Oleh-oleh dari Madura (part 1)
Seorang teman berkata, “kalau kau sudah cinta, apapun akan kau lakukan, kalau perlu arungi samudera jika cintamu itu memang berada diseberang sana…”. Pernyataan ini hampir sama dengan yang kualami kemarin ketika mengantarkan temanku ke rumah orang tuanya kelak di Madura. Tapi tak perlu secara hiperbolis sampai mengarungi samudera, cukup selat madura saja.
———————————-

CDMA-ku berdering. Dengan malas kutekan tombol hijau. Di seberang sana terdengar suara yang tak sing bagiku. “Ja, ojok turu ae, maringene jam pitu. Ojok lali sarung tanganku seng mbok seleh gowoen…”, bunyi ponselku dengan logat Jakarta. “ya!”, jawabku singkat, auto answer barangkali. Kurampungkan mimpiku yang sempat terganggu oleh benda kotak yang tak jelas itu. Agaknya untuk mengganti waktu tidurku yang sempat tersita kemarin malam.
“Hah jam 7 lewat!”’, pekikku setelah melihat HP yang tergeletak di sekitarku. Segera saja kuambil handuk yang berceceran untuk bekal mandi, setelah teringat akan janji mengantarkan seorang teman ke Madura. Untung saja, teman-teman yang juga ingin ikut mengantarkan masih menunggu dengan setia di kampus. Dan ternyata bukan aku saja yang terlambat hadir. Syukurlah.
Sekitar pukul 8 lewat, kami mulai berangkat. Cuaca yang sangat mendukung membuat nyaman perjalanan kami. Apalagi ditambah langgengnya jalan yang kami lewati, semakin mempercepat perjalanan kami sampai ke tempat yang kami inginkan. Dengan membawa motor ramai-ramai (sekitar 16 motor), kami konvoi menuju pulau garam, pulaunya Pak Sakerah.
Sesampainya di Ujung, pelabuhan kota Surabaya, segera kami membeli tiket di tempat yang sekaligus merupakan pintu masuk bagi kendaraan yang ingin menyeberang ke pulau madura. Sekadar info, di Ujung itu ada 2 jalur pintu, pintu pertama (aku menyebutnya begitu), berada di sebelah kanan arah menuju Ujung, pintu untuk penyeberangan pendek. Sedangkan pintu satunya, jika kamu lurus terus, adalah pintu untuk penyeberangan jauh.
Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya kami bisa masuk untuk memilih kapal mana yang akan kami tumpangi. Awalnya memang kami tidak ambil pusing dengan kapal mana yang layak untuk kami naiki. Tetapi setelah melihat kapal pertama, “kok jelek ya”, cletukan dari salah seorang temanku, maka kami pindah ke jalur yang lain. Lagi pula kapal satunya, yang akhirnya kami pilih, itu sudah akan berangkat. Jadi rasanya tidak salah pilihan kami ini.
Naik kapal kali ini bukanlah yang kali pertama buatku. Dulu ketika kerja praktek di Kalimantan, aku juga menggunakan transportasi air ini selama dua hari dua malam. Tapi meskipun ini hanya perjalanan pendek, sensasi naik kapal bersama kawan-kawan satu kampus adalah hal yang baru bagiku. Dan inilah kenangan yang mungkin tak pernah aku lupakan hingga tua nanti. Kalau sampai waktuku…. (halah.. malah berpuisi :D ).
Berpose di kamera adalah kegiatan yang wajib kami lakukan. Begitupula di dek kapal. Bergaya di tiap pojok kapal, mencari angle yang pas. Mungkin kelihatan aneh bagi penumpang yang lain, tapi tidak buat kami. “wong meduro anyar”, pikirnya. Patung armatim (susah nyebutnya), adalah salah satu objek foto yang kami gemari. Sebuah patung yang berdiri gagah memandang ke arah laut lepas. “Gak takut kelilipan pak! He..he..”

Foto yang paling mengesankan adalah foto tepat di depan tempat nahkoda mengemudikan kapal. Angle di tempat itu pas sekali. Berada tepat di garis simetris kapal. Saking asyiknya, hingga kami lupa kalau nahkoda juga butuh memandang ke depan untuk mengemudikan kapal meskipun sudah menjadi kegitan rutinnya tiap hari. Karena kami sangat menghalangi pandangan dari si pengemudi kapal, kami sempat diminta untuk minggir dari tempat kami semula. Mungkin karena kesalnya, bel pertanda bahwa kapal akan mulai berangkat dibunyikan keras-keras hingga mengguncang gendang telinga kami. Ya maaf pak.
