Deep confusion
Mereka yang memberiku doktrin, memaksaku mencari kebenaran hidup ini.
Segala santun, tutur kata, dan perilaku manis melekat menyempurnakan langkahku.
Kudengarkan iramanya mengalir, menggetarkan gendang inderaku, terimaku.
Apa alasan aku menolak tak jelas, sanggahku terbebani oleh keterbatasanku.
Keterbatasan yang aneh pada diriku, masih rumit pikirku terombang-ambing.
Mungkin sudah saatnya menggali cacat ini, dan menutupnya bersama pasir mereka.
Atau mereka anggap itu seperti penyakit, musibah yang harus disembuhkan dan kalau sampai dimusnahkan.
Ingin dihargai sosok ini, tak hanya diterima hingga selama ini.
Biarlah aku tumbuh bersama angin sendiri, jangan seka aku seperti ini.
Hidupku akan lebih berarti lagi, tanpa membiarkan keterbatasanku berlari.
Susah payah sendiri aku tunjukkan, tepis kata dengan seruan kelompoknya.
Harapku ini sejajar dengan matanya, dan tetap terbisik oleh angin mereka.
Masih menyala sisa mimpi-mimpiku, terus yakinkan pada mereka.
Kegagalan ini adalah milikku, namun ini belum berakhir bagiku.
Bingung mendalam . . .
Awal dua tangkai bunga membawa bingkisan cetak biru.
Kabar pohon lemas saat itu, daun keringnya gugur terbalik.
2006 di Mei XXIII, kira–kira disekitar itulah.
Masih terasa sedak pinta, namun tanpa linang air mata.












