Asem-Asem Kambing Atau Sapi?

Kalau sempat mampir ke rembang, jangan lewatkan masakan khas Kudus ini. Lho ke rembang koq tembus ke Kudus? ya, karena di rembang ini, ada warung yang sangat sederhana, doyong (miring, hampir rubuh), tetapi menyajikan asem-asem yang nendang banget, kata Pak Bondan. Tinggal pilih, bagi yang suka dengan kambing, bisa memesan asem-asem kambing. Tetapi kalau alergi dengan baunya kambing, bisa memilih asem-asem sapi. Asem-asem sebenarnya sederhana. Bumbunya hanya cabai, bawang putih, asem atau blimbing wuluh. Tetapi kaldu daging itulah yang memberikan sensasi rasa yang menggetarkan lidah. Kata Gus Mad dan Afis, ketika mencicipi asem-asem kambing, radiasi cabai campur kaldu daging meresap ke seluruh rongga mulut.. wah, nikmat!

Malamnya, kamu bisa mencoba menikmati soto khas Jawa Tengah di sekitar emperan alun-alun. Sotonya berbeda dengan soto di Jawa Timur. Soto disana diberi kecambah di bagian atasnya. Yang berbeda juga, proses penyajiannya. Teman makan (seperti ayam, rempela, sate telur puyuh, dan tempe tepung) itu kali ini bertugas sebagai “camilan”, bukan disertakan di hidangannya. Penasaran? silahkan kunjungi kota kelahiran Kartini itu!

Sederhana Itu Surga

Masjid itu begitu ramai. Banyak santri yang membuka kitab dan membacanya keras-keras. Sepertinya mereka sangat asyik, sehingga suara keras teman-temannya itu tidak menghancurkan kosentrasi mereka dalam menghapal Ikhlal atau bersenandung matan-matan Alfiah dan Imriti. Waktu itu pukul 9 malam. Kami baru tiba di pondok Roudhlotutholibin, Pondoknya Gus Mus.

Kami datang bertujuh. Pak Toni dan Pak agus dari Sampoerna foundation, Pak agus, Dosen Informatika ITS. Pak Badrus, dosen Unair. Sedangkan yang dari kalangan mahasiswa, ada aku, gus Mad, dan Afis, yang kesemuanya adalah mahasiswa Informatika ITS. Kami datang ke Rembang untuk mengisi pelatihan tentang digital library dan website. Digital library memang sangat dibutuhkan, karena pondok memiliki beribu kitab, yang mencarinyapun sangat kesusahan. Begitulah dengan web, sebagai media promosi pondok. Anda mungkin tidak pernah tahu nama Pondok Pesantren-nya Gus Mus ini. Aku saja baru tahu ini.

Sebelumnya, aku membayangkan pondok itu besar dan megah, sebesar dan semegah nama yang disandang sang pengasuh pondok, KH Mustofa Bisri. Tetapi bayangan itu kandas, tatkala malam-malam kami datang di podok beliau untuk saling berbagi ilmu. Pondok itu sangat sederhana.

Kemudian aku bertanya pada dosenku, dimana kediaman Gus yang tersohor itu. Tak disangka, kediamannya juga begitu sederhana. Kontras dengan predikat dalam diri Keturunan KH Bisri Mustofa itu. Kalau aku bisa menggambarkan, tempat tinggalnya berada di pojokan gang, di dekat alun-alun. Tepat di depan masjid pondoknya. Cuman ada pekarangan kecil di depan rumahnya. Masjidnya juga masih tambalan disana-sini (belum 100% jadi).

Di pondok tersebut, tinggal sekitar 300 orang santri. Begitu keterangan dari salah seorang santri yang sudah menjadi santri tulen*. “Santri disini semakin lama semakin sedikit mas”, terang beliau (aku lupa namanya). Nyantri sudah tidak menjadi pilihan lagi, terutama bagi masyarakat kota. Apa sih yang kerjaan bisa dilakukan oleh lulusan Pondok, selain menjadi guru ngaji? Mungkin itu yang terbesit di benak orang-orang kebanyakan.

