Kala ikan dipisahkan dari air [esensi pembelajaran]
Kala ikan dipisahkan dari air
Buku / jurnal tak lagi sanggup memikat pembacanya, apalagi yang mesti ditunggui dan dilakukan oleh ”penunggu buku”
Perpustakaan dengan jodohnya yang sejati, ibarat mempelai pengantin, perpustakaan dan [khalayak] pembaca adalah pasangan tak mungkin dipisahkan. Dan buku, pada titik ini adalah mahar yang wajib dihadirkan agar keduanya dapat intim bercengkerama.
Otak / mental / tubuh bekerja dengan metabolisme dan sejarah serta pengalamannya masing-masing, kadang berkaitan, tapi lebih kerap bicara sendiri-sendiri.
Kurikulume TL bicara semata pikiran/otak intelektual diasah & diasuh sedangkan olah Mental gak disentuh/dibebaskan maunya Jiwa berkelana kemana saja, Karikaleme [kepekaan lemot] dan Tubuh gak diurus, diserahkan dan disalurkan ke Unit Kegiatan [UK] yang ada di HIMA [himpunan mahasiswa] . Karikolame [tak ada penghuninya hanya jasad tanpa jiwa/ruh]
Ini kucinge sebut pendidikan sekuler, dari pola didik sedemikian ini sangat jarang tumbuh semai ahli lingkungan militan berjiwa pengabdi lingkungan dengan keilmuannya sebagai pendukung dan sebaliknya banyak sosok penyelamat-pengabdi lingkungan tidak berilmu lingkungan, hanya mengandalkan naluriah kesadaran qolbu saja.
Contoh gampang : Penanganan sampah berikut metode 4 R/MRF-nya itu dipelajari dan dipahami lantas diujikan dalam materi kuliah Teknik Lingkungan sebatas syarat rukunnya pembelajaran akademis. Stop sampai disini. ; di tempat lain ada sekelompok orang melakukan langkah-langkah 4R [reduce-reuse-recyling-rupiah-rombeng]/MRF [materials recovery facilities] tanpa belajar, hanya berdasar naluriah ekonomi dan menyandarkan mata pencaharian hidupnya disini.
Ada dua kubu domain : Mempelajari ilmunya, tanpa menjalani Menjalani, tanpa mempelajari ilmunya
Seyogyanya demikian : Berilmu [teoritis] barter sama pelaku bisnis [praktisi] dalam kesetaraan saling memberi dan menerima tanpa pandang tinggi-rendah statusnya berbagi ilmu di kampus dan di lapangan.
Terobosan : Ajak mahasiswa PKL [praktek kerja lapangan] ke lapak-lapak barbek [barang bekas] Undang praktisi lapak [pelaku bisnis] menjadi host/pembicara di kampus. Bagaimana? Satu simbiose mutualisme bukan? Bertemunya dua domain antara teori dan praktek. sudah dijelaskan kalau warna hitam atau putih bukannya….menolak wilayah diantara dua warna, abu-abu /greyzone, mengapa sampai terjadi hal demikian halnya …
bermula dari ketiadaan ilmunya! baru mengenal sedikit telah berani menjalani, ala maunya sendiri atau ketidak hadiran sang guru ahli, karena dalam semua ilmu itu ada gurunya, begini bahayanya mempelajari sesuatu mandiri/tanpa guru, akeh/smar/gak terlihat melengsene, tanpa ada yang menegurnya,
strata tahapan ilmu “ngawur”: tidak tahu dan gak mau tanya pragmatis [diambil enak/menguntungkannya, dibuang konsekuensinya] kayake disini perlu dikenalkan fisolofi adab/pola berfikir, seringkali diabai/remehkan, karena jauh dari nilai ekonomis, bisa bikin kurus mati berdiri menghiraukan asal-usul duit, bukan rizki … setara ndak ya sama pendidikan/pangajaran?
pendidikan menanamkan nilai ajaran musti didengar-diterima/pahami-dilakoni pengajaran menawarkan nilai ajaran cukup didengar-diterima/pahami-dilakoni/dijalani etika atau tidak sumonggo diserahkan sama audiens. pendidikan membuahkan hasil unggul dalam mutu santun dalam perilaku pengajaran membawakan buah unggul dalam mutu sumonggo berperilaku letak perbedaannya, pada ajaran berwatak dan tanpa karakter.
dengan kata lain pendidikan itu berproses, sedangkan pengajaran itu instant. bisa dianalogkan apa tidak, sama dengan membeli surga? atau senilai pragmatisme? sekarang tugas siapa sebenarnya … dan? apa audiens diberi hak pilih”membangun pembelajaran berkarakter ato tanpa karakter”? atau terserah kepada situasi…? hasilnya bisa dinikmati 3, 5, 7 tahun kemudian. …Dan berhubung kita ini tergolong kaum pelupa, masih juga suka bertanya …. malah keheranan lagi, mengapa ya…. khoq bisa jadi begini…. [melupakan akar kejadian saat itu dan kini menjadi skadar catatan masa lalu, dikenal sebagai sejarah…., sejarah apa saja…] ; gemar menghindari proses, suka style berfikir instant/jalan pintas/potong kompas … . padahal … kerusakan lingkungan itu berproses hukum sebab-akibat [paradoks, obyek kerja berproses, ditangani subyek kerja serba instant dan terkotak-kotak, bukan melingkar….[holistic] kira-kira bagaimana ya hasilnya nanti?]
satu teka teki silang akhir romadhlon 1429 H
wassalam
kucinge perpus