Pelabuhan Kamal sudah tampak. Bau pulau garam sudah mulai menggelitik bulu hidungku. Lagu yang di mainkan ABK (Anak Buah Kapal, red) juga mulai berubah, yang tadinya Yuni Sarah, sekarang Tanduk Majeng. Atau lagu dewa dengan aransemen khas Madura. Dari jauh pulau madura layaknya subuah kura-kura hijau yag mengapung di laut Jawa. Hamparan tetumbuhan hijau juga menancap di tanah kapur pulau karapan sapi ini. Bayangan kyai Kholil Bangkalan, juga mulai nampak (padahal aku tidak pernah tahu dan kenal wajah kyai Kholil).
Kujejakkan kakiku yang entah keberapa kali di pulau Madura ini. Mungkin lima bulan yang lalu aku juga pernah kesini. Tapi bukan singgah di bangkalan, lebih jauh lagi di daerah Semenep, tempat kyai Bashit bersemayam. Madura layak juga disebut pulau santri, karena di pulau ini bertebaran pondok-pondok pesantren mulai dari yang klasik hingga modern. Alasan lain mungkin karena sebutan
kota santri sudah disandang oleh Gresik.
Orang-orang disini juga sangat menghormati para kyai. Dulu ketika temanku tugas di Madura untuk survey masalah pembangunan, pernah bercerita tentang sifat yang satu ini. Suatu waktu temanku itu datang berkunjung ke salah seorang kyai. Kemudian kyai tersebut memanggil salah seorang santrinya untuk disuruh membuatkan minum buat temanku itu. Sewaktu menghadap, sikap santri tersebut layaknya sorang rakyat yang menghadap rajanya. Tidak berani memandang wajah sang kyai. Begitu pula ketika akan meninggalkan kyainya, maka si santri tidak akan membalikkan badannya (berjalan mundur) sebelum sampai ke pintu untuk keluar. Luar biasa.
Kembali ke perjalanan. Bangkalan merupakan pintu masuk utama bagi pendatang yang berasal dari Jawa. Sebelum menuju ke rumah temanku, kami sempatkan untuk berkunjung ke Mercusuar, salah satu tempat yang dijadikan objek wisata di Bangkalan. Jalan menuju ke lokasi tersebut sangatlah mempesona, terutama bagi orang-orang perkotaan. Di kanan kiri terdapat sawah, sesekali juga dihiasi oleh tambak yang terhampar luas. Semakin mendekat ke lokasi terdapat hutan bakau yang agak jarang-jarang di tumbuhi populasinya. Sesampainya di lokasi, banyak muda-mudi yang sedang dimabuk
asmara di tiap sudut area mercusuar. Menarik sekali.
———————————-
Di rumah temanku, kami disambut dengan soto babat khas Madura. komposisinya beraneka ragam. Yang pasti ada adalah jeroan sapi. Bagi yang alergi, bisa diganti dengan daging ayam. Yang berbeda dari soto biasanya adalah tambahan singkong rebus yang diiris tipis melintang. Rasanya juga tidak kalah menarik, karena bumbu soto tersebut meresap masuk ke dalam pori-pori roti sumbu tersebut. Kalau pak Bondan ikut beserta kami, pasti bilang “Mak Nyus!”.
Belum habis soto yang kami santap, kami sudah dihadang dengan es buah. Panas-panas memang sangat pas diobati dengan segarnya es yang satu ini. Orang rumah memang mengerti selera kami. Es buah kali ini tidak kalah variatif dengan soto yang sudah singgah di lambung kami.
Ada buah melon yang dibentuk bulat, ada agar-agar yang diiris panjang-panjang, dan sebagainya. Duh, menyesal kalau sampai aku tidak ikut kunjungan kuliner ini.
Sebagai penutup, kami dimanjakan dengan rujak buah mangga. Sambalnya yang menurutku menarik dari biasanya. Sambal disini terbuat dari petis yang asin. Biasanya kalau di jawa, rujak buah diberi gula merah atau gula aren. Oleh karena itu disebut rujak legi.
Nikmatnya berkunjung ke Madura kali ini membuatku betah. Sangat sayang ketika momen yang menarik ini berakhir. Tak salah jika tulisan ini kuberi judul Madura, I’m In Love, karena memang begitu adanya. Tetapi yang hatinya paling berbunga saya pikir adalah salah satu dari temanku yang turut hadir bersama kami. Karena masa depan “peradapan”-nya akan di mulai di sini, di tempat ini.