A fantasy story… Enjoy and please read carefully.
Don’t forget to write a comment
Distribution is strickly prohibited without the author’s consent!
Chapter 1
The Destined Child
Matahari bulan April bersinar cerah sementara semilir angin musim semi berdesir lembut menyejukkan jiwa. Sisa-sisa butiran salju telah menghilang, menampakkan kembali warna kecoklatan tanah yang subur. Tunas-tunas muda bermunculan di ranting pohon kering menyegarkan pandangan. Kuncup-kuncup bunga menyembul di sela dedaunan tumbuh-tumbuhan, mengundang kupu-kupu berkunjung untuk menyemaikan benihnya. Alam seakan berseri kembali setelah menampakkan wajah pucatnya selama musim dingin.
Seorang lelaki paruh baya berlari di bawah sengatan mentari. Ekspresi pucat pasi menandakan kengerian tengah menguasai batinnya. Kerutan di kening semakin menunjukkan betapa besar kecemasan yang dirasakannya. Guratan emosi yang membaur dalam perasaannya membuat wajahnya terkesan lebih tua daripada biasanya.
Pria itu berlari tergesa-gesa menyusuri jalanan berbatu. Peluh yang membasahi kulitnya tidak disebabkan oleh keletihan jasmani tetapi karena ketegangan mentalnya yang bermaksud mengantisipasi kemungkinan terburuk. Berita yang baru saja sampai ke telinganya bagaikan petir yang menyambar kesadaran hingga membuatnya kehilangan sandaran. Tak bisa dipercaya, bagaimana mungkin istrinya jatuh terpeleset! Tak pernah sekalipun tebersit dalam benaknya bahwa musibah itu akan menimpa istri yang sangat dicintai dan tengah mengandung calon putra pertamanya.
Ini benar-benar bencana! pikirnya kalut, tak kuasa menahan gejolak emosi yang membuncah. Kabar itu telah mengoyak kebahagiaan di lubuk hatinya yang terdalam. Kini yang tertinggal hanyalah bayangan mimpi buruk berkepanjangan.
Pria itu memasuki rumah kayunya yang sederhana. Dengan napas memburu dan tatapan liar, matanya menyapu seisi rumah dan menangkap suasana muram yang melingkupinya. Didapatinya istrinya terkulai tak berdaya di ranjang dan seorang wanita berdiri di sampingnya.
“Bagaimana keadaan istri dan anakku?” tanya laki-laki itu. Rambutnya hitam dan bola matanya berwarna gelap. Tubuhnya tinggi tegap seakan tak termakan usia. Penampilannya tak berbeda dengan manusia biasa pada umumnya. Meski kepanikan tengah melanda benaknya, aura berwibawa tetap terpancar dari dalam dirinya. Dialah Sietra, pemimpin Klan Netral yang kharismatik.
Klan Netral adalah satu-satunya klan di Elementiera yang tak memiliki kekuatan elemen. Mereka terasing di tempat-tempat yang terpencil dan terisolasi, seperti lembah Acelyn yang terletak di antara dua perbukitan sehingga tak mudah ditemukan. Mereka tinggal bersama dan saling menjaga keselamatan seraya berusaha bangkit dari kehancuran yang menghantui setiap langkahnya. Hidup mereka nomaden, tak pernah menetap di satu lokasi dalam kurun waktu yang lama. Bahkan ketika tidur, mereka tak dapat memejamkan mata dengan tenang karena selalu dihantui oleh rasa takut dan tidak aman. Bahaya mengintai dari segala arah dan siap menerkam mereka kapanpun. Sebagai klan terlemah, sudah tak terhitung nyawa Klan Netral yang melayang karena menjadi korban pembantaian klan-klan lain yang jauh lebih kuat. Mereka tak mempunyai cukup kemampuan untuk melindungi diri ataupun membalas kekejaman yang diterima. Hanya satu yang dapat mereka lakukan, bersembunyi dari kejaran klan-klan lain demi mempertahankan eksistensi mereka yang hanya tersisa segelintir orang. Kepunahan mengancam di depan mata dan hanya keajaibanlah yang dapat menjauhkannya.
Wanita itu berbalik karena mendengar perkataannya. Rambut putih yang menghiasi kepala dan keriput yang bertebaran di wajah membuktikan bahwa usianya sudah memasuki dekade ketujuh.
“Maafkan hamba, Tuan Sietra. Hamba tak sanggup menolong mereka,” jawabnya lirih. Kesedihan terpancar di matanya. Profesinya sebagai bidan memaksanya sering berurusan dengan kehidupan dan kematian namun kegagalannya kali ini melahirkan rasa penyesalan dalam sanubarinya. Di tangannya tergendong bayi mungil bersimbah darah yang tak bergerak sama sekali. Dia berkata dengan suara parau, “Pendarahan yang dialami istri Tuan sangat parah sehingga bayi dalam kandungannya juga tak dapat diselamatkan.”
Spontan otot-otot wajah Sietra menegang dan matanya terbelalak. Kata-kata bidan itu bagai sebilah pisau yang menikam jantungnya, tidak hanya sekali, dua kali, namun ribuan kali! Tiada hal yang paling menyedihkan selain apa yang baru saja didengarnya. Mengapa takdir begitu kejam mengambil nyawa orang-orang yang sangat disayanginya tanpa sedikitpun belas kasihan? Dosa apakah yang telah diperbuatnya di masa lampau hingga harus mengalami nasib senaas ini?
Sietra berusaha keras mengendalikan perasaannya yang bercampur aduk. Sedih, marah, benci, dan kecewa berbaur menjadi satu hingga mengguncang dadanya. Dihampirinya sang bidan yang kemudian menyerahkan bayi itu dengan sukarela padanya. Tubuh bayi itu sangat mungil karena dilahirkan lebih cepat daripada perkiraan awal.
Dipeluknya jasad yang sudah tak bernyawa itu dengan penuh rasa haru. Kehangatan tubuhnya bersentuhan dengan rasa dingin yang mencekam dari mayat itu. Bau anyir darah yang menusuk indra penciuman tak dihiraukannya. Dalam dekapannya bayi itu tak menunjukkan tanda-tanda kehidupan sama sekali. Sietra hanya bisa memandangnya lekat-lekat dengan penuh kasih sayang dan rasa iba. Betapa malang nasib putranya yang tak berdosa, harus menemui ajal sebelum sempat menatap dunia!
Hati Sietra sungguh pilu. Dia menangis tanpa air mata dalam kesendirian setelah ditinggal pergi istri kesayangannya. Sang waktu tega berpaling darinya, mencampakkan harapan-harapan dan memporak-porandakan pilar hidupnya. Penderitaan datang bertubi-tubi dalam waktu yang bersamaan. Dua hal yang sangat berharga telah dirampas dari hidupnya. Kehilangan istri yang dicintai dan putra yang sangat diharapkan membuat Sietra merasa hidupnya tak bermakna lagi.
Alam pun seakan turut berduka atas musibah yang terjadi. Seketika cuaca mendung dengan awan-awan cumulonimbus capillatus incus bergelayut di angkasa, sarat dengan muatan. Sang mentari enggan menghantarkan cahayanya dan memilih bersembunyi di balik pekatnya awan. Kilat-kilat menyambar membelah langit gelap dengan disertai suara guntur menggelegar yang memekakkan telinga. Sesaat kemudian hujan deras tercurah bak air bah yang mengamuk. Gempa berkekuatan tinggi menghantam tanah, mengakibatkan retakan demi retakan menyebar dengan cepat dan menimbulkan lubang-lubang raksasa menganga di beberapa tempat. Sementara deru angin topan meluluhlantakkan segala yang disentuhnya dan menghempaskan pohon-pohon dari akar yang menghunjam hingga ke pusat dunia.
