Deep confusion

Categories: poem

confuseMereka yang memberiku doktrin, memaksaku mencari kebenaran hidup ini.
Segala santun, tutur kata, dan perilaku manis melekat menyempurnakan langkahku.
Kudengarkan iramanya mengalir, menggetarkan gendang inderaku, terimaku.
Apa alasan aku menolak tak jelas, sanggahku terbebani oleh keterbatasanku.
Keterbatasan yang aneh pada diriku, masih rumit pikirku terombang-ambing.

Mungkin sudah saatnya menggali cacat ini, dan menutupnya bersama pasir mereka.
Atau mereka anggap itu seperti penyakit, musibah yang harus disembuhkan dan kalau sampai dimusnahkan.

Ingin dihargai sosok ini, tak hanya diterima hingga selama ini.
Biarlah aku tumbuh bersama angin sendiri, jangan seka aku seperti ini.
Hidupku akan lebih berarti lagi, tanpa membiarkan keterbatasanku berlari.
Susah payah sendiri aku tunjukkan, tepis kata dengan seruan kelompoknya.

Harapku ini sejajar dengan matanya, dan tetap terbisik oleh angin mereka.
Masih menyala sisa mimpi-mimpiku, terus yakinkan pada mereka.
Kegagalan ini adalah milikku, namun ini belum berakhir bagiku.
Bingung mendalam . . .

Enviro jatuh dan cinta

Categories: poem

loveAwal dua tangkai bunga membawa bingkisan cetak biru.
Tak usah kau tunjukkan padaku, sendirinya nampak sosok cetak biru itu.
Terima kasih dua sahabatku, kalian membawa suka perasaan gembiraku.
Lama menanti cetak biru tidak mengisi kesendirian ini, kucoba dekati.
Sungguh semakin cepat langkah kakiku, semakin dekati warna birunya.

Aku ini tak bisa diam, menyandang manis di muka birunya, akulah Enviro.
Enviro sudah terbangun, dunia ini adil bagi Enviro yang percaya seperti aku.
Disaat ada cetakan yang hilang, muncul cetakan yang baru.
Dirasa hilang aroma cintaku, terbuai kembali aromaku, kau cetakan biruku.
Ini perasaan biasa bagi insan sepertiku, tapi terasa memerah raut mukaku.

Cetakan biru, kau bermainlah ke tamanku, kupetik bunga-bungaku untukmu.
Meski dua bunga berada, kurasa tak berduri, tetaplah mereka bunga-bungaku.
Kaulah yang akan mewarnai dinding tamanku, kusamnya dengan warna birumu.
Tak hentinya aku mengganggumu, aku rasuki coretanmu dengan indahku.
Rasakan tebar pesonaku, lewati pintu biru di tamanku.
Pintu biru yang hanya ada satu di tamanku, tak pernah terkunci hanya untukmu.

Hari jadiku semakin dekat, harapku dekapan ini tertoreh cetakan biru.
Aku tak bernyali, Enviro macam aku ini, lihat padaku karena diriku ini wanita.
Benarkah adanya bungaku berkata, cetakan biru cuek bebek layaknya kau.
Kutunggu, kunanti warnamu di tamanku, dahaga tamanku tak berwarna.
Seiring menanti kuingin sendiri, bingung jadinya, sempit, penat, ingin bertemu.
Cobalah mengerti . . .

Unforgotten

Categories: poem

unforgottenKabar pohon lemas saat itu, daun keringnya gugur terbalik.
Ayahnya jatuh sakit juga, tak disangka sulit latar saat itu.
Tersentuh Kuning di dekat pohon, meraba ranting keringnya, sembuhkan luka.
Bantu pohon menjulur dekati sang ayah, tersenyum mengikis duka sembuhkan raga.
Momen itulah Kuning bias bohong, cengkeraman pikiran yang keras dilepas.
. . . teringat Ayahanda tercinta,
. . . terbaring tenang,
. . . senyuman manis,
. . . lautan sejuk di wajah,
. . . dekapan hangat di tangan,
. . . alunan tutur kata yang menari sopan di telinga,
Kuning, sesaat itulah yang dirasa.
Coba Kuning hibur diri, tawanya sedikit berharap hapuskan kesedihan berlarut.

SAMA SAJA

Categories: poem

sama saja2006 di Mei XXIII, kira–kira disekitar itulah.
Masih terasa sedak pinta, namun tanpa linang air mata.
Bersama Kuning dan mereka, kokohkan jari-jari lingkaran.
Mencari sayatan dan batu yang merusak pilar lingkaran itu.
. . . . . . sama macam biasanya, yah begitu itu saja adanya sulit berubah.
Tak lama tambah lagi adanya, tak dihargai Kuning tulus atas niatnya.
Sudah akarnya sulit berubah dan dirubah, merobohkan pilar saja.
Seperti 2006 di Mei XXI, tak ubahlah lingkaran itu tetap retak.
Kali kedua, ya tuhan bimbing dan tuntunlah mereka . . .

KAKI AYAM

Categories: poem

kaki ayamMasih terasa sedak pinta, namun tanpa linang air mata.
Saat ada Kuning dan mereka, mencoba membangun lingkaran itu.
Mencari sayatan dan batu yang merusak pilar lingkaran itu.
Bersama Kuning dan mereka, kokohkan jari-jari lingkaran.

Tak lama tambah lagi adanya, tak dihargai Kuning tulus atas niatnya.
Sudah akarnya sulit berubah dan dirubah, merobohkan pilar saja.
Pijar tak wajar kunang lagi, jari-jari lingkaran memuai dan mengelupas.
Lagi-lagi kebohongan, kejujuran yang tak pasti, memang kurang ajar.
Merasa kah mereka malu, dasar makhluk tak tahu malu.
Persetan kah mereka, memang muka tebal, pantas sebutan mereka itu.
Sekali lagi, ya tuhan bimbing dan tuntunlah mereka . . .