Malam kedua, aku mencoba mengobrol dengan pengurus santri dan para gus di salah satu ruangan di pondok tersebut. Dan kebetulan, mereka juga ingin bertanya seputar pelatihan yang digelar siang tadi. Dus, mereka sangat welcome sekali. Aku sampai tak merasakan detik yang setiap saat berdetak. Seperti biasa, kami ditemani oleh secangkir kopi dan “udud” yang tak henti-hentinya mengepul. Nafas para santri, katanya. Diakhir obrolan itu, aku meminta ajari sedikit cara membaca bahasa arab, “arab gundul”. Mbah Wer, guru Nahwu, menuntun kami dengan fasih. Mas Bayu, santri lama, memberiku buku “Cara Cepat Membaca Kitab 33″.

Hidup sederhana memang seperti surga. Kita tak perlu risau akan harta kita. Itu semua titipan Yang Maha Kuasa.
*) seorang santri tulen itu minimal harus tinggal selama 6 tahun. Hadist riwayat Gus Mad, Bungah.

Politik “Mercusuar”

Oleh-oleh dari Madura (part 2)

Kalau dulu pada era 50an Pak Karno menjalankan poltitik luar negerinya yang kemudian dikenal dengan sebutan politik mercusuar, di Madura saya juga menemui hal yang sama. Tapi dari segi definisi perbedaannya sangat signifikan. Di Madura kata mercusuar bukan merupakan sebuah konotasi seperti cetusan dari proklamator kita, tetapi merupakan sebuah kata denotasi murni. Saya bumbui kata politik karena di tempat itulah para remaja berlajar ber-”politik”. Setidaknya politik memanfaatkan tempat bersejarah sebagai tempat untuk “belajar” bersama pasangannya.

————————————-

Siang itu begitu terik. Tampak penjual rujak dan minuman dingin dikelilingi oleh pembeli yang ingin menggelontor tenggorokannya dengan segelas es blewah. Begitu pula dengan saya yang menjadi salah satu anggota dari pembeli itu. Tidak hanya karena hawa panas, tetapi juga karena telah menaiki menara yang tingginya sekitar 16 lantai itu. Menara bersejarah itulah yang dulu disebut sebagai mercusuar karena keberadaan fungsinya.

Mercusuar merupakan bangunan yang berfungsi sebagai penerang bagi kapal sehingga diharapkan tidak akan tersesat atau menabrak daratan di malam hari yang gelap. Karena menyangkut nyawa manusia, mercusuar sangat penting keberadaannya bagi para pelaut. Tetapi mercusuar yang berada di Bangkalan ini lain dari yang lain. Mercusuar ini dibangun pada tahun 1800an akhir, ketika Belanda masih menancapkan kukunya di bumi pertiwi ini.

Uniknya lagi, seluruh bagian bangunan tersebut terbuat dari besi atau baja. Pondasinya juga bukan dari batu kali yang direkatkan dengan semen dan pasir. Tetapi dari bongkahan batu yang sengaja dibentuk menjadi tempat dudukan yang pas bagi mercusuar. Memang melihat dari struktur bahan pembuatannya, bisa dipastikan bangunan peninggalan Belanda ini masih awet hingga sekarang. Hingga kini, kata penjaganya, mercusuar ini masih berfungsi baik di malam hari.

Kini, mercusuar itu tidak hanya membantu para pelaut untuk mensukseskan perlabuhannya. Mercusuar itu juga memfasilitasi para pemuda yang ingin melabuhkan cintanya di hati kekasihnya. Lho kok!

Ketika saya mulai masuk kedalam bangunan tua itu, kesan gagah dan angker bangunan lama itu mulai terasa. Keadaan tersebut didukung oleh ruangan-ruangan di pelataran mercusuar tersebut yang sudah tidak terawat lagi. Suasana tersebut berubah 180 derajat ketika saya mulai naik ke lantai dua. Disana ada sepasang muda-mudi yang sedang bercengkrama memadu kasih.

Pasangan remaja yang sedang memadu kasih

Di lantai berikutnya juga terdapat pemandangan yang sama. Yang berbeda, kalau di lantai sebelumnya mereka cuman berdiri, di lantai ini mereka sudah mulai menggelar koran sebagai alas.

