Info: July 27, 2009 Posted by: AE 16 comments

Kontributor:
Rusli Dain, pria berumur 30 tahun ini termasuk seorang yang berjiwa muda. Mas Dain, biasa saya panggil, memiliki karakter tegas, berprinsip, pandai, terbuka, dan menyenangkan. Walaupun usianya sudah kepala tiga, beliau sangat suka bergaul dengan anak muda sehingga saya pun senang ngobrol dengan beliau. Mas Dain juga aktif di Laboratorium Operasional Riset dan Desain, Jurusan Teknik Kelautan ITS. Beliau juga salah satu dedengkot yang mencetuskan terbentuknya Ocean Tripper. Karena kecintaannya pada dunia kelautan dan kemampuannya dalam bidang Coastal Engineering, menjadikan kesibukan beliau bertambah dengan seringnya bertugas ke luar kota bahkan luar pulau. Kali ini saya mendapat kehormatan karena beliau mau berbagi cerita pada saat kepergiannya ke Tual dalam mengemban tugasnya. Kebetulan, beliau juga suka travelling sehingga walaupun berangkat dengan niat mengemban tugas namun beliau melakukannya dengan senang hati.
Selasa, 2 Juni 2009 pukul 04:00 WIB dini hari, cuaca di Surabaya cukup dingin untuk memaksakan diri mandi pagi hari. Merokok dulu ah, sambil menghisap sebatang rokok Djarum Black. Hari ini terpaksa harus mandi pagi untuk mengejar pesawat yang berangkat ke Langgur (Tual). Rute perjalanan ke Tual bisa dilalui dengan pesawat dari Surabaya-Makasar-Ambon-Langgur dan dilanjutkan perjalanan lewat darat ke kota Tual. Kota Tual termasuk wilayah propinsi Maluku Tenggara, merupakan kota dengan dua pulau yaitu Pulau Kei Besar dan Kei Dullah. Dua pulau ini telah dihubungkan dengan jembatan, karena memang jarak antar pulau tidak terlalu jauh.

Jembatan penghubung Kei Besar dan Kei DullahPesawat Sriwijaya take off pukul 06:00 WIB dan landing di Makasar 08:30 WITA. Sampai di Makasar saya sempatkan untuk sarapan sekedar roti dan kopi ditemani sebatang rokok Djarum Black Slimz. Meski hanya roti dan kopi, tapi namanya di bandara ya cukup lumayan habis sampai Rp 45.000. Waktu tunggu di Makasar kurang lebih 1 jam. Saya sempatkan untuk sedikit foto-foto di ruang tunggu bandara. Jika diamati, di Bandara Internasional Hasanudin Makasar, cukup banyak orang-orang dengan pakaian baju gamis dan berjenggot lebat, mungkin akan sedikit berbeda dengan pemandangan di Bandara Juanda. Selain itu arsitektur Bandara Makasar juga lebih terkesan minimalis dan futuristik.

Bandara Internasional Hasanudin Makasar

Ruang tunggu Bandara MakasarDari Bandara Internasional Hasanudin Makasar perjalanan dilanjutkan ke Ambon. Berangkat pukul 09:30 WITA dengan pesawat Sriwijaya yang memakan waktu kurang lebih 1,5 jam. Tiba di Bandara Patimura Ambon pukul 02:00 WIT. Setiba di Bandara Ambon, saya bertemu dengan pak Alex dan pak Gery. Mereka adalah tim survei dari Jakarta. Kami langsung memesan tiket pesawat menuju Langgur ke maskapai penerbangan Trigana menggunakan pesawat sejenis CN-235. Sambil menunggu keberangkatan pesawat pukul 02:45 WITA, kami sempatkan untuk makan siang di rumah makan Padang. Dari pagi perut ini belum terisi nasi, hanya roti yang dibeli di Makasar dan juga roti dari pemberian secara cuma-cuma dalam pesawat.

Bandara Pattimura Ambon

Bandara Dumatubun LanggurSesampainya di Bandara Dumatubun Langgur kami telah di jemput pak Joko. Pak Joko adalah orang setempat yang dulunya pernah menjadi rekan kerja pak Gerry. Berdasarkan saran dari pak Joko kami di sarankan untuk menginap di Wisma Nusantara yang dekat dengan PPN Tual tempat tujuan perjalanan utama kami. Wisma ini memang paling dekat dengan PPN Tual, akan tetapi masalahnya cukup jauh dari pusat keramaian kota termasuk jauh dari warung makan. Sampai di Wisma pukul 05:00 WIT, kami istirahat sebentar mandi dan bersih-bersih. Setelah maghrib kami berangat makan malam di dekat Jembatan Watdek. Disana banyak warung seafood, dengan pesona pemandangan laut yang tersaji. Kebanyakan warung seafood disini yang jualan adalah orang Jawa, Toraja dan Makasar.

Hari pertama tidak banyak kegiatan yang kami lakukan. Kami lebih banyak untuk istirahat di wisma. Keesokan harinya kami melakukan koordinasi dengan Kepala Pengawas P2SDKP, bapak Subagiantoro, mengenai rencana survei. Dan kamipun melanjutkan dengan survei topografi. Hari ini cuaca sangat mendung dengan hujan yang tidak menentu. Langit terlihat kelabu secara merata. Tidak terlihat sedikitpun langit biru. Sangat disayangkan kalo tidak ada langit biru ketika sedang berada di pantai. Semua menjadi buram.

Di sela-sela melakukan survei topografi, saya melihat tiga orang anak dengan celana biru pendek (sepertinya seragam anak SMP) muncul dari semak-semak arah pantai (karena memang masih banyak semak belukar disini). “Dari mana dik?”, tanyaku. “Jual pisang mas”, jawab salah satu dari mereka. Yang kemudian aku kenal dia namanya ‘Minggu’ (nama panggilan karena dia lahir di hari Minggu).


‘Minggu’ (tengah) bersama dua kawannya setelah jual pisang sepulang sekolahSetiap pulang sekolah, ‘Minggu’ bersama kakaknya Nawar yang semester 2 di perguruan tinggi Tual dan juga adiknya Basri yang baru lulus SD, sering membantu bapaknya (pak Dullah) untuk mengurus kebun. Kebun mereka cukup jauh dari rumah dan mereka harus menyeberang selat atau naik ojek. Rumah keluarga bapak Dullah berada di desa Fair, sedangkan kebunnya berada di desa Dumar.

Sebetulnya kalau dibilang kebun sangat berbeda dengan kebun di Jawa, kalau di Tual kebun terlihat seperti tumbuhan pohon pisang liar dan juga rimbun perdu pohonan tebu.
Kebun pisang pak Dullah
Rumah kebun pak Dullah

Keberadaan kami di Tual sebenarnya sedang melakukan survei topografi dan hidro-oseanografi. Dalam melaksanakan survei, kami di bantu oleh pak Dullah dan keluarganya. Di daerah yang kami survei kebetulan sering di lewati olah masyarakat yang mempunyai kebun di sekitar untuk pergi ke pasar atau pun ke sekolah. Biasanya mereka ke pasar menjual daun singkong, singkong, tebu, atau pun hasil kebun lainnya. Anak-anak sekolah yang melewati jalan itu biasanya pulang sekolah untuk membantu orang tuanya di kebun. Yang menarik adalah jalan yang dilewati sangat berbeda dengan di Surabaya, atau di daerah Jawa lainnya. Jalannya sangat terjal, saya sendiri cukup kerepotan untuk melewatinya apalagi kalau habis hujan pasti sangat licin.
Anak-anak pulang sekolah

Keluarga pak Dullah pergi ke pasar membawa daun singkongJika di bandingkan dengan kondisi di Jawa pada umumnya sungguh kita harus sangat bersyukur. Kita mempunyai fasilitas dan prasarana yang sangat memadai. Di bandingkan dengan saudara-saudara kita di daerah pelosok.


Mereka tetap hidup dengan fasilitas dan prasarana yang minimDi sisi lain, keindahan pulau Kei adalah lautnya yang jernih. Dan satu hal yang membuat sangat berbeda dengan laut di Jawa adalah air laut di perairan Tual kadar garamnya sangat rendah, sehingga saya merasa nyaman untuk snorkling tanpa menggunakan snorkle. Airnya tidak begitu asin, sehingga tidak pedih dimata.









Keindahan dan pesona yang ditawarkan oleh TualKejernihan laut Tual, memberikan kenangan yang indah dalam perjalanan ke Tual, seperti ketulusan pak Dullah dan keluarganya membantu kami bekerja. Sudah tak terhitung berapa buah pisang kami habiskan, berapa batang tebu kami hisap. Di akhir pertemuan dengan keluarga pak Dullah, ‘Minggu’ sempat meminta untuk mengirim foto-foto kenangan kami di Tual. Kami sangat terkesan dengan kesederhanaan, kehangatan dari keluarga pak Dullah.




Berkumpul bersama keluarga dan rekan pak DullahAkhirnya minggu pagi pukul 04:00 WIT kami harus berangkat ke Bandara Dumatubun untuk kembali ke Surabaya. Dalam perjalanan tidak terlalu banyak yang kami lakukan. Kami sudah cukup lelah melakukan penjelajahan di Tual. Akan tetapi di sela-sela kelelahan, kami menyempatkan untuk menikmati keindahan kepulauan Maluku dari udara. Akhirnya kamipun tertidur dalam pesawat. Kami sampai di Surabaya pukul 11:00 WIB. Sekian cerita dari Tual.