Info: July 31, 2009 Posted by: AE 22 comments


Text: Augene M.
Photos: Augene M. and Catur Y.

Bermula pada saat kali pertama pertemuan saya dengan Infinity di Mall Galaxy Surabaya. Saat itu pihak Infinity membawa dua orang modelnya untuk prosesi short course fotografi dan saya pun ikut memotret. Seorang pria kulit putih menghampiriku dan meminta file foto hasil jepretanku. Kami berkenalan dan saya langsung mengetahui namanya setelah melihat kartu ID yang diberikannya padaku. Namanya Matthew Harlandy, seorang Business Manager dari Agensi dan Sekolah Model Infinity. Beberapa hari kemudian saya berhasil menyerahkan titipan atas permintaan mas Matthew. Sejak saat itu kami mulai akrab dan mas Matthew selalu memberitahu saya jika Infinity punya acara. Sudah dua kali beliau memberitahu saya bahwa Infinity akan mengadakan show. Namun yang pertama saya berhalangan datang karena sedang liburan di Kalimantan dan untuk yang kedua ini saya berhasil datang.

Undangan kedua ini adalah dalam rangka kelulusan siswa-siswi Infinity. Tanggal 25 Juli 2009, bertempat di Atrium ITC Mega Grosir Surabaya, acara ini berlangsung sangat meriah. Sambil membawa satu bungkus rokok Djarum Black, saya pergi kesana dengan mengajak mas Catur, rekan yang selalu setia menemani saya sekaligus kontributor yang baik. Kami tiba pukul 13:00 WIB dan acara pun segera dimulai pada pukul 14:00 WIB. Saya dan mas Catur segera melakukan beberapa setingan kamera, karena cahaya matahari yang masuk sudah menipis dan hanya mengandalkan cahaya dari panggung. Para pengunjung yang menyaksikan tidak hanya orang tua dari siswa-siswi Infinity saja, namun juga pengunjung yang kebetulan lewat dan berhenti sejenak untuk melihat aksi para model Infinity di atas stage. Ada seorang lelaki menghampiriku dan bertanya, “fotografer ya mas?”. Saya jawab, “Bukan, kebetulan saya dapat undangan dari manajer bisnisnya sekaligus dokumentasi. Saya juga aktif menulis di blog dan nantinya ini akan saya liput buat ditulis di blog saya”. Ternyata lelaki itu adalah kakak dari salah seorang murid yang sekolah di Infinity, yang sedang menemani adik perempuannya. Kami ngobrol cukup lama dan lelaki itu menawarkan satu batang rokok Djarum Black Menthol, “rokok mas?”. Saya jawab, “Terima kasih mas, saya udah bawa”, sambil mengeluarkan satu bungkus rokok Djarum Black dari saku saya. Karena tidak ingin ketinggalan momen penting pada acara ini, saya pun segera meninggalkan lelaki itu untuk melakukan pemotretan. Langsung pada pembukaan, para pengunjung disuguhi aksi para alumni dari Infinity.


Aksi pembuka yang dilakukan oleh para alumni Infinity.Kemudian dilanjutkan beberapa patah kata pembuka oleh mas Hendrik, salah satu owner Infinity sekaligus instruktur pengajar. Singkat saja pidato dari mas Hendrik, langsung beberapa model anak kecil memasuki atas panggung melakukan aksinya. Saya senang sekali melihat lagak mereka ini. Wajahnya lucu-lucu, imut, dan bikin gemas. Dengan bangga mereka ber-catwalk tanpa takut salah walaupun masih ada yang terlihat kaku dan malu, namun saya acungi jempol atas keberanian mereka.


Kebolehan anak-anak kecil murid Infinity patut diacungi jempol walaupun masih ada yang kaku dan malu.Selain model remaja yang melakukan aksinya, ternyata anak kecil berusia 3 tahun pun diberi kesempatan untuk melatih kemampuannya. Menurut mas Matthew, Infinity membuka kesempatan kepada semua orang yang ingin mengasah kemampuannya di dalam dunia model. Infinity punya murid paling muda berusia 3 tahun dan itupun tidak terlalu buruk bagi mereka. Tergantung niat muridnya dalam belajar. Mungkin saja murid yang berusia 19 tahun atau 15 tahun mampu mengimbangi murid yang berusia 22 tahun. Semuanya tetap butuh proses karena memang itu merupakan bagian dari pembelajaran.