Beberapa lantai diatasnya juga menyuguhkan kondisi yang tidak jauh berbeda. Hampir seluruh lantai diwarnai dengan pasangan remaja,  mulai dari pasangan yang hanya ingin bertukar kisah, sampai pasangan yang ingin membuktikan rasa cintanya kepada kekasihnya. Dan rata-rata di tiap lantai hanya terdapat sepasang remaja saja. Agaknya pasangan yang lain sudah paham dengan kondisi ini, sehingga mereka juga mencari tempat yang privat agar tidak terganggu dengan pasangan lainnya.

Mungkin suasana yang hening diiringi semilir angin yang berhebus perlahan, sangat mendukung proses tumbuhnya benih-benih cinta antara kaum adam dan hawa. Sudah tak terhitung lagi berapa pasangan yang mengabadikan kenangannya di bangunan itu. Terbukti di tiap lantai terdapat goresan tangan puisi cinta yang berkembang.

Kalau saja tuan mener yang membangun mercusuar ini masih hidup, mungkin sudah mendisfungsikan bangunan tersebut menjadi kamar-kamar layaknya wisma Moroseneng. Kemudian memasang tarif yang berbeda di tiap lantainya, karena tiap lantai memberikan sensasi yang berbeda pula. Untung saja tuan mener sudah mati. Tetapi apakah jiwa-jiwa yang mirip dengan jiwa tuan mener sudah mati? Apakah tidak mungkin merasuk ke otak para pribumi? Lihat saja nanti.

Madura, I’m In Love

Oleh-oleh dari Madura (part 1) 

Seorang teman berkata, “kalau kau sudah cinta, apapun akan kau lakukan, kalau perlu arungi samudera  jika cintamu itu memang berada diseberang sana…”. Pernyataan ini hampir sama dengan yang kualami kemarin ketika mengantarkan temanku ke rumah orang tuanya kelak di Madura. Tapi tak perlu secara hiperbolis sampai mengarungi samudera, cukup selat madura saja.

———————————-

Prepare to The Salt Island

CDMA-ku berdering. Dengan malas kutekan tombol hijau. Di seberang sana terdengar suara yang tak sing bagiku. “Ja, ojok turu ae, maringene jam pitu. Ojok lali sarung tanganku seng mbok seleh gowoen…”, bunyi ponselku dengan logat Jakarta. “ya!”, jawabku singkat, auto answer barangkali. Kurampungkan mimpiku yang sempat terganggu oleh benda kotak yang tak jelas itu. Agaknya untuk mengganti waktu tidurku yang sempat tersita kemarin malam.

“Hah jam 7 lewat!”’, pekikku setelah melihat HP yang tergeletak di sekitarku. Segera saja kuambil handuk yang berceceran untuk bekal mandi, setelah teringat akan janji mengantarkan seorang teman ke Madura. Untung saja, teman-teman yang juga ingin ikut mengantarkan masih menunggu dengan setia di kampus. Dan ternyata bukan aku saja yang terlambat hadir. Syukurlah.

Sekitar pukul 8 lewat, kami mulai berangkat. Cuaca yang sangat mendukung membuat nyaman perjalanan kami. Apalagi ditambah langgengnya jalan yang kami lewati, semakin mempercepat perjalanan kami sampai ke tempat yang kami inginkan. Dengan membawa motor ramai-ramai (sekitar 16 motor), kami konvoi menuju pulau garam, pulaunya Pak Sakerah.

Sesampainya di Ujung, pelabuhan kota Surabaya, segera kami membeli tiket di tempat yang sekaligus merupakan pintu masuk bagi kendaraan yang ingin menyeberang ke pulau madura. Sekadar info, di Ujung itu ada 2 jalur pintu, pintu pertama (aku menyebutnya begitu), berada di sebelah kanan arah menuju Ujung, pintu untuk penyeberangan pendek. Sedangkan pintu satunya, jika kamu lurus terus, adalah pintu untuk penyeberangan jauh.

Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya kami bisa masuk untuk memilih kapal mana yang akan kami tumpangi. Awalnya memang kami tidak ambil pusing dengan kapal mana yang layak untuk kami naiki. Tetapi setelah melihat kapal pertama, “kok jelek ya”, cletukan dari salah seorang temanku, maka kami pindah ke jalur yang lain. Lagi pula kapal satunya, yang akhirnya kami pilih, itu sudah akan berangkat. Jadi rasanya tidak salah pilihan kami ini.

Naik kapal kali ini bukanlah yang kali pertama buatku. Dulu ketika kerja praktek di Kalimantan, aku juga menggunakan transportasi air ini selama dua hari dua malam. Tapi meskipun ini hanya perjalanan pendek, sensasi naik kapal bersama kawan-kawan satu kampus adalah hal yang baru bagiku. Dan inilah kenangan yang mungkin tak pernah aku lupakan hingga tua nanti. Kalau sampai waktuku…. (halah.. malah berpuisi :D ).

Berpose di kamera adalah kegiatan yang wajib kami lakukan. Begitupula di dek kapal. Bergaya di tiap pojok kapal, mencari angle yang pas. Mungkin kelihatan aneh bagi penumpang yang lain, tapi tidak buat kami. “wong meduro anyar”, pikirnya. Patung armatim (susah nyebutnya),  adalah salah satu objek foto yang kami gemari. Sebuah patung yang berdiri gagah memandang ke arah laut lepas. “Gak takut kelilipan pak! He..he..

Foto-foto di Kapal

Foto yang paling mengesankan adalah foto tepat di depan tempat nahkoda mengemudikan kapal. Angle di tempat itu pas sekali. Berada tepat di garis simetris kapal. Saking asyiknya, hingga kami lupa kalau nahkoda juga butuh memandang ke depan untuk mengemudikan kapal meskipun sudah menjadi kegitan rutinnya tiap hari. Karena kami sangat menghalangi pandangan dari si pengemudi kapal, kami sempat diminta untuk minggir dari tempat kami semula. Mungkin karena kesalnya, bel pertanda bahwa kapal akan mulai berangkat dibunyikan keras-keras hingga mengguncang gendang telinga kami. Ya maaf pak.

Pelabuhan Kamal sudah tampak. Bau pulau garam sudah mulai menggelitik bulu hidungku. Lagu yang di mainkan ABK (Anak Buah Kapal, red) juga mulai berubah, yang tadinya Yuni Sarah, sekarang Tanduk Majeng. Atau lagu dewa dengan aransemen khas Madura. Dari jauh pulau madura layaknya subuah kura-kura hijau yag mengapung di laut Jawa. Hamparan tetumbuhan hijau juga menancap di tanah kapur pulau karapan sapi ini. Bayangan kyai Kholil Bangkalan, juga mulai nampak (padahal aku tidak pernah tahu dan kenal wajah kyai Kholil).

Kujejakkan kakiku yang entah keberapa kali di pulau Madura ini. Mungkin lima bulan yang lalu aku juga pernah kesini. Tapi bukan singgah di bangkalan, lebih jauh lagi di daerah Semenep, tempat kyai Bashit bersemayam. Madura layak juga disebut pulau santri, karena di pulau ini bertebaran pondok-pondok pesantren mulai dari yang klasik hingga modern. Alasan lain mungkin karena sebutan
kota santri sudah disandang oleh Gresik.

Orang-orang disini juga sangat menghormati para kyai. Dulu ketika temanku tugas di Madura untuk survey masalah pembangunan, pernah bercerita tentang sifat yang satu ini. Suatu waktu temanku itu datang berkunjung ke salah seorang kyai. Kemudian kyai tersebut memanggil salah seorang santrinya untuk disuruh membuatkan minum buat temanku itu. Sewaktu menghadap, sikap santri tersebut layaknya sorang rakyat yang menghadap rajanya. Tidak berani memandang wajah sang kyai. Begitu pula ketika akan meninggalkan kyainya, maka si santri tidak akan membalikkan badannya (berjalan mundur) sebelum sampai ke pintu untuk keluar. Luar biasa.