Kepanikan melanda orang-orang Klan Netral. Mereka berlindung di balik dinding-dinding rumah yang kokoh sembari berharap keadaan akan segera membaik. Mereka menyadari bahwa perubahan cuaca yang sangat drastis dan mendadak mengisyaratkan goyahnya keseimbangan elemen alam. Namun mereka tak habis pikir alasan yang melatarbelakangi terjadinya fenomena itu.
Di tengah hiruk pikuk bencana alam yang menimbulkan kekacauan, sebuah keajaiban terjadi. Di dalam tubuh bayi mungil yang tak bernyawa itu, tiba-tiba jantung berdenyut memompa darah ke seluruh bagian tubuh. Organ-organ dalam yang vital mulai berfungsi sebagaimana mestinya. Sistem sarafnya terbangun dan berusaha menangkap stimulus-stimulus dari luar. Seiring dengan denyut nadi yang kembali normal, bayi itu mengembuskan napas ke dunia untuk pertama kalinya.
Sietra merasakan keganjilan pada jasad putranya. Raga bayi itu bergetar pelan menyiratkan pulihnya kinerja otot-otot yang melapisi kulit lunaknya. Perlahan-lahan kelopaknya terangkat dan bola mata hitam jernih mengintip dengan malu-malu. Jemarinya bergerak dengan sangat pelan hingga tak kentara.
Sang Ketua memekik dengan penuh semangat, “Dia bergerak!”
Suaranya menggelegar ke seantero ruangan. Bidan itu terperanjat mendengar seruannya. Serta merta dia melontarkan sanggahan, “Mustahil! Mana mungkin bayi yang sudah meninggal bisa hidup kemba…”
Kata-katanya terpotong oleh suara isak bayi. Tangisan itu begitu nyaring membahana, membaur dalam kebisingan alam. Rasa heran sekaligus bahagia yang tak terkira menyelimuti hati Sietra. Kesedihannya sirna seketika. Putranya yang sejak tadi diam membisu kini tampak sehat dan penuh dengan aura kehidupan. Dadanya naik turun, bergantian menghirup dan melepaskan saripati udara yang murni. Tangan dan kakinya bergerak lincah seakan baru terbebas dari belenggu yang menyiksa.
“Anakku…,” ujarnya tak kuasa menahan rasa haru.
Seperti halnya kekacauan alam yang tiba-tiba melanda lingkungannya, keajaiban yang dialami putranya sungguh tak masuk akal! Seolah dia adalah anak yang ditakdirkan untuk lahir pada hari ini walau harus mengarungi lautan kematian sekalipun!
Pikiran Sietra menerawang menembus dimensi waktu, kembali ke masa kecilnya yang terlupakan. Dia pernah mendengar tentang ramalan kuno itu… Ramalan tentang kelahiran anak terkuat dari Klan Netral pada tanggal 4 bulan 4 Tahun Api 444 yang akan mengakhiri kejayaan Klan Api. Ramalan itu bukan sekedar isapan jempol belaka karena berasal dari sang Peramal Agung. Konon, ramalannya tak pernah meleset sedikitpun dan itu adalah ramalan terakhirnya sebelum maut menjemput. Kaisar Api murka setelah mendengarnya dan mengirim ratusan pasukan untuk menghabisi peramal malang itu. Sungguh ramalan yang mengundang petaka bagi tuannya! Kini setelah berabad-abad terabaikan, ramalan itu menghantui benak Sietra.
Hari ini tepat tanggal 4 April pada tahun ke-444 sejak Klan Api menjadi klan terkuat dan berkuasa di Elementiera. Wajah Sietra memucat dan tenggorokannya tercekat. Dia menyadari bahwa putranya terlahir ke dunia dengan mengemban takdir yang besar. Bahkan sang maut tak kuasa mengelakkannya dari kenyataan itu!
Dipeluknya bayi mungil itu lebih erat. Sietra mendekatkan bibirnya ke telinga bayi itu dan berbisik lembut, “Namamu adalah Rineas.”
Tanpa ada yang menyadari mata lelaki itu berkaca-kaca. Bulir-bulir kristal bening mengalir membasahi pipinya. Itu bukan air mata kebahagiaan, melainkan air mata kesedihan…
* * * *
Sang waktu seakan berlari cepat meninggalkan jejak tahun-tahun yang terlewati. Tak terasa sepuluh tahun telah berlalu sejak kelahiran putra Ketua Klan Netral. Misteri masih membayangi peristiwa itu tanpa mereka sanggup mengetahui kebenarannya.
Pada suatu malam berbintang di Hutan Woodchester yang letaknya tak jauh dari Lembah Acelyn, sekumpulan pasukan berkuda melaju kencang menyibak kegelapan seraya menghindari pepohonan yang menghadang. Suara ringkikan tunggangan-tunggangan mereka terdengar nyaring memecah kesunyian. Warna terang dan aura panas menghiasi udara di sekeliling mereka. Percikan api menghanguskan setiap jengkal tanah yang mereka lalui dan meninggalkan jejak terbakar yang legam.
Mereka mengenakan baju besi yang kebal terhadap senjata logam apapun. Pedang tajam terselip di pinggang kiri sedangkan perisai tebal tersandang di punggung mereka, memungkinkannya untuk menyerang musuh sekaligus melindungi diri. Rambut merah yang tersembul dari sela-sela penutup kepala mereka menyala dalam kegelapan, simbol dari Klan Api yang merupakan klan terkuat dan paling ditakuti di seluruh Elementiera. Api jika digunakan dengan cara yang benar akan menimbulkan manfaat dengan memberi kehangatan dan penerangan bagi insan-insan di sekitarnya. Namun elemen api yang dikuasai Klan Api begitu ganas membakar siapapun yang berani merintangi jalannya. Seperti yang terjadi pada hari ini, mereka baru saja memusnahkan Klan Tumbuhan yang berniat mengakhiri dominasi Klan Api. Tak kenal ampun, mereka menghanguskan orang-orang Klan Tumbuhan berikut setiap jengkal tanah Kerajaan Tumbuhan yang mereka diami. Sedikit saja perlawanan dan mereka akan membasmi para pemberontak hingga ke akar-akarnya tanpa belas kasihan. Tak ada yang tersisa dari orang-orang yang berniat mengakhiri kejayaan Klan Api. Persis seperti yang dialami oleh sang Peramal Agung yang nekat mencetuskan ramalan yang dikhawatirkan akan memicu kudeta. Peramal itu menemui ajal dalam kesia-siaan di tangan para prajurit yang tak berperasaan hanya karena memberitahukan sebuah kenyataan yang akan terungkap beberapa abad setelah kematiannya.
Tak seorangpun boleh menentang Klan Api, sang penguasa Elementiera. Mereka begitu kuat, beringas, tak kenal takut, dan memiliki kekejaman yang tiada duanya. Semenjak tahta sang Kaisar dikukuhkan di dunia itu, kebengisan mereka semakin menjadi-jadi. Mereka bertindak sewenang-wenang tanpa mengenal perikemanusiaan. Dengan sesuka hati mereka menyakiti orang-orang lemah yang bahkan tak sanggup melakukan pembelaan diri. Kemarahan mereka berarti akhir hayat bagi segelintir makhluk lainnya. Sifat mereka sesuai dengan elemen api yang agresif dan paling mematikan dibandingkan elemen-elemen lainnya.
Keadaan cuaca pada saat itu kurang menguntungkan bagi perjalanan mereka. Selain kegelapan yang membutakan mata, kabut dari puncak gunung perlahan turun ke lereng yang landai. Hawa dingin terasa menusuk tulang walau mereka terlindungi oleh kekuatan api yang menyelimuti tubuh dan memberi sedikit kehangatan.
