuah partisipasi aktif. Jadi bukan sebagai sebuah relasi subjek objek, tetapi sebuah demokrasi, karena esensi dari demokrasi adalah partisipasi. Sebagai gambaran untuk proyek telekomunikasi, pemerintah menggandeng berbagai operator-operator untuk membentuk konsorsium dalam membangun proyek penyediaan infrastruktur telekomunikasi senilai 3 triliun rupiah.
Prinsip keterjangkauan dalam sebuah kebijakan juga menjadi dasar dalam pengambilan kebijakan di pemerintahan. Pemerintah yang saat ini bernegosiasi dengan para operator telekomunikasi (seluler) cukup berhasil meyakinkan mereka untuk menurunkan tarif telekomunikasi seperti SMS, percakapan dan akses internet. Mereka hanya perlu diyakinkan bahwa saat ini pasar masih cukup potensial dengan traffik yang rendah, investasi yang semakin murah, dan penambahan jumlah pelanggak pasti akan meningkatkan jumlah trafik komunikasi. Sebagai gambaran, penambahan 1 pelanggan baru tidak bisa diterjemahkan sebagai penambahan satu sambungan komunikasi, karena dia akan membuka relasi berkomunikasi dengan banyak orang yang lain. Sehingga persaingan para operator untuk mendapatkan pelanggan baru memang berakibat sangat luar biasa dengan perlombaan tarif murah.
Perhitungan dan kesimpulan diatas sebenarnya banyak didapat dari rumus sederhana yang biasa digunakan dalam bidang teknik seperti Hukum Moore yang dapat menghitung perkiraan kelipatan kecepatan dan kapasitas dalam dunia digital. Pak Nuh kemudian menjabarkan value (nilai) dibalik setiap rumus atau hukum-hukum lain yang banyak digunakan dalam bidang teknik tetapi hanya tahu hitung-hitungannya saja. Para mahasiswa diharapkan dapat menggali nilai-nilai dari setiap rumus yang dipelajarinya seperti esensi penemuan IP (internet protocol) dan flat organization yang melahirkan konsep birokrasi sederhana.
Pak Nuh juga menjelaskan makna komunikasi, khusunya makna bagi orang telekomunikasi. Berkomunikasi bukan hanya terjadinya dua atau lebih orang saling berkomunikasi menyampaikan pesan. Komunikasi harus juga memungkinkan orang-orang untuk bertransaksi bahkan berkolaborasi dalam. Lebih tinggi lagi tingkatannya adalah bahwa komunikasi akan berdampak pula pada socio transformation membawa masyarakat untuk berubah lebih baik.
Bangsa Indonesia ini punya kesempatan yang luarbiasa, karena kita punya 2 hal yaitu: Democracy Devident dan Digital Devident. Devident atau hasil keuntungan dari sebuah investasi yang kita miliki saat ini terkait dengan kehidupan demokrasi yang cukup baik. Selain itu dengan jumlah penduduk 200 juta dan dengan usia harapan hidup orang Indonesia sekitar 68 tahun cukup potensial untuk membangun bangsa. Di negara maju dengan life expectation 77 tahun ternyata cukup membawa masalah bagi keuangan negara. Pasalnya jumlah pensiunan di negara maju cukup besar dan semua itu ditanggung oleh keuangan negara (cost center). Padahal laju pertumbuhan penduduknya kecil, sehingga jumlah tenaga produktif menjadi akan terus berkurang. Tentu beda dengan masyarakat Indonesia yang gemar punya anak banyak. Tetapi jumlah penduduk yang banyak tersebut harus diimbangi pula dengan pendidikan yang baik. Memang kunci untuk memenangkan persaingan adalah dengan memiliki sesuatu yang orang lain tidak punya. Termasuk jumlah usia produktif.
Peluang yang kedua adalah terkait dengan peralihan teknologi dari analog ke digital. Ini akan menjadi peluang bagi kita untuk bisa mengembangkan teknologi digital yang saat ini masih banyak yang menggunakan teknologi analog seperti TV Analog.
Hampir satu jam Pak Nuh memaparkan materi diatas dengan bahasa yang ringan dan selipan humor yang membuat suasana menjadi cair. Selanjutnya acara masuk pada sesi tanya jawab. Beberapa hal yang terekam pada sesi wawancara tersebut adalah pertanyaan tentang Haki, pertimbangan kebijakan, dan beberapa pertanyaan terkait dengan pengembangan teknologi.
Hal cukup mengharukan adalah ketika Pak Nuh menghimbau agar kita berhenti menjelek-jelekkan bangsa kita sendiri. Biar yang jelek dari diri kita tidak perlu dibicarakan keluar tetapi kita simpans sendiri dan untuk selanjutnya kita perbaiki bersama-sama. Pak Nuh menegaskan untuk itu Indonesia butuh kreasi produk-produk teknologi yang dapat dibanggakan secara nasional maupun internasional. Berbagai proyek penelitian top down dan hibah terus digiatkan yang pada akhirnya berguna untuk membangun kebanggaan sebagai sebuah bangsa.
Pada akhir perkuliah beliau berpesan kepada seluruh hadirin khusunya mahasiswa untuk selalu menjaga integritas, pegang teguh kejujuran, kemulian pribadi, dan biasakan membaca terutama membaca kehidupan. Kembangkan terus keahlian dan cari otoritas keilmuan sebagai bentuk pengakuan masyarakat terhadapak kemampuan kita.
Sungguh sebuah kuliah umum yang mengesankan, karena yang memberikan bukan hanya karena seorang menteri tetapi filosofi kehidupan dan pesan moral yang beliau berikan merupakan cerminan dari makom (kedudukan) beliau sebagai seorang ilmuan, negarawan, dan juru dakwah.
Galeri Foto:









