Sabar dan Syukur atas Perpisahan Itu
Berpisah dengannya dua bulan ini membuatku kehilangan banyak hal sekaligus mengingatkanku betapa berharganya dia. Sering, sampai larut malam hingga fajar menjelang aku masih terjaga, namun aku tak bisa melakukan apa yang seharusnya kulakukan. Aku sungguh – sungguh merindukannya. Aku masih ingat saat- saat dia masih di sisiku.
Masih jelas pula terekam di memori ketika pertama kali dia hadir di kehidupanku. Sebenarnya aku bukan yang pertama baginya, dia pernah bersama orang lain sebelum mendampingiku. Namun, seseorang tersebut telah merelakannya bersamaku.
Pernah, ketika penat telah bertumpuk dan menjadi gumpalan yang menyumbat pikiran, ingin rasanya diri ini meneteskan setitik air mata. Dengan harapan satu tetes itu mampu mencairkan semua bongkahan – bongkahan penghambat itu.
Aku memaksanya mengikuti kemauanku! Aku memforsir tenaganya, aku memintanya terus berlari tak peduli sedikit pun dia terengah minta sejenak beristirahat. Aku tak merasa aku telah memenuhi haknya dengan baik.
Kepergiannya sekaligus membuatku melewatkan banyak momen penting. Aku tak pernah menyangka akan begitu akibatnya.
Aku sedang diujiNya. Allah mengambilnya ‘sejenak’ dariku. Membuatku harus berusaha lebih keras, lebih banyak dari sebelumnya.Aku tidak bisa sesukaku ketika ia masih bersamaku. Semu aberubah. Aku harus sering berada di suatu tempat yang sama dari pagi hingga malam hari. Karena jika aku tidak di sana, aku akan semakin merasakan ketiadaanya. Oh , Allah , ini berat. Ini sungguh tidak mudah.
Aku jadi sibuk dengan duniaku sendiri. Ya, duniaku tanpanya. Aku kehilangan momen- momen bersama sahabatku yang lain Ya Allah. Dan aku harus rela.
Apalagi, dua minggu pertama kepergiannya aku mempunyai misi yang harus kulaksanakan dengannya. Tanpanya, aku harus mengeluarkan energi berkali lipat dibandingkan bila dia bersamaku. Aku harus berjuang tanpanya. Alhamdulillah, fortunately , Allah mengizinkan orang- orang datang silih berganti membantuku dan menghiburku.
Allah silih berganti menawarkan pengganti sementara dirinya melalui orang- orang istimewa di sekitarku. Pun, dia tak tergantikan. Jelas, karena yang lain hanya mampir, sedangkan dia? Allah telah menitipkannya padaku.
Selama ini, dia yang selalu membantuku, membantuku untuk terus berlari. Karena kemampuanku sendiri tak akan mampu melejitkanku.Tanpanya, membuatku tertinggal dari teman- temanku.
Kekuranganku ketika dia masih bersamaku saja sudah sangat banyak. Apalagi ketika dia dijauhkanNya dariku untuk sekian lama. Tak pelak kritikan, sindiran, berdengung di telingaku ketika awal- awal dia pergi.
“Ah, mereka tak tahu apa yang terjadi padaku setelah dia pergi! Kondisiku ini seharusnya dapat dimaklumis” batinku membela.
“Tidak bisa begitu, kawan. Kepergiaannya bukanlah alasan. Justru jika kau mampu membuktikan pada mereka bahwa kau baik- baik saja walau tanpa dia dan bahkan mampu lebih baik, orang- orang tak akan memandangmu sebelah mata ” nuraniku menyangkal.
Huff,. Entahlah. Rasanya aku sudah cukup bersabar. Menahan diriku ketika melihat yang menyerupai dirimu bersama orang lain. Aku memang sangat lebih beruntung, dibandingkan dengan adik- adik kecil yang terpaksa harus mengamen di bus – bus. Aku memang lebih ‘gendut’ diabandingkan kakek- kakek yang kepayahan mengayuh sepeda penuh muatan rongsokan itu. Namun Allah, aku boleh meminta sesuai kondisiku kan? Aku boleh menginginkan lebih dari sekedar harapan adik- adik kecil atau kakek itu kan?
Memang di atas langit masih ada langit. Tapi aku tak pernah iri kepada yang Engkau beri anugerah lebih. Kepada yang Engkau beri dia – dia yang lebih dari dia yang ku punya. Mungkin pernah terlintas di pikiran, namun segera kuenyahkan pikiran itu karena Engkau telah memberiku amat banyak. Tapi kenapa dia Ya Allah?
Aku tahu aku akan berhasil menmenjalani ini semua dengan baik karena aku tahu Engkau sayang padaku, Ya Allah. Sabar dan syukur, semoga aku semakin mengerti makna itu semua. Aamiin
—–dalam penantian menuggu kesembuhan laptopku yang sakit sejak 17 Maret 2009. Hahaha, mungkin lebai, but u dunno how it feels. Bukan bermaksud mengeluh, hanya ingin menuliskan yang terbersit di pikiran , sapa tau bs ngingetin yg baca ttg berharganya barang- barang di sekitar kita
Namun seperti kata seorang saudara, sayang atau menganggap sesuatu atau seseorang sangat berharga boleh- boleh saja, asalkan tidak melebihi cinta kita pada Allah dan RasulNya
—–terima kasih kepada semua pihak yang telah meminjamkan penggantinya, penggantinya, Mba Erika, Husni, Gibran, Mba Ana, Dini, Nia, Mba Anis, Mba Niken, Suci, Linda, Nufi, Lya, kompi IBS12, . dan yang mungkin lupa belum aku sebutkan. Jazakumullah khairan khatsiran,. Semoga Allah membalas kalian lebih
—–Last but not least , semoga bermanfaat ![]()
alhamdulillah, sdh selesai dipinjamNya
jadi..total tagihannya…..
(menghitung)…
bzzz,. untung g da emote ngitung

Iyya, Alhamdulillah,
wlo dy tak pernah lagi sama
hiks …. jadi terharu bacana
@Indonesia Java International Destination

semoga bermanfaat
wah kalo saya kehilangan barang orang lain yang kebetulan sedang saya pakai…
@ms aRuL
iyaaa.,. sy baca jg d blog ms, smg sudah nemu gantinya
hhehhee..lepi tho…tak pikir baru putus ma angkatan… (lek liat judule thok)
hayo..namaku kok gda di blogroll mu tho…
@difana

zzz,.. u dun how precious a notebook for us, huhu
coba tny cendhi de
tp Alhamdulillah sekarang dah ada gantinya rin,
iya2, udah ada tuh blogrollmu rin,.