Kaisar Api menghentikan kuda dan serentak semua pengikutnya melakukan hal yang sama. Beliau bertitah dengan penuh wibawa, “Malam semakin larut dan kabut akan datang menjelang. Sebaiknya kita berkemah di sini untuk sementara waktu sembari menunggu situasi membaik!”
Para bawahan mematuhi perintahnya tanpa menggumamkan satupun keluhan atau protes. Satu hal yang patut diteladani dari Klan Api adalah di balik berbagai sikap buruk yang melekat dalam diri mereka, tersembunyi loyalitas dan kesetiaan terhadap sang pemimpin yang terpilih karena kehebatan kekuatannya. Mereka mengabdi tanpa syarat kepadanya dan bersumpah akan terus melakukannya hingga akhir hayat.
Para pasukan segera mendirikan kemah dan membuat api unggun. Cahayanya memberi penerangan sekaligus mengusir hewan-hewan buas yang berniat mendekat. Mereka bermalam di hutan itu, berlindung di dalam tenda dengan aman tanpa didera setitikpun rasa khawatir. Klan lainnya pasti akan berpikir seribu kali sebelum memutuskan untuk berkemah di hutan karena banyak bahaya tak terduga yang mengancam keselamatan. Namun berbeda dengan Klan Api yang tak mengenal takut, mereka bisa bermalam di mana saja seolah berada di markas sendiri.
Waktu terus berlalu hingga melewati tengah malam. Keheningan melingkupi area kediaman mereka. Hanya siulan burung hantu dan lolongan serigala di kejauhan yang sesekali menyemarakkan suasana. Semua orang terlelap pulas dan berkelana di alam mimpi, menelusuri satu-persatu kenangan yang terpatri dalam ingatan mereka. Peristiwa demi peristiwa bertebaran dalam benak mereka dengan diselingi sejuta ilusi.
Sementara itu, dia yang tak bisa tertidur tengah bergulat dengan kecemasan batinnya. Entah mengapa, malam ini dia begitu gelisah hingga tak kuasa memejamkan mata. Hati kecilnya mengisyaratkan seolah ada bahaya yang mengancam jiwanya. Seumur hidup baru pertama kali Carael mengalaminya. Padahal dia adalah Pangeran Api, putra sang Kaisar, dan sekarang dia sedang berada di tengah-tengah Pasukan Api yang perkasa namun dirinya sama sekali tak merasa aman.
Carael bangkit dan keluar dari tempat peristirahatannya. Ditinggalkannya sang Ayah yang tengah terlelap di peraduan. Dia bermaksud berjalan-jalan untuk memulihkan pikirannya yang kacau. Dia butuh berdiam dalam kesendirian demi menghilangkan kekhawatiran dalam benaknya. Dia berharap hatinya akan kembali tenang setelah berkeliling sejenak sembari menghirup udara malam yang segar.
Seorang pasukan berjaga di depan api unggun. Sesekali dia menguap lebar karena tak kuasa menahan kantuk yang mendera kelopak matanya. Rasa dingin yang menusuk hingga ke tulang sungsum membuatnya menggigil meski berada di dekat kobaran api.
Sang Pangeran berjalan mengendap-endap tanpa sepengetahuan si penjaga. Dengan mudah dia menjauh dari perkemahan klannya. Semakin lama melangkah dia semakin meninggalkan perkemahan yang akhirnya menghilang di belakangnya. Semilir angin membelai lembut kulitnya dan memberinya kesejukan. Carael terus berjalan seraya mengamati pemandangan di sekitarnya. Pepohonan oak menjulang tinggi bagai menembus awan. Gemerisik dedaunan acap kali menemaninya ketika desir angin bertiup di sela-sela kerimbunan. Irama nyanyian burung hantu yang menyedihkan membuatnya tersadar bahwa di dunia ini dia bukanlah satu-satunya makhluk yang kesepian.
Meski baru berusia sepuluh tahun, Carael memiliki keberanian yang luar biasa untuk berjalan seorang diri di dalam hutan yang temaram. Rambut merahnya bagai kobaran api yang meneranginya dalam gulita. Sementara lidah api kecil memercik dari ujung jemari tangannya yang terayun beraturan. Namun semakin lama melangkah bukan ketenangan yang diperolehnya, malah hatinya semakin berdebar-debar tak karuan seolah menyiratkan firasat buruk. Anak itu tak memahami apa yang tengah terjadi pada dirinya dan bagaimana menghilangkan perasaan buruk yang menghinggapi pikirannya. Ketika akhirnya dia memutuskan untuk kembali ke perkemahan, semuanya telah terlambat. Hal yang terburuk terlanjur terjadi.
Didengarnya sebuah bunyi asing tak jauh dari tempatnya berpijak. Dengan mudah dia membuat kesimpulan. Ada orang lain di hutan ini. Dan aku harus tahu siapa!
Entah kenapa dia begitu tertarik untuk mengetahui sumber suara itu. Rasa penasaran menggelegak dalam jiwanya, memberinya semangat berapi-api yang tak bisa dinalar. Dia mengendap-endap tanpa menghiraukan hati kecil yang berusaha meyakinkannya bahwa keputusan yang diambilnya itu keliru. Dia melangkah perlahan tanpa suara walau sesekali kakinya menginjak ranting-ranting kering yang berguguran di tanah.
Tak lama kemudian tibalah Carael di tempat itu. Dilihatnya seorang anak laki-laki seumuran dengannya sedang berlatih keras. Anak itu memukul dan menendang pohon berkali-kali hingga menimbulkan bunyi yang sempat menggelitik minatnya. Sang Pangeran muda hanya bersembunyi sambil diam-diam mengamati anak itu.
Siapa dia? Rambutnya hitam dengan bola mata berwarna gelap. Tak ada tanda-tanda spesial yang sekiranya dapat mewakili kekuatan elemen yang dikuasainya. Batin Carael dipenuhi tanda tanya sementara otaknya memberdayakan seluruh pengetahuan yang pernah diterimanya. Dia teringat cerita ayahnya tentang klan terakhir yang berdiam di dunianya. Selama ini mereka hidup dalam keterasingan di bawah naungan ketakutan akan pembantaian klan-klan lain. Kebinasaan selalu menguntit bagai bayangan yang menyertai ke manapun mereka pergi.
Mungkinkah dia… anggota Klan Netral? Pikiran Carael menyimpulkan dengan pasti berdasarkan fakta-fakta yang terangkum dalam setiap sinapsis saraf di otaknya. Dia sangat yakin akan kebenaran yang baru saja diperolehnya.
Tiba-tiba anak laki-laki yang berlatih itu sadar sehingga menghentikan gerakannya dan melihat sekeliling. “Siapapun itu, keluarlah!” serunya lantang seolah merasakan dirinya sedang menjadi sasaran perhatian dari orang tak dikenal. Gerak-geriknya tengah diawasi oleh si pelaku yang berlindung di balik sebatang pohon. Setiap malam dia selalu berlatih di hutan itu dan dengan sendirinya kemampuan panca inderanya juga terasah tajam. Akibatnya, dia mampu merasakan aura seseorang yang tak begitu jauh darinya.
Bagaimana mungkin anak itu bisa mengetahui keberadaanku? Dia kan hanya seorang Klan Netral yang lemah! Carael terkesiap, tak menduga kehadirannya terdeteksi meski dia sudah berhati-hati bergerak dan tak menimbulkan bunyi sekecil apapun.
Kebingungan menguasai hatinya. Dia merasa tak ada gunanya tetap bersembunyi karena lawan sudah menebak posisinya. Dengan enggan dia melangkah keluar dan berhadapan dengan anak Klan Netral itu. Detik-detik berlalu dalam keheningan. Semilir angin membelai rambut keduanya dengan lembut.
