BackTrack 2.0 yang [sempat] membuat masalah …
an experience sharing …
Backtrack adalah distro Linux turunan dari Slax yang diturunkan pula dari Slackware atau ibaratnya Slackware itu adalah neneknya dan Backtrack cucunya. Distro ini mengkhususkan diri pada hal-hal yang bersifat security and networking. Distro ini sangat terkenal di kalangan praktisi network security serta kalangan oposisinya, yaitu hacker, cracker dan pemanipulasi jaringan internet lainnya. Distro ini menurut mereka memberikan kemudahan dalam pekerjaan mereka menangani hal-hal tersebut. Begitu melimpah software-software ‘khusus’ yang terbundel dalam satu CD berukuran full (sekitar 700mb-an). Bukan hanya software-software network and security yang ada di dalam CD distro itu melainkan beberapa accessories softwares hingga entertainment tidak ketinggalan diselipkan founder-nya ke dalam CD distro ini. Entertainment yang disuguhkan juga tidak tanggung-tanggung, software Kplayer yang dikenal sebagai pemutar audio layaknya Winamp dan Windows Media Player, ternyata memiliki kemampuan memutar file-file video seperti format FLV dan AVI. Sehingga memutar video download dari Youtube pun tanpa harus diubah ke mp3, bisa langsung dinikmati. Tidak lupa pula software office disertakan pembuatnya dalam distro ini.
Mati Aharoni, Max Moser, dan Tim Remote-Exploit merilis distro BackTrack versi 2.0 seperti yang diilustrasikan di atas pada 6 Maret 2007 (see http://www.remote-exploit.org/index.php/BackTrack). Software-software yang tersedia secara Cuma-Cuma dalam distro ini cukup menggiurkan mereka yang berminat dalam dunia ‘gelap’ internet yang tidak lain dan tidak bukan adalah seni hacking dan manipulasi dalam jaringan internet lainnya. Bahkan aromanya tercium pula oleh para pecinta Linux yang senang mencicipi variasi distro-distro yang baru muncul.
Ketertarikan saya tehadap distro ini pun berlanjut sampai mencoba menginstall-nya ke dalam komputer. Tidak ada langkah-langkah yang membingungkan dalam penginstallannya, tinggal memilih partisi tempat distro ini akan diinstall dan mengklik Install. Tak sampai 15 menit, proses selesai. Saya coba merestart komputer dan apa yang terjadi, tanpa ada pilihan ingin masuk ke OS mana setelah booting selesai, melainkan langsung ke BackTrack OS sehingga saya pun jadi kecewa dengan hal itu.
Belum selesai muncul masalah lainnya, ketika login di OS Linux itu, sistem tidak mau merespon perintah untuk memunculkan desktop BackTrack yang dalam hal ini menggunakan perintah startx (mode 1024×768pixel resolusi monitor). Sehingga saya pun berkesimpulan bahwa distro ini cacat dan saya mesti menguninstallnya tanpa harus mencari jalan agar BackTrack-ku ini bisa kujalankan lagi. Permasalahan saya coba atasi dengan memasukkan kembali CD BackTrack dan mencoba memformat partisi yang saya sediakan sebelumnya untuk Back Track dalam hal ini adalah sebuah partisi yang telah ada OS Mandriva 2008 di dalamnya. Sewaktu proses penginstallan BackTrack, Mandriva yang ada tidak ikut terhapus, malah Backtrack ‘nekat’ menumpang di direktori root Mandriva sehingga kesan kacau-lah yang saya dapatkan.
Saya kemudian berhasil memformat partisi dengan menggunakan software bantuan bawaan BackTrack sendiri, Midnight Commander. Namun masalah belum selesai karena lucunya sewaktu booting kembali, yang muncul bukannya bootloader Windows atau splash screen Windows XP melainkan splash screen BackTrack dan setelah splash screen muncul, BackTrack berusaha meload sistemnya (dengan proses-proses yang sedikit saya mengerti) dan berakhir dengan statement yang maksudnya kira-kira ‘Sistem sedang mencoba menghubungi hardware yang terkoneksi’. Pesan itu muncul berkali-kali dan endlessly, mungkin sampai komputerku RIP baru pesan itu berhenti (yang waktu itu dalam hati saya katakan,’goblok banget ini OS !!!’). Bukannya isi dalam BackTrack itu sudah kuformat semua?aneh kan?
Karena kebobrokan itu, saya blusukan mencari CD-CD Linux yang menawarkan program pemartisi yang simple but powerful. Untung ada Ubuntu. Distro yang belum saya pasang semi permanen dalam komputer saya itu kemudian saya gunakan untuk mengakses informasi partisi harddisk yang ada, menyelamatkan yang perlu diselamatkan, dan memulai pemartisian lagi. Ubuntu menawarkan software Gnome Partition Editor yang menurut saya simple but powerful tadi. Mudah pengoperasiannya, namun dalam beberapa kasus, saya mesti meng-unmount beberapa partisi yang masih anak dari partisi induknya untuk mengedit partisi lain yang masih satu partisi ibu kandungnya. Maksudnya dahulu ada Partisi D,dari partisi D itu saya buat lagi partisi baru, D, E, F. Jadi sekarang ada 3 partisi. Untuk mengedit salah satu partisi itu misalnya partisi E, saya harus mengunmount kan partisi E dan membiarkan partisi lainnya dalam kondisi locked (terkunci) sehingga proses pengubahan partisi dimungkinkan.
Pemartisian itu berhasil. Saya pun berniat memasang Ubuntu sebagai tanda terimakasih saya. Namun saya sedang mengejar aktivitas Linux Learning saya selanjutnya (saya harus terus maju dalam dunia ini) yaitu mencoba memasang Open Suse 10.2 dalam harddisk saya yang telah saya siapkan. Alhamdulillah semua hajat saya hari itu terpenuhi dan dalam setengah jam, saya mendapati Open Suse 10.2 itu bersanding dengan Windows XP yang juga masih sangat saya sayangi. Semoga saya tetap memiliki keduanya hingga akhir hayat komputer saya…
Pranata ari
World will be better if someone like Windows lives forever …
This is great! Now I want to see your ways for us readers to become more involved! Expect an email later today.