Kembali ke perjalanan. Bangkalan merupakan pintu masuk utama bagi pendatang yang berasal dari Jawa. Sebelum menuju ke rumah temanku, kami sempatkan untuk berkunjung ke Mercusuar, salah satu tempat yang dijadikan objek wisata di Bangkalan. Jalan menuju ke lokasi tersebut sangatlah mempesona, terutama bagi orang-orang perkotaan. Di kanan kiri terdapat sawah, sesekali juga dihiasi oleh tambak yang terhampar luas. Semakin mendekat ke lokasi terdapat hutan bakau yang agak jarang-jarang di tumbuhi populasinya. Sesampainya di lokasi, banyak muda-mudi yang sedang dimabuk
asmara di tiap sudut area mercusuar. Menarik sekali.

———————————-

Di rumah temanku, kami disambut dengan soto babat khas Madura. komposisinya beraneka ragam. Yang pasti ada adalah jeroan sapi. Bagi yang alergi, bisa diganti dengan daging ayam. Yang berbeda dari soto biasanya adalah tambahan singkong rebus yang diiris tipis melintang. Rasanya juga tidak kalah menarik, karena bumbu soto tersebut meresap masuk ke dalam pori-pori roti sumbu tersebut. Kalau pak Bondan ikut beserta kami, pasti bilang “Mak Nyus!”.

Belum habis soto yang kami santap, kami sudah dihadang dengan es buah. Panas-panas memang sangat pas diobati dengan segarnya es yang satu ini. Orang rumah memang mengerti selera kami. Es buah kali ini tidak kalah variatif dengan soto yang sudah singgah di lambung kami.
Ada buah melon yang dibentuk bulat, ada agar-agar yang diiris panjang-panjang, dan sebagainya. Duh, menyesal kalau sampai aku tidak ikut kunjungan kuliner ini.

Sebagai penutup, kami dimanjakan dengan rujak buah mangga. Sambalnya yang menurutku menarik dari biasanya. Sambal disini terbuat dari petis yang asin. Biasanya kalau di jawa, rujak buah diberi gula merah atau gula aren. Oleh karena itu disebut rujak legi.

Nikmatnya berkunjung ke Madura kali ini membuatku betah. Sangat sayang ketika momen yang menarik ini berakhir. Tak salah jika tulisan ini kuberi judul Madura, I’m In Love, karena memang begitu adanya. Tetapi yang hatinya paling berbunga saya pikir adalah salah satu dari temanku yang turut hadir bersama kami. Karena masa depan “peradapan”-nya akan di mulai di sini, di tempat ini.

Lonthe dan Firdaus

Lontheku…. terima kasih atas pertolonganmu…

lonthe

Itulah cupilkan lirik tembang ciptaan Iwan Fals yang berjudul “Lontheku”. Lagu tersebut menceritakan pelarian seseorang dari kejaran aparat, kemudian diselamatkan oleh seorang lonthe yang kebetulan bertemu disuatu tempat ketika pengejaran sedang berlangsung.

Lonthe? Kalau kamu orang Surabaya pasti tahu apa itu lonthe. Lonthe adalah sebutan bagi seorang pelacur atau bahasa lainnya PSK di Surabaya. Entah di daerah lain juga menyebut demikian. Yang jelas bagi kebanyakan orang, sebutan ini lebih kasar dari sebutan pelacur. Sama dengan kata mbadog sebagai kata lain dari makan. Atau kata cocot sebagai sinonim dari kata mulut. Kok tahu? Orang Surabaya….

Ngomong-ngomong soal pelacur, jadi teringat kata guru ngajiku dulu ketika aku masih SD. Waktu masih main kelereng atau mercon pada bulan puasa. Atau main layangan di saat musim kemarau tiba. Dan semakin tertancap di otakku ketika kyai kanjeng dies natalis ITS kemarin juga sempat berbicara hal yang sama, pelacur. Pasti kamu sudah berkali-kali mendengar cerita tersebut. Tapi meski begitu, tetap akan aku ulas, karena bukan ceritanya yang menjadi titik tekan disini, tetapi perbedaan penafsiran antara orang tekstual dengan kontekstual.