“Menarik sekali, ada Klan Netral yang berlatih di hutan pada tengah malam. Kukira kalian sudah punah sejak lama!” katanya mengawali percakapan. Keangkuhan terasa dalam nada bicaranya, buah dari didikan ayahnya selama ini. Sebagai Pangeran dia memang terbiasa diajarkan untuk memandang rendah orang lain yang kedudukannya tak sepadan dengannya. Dia menganggap hanya sang Kaisar yang bermartabat lebih tinggi darinya.
Anak itu diam bergeming mendengarnya. Mata gelapnya memandang Carael dengan tajam. Sikapnya menunjukkan kewaspadaan terhadap musuh. Tiada sedikitpun rasa gentar meski dia menyadari bahwa lawan bicaranya adalah keturunan Klan Api.
“Percuma walaupun kau rajin berlatih setiap hari! Semuanya sia-sia belaka!” ejeknya seraya tertawa sinis. Perilakunya membuat kekesalan Carael memuncak. Dia ingin mencaci-maki anak itu demi melenyapkan kesombongannya. Baginya, anak yang terlahir tanpa menguasai satupun kekuatan elemen tak pantas menatapnya dengan penuh keberanian seperti itu. “Kau takkan sanggup mengelak dari takdirmu sebagai klan terlemah!”
“Itu bukan urusanmu!” jawab anak itu, merasa marah mendengar penghinaan yang dilontarkan Carael. Meski tak bisa menyangkal kebenaran kata-kata lawannya, dia tak sudi direndahkan oleh siapapun. Harga dirinya yang tinggi tak mengizinkannya untuk bertekuk lutut di hadapan orang lain dan pasrah menerima segala cercaan. “Katakan siapa kau dan apa maksudmu berkeliaran di hutan pada tengah malam!”
Carael memperkenalkan diri seraya berkacak pinggang. “Aku Carael, sang Pangeran Api. Aku sedang berjalan-jalan untuk menenangkan diri sebelum akhirnya bertemu denganmu.”
Anak muda itu terperanjat ketika mendengar identitas lawannya. Dia bukan Klan Api biasa. Dia adalah putra Kaisar Api yang terkuat di Elementiera! batinnya.
“Dan kurasa…” Carael sengaja memberi jeda pada kalimatnya. Sementara anak Klan Netral itu berdebar-debar menanti kelanjutan ucapannya. “Kau adalah lawan yang menarik untuk mengisi waktu senggangku!”
Anak muda itu tersentak mendengarnya. Bukannya dia tak menduga akan mendapat perlawanan dari putra mahkota, tetapi dia tak menemukan alasan yang kuat untuk bertarung dengan anak yang baru dijumpainya beberapa menit yang lalu.
* * * *
Kaisar Api terjaga dari tidur pulasnya. Diliriknya sekilas ranjang tempat putranya berbaring. Dia terperanjat ketika mendapati tubuh Carael tak berada di sana. Serta merta dia bangkit dengan tergesa-gesa. Disentuhnya tempat tidur putranya dengan sebelah tangan. Ketika telapak tangannya tak merasakan hawa panas sama sekali, dengan cepat dia mengambil kesimpulan bahwa Carael telah lama pergi.
Kaisar bergegas keluar dari tenda peristirahatannya. Malam penuh bintang menyambut kedatangannya seolah memahami kegalauan hatinya. Napasnya memburu disertai uap transparan akibat rasa dingin yang menusuk. Suasana sepi mencekam, hanya terdengar suara gemeretak lidah api yang dengan lapar melahap kayu bakar.
Pasukan yang ditugaskan menjaga keamanan setengah terlelap dibuai kehangatan api unggun. Kaisar menghampirinya dengan langkah tegap berwibawa. Merasakan langkah kaki mendekatinya, penjaga itu segera tersadar dari iming-iming mimpi indah yang merasuki otaknya.
“Ada hal penting apakah hingga Yang Mulia terjaga pada pagi buta seperti ini?” tanyanya seraya berlutut dan menundukkan wajah. Baginya keagungan Kaisar terasa begitu nyata hingga ia merasa tak layak untuk menatapnya secara langsung.
Kaisar menyadari bahwa kelalaian si penjaga mengakibatkan putranya bisa kabur dengan mudah. Sebenarnya dia sangat ingin memarahi dan memberi prajurit itu hukuman berat yang akan selalu diingatnya seumur hidup agar kelak dia tak mengulangi kesalahannya. Namun mengingat kelihaian Carael yang sudah tampak pada usia semuda itu, Kaisar memahami bahwa tidaklah sukar bagi putranya untuk menghilang dengan memanfaatkan kelengahan si penjaga. Maka diurungkannya niat keji itu pada si pengawal dan sebagai gantinya dia bertitah, “Segera kumpulkan semua pasukan secepatnya! Sesuatu yang gawat telah terjadi!”
“Baik, Yang Mulia!”
Penjaga itu menyadari bahwa perintah tuannya bersifat mutlak, harus segera dilaksanakan tanpa perlu bertanya. Diraihnya alat tiup terbuat dari gading yang tergeletak di hadapannya kemudian berdiri dengan penuh kesiapan. Dia menghirup udara sebanyak-banyaknya ke dalam rongga paru-paru sebelum meniup alat itu. Suara bass menggema di seantero hutan, sedahsyat raungan terompet perang yang menandakan dimulainya pertempuran antara prajurit Yunani dan Persia. Tiupan itu tak berhenti sepanjang embusan napas yang masih mengalir.
Para Pasukan Api yang terlelap dalam naungan tenda-tenda kokoh tersentak seketika. Dengung terompet gading yang menggaung ke seluruh penjuru hutan bagai menyeret paksa jiwa mereka dari kenikmatan alam mimpi yang membius kesadaran. Mata mereka terbelalak, menampakkan guratan-guratan keletihan. Tanpa membuang waktu lebih lama mereka bangkit mengenakan pakaian perang lengkap lalu bergegas keluar tenda.
Dalam sekejap para pengawal telah berbaris dengan rapi di depan sang Kaisar. Pedang mereka terselip di pinggang sedangkan perisai bersimbol api terpasang di tangan kiri. Mereka berdiri tegap dengan sorot mata layaknya binatang buas. Walau istirahat mereka terganggu, tak ada satupun pasukan yang berkeluh kesah karena mereka lebih mengutamakan kepentingan Kaisar di atas segalanya.
Kaisar Api bertanya dengan lantang, “Adakah di antara kalian yang mengetahui di mana putraku sekarang?”
Para prajurit saling berpandangan satu sama lain. Mereka mengangkat bahu sebagai isyarat ketidaktahuan. Serentak mereka menjawab dengan penuh rasa sesal, “Maafkan kami, Yang Mulia. Kami tak mengetahui keberadaan Pangeran Carael.”
Jawaban mereka tak membuat Kaisar Api terkejut. Dia tak berharap banyak bahwa salah seorang bawahan akan melihat kepergian putranya. Namun tetap saja dia tak dapat menyembunyikan kemurkaan. Dia berseru memekakkan telinga, “Kalau begitu, cari di setiap jengkal hutan ini! Temukan Carael dan pastikan bahwa dia baik-baik saja! Kalau perlu, bakar seluruh hutan supaya kalian bisa menemukannya!”
“Baik, Yang Mulia!”
Beberapa detik berikutnya para pengawal telah lenyap berpencar. Mereka mencari dari segala arah yang memungkinkan. Mereka berusaha keras karena tak ingin mengecewakan tuannya. Sepeninggal mereka, tinggallah Kaisar hanya berdua dengan seorang pria di perkemahan itu.
“Ada apa, Yang Mulia Fireus? Kau kelihatan gelisah,” tanya Jenderal Nathan menyelidik. Diperhatikannya raut wajah majikannya yang diselimuti sejuta kecemasan.
