Archive for April, 2008

Membongkar Kesesatan Ahmadiyah

 

Dawam Rahardjo Dibiayai Ahmadiyah?.

Kematian Mirza Ghulam Ahmad yang Menjijikkan.
Ahmadiyah Jago Berbohong.
Pengakuan Palsu Bertahap.
Ahmadiyah Mengkafirkan Muslimin.
Lebih Berbahaya dari Bandar Narkoba .

http://www.swaramuslim.net/more.php?id=1966_0_1_0_M

Sehari pasca penyerbuan terhadap Pusat Jemaat Ahmadiyah di Parung,
Bogor, 15 Juli lalu, Johan Effendi mantan petinggi Depag yang juga anggota
resmi Ahmadiyah, mengadakan jumpa pers di PBNU. Jumpa pers yang diliput
oleh sebagian besar media teve itu, antara lain dihadiri oleh Dawam
Rahardjo, Ulil, Musdah Mulia, dan sebagainya.

Dawam Rahardjo petinggi ormas Muhamamdiyah era Amien Rais dan Syafii
Maarif, tampil bak pahlawan kesiangan membela Ahmadiyah.

Kalimat-kalimat yang meluncur dari mulutnya, tidak saja menggelontorkan
pembelaan terhadap Ahmadiyah dengan alasan hak asasi manusia, tetapi
juga ia mengeluarkan pernyataan yang sangat kampungan, yaitu ?? kalau
ada gerakan anti Islam, maka saya akan ikut?,? sebagaimana bisa dilihat
dari berbagai tayangan media televisi yang menayangkan jumpa pers
tersebut.

Selama ini Dawam dijuluki sebagai tokoh Islam, petinggi Muhammadiyah, dan
petinggi ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia).

Bagaimana mungkin seseorang yang berