BATU BESAR
November 11th, 2007
Suatu hari seorang dosen sedang memberi kuliah
tentang manajemen waktu pada para mahasiswa MBA.
Dengan penuh semangat ia berdiri depan kelas dan
berkata, “Oke, sekarang waktunya untuk quiz.”
Kemudian ia mengeluarkan sebuah ember kosong
dan meletakkannya di meja. Kemudian ia mengisi ember
tersebut dengan batu sebesar sekepalan tangan.
Ia mengisi terus hingga tidak ada lagi batu yang cukup
untuk dimasukkan ke dalam ember.
Ia bertanya pada kelas, “Menurut kalian, apakah ember ini
telah penuh?” Semua mahasiswa serentak berkata, “Ya!”
Dosen bertanya kembali, “Sungguhkah demikian?”
Kemudian, dari dalam meja ia mengeluarkan sekantung kerikil kecil.
Ia menuangkan kerikil-kerikil itu ke dalam ember lalu
mengocok-ngocok ember itu sehingga kerikil-kerikil itu turun
ke bawah mengisi celah-celah kosong di antara batu-batu. Kemudian,
sekali lagi ia bertanya pada kelas,
“Nah, apakah sekarang ember ini sudah penuh?”
Kali ini para mahasiswa terdiam. Seseorang menjawab,
“Mungkin tidak.” “Bagus sekali,” sahut dosen.
Kemudian ia mengeluarkan sekantung pasir dan
menuangkannya ke dalam ember.
Pasir itu berjatuhan mengisi celah-celah kosong
antara batu dan kerikil. Sekali lagi, ia bertanya pada kelas,
“Baiklah, apakah sekarang ember ini sudah penuh?”
“Belum!” sahut seluruh kelas. Sekali lagi ia berkata, “Bagus. Bagus sekali.”
Kemudian ia meraih sebotol air dan mulai menuangkan
airnya ke dalam ember sampai ke bibir ember.
Lalu ia menoleh ke kelas dan bertanya,
“Tahukah kalian apa maksud illustrasi ini?”
Seorang mahasiswa dengan semangat mengacungkan jari dan berkata,
“Maksudnya adalah, tak peduli seberapa padat jadwal kita,
bila kita mau berusaha sekuat tenaga maka pasti kita bisa
mengerjakannya.” “Oh, bukan,” sahut dosen,
“Bukan itu maksudnya. Kenyataan dari illustrasi mengajarkan
pada kita bahwa: bila anda tidak memasukkan “batu besar terlebih dahulu,
maka anda tidak akan bisa memasukkan semuanya.”
Apa yang dimaksud dengan “batu besar” dalam hidup anda? Anak-anak Anda,
Pasangan anda, Pendidikan anda, Hal-hal yang penting dalam hidup anda,
Mengajarkan sesuatu pada oranglain, Melakukan pekerjaan yang kau cintai,
Waktu untuk diri sendiri, Kesehatan anda, Teman anda, atau semua yang
berharga. Ingatlah untuk selalu memasukkan “Batu Besar” pertama kali atau
anda akan kehilangan semuanya.
Bila anda mengisinya dengan hal-hal kecil (semacam kerikil dan pasir) maka
hidup anda akan penuh dengan hal-hal kecil yang merisaukan dan ini
semestinya tidak perlu. Karena dengan demikian anda tidak akan pernah
memiliki waktu yang sesungguhnya anda perlukan untuk hal-hal besar dan
penting. Oleh karena itu, setiap pagi atau malam, ketika akan merenungkan
cerita pendek ini, tanyalah pada diri anda sendiri: “Apakah “Batu Besar”
dalam hidup saya?” Lalu kerjakan itu pertama kali.”
November 12th, 2007 at 1:05 pm
ini arif eko julianto atau arif yang lain? koq koment di tempatku resmi banget ? hehehe
November 12th, 2007 at 2:19 pm
iya kak arul ini arif eko julianto, yeh formal apanya…
btw thax udah ngelia-liat blog ini ya..
May 4th, 2008 at 12:01 am
Art is either plagiarism or revolution.
May 4th, 2008 at 12:01 am
Writing gives you the illusion of control, and then you realize it’s just an illusion, that people are going to bring their own stuff into it.
May 4th, 2008 at 12:02 am
The radical of one century is the conservative of the next. The radical invents the views. When he has worn them out the conservative adopts them.