Guru ngajiku tersebut lalu bercerita… “Pada jaman dulu, sewaktu belum ada internet dan bollywood, ada seorang pelacur yang tinggal disebuah kota di derah timur tengah. Ia tanpa kenal lelah melacur dari petang hingga pagi. Siklus yang tidak biasa bagi kebanyakan orang. Karena profesinya itu, ia merasa menjadi orang terkotor di dunia. Ia merasa dosanya sudah tidak dapat diampuni Allah lagi….”

Setelah nyruput kopi sebentar, guru ngajiku meneruskan ceritanya, “Suatu hari, setelah pulang dari bekerja, di tengah jalan, ia sangat merasa sangat haus. Dicarinya penjual es cendol buat penawar rasa haus. Setelah menengok kana kiri, ternyata tidak satupun penjual es cendol yang melintas. Persetan dengan es cendol, pikirnya. Mungkin ada es cao, es degan, es temulawak, es…..”.

Belum sempat beliau meneruskan, temanku bertanya, “Ustad, emang di arab sono ada es cendol? Apa lagi es cao, es temulawak, es degan?”.

“Makanya dia gak nemu itu es, dodol!!! jangan tanya dulu lah, biar tak terusin ceritanya…”, timpal guru ngajiku.

“Sampai mana tadi? oh. Iya.. setelah ia berjalan begitu lama, ia menemukan sebuah sumur yang kelihatannya tidak bertuan. Kemudian ia mengambil air itu dengan sepatunya. Apesnya, air yang ada di sumur itu tinggal sedikit. Hanya cukup ditampung di sepatunya….”, Guru ngajiku melanjutkan ceritanya.

“Setelah bersusah payah mengambil air dari sumur yang dalam tersebut, tiba-tiba dari arah yang berlawanan, datang seekor anjing yang kehausan pula. Karena iba dengan anjing tersebut, ia meminumkan air yang telah diambilnya tadi ke seekor anjing yang ditemuinya itu. Ternyata tanpa sungkan atau pakewuh, anjing tersebut meminum air pemberian sang pelacur sampai habis. Biarlah, yang penting anjing ini selamat dari kehausan, ujarnya.”.

“Tidak lama kemudian, sang pelacur tersebut meninggal. Di Akherat, ternyata ia dimasukkan surga oleh Allah lantaran keikhlasan memberikan minum ke seekor anjing…”.

Lho, ustad! Enak dong jadi pelacur… cuman ngasih minum anjing, udah bisa masuk surga?” tanya temanku lagi.

“Eh, mana ada pelacur yang enak hidupnya?”, Kata guruku.

“Lha iya to, kalau gitu aku bisa saja jadi pelacur, trus aku suruh temanku mencari anjing yang kehausan. Ketika aku mengambil air di sumur, aku minta temanku melepaskan anjing itu dan aku memberi anjing itu minum, masuk surgalah aku…”, lanjut temanku, tidak mau kalah.

Kalau itu jelas nggak masuk surga, karena kamu ngasih minum bukan karena ikhlas, tapi karena mengharapkan surga Allah… sampai merekayasa kejadian segala…”, Jawab guruku menerangkan.

“Hikmah yang bisa diambil dari cerita ini adalah Maghfirah atau ampunan Allah begitu besar, sehingga jangan sungkan-sungkan meminta ampunan kepada Allah. Meski dosa kamu sangat besar, tetapi ampunan Allah lebih besar dari dosa-dosamu itu.”, lanjut beliau sambil menutup pengajian sore itu.

Begitulah cerita guruku. Sampai sekarang, aku masih ingat hikmah cerita itu. Memang, tidak ada orang waras yang mempunyai cita-cita menjadi pelacur. Himpitan ekonomilah yang memacu orang mencari jalan pintas untuk mendapat rejeki, salah satunya menjadi pelacur. Apakah pelacur tidak tahu bahwa yang mereka lakukan adalah salah? Kata sahabatku, cobalah berikan kuisioner di gang Doli tentang dosa tidaknya melacur. Pasti 100% menjawab bahwa melacur itu dosa.

Baru-baru ini kudengar temanku yang sering bertanya waktu pengajian sore dulu itu masuk FPI. Semoga lebih maghfirah disana.

Next Page »