Kaisar Api berusaha mengabaikan suara wanita yang terus terngiang dalam pikirannya. Meski bertahun-tahun telah berlalu, ingatannya masih saja dihantui oleh ramalan kelam yang diungkapkan wanita itu. Dia tak ingin memberitahukan hal itu kepada siapapun seperti halnya dia tak sudi mengakui kebenaran ramalan itu. Dengan nada bicara yang dipaksakannya terdengar wajar Kaisar menyahut, “Kau memang layak menjadi orang kepercayaanku, Nathan. Aku tak pernah bisa menyembunyikan kecemasanku darimu. Ketahuilah, aku merasakan firasat buruk. Ini pertama kalinya Carael menghilang. Kuharap tak terjadi apa-apa padanya dan kita bisa menemukannya sebelum semuanya terlambat.”
“Hamba juga berharap demikian.”
Keduanya kemudian berkonsentrasi untuk menangkap kilasan aura api yang dipancarkan oleh sang Pangeran. Mereka mencoba selama beberapa saat sebelum akhirnya memperoleh titik terang. Aura Carael terasa lemah karena terpisahkan jarak yang cukup lebar.
Hampir bersamaan, mereka berseru, “Utara!”
Kaisar mengangguk sebagai isyarat bahwa dia ingin Jenderal Nathan menemaninya. Dan secepat kilat keduanya melesat menuju lokasi sumber aura itu. Angin yang sarat dengan kelembaban membentur tubuh mereka yang bergerak menuju arah berlawanan. Kaisar bertekad takkan membiarkan sesuatu yang buruk menimpa putra tunggal kesayangannya.
Sementara pagi menjelang dan kegelapan tersingkap oleh cahaya, kabut yang menghalangi pandangan mulai sirna. Sambil menerobos sela-sela pepohonan, pikiran Kaisar menerawang ke masa dua tahun silam ketika dirinya dinobatkan menjadi Kaisar menggantikan ayahnya yang baru saja meninggal. Dalam perayaan mewah selama tujuh hari tujuh malam itu, semua orang mengelu-elukan namanya. Mereka sangat mengagumi kekuatannya yang tak tertandingi. Segala pujian diperuntukkan hanya baginya hingga membuat hatinya bergelimang dengan keangkuhan. Namun ada satu orang, seorang wanita yang saat itu melihatnya dengan tatapan iba. Kaisar heran karena dia tak merasa patut dikasihani, terlebih oleh lawan jenisnya.
Tak ada setitikpun rasa cemas atau kesedihan yang pernah tebersit dalam benaknya hingga pada suatu kesempatan dipanggilnya wanita itu. Rasa penasaran mendorongnya untuk menanyakan perihal pandangan iba yang tertuju pada dirinya.
“Hamba bersimpati kepada Yang Mulia,” ujar wanita itu seraya menundukkan kepala. Raut wajahnya muram dengan setumpuk kekhawatiran membebani kelopak matanya yang sayu.
“Apa maksudmu?” Kaisar tak mengerti dengan jawabannya yang menggantung. Dia tak habis pikir kenapa perempuan itu bisa sampai bersimpati pada dirinya yang notabene adalah Kaisar yang berkuasa mutlak di atas para Raja di seantero Elementiera.
“Hamba telah mendapat penglihatan,” kata wanita berambut kecoklatan itu. Dia terbungkam sejenak sebelum melanjutkan, “Putra Yang Mulia takkan hidup lebih dari sepuluh tahun!”
Kalimat itu bagai petir menyambar telinga sang Kaisar yang meluluhlantakkan kesombongan dan kebanggaan terhadap semua yang dimilikinya. Dia menyadari bahwa perempuan itu adalah Riesha, peramal yang sangat dipercaya oleh mendiang ayahnya. Dan semua orang meyakini bahwa setiap kata yang meluncur dari bibir seorang peramal adalah sebuah kebenaran walau hal itu sangat sukar diterima.
* * * *
Sementara itu, jauh di dalam hutan dua anak laki-laki berhadap-hadapan. Yang satu berambut merah menyala bak kobaran api. Dia mengenakan pakaian mewah layaknya seorang putra kaisar yang terhormat. Yang seorang lagi berambut hitam dan bermata gelap. Keduanya saling menatap lawan dengan serius tanpa bersuara. Cahaya bulan yang menyusup di celah dedaunan memberi cukup penerangan. Desir angin yang mengembuskan hawa dingin tak mereka hiraukan. Keduanya hanya berdiri terpaku, mengamati lawan dengan sorot mata tajam untuk menilai kekuatannya.
Dia seorang Klan Netral, jadi tak ada salahnya jika aku menghabisinya! Klan terlemah memang ditakdirkan binasa di tangan klan lain yang lebih kuat! Hati Carael membisikkan kata-kata kebencian demi mengukuhkan pembenaran atas niat bertarung yang akan dilakukannya. Sang Pangeran terhanyut dalam rencana keji yang menyeruak dalam otaknya meski nuraninya berkali-kali menyerukan agar tak seenaknya memusuhi orang yang bahkan tak dikenalnya. Pikirannya telah dibutakan oleh kecongkakan hingga dia tak bisa lagi membedakan mana yang benar dan mana yang salah.
Anak Klan Netral itu menanggapi tantangannya dengan kepala dingin. Dia merasa tak ada gunanya bertempur tanpa alasan yang jelas. Mereka memang berasal dari klan yang berbeda namun hal itu tak bisa dijadikan tolak ukur untuk menyakiti orang lain.
“Aku tak ingin bertarung denganmu.”
Ditolaknya tantangan itu seraya berbalik pergi. Carael tak memahami keputusan anak itu. Dia merasa berada di atas angin karena mengira lawan gentar dengan kekuatan apinya yang luar biasa. Dengan nada mengejek dia menyahut, “Kenapa? Apa kau takut padaku?”
Anak itu tak menggubris pertanyaannya. Kakinya tetap melangkah menjauh tanpa membalas sepatah katapun.
“Baiklah! Tak ada cara lain, akan kupaksa kau bertarung!” seru Carael murka karena menganggap dirinya diacuhkan oleh anak yang baru ditemuinya. Bagaimanapun dia adalah seorang putra mahkota dengan derajat mendekati yang tertinggi. Tak seorangpun berhak mempermainkan dirinya!
Teriakan Carael memaksa anak Klan Netral itu berhenti berjalan. Dia berbalik dan mengawasi gerak-gerik Carael dengan cermat. Kewaspadaannya ditingkatkan. Dia bersiap mengantisipasi kemungkinan terburuk yang akan terjadi.
Tanpa basa-basi Carael memusatkan kekuatan di tangan kanannya. Dalam sekejap di atas telapak tangannya bermunculan lidah api yang berpilin kencang. Putarannya membentuk gumpalan panas yang berpijar kemerahan. Sementara lawan hanya bisa terbelalak menyaksikan adegan itu. Ini pertama kalinya dia melihat secara langsung ritual penciptaan bola api.
Carael melontarkan bola api itu ke arah lawannya. Serangannya begitu cepat dengan tingkat akurasi yang tinggi. Orang biasa pasti sangat sulit menghindarinya. Namun gerak refleks anak Klan Netral itu lebih cepat daripada perkiraannya. Dia melompat ke samping dengan lincah sebelum terkena serangan. Akibatnya, sebatang pohon terbakar mulai dari akar hingga ke ujung tunasnya yang termuda.
Anak itu menatap pohon yang hangus dengan penuh ketakutan. Telah nyata baginya bahwa kekuatan tak bisa diperkirakan hanya berdasarkan besarnya serangan. Meski ukuran bola api itu hanya segenggam tangan, kedahsyatannya tak perlu diragukan lagi. Terlambat sedetik saja, nasibnya takkan berbeda dari pohon itu. Dia merasa beruntung karena nyawanya masih selamat setelah mendapat serangan seganas itu.
