Categories:
Religion
Inilah hikayat hamba yang bermunajat cinta.
Dia bukanlah seorang sufi atau zahid yang menjauhi keduniaan.
Hidupnya berkecukupan dengan harta dan hidup layak sebagaimana manusia umumnya.
Dia juga bekerja layaknya manusia.
Tidak terbersit niat untuk menumpuk harta kekayaan, meskipun dia kaya raya.
Cita-citanya menjadi manusia yang banyak memberikan manfaat bagi orang lain.
Dia berusaha memberikan apa yang dia punya dan bisa dilakukan untuk orang lain.
Siang malam dia berdoa meminta diberikan kebaikan baginya di dunia dan akhirat, memohon ampun atas kesalahan yang mungkin terjadi, disadari atau tidak.
Tak lupa dia memohonkan juga untuk anak-anaknya, keluarganya, masyarakat sekitarnya, bangsanya, dan untuk ummat manusia umumnya.
Dia malu meminta kekayaan, jabatan, pangkat, dan segala sesuatu yang berkaitan dengan duniawi, meskipun dia tahu bahwa dengan kekayaan, jabatan, dan pangkat itu dia bisa berbuat banyak untuk orang lain.
Dia tahu bahwa kekayaan, jabatan, pangkat dan sejenisnya belum tentu membawa kepada kebaikan hidup di dunia maupun di akhirat.
Banyak orang terperosok hidupnya ke dalam jurang kepelitan dan kesombongan akibat dari kekayaan, jabatan, dan pangkat.
Maka diapun ”mewajibkan” dirinya untuk beristikharah kepada tuhannya karena dia sadar bahwa kejadian yang akan datang itu tidak diketahuinya.
Dia pun menyerahkan kepada tuhannya, seraya berdoa: ”Oh Tuhan, sekiranya sesuatu itu baik bagiku, dalam agamaku, kehidupanku, dan urusanku kelak, maka berikanlah kepadaku, namun bila tidak baik, maka jauhkanlah aku padanya dan jauhkanlah dia padaku”.