Diriwayatkan dari Abdur Rahman bin Abi Ibad al-Makki, dia berkata, Seorang syaikh yang dijuluki Abu Abdillah mendatangi kami. Dia berkata, “Pada waktu sahur aku pergi ke sumur Zam Zam. Di tempat ini aku bertemu dengan seorang syaikh yang membiarkan kainnya menutupi wajahnya, dia datang ke sumur dan minta diambilkan air. Kemudian aku mengambilkan air untuk syaikh tersebut. Aku juga meminum sebagian air itu. Ternyata rasa air tersebut seperti air bercampur madu yang aku belum pernah merasakannya. Ketika aku me-noleh, syaikh tersebut telah pergi.
Abdul Wahid bin Zaid berkata, “Ketika kami sedang duduk-duduk di majlis kami, aku pun sudah siap dengan pakaian perangku, karena ada komando untuk bersiap-siap sejak Senin pagi. Kemudian saja ada seorang laki-laki membaca ayat, (artinya) “Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin jiwa dan harta mereka dengan memberi Surga.” (At-Taubah: 111). Aku menyambut, “Ya, kekasihku.”
Sufyan ats-Tsauri berkata, “Pada waktu itu aku pergi haji bersama Syaiban ar-Ra’i. Dan ketika kami sampai di sebuah jalan tiba-tiba kami berpapasan dengan seekor singa. Aku berkata kepada Syaiban, ‘Tidakkah kamu melihat binatang buas ini? Dia telah menghadang kita!’
Sa’dan menuturkan, bahwa suatu kaum memerintahkan kepada seorang wanita yang memiliki kecantikan yang mempesona untuk menggoda ar-Rabi’ bin Khaitsam dengan harapan wanita tersebut dapat menggodanya. Mereka menjanjikan hadiah kepadanya, “Jika kamu dapat melakukannya, kamu akan mendapatkan 1000 dirham.”
Dari Abu Sabrah an-Nakha’i berkata, “Seorang lelaki dari wilayah Yaman pergi menuju suatu tempat. Tiba-tiba di tengah perjalanan keledainya mati. Lalu ia bangkit untuk mengambil air untuk berwudhu, shalat dua rakaat kemudian berdoa, ‘Ya Allah, aku datang ke tempat ini dari daerah Dafinah – Nama suatu tempat- untuk berjihad di jalanMu dan mencari ridhaMu. Aku bersaksi bahwa Engkaulah yang maha menghidupkan makhluk yang telah mati, yang membangkitkan orang-orang dari kubur, jangan Engkau berikan karunia kepada seorang pun di hari ini, karena pada hari ini aku mohon kepadaMu untuk menghidupkan keledaiku.’
Dari Zaid bin Arqam bahwa Abu Bakar y meminta minum, maka dia diberi segelas air bercampur madu. Ketika sudah dekat mulutnya, maka dia menangis dan orang-orang di sekitarnya juga menangis. Lalu dia diam dan mereka pun diam. Kemudian dia kembali menangis sehingga mereka menyangka bahwa mereka tidak sanggup bertanya kepadanya. Kemudian dia mengusap wajahnya dan reda tangisannya. Mereka bertanya, “Apa yang membuat anda menangis seperti ini?” Dia menjawab, “Aku pernah bersama Nabi a, dan beliau menolak sesuatu dari diri beliau seraya berkata, ‘Menjauhlah dariku, menjauhlah dariku.’ Padahal aku tidak melihat seorang pun bersamanya. Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, aku melihatmu menolak sesuatu, padahal aku tidak melihat seorang pun bersamamu?’ Beliau menjawab,
Alangkah indahnya Surga dan betapa dekatnya
Segar dan dingin air minumnya
Tentara Rumawi telah dekat kehancurannya
Jika bertemu dengannya, niscaya aku hancurkan mereka
Bakr bin Abdillah al-Mizzi menuturkan bahwa seorang tukang jagal sangat mencintai gadis anak tetangganya. Suatu kali keluarga gadis itu mengutusnya untuk suatu keperluan mereka ke kampung lainnya, maka pria ini mengikutinya lalu merayunya. Kata gadis itu, “Jangan kau lakukan! Karena aku sebenarnya lebih sangat mencintaimu dibandingkan kau men-cintaiku, tetapi aku takut kepada Allah.” Pria itu berkata, “Kau takut kepadaNya sedangkan aku tidak takut kepadaNya?!”
TANGISAN UMAR RA ATAS KEZUHUDAN NABI SAW
Ahmad meriwayatkan dengan sanad shahih dari Ibnu Abbas RMA, ia berkata, “Umar bin al-Khaththab y menuturkan kepadaku, katanya, ‘Aku menemui Rasulullah SAW saat beliau di atas tikarnya. Aku duduk, ternyata di atas tikar tersebut terda-pat kain sarung dan tidak ada selainnya. Rupanya tikar tersebut membekas pada lambung beliau. Aku juga melihat segenggam gandum hampir satu sha’ dan [I]qardz[/I] (beberapa tumbuhan untuk menyamak kulit) di pojok kamar. Dan ada juga kulit yang ter-gantung. Melihat hal itu kedua mataku mengucurkan air mata. Beliau bertanya,
Diceritakan oleh putranya, Umar bin Abi Salamah, dari ibunya, Ummul Mu’minin Ummu Salamah rha bahwa dia menu-turkan: Ketika Abu Salamah bersepakat untuk pergi ke Madinah, maka dia menaiki untanya dan membawaku, dan anakku, Sala-mah. Kemudian dia keluar dengan mengendarai untanya. Ketika orang-orang dari Bani al-Mughirah melihatnya, mereka meng-hadangnya seraya berkata, “Inilah dirimu yang tidak mampu kami kalahkan… bagaimana menurutmu tentang wanita yang berasal dari kami ini? Atas perkara apakah kami akan membi-arkanmu berjalan dengan membawa wanita ini melintasi negeri-negeri?” Mereka pun menarik tali kekang unta dari tangan-nya dan mengambilku. Melihat hal itu Bani al-Asad marah, dan menuju ke arah Ummu Salamah seraya berkata, “Demi Allah, kami tidak membiarkan putra kami (maksudnya, Salamah) berada di sisi Ummu Salamah, jika kalian mengambilnya dari sahabat kami (Abu Salamah). Akhirnya mereka saling tarik menarik anakku, Salamah hingga mereka memutuskan tangan-nya. Lalu Bani Abdi al-Asad pergi membawanya bersama rombo-ngan Abu Salamah, sementara Bani al-Mughirah menahanku di sisi mereka. Suamiku, Abu Salamah meneruskan perjalanan-nya hingga sampai di Madinah. Sungguh aku telah dipisahkan dengan suamiku dan anakku. Setiap pagi aku keluar dan duduk di Abthah, lalu aku terus menerus menangis hingga sore hari selama tujuh hari atau kurang lebihnya. Hingga seorang dari sepupuku melintasiku dan melihat kesedihan di wajahku, lalu ia berkata kepada Bani al-Mughirah, “Tidakkah kalian perkenan-kan wanita yang menderita ini pergi, karena kalian telah memi-sahkannya dengan suaminya dan anaknya?! (Yakni, tidakkah kalian biarkan saja dia menyusul suaminya).