Carael kesal karena serangan pertamanya meleset dari sasaran namun dia meyakinkan diri bahwa itu hanyalah kebetulan belaka. “Hebat juga kau, bisa menghindari bola apiku. Tapi bagaimana dengan yang ini?”
Belum sempat lawannya bernapas lega, Carael telah merapal bola api di kedua tangannya. Ditembakkannya dua serangan sekaligus dalam jeda yang tipis. Karena merasa jiwanya terancam, anak Klan Netral itu bergerak sesuai insting yang menuntunnya. Dia melompat dua kali dengan gesit hingga bola-bola api hanya bisa membentur pohon-pohon di sekitarnya.
Benar-benar menjengkelkan! Dia sengaja mempermainkanku! Kemarahan Carael memuncak. Selama ini dia selalu berhasil melukai lawan-lawannya. Namun kali ini tampaknya dia berhadapan dengan anak yang cukup tangguh sehingga bisa menghindari serangannya tanpa tergores sedikitpun. Dia bertekad akan menunjukkan kemampuan untuk membuktikan siapa yang terkuat.
Tanpa ampun beberapa bola api melesat secepat kilat, membombardir anak berambut hitam itu. Seperti kejadian sebelumnya, anak itu berpindah tempat beberapa kali dengan menuruti nalurinya yang tajam. Alhasil, tak satupun serangan Carael yang bisa menyentuhnya. Namun sebagai konsekuensinya, pohon-pohon di sekelilingnya terbakar habis.
“Hentikan! Kau bisa merusak hutan ini!” seru anak itu mencemaskan kelangsungan hutan yang menjadi tempat latihannya setiap malam. Jika pertikaian mereka tak kunjung berakhir, dia sangsi masih banyak pepohonan yang akan berdiri tegak.
“Aku tak peduli dan aku takkan berhenti sebelum berhasil membunuhmu!” jawab Carael penuh kebencian. Amarah menggelegak dalam dadanya, membuat benaknya dikuasai oleh rasa haus akan kemenangan. Bagaimanapun caranya dia harus bisa merobohkan lawan. “Daripada mengkhawatirkan hutan yang tak berharga ini, lebih baik perhatikan nyawamu yang sebentar lagi akan melayang!”
Sambil berkata demikian, napasnya terengah-engah. Kekuatannya telah terkuras lebih banyak daripada pertempuran-pertempuran sebelumnya. Tak terhitung jumlah bola api yang sudah dilesatkannya dan batang pohon yang membara karena terkena serangannya. Di luar dugaan, lawannya ternyata sangat lincah sehingga bisa menghindari semua serangannya tanpa perlu bersusah payah. Carael mau tak mau harus memutar otak, mencari cara yang paling tepat untuk mengalahkan musuhnya.
Tenangkan dirimu, Carael, masa kau kewalahan menghadapi Klan Netral yang lemah? Percuma kau dilahirkan sebagai Pangeran Api jika sampai kalah melawan anak yang bukan siapa-siapa! Di mana harga dirimu? Batinnya berusaha memprovokasi akal sehatnya. Tunjukkan siapa yang terhebat! Kerahkan seluruh kekuatanmu!
Carael hanya bisa mendengarkan kata hatinya tanpa berpikir lebih jauh. Dengan sisa-sisa kekuatan yang hampir habis, Carael menghimpun bola api terbesar dengan daya penghancur terdahsyat di antara kedua telapak tangannya. Setelah serangannya mencapai batas maksimal, dia menghempaskannya dengan kecepatan berlipat ganda.
Anak Klan Netral itu merasakan tekanan kengerian menghujani benaknya. Tubuhnya seakan membeku di hadapan kekuatan luar biasa itu. Dia berusaha keras mengendalikan raganya untuk mengelak namun upayanya tidak seratus persen sukses. Gerakannya sedikit terlambat. Bola api raksasa itu menyerempet lengan kirinya dan menimbulkan luka bakar yang perih tak terkira. Kulit yang terbakar itu terkelupas dan berubah menjadi sehitam jelaga. Anak itu berusaha keras untuk tetap berdiri sembari menahan sakit.
Tawa Carael menggema seiring dengan keberhasilannya melukai musuh. Ambisinya untuk menumbangkan lawan telah terpuaskan. Kini dengan luka parah di sebelah tangan, kelincahan gerakan lawannya akan berkurang drastis. Bahkan bisa saja anak itu kehilangan kekuatan untuk menghindar berkat elemen api yang mengoyak bagian dalam tubuhnya!
Dengan congkak Carael berkata, “Aku menang dan kau kalah! Sekarang sudah terbukti siapa yang lebih hebat! Kau tak sanggup menandingi kekuatanku!”
Anak Klan Netral itu meringis kesakitan. Namun benih kekejaman dalam hati Carael membuatnya merasa tak puas melihat penderitaan lawan. Dia menciptakan bola api kemudian melemparkannya ke arah anak Klan Netral itu. Serangan itu menghunjam lutut kanan lawannya dengan telak. Anak itu mengerang keras dan jatuh berlutut. Hilang sudah pertahanannya untuk melindungi diri setelah sebelah tangan dan kakinya terluka parah.
Carael mendekati lawan. Dia berhenti tepat di hadapan anak yang tak berdaya itu. Senyuman sinis mengembang di kedua bibirnya. Kebengisan terpancar dari sorot matanya. Dengan berkacak pinggang dia mencemooh, “Kasihan sekali kau! Mungkin sudah takdirmu untuk mati di tanganku! Dan jangan berpikir aku akan berbaik hati! Akan kupastikan kau meninggalkan dunia ini setelah merasakan penderitaan yang luar biasa!”
Anak Klan Netral itu mengerang ketika sisa-sisa bola api menggerogoti bagian dalam lengan dan kakinya sehingga mengakibatkan nyeri di sekujur tubuh. Emosinya tak terbendung lagi setelah segala perlakuan kejam yang diterimanya. Cukup sudah selama ini dia bersabar! Awalnya dia hanya berniat mengelak dari serangan-serangan karena tak ingin melukai lawan. Semua itu dilakukannya demi memegang prinsip menghindari pertarungan tanpa alasan yang jelas. Namun Pangeran Api itu bersungguh-sungguh ingin membunuhnya hanya untuk memuaskan diri di waktu senggangnya! Dan dia tak merasa jiwanya semurah itu walau terlahir sebagai Klan Netral!
Carael memang bukan tipe yang menghargai kehidupan orang lain. Baginya nyawa mereka tak lebih berharga daripada binatang. Terutama Klan Netral yang terlahir tanpa menguasai satupun kekuatan elemen dan bahkan tak mampu melindungi dirinya sendiri! Karena itulah, dia serius hendak melaksanakan niatnya menghabisi anak itu. Dia berkonsentrasi untuk menghimpun bola api di telapak tangan. Wajahnya terlihat bersemangat karena sebentar lagi kemenangan mutlak akan menjadi miliknya.
Diam-diam anak Klan Netral itu mengambil belati yang tersembunyi di balik pakaiannya. Gerakannya begitu halus tanpa suara hingga lawan tak menyadarinya. Belati itu berkilat sekilas ketika sisinya ditimpa cahaya bulan. Anak itu membulatkan tekad untuk membalas kekejaman yang berkali-kali menimpanya. Dia mengerahkan kekuatan terakhirnya kemudian bangkit menerjang Carael sebelum bola api terbentuk sempurna.
Lengah dengan kemenangan semu yang terbayang di pelupuk matanya, Carael tak mengantisipasi serangan balik yang dilancarkan lawan. Perhatiannya terfokus pada penciptaan gumpalan kekuatan api di tangan. Akibatnya, dia terlambat menghindar dan… belati itu tertancap di dadanya!
