Munajat Cinta (3)
Inilah lanjutan cerita saya tentang munjat cinta dengan tokoh yang saya lihat di televisi. Sepekan sudah Alm. Gito Rollies meninggalkan kita semua. Semua stasiun televisi mengupas habis kehidupan Bangun Sugito sejak masa mudanya yang penuh dengan kemaksiatan hingga terjadi suatu titik balik dan menjadi seorang muballigh hingga akhir hayatnya. Semoga husnul khotimah, amien.
Ada tiga hal yang menjadi catatan saya terhadap sekelumit riwayat Gito Rollies. Pertama, ucapan dia yang disampaikan kepada ust. Arifin Ilham “apakah dosa-dosa saya di masa lampau diampuni Allah?” Ungkapan ini menyiratkan bahwa masih ada ketakutan di dalam hati Gito akan besarnya dosa di masa lalu, jangan-jangan taubatnya ini belum mampu menghapus dosanya. Dalam pandangan kita, sesungguhnya ini adalah cerminan taubat nashuha, yaitu adanya penyesalan atas dosa-dosa yang pernah terjadi di masa lalu.
Kedua, pada saat-saat akhir hayat, dia dalam kondisi sakit yang begitu berat. Dokter maupun sahabat-sahabat menyarankan agar dia beristirahat. Jawaban dia sungguh mencengangkan saya. “Dunia ini tempat beramal, tempat istirahat itu nanti di alam kubur“, “teramat banyak kita diberi oleh Allah, jadi sewajarnya kita berjuang untuk Allah“, kira-kira begitu jawaban dia (yang saya tulis dengan bahasa bebas).
Ketiga, ada guyonan “muda foya-foya, tua kaya raya raya, mati masuk surga“. Barangkali itu pas buat mas Gito. Tapi hal ini tidak bisa ditiru atau direncanakan oleh siapapun. Datangnya hidayah itu sebuah misteri, sebagaimana datangnya ajal. Dalam kasus bang Gito, hidayah datang lebih dahulu daripada ajal, alhamduliLlah. Mungkin banyak penjahat di negeri ini juga merencanakan hidupnya seperti Gito Rollies, tetapi ternyata ajal datang lebih dahulu sebelum datangnya hidayah, astaghfiruLlah. Karena keduanya misteri, mari kita rencanakan hidup kita ini selalu berada di jalanNya (Allahumma hdinash shiraathal mustaqiem), Aamien.