Melihat lagi diatas panggung, pada saatnya mereka harus menggunakan pakaian yang sesuai dengan tema yang sudah ditentukan dari Infinity. Adapun beberapa tema yang disajikan diantaranya adalah pakaian santai, pakaian kantor, pakaian daerah (kebaya), pakaian pesta, hingga pada penampilan terakhir yaitu pakaian muslim. Untuk semua tema tersebut dilakukan oleh anak kecil maupun remaja, baik laki-laki maupun perempuan. Sebenarnya tidak semua sih, misalkan pada pakaian kebaya dan pakaian muslim hanya dipakai oleh remaja saja.






Aksi remaja murid Infinity mulai dengan pakaian santai, pakaian kantor, dan pakaian daerah (adat).Pada saat sesi pakaian daerah, saya dan mas catur tidak bisa mengambil gambar terlalu banyak. Kami menyempatkan dulu sholat ashar sekaligus makan siang, padahal saat itu sudah pukul 16:00 WIB. Untungnya sebelum kami minta ijin ke mas Matthew, beliau memberi nasi kotak dan minuman. Beruntung sekali, padahal kami tidak berharap untuk dapat bagian konsumsi. Setelah selesai, kami kembali ke tempat untuk melanjutkan pemotretan. Nampak dari jauh saya melihat pakaian yang dikenakan para murid Infinity sudah berganti dengan tema pakaian pesta.

Pada sesi pakaian pesta sangat berbeda dengan pada saat aksi menggunakan pakaian lain. Di sesi pakaian pesta ini merupakan saat paling mendebarkan bagi siswa-siswi Infinity. Disini semua murid sekaligus diuji oleh 3 orang juri dari Infinity. Diantaranya 2 orang bernama Hendrik dan Imelda yang merupakan owner sekaligus instruktur Infinity, dan 1 orang lagi bernama Gerald yang merupakan alumni dan juga instruktur Infinity.





Prosesi pengujian oleh 3 orang juri sekaligus instruktur Infinity. Dari kiri adalah Hendrik, Imelda, dan Gerald.Sambil menunggu proses pengujian selesai, saya sempat berfoto bersama seorang model berumur 19 tahun yang bernama Yuni. Saya dengan mas Catur juga melakukan sedikit perbincangan dengan mas Matthew. Dari perbincangan tersebut saya mendapat beberapa informasi penting mengenai Infinity yang menarik untuk diketahui. Pria berumur 27 tahun ini menjelaskan bahwa sebelum Infinity menjadi sebuah agensi dan sekolah model, mulanya mereka adalah sebuah kumpulan orang dalam suatu agensi SPG. Dan ternyata orang-orang ini memiliki kemampuan yang lebih daripada hanya sekedar SPG. Ditambah pula dari pengalaman mereka yang sudah melalang buana, akhirnya mereka merasa perlu adanya wadah untuk regenerasi sekaligus berkembang. Akhirnya terbentuklah agensi dan sekolah model Infinity.

Untuk level basic, sekolah model ini ditempuh dalam waktu 6 bulan dengan total biaya Rp. 1.250.000 dengan syarat mengikuti ujian harus memenuhi 75% dari total pertemuan. Sedangkan bagi yang ingin masuk level intermediate atau meneruskan dari level basic, semuanya ditempuh dalam waktu 4 bulan dengan biaya Rp. 300.000 tiap bulan. Bagi murid yang terpaksa sering berhalangan masuk, maka untuk mengejar ketertinggalan materi dapat melakukannya secara private atau masuk dengan intensitas dua kali lebih banyak daripada pertemuan biasanya.


(atas) Saya bersama salah seorang model bernama Yuni. (bawah) Saya bersama mas Matthew.Sebelum sesi yang sakral dilakukan yaitu pengumuman pemenang, alumni Infinity kembali tampil dengan busana muslim. Akhirnya, tiba sudah saatnya pengumuman hasil pengujian. Para murid berjejer rapi diatas stage ditemani beberapa alumni yang membawa piala. Nantinya setiap orang alumni menyerahkan pialanya kepada satu orang pemenang. Saya juga tidak menyangka kalau model bernama Yuni yang sempat foto bersama tadi menjadi juara satu kategori remaja cewek intermediate.