Racun yang melumuri belati itu sangat kuat, berasal dari tumbuhan paling mematikan di hutan terlarang. Racun itu menjalar dengan cepat di dalam tubuhnya. Dalam sekejap efeknya mulai terasa. Pandangan Carael memburam seakan ditelan kegelapan karena matanya tak bisa lagi mengenali cahaya. Racun itu terus merusak organ-organ dalamnya dan melumpuhkan sistem saraf. Lalu pada titik tertentu zat itu menghentikan denyut jantung hingga membuat aliran darahnya terhenti seketika. Tak ada yang mampu terhindar dari keganasan racun itu, bahkan seorang Pangeran Api sekalipun!
Carael merintih, tak kuasa menahan perih. Matanya terbelalak dan pandangannya mulai buram sebelum sepenuhnya jatuh ke dalam rengkuhan kegelapan. Sekujur badannya kaku tak bisa digerakkan. Keringat dingin bercucuran membasahi kulit. Kondisinya semakin parah sampai pada akhirnya jantungnya berhenti berdenyut memompa darah.
Kaisar tiba bersama sang Jenderal hanya untuk mendapati putranya jatuh tersungkur, kehilangan nyawa di tangan seorang anak Klan Netral.
* * * *
Jenderal Nathan terperangah melihat kejadian di depannya. Peristiwa itu terjadi bersamaan dengan kedatangan mereka. Tubuh sang Pangeran perlahan-lahan roboh setelah sebilah belati menikam dadanya. Sang Jenderal menyesali keterlambatannya. Andai kata tiba beberapa detik lebih cepat, mereka pasti bisa mencegah hal itu terjadi.
“Putraku!” Kaisar Api berseru ketika melihat Carael tumbang. Meski telah mendapat peringatan sebelumnya, Kaisar tak sanggup menyembunyikan luapan emosinya. Hingga saat ini dia masih tak rela mengakui kebenaran ramalan Riesha.
Anak Klan Netral itu spontan mundur beberapa langkah ketika Kaisar menghampiri tubuh Carael. Kaisar memeluk tubuh yang sudah tak bernyawa itu dengan perasaan haru. Disentuhnya leher putranya dengan tangan gemetar seolah mengharapkan takdir yang kejam akan berubah. Namun ketika tak dirasakannya denyut nadi, dia menyadari bahwa kedatangannya terlambat. Putranya telah tiada, persis seperti yang diungkapkan Riesha. Padahal selama ini dia selalu membawa serta putranya ke manapun dia pergi dan melindunginya dari mara bahaya. Tak pernah sekalipun dia lalai dalam menjaga putranya. Segala upaya telah dicobanya demi menghindarkan putranya dari kematian dini. Namun semua usahanya sia-sia. Takdir tak dapat diubah. Sang maut tetap merenggut kehidupan putranya yang masih belia.
Melihat ekspresi Kaisar, Jenderal Nathan menyadari bahwa nyawa Carael telah melayang. Dalam sekejap kemarahan menguasai benaknya. Dia berseru dengan lantang, “Anak kurang ajar! Beraninya kau membunuh Pange…”
Tiba-tiba sebuah keajaiban yang tak terduga terjadi. Sang Jenderal tertegun, tak kuasa menggenapkan kalimatnya. Tubuh Carael mendadak diselimuti selubung kabut yang tembus pandang. Kabut yang sama juga membungkus tubuh anak Klan Netral dan menghubungkan keduanya dengan serat-serat tipis yang menjulur di beberapa tempat. Bulir-bulir kemerahan mulai bermunculan dari pori-pori kulit Carael dan bergerak melintasi kabut penghubung. Rupanya esensi kekuatan api yang terkandung dalam tubuh sang Pangeran perlahan meninggalkannya untuk berpindah ke tubuh lawan.
Adegan itu hanya berlangsung dalam waktu relatif singkat namun efek yang ditimbulkannya sangat luar biasa. Warna rambut Carael berubah menjadi hitam pekat sedangkan anak Klan Netral itu kini berambut merah menyala. Percikan api sesekali keluar di ujung jari-jari tangannya. Berkat kekuatan api yang kini mengalir dalam tubuhnya, luka parah di lengan dan kaki anak itu sembuh dalam sekejap mata. Kondisinya telah kembali prima seperti saat sebelum memulai pertempuran.
Kaisar dan Jenderal Nathan begitu terperanjat. Mereka tak mengira akan menjadi saksi Neutralization, ritual penyerapan kekuatan yang terjadi setiap kali Klan Netral berhasil membunuh anggota klan lainnya. Kemampuan itu adalah bakat istimewa yang dimiliki oleh Klan Netral. Memang Klan Netral merupakan klan terlemah karena tak menguasai satupun elemen. Namun sebagai gantinya, mereka dianugerahi kemampuan khusus untuk menyerap kekuatan korbannya.
Bagaimanapun juga, Neutralization telah disegel sejak berabad-abad yang lalu. Selama ini tak pernah ada anak Klan Netral yang terlahir dengan kekuatan spesial itu, pikir Kaisar heran dengan apa yang baru saja disaksikannya. Lalu, kenapa anak itu bisa melakukannya? Bukankah seharusnya kemampuan itu sudah tak diwariskan lagi?
Berbagai pertanyaan menghujani benak sang Kaisar, meninggalkan sejuta tanda tanya dalam hatinya. Perlahan-lahan ingatannya kembali ke masa dua tahun silam. Ramalan Riesha yang selama ini tak diyakininya telah menjadi kenyataan. Meski dia berusaha mengubahnya dengan segala cara, garis takdir tak pernah berbelok.
“Kau bilang putraku takkan hidup lebih dari sepuluh tahun?” tanyanya dengan nada tak percaya. Baginya kata-kata wanita itu sama mustahilnya dengan menghitung butiran pasir di sepanjang Padang Pasir Eridia. “Apa kau bersungguh-sungguh? Karena seandainya kau menipuku, aku takkan mengampunimu! Kau akan merasakan siksaan yang sedemikian pedih hingga tak punya cukup nyali untuk membayangkannya!”
“Hamba tak berani berbohong kepada Yang Mulia,” jawab Riesha seraya menundukkan kepala. Sikapnya tetap tenang walau hukuman berat membayangi nasibnya. Dia tak pernah merasa bersalah karena menyampaikan sebuah kebenaran walau kebenaran itu terkadang melukai perasaan orang yang mendengarnya. Baginya peramal berkewajiban untuk memberitahukan apa yang diintipnya dari masa depan. Dan tak sepantasnya seorang peramal berbohong atau menyembunyikan pengetahuannya.
Merasa penasaran dengan ramalan kematian Carael, Kaisar bertanya, “Memangnya kenapa putraku harus meninggal di usia semuda itu?”
Riesha terdiam sejenak. Dia tengah bergulat dengan batin untuk menentukan akan menceritakan fakta yang lebih mendalam atau tidak. Setelah menimbang akibat-akibat yang mungkin ditimbulkan, diputuskannya untuk memberi tahu kenyataan itu. Dia menilai sang Kaisar berhak mendengar segala hal yang berkaitan dengan nasib buruk putranya.
“Pangeran mati terbunuh…,” ujar peramal itu. Kemudian dia menambahkan, “di tangan seorang anak Klan Netral.”
Kemarahan mendadak menguasai hati Kaisar. Dia merasa sedang dipermainkan oleh peramal wanita itu. Dengan gusar dia berteriak, “Mustahil! Mana mungkin seorang Klan Netral sanggup menghabisi putraku, keturunan langsung dari orang terkuat di Klan Api?!!”
Riesha menyikapi kemurkaan tuannya dengan kepala dingin. Wanita itu seakan tak pernah kehilangan ketenangannya. Dia menyahut dengan datar, “Pelakunya bukan anak biasa. Dia adalah…”
Kilasan kenangan itu berakhir. Pikiran sang Kaisar kembali pada kenyataan yang terpampang di depan matanya. Putra kesayangannya telah menemui ajal di tangan seorang Klan Netral. Di hadapan si pembunuh yang telah berubah wujud karena menyerap kekuatan sang Pangeran, Kaisar bergumam sangat lirih mengulangi lanjutan jawaban peramal wanita itu.
“Dia adalah… anak yang ditakdirkan.”
* * * *
Jenderal Nathan tak kuasa menahan emosinya yang meledak. Mayat Carael terbaring dalam pelukan Kaisar yang menampakkan ekspresi duka mendalam. Di depannya si pembunuh berdiri dengan gagah dalam balutan rambut merah menyala setelah menyerap kekuatan api. Sang Jenderal tak rela melihat Carael tewas di tangan anak dari klan terlemah. Selama ini dia sangat menghormatinya sebagai pewaris tahta kekaisaran.
Sepatutnyalah jika aku membalaskan dendam Pangeran, batinnya menggelegak. Api kemarahan berkobar dalam hatinya, membakar kebencian dan memberinya semangat tempur yang besar. Pembunuh itu harus merasakan siksaan yang seberat-beratnya! Dan tiada hukuman yang paling pantas untuk pembunuh Pangeran selain kematian yang tragis!
Jenderal Nathan menyalurkan kekuatan di tangannya. Dalam sekejap terbentuklah bola api di ruang antara kedua telapak tangannya. Bola itu makin lama makin membesar. Ukurannya jauh melebihi serangan Carael sebelumnya. Hal itu tidaklah aneh mengingat level kekuatan sang Jenderal yang tinggi hingga menjadikannya sebagai orang terkuat kedua setelah Kaisar Api.
“Rasakan ini!” serunya seraya menembakkan bola api raksasa yang telah mencapai kekuatan maksimal ke arah si pembunuh. Tak ada sedikitpun keraguan atau belas kasihan dalam nuraninya meski lawannya adalah anak yang masih berusia sepuluh tahun. Hanya satu yang dipikirkannya, yakni membalaskan kematian sang Pangeran.
Serangan itu melesat kencang menuju anak Klan Netral. Lapisan udara yang dilaluinya tersibak dan berhamburan ke segala arah. Anak itu berusaha melindungi diri dengan memanfaatkan kekuatan api yang baru saja mengalir dalam tubuhnya. Diciptakannya gumpalan bola api yang setara dengan milik Carael. Beberapa detik sebelum serangan Jenderal mengenainya, anak itu meluncurkan bola api tepat ke arah datangnya serangan.
Kedua bola api dahsyat itu saling bertumbukan hingga menimbulkan suara menggelegar dan terang yang menyilaukan. Semua yang menyaksikan terpaksa harus mengalihkan pandangan untuk mencegah kornea mata mereka dari kebutaan akibat menyerap intensitas cahaya yang berlebihan. Namun perbedaan kekuatan di antara keduanya sangat kentara. Bola api anak Klan Netral itu meledak, musnah menjadi serpihan-serpihan debu karena tak kuasa menghadang serangan sang Jenderal.
Bola api raksasa milik Jenderal Nathan terus melaju kencang walau kekuatannya sedikit terkikis oleh serangan sebelumnya. Anak itu tak mengira bola apinya akan kalah sehingga tak memiliki cukup waktu untuk menghindar. Tak ayal lagi, bola api menghantam tubuhnya, membuatnya terpental beberapa meter ke belakang. Sebatang pohon berkambium tinggi menyambutnya, menimbulkan suara patahan dari tulang punggungnya. Anak itu memekik keras ketika merasakan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Luka bakar yang parah terpampang di dadanya. Dia roboh seketika. Kesadarannya makin menipis dan pandangannya mulai buram. Sungguh ajaib dia masih bertahan hidup dengan menanggung luka sefatal itu.
Jenderal Nathan bersiap melepaskan bola api untuk mengakhiri hidup pembunuh Pangeran. Setelah semua penderitaan yang dialami anak itu, sang Jenderal merasa belum puas dan masih berniat mencabut nyawanya. Baginya, tiada hukuman yang lebih pantas bagi pembunuh Pangeran selain maut yang penuh derita hingga dia menyesal pernah dilahirkan ke dunia!
“Matilah!” ucapnya seraya menembakkan bola api terakhir.
Serangannya melesat bagai anak panah yang dilepaskan dari busur. Tak disangsikan lagi, anak Klan Netral itu takkan sanggup menerimanya dan mati mengenaskan. Tubuhnya akan hangus terbakar, terkoyak oleh kekuatan api yang dahsyat.
Dengan pandangan buram anak itu masih bisa melihat bola api berukuran besar terarah padanya. Dia sudah tak punya cukup tenaga untuk menghindar apalagi melindungi diri dengan menciptakan bola api yang dapat menandingi serangan itu. Dipejamkannya kedua mata, isyarat kepasrahan menerima ajal sebagai takdir yang telah digariskan padanya.
Namun, kematian masih enggan menyapanya. Tepat ketika serangan itu hampir mengenai target, bola api itu lenyap seketika. Sebuah bola api dengan ukuran dan daya penghancur yang jauh lebih besar tiba-tiba meluncur menghantamnya. Serangan sang Jenderal dipatahkan dengan telak dan hanya satu orang yang mampu melakukannya. Anak Klan Netral itu selamat berkat campur tangan sang Kaisar.
Jenderal Nathan menyadari bahwa bola api yang memusnahkan serangannya adalah milik tuannya. “Mengapa Yang Mulia menghalangi hamba?” protesnya.
Kaisar bertitah dengan nada berwibawa. “Jangan bunuh dia! Aku ingin dia tetap hidup!”
“Tapi dia adalah pembunuh putramu!” sanggah sang Jenderal, “Tidakkah seharusnya Yang Mulia membalaskan kematian Pangeran Carael?”
“Nathan, kuperingatkan kau! Di sini akulah yang memberi perintah. Jadi, jaga bicaramu!” Kaisar marah karena keinginannya dibantah. Dia menghardik penuh ancaman, “Atau kau sudah tak sayang lagi pada nyawamu?”
Jenderal Nathan memahami sifat tuannya yang ingin segala perintahnya dijalankan tanpa keluhan. Dia sadar bahwa sikap protesnya bisa mengakibatkan dirinya celaka. Spontan dia berlutut sembari berkata, “Ampuni hamba, Yang Mulia.”
Tanpa mengindahkan sang Jenderal yang rela membuang harga dirinya, Kaisar menghampiri anak Klan Netral itu. Dia membungkuk untuk meraih tangan kanan anak itu. Diperiksanya telapak tangan itu dengan seksama. Kaisar sangat terkejut ketika tak menemukan tanda apapun di sana. Telapak tangan itu bersih dan hal itu bisa bermakna sangat buruk. Bencana tak lama lagi akan tiba.
Dilepasnya tangan anak itu. Otaknya berpikir keras untuk menentukan langkah terbaik yang akan diambil berdasarkan fakta-fakta yang diketahuinya. Setelah terdiam selama beberapa saat, sang Kaisar bertitah kepada anak yang terkapar di depannya. “Anak muda, mulai saat ini kau harus melupakan asal-usulmu!” Dia memberi jeda pada kalimatnya. “Dan namamu kini adalah… Carael Fireus.”
Hanya sebagian dari kata-kata itu yang dapat ditangkap oleh anak Klan Netral. Luka-luka serius membuatnya terlanjur tak sadarkan diri sebelum Kaisar menggenapkan titahnya. Sementara sang Jenderal tercekat, keheranan dengan sikap tuannya. Dia tak mengerti pemikiran Kaisar yang membiarkan si pembunuh tetap hidup serta mengangkatnya sebagai pengganti Pangeran. Baginya, tak ada hal yang lebih aneh dan tak masuk akal daripada apa yang baru saja disaksikannya.
===== End of Chapter 1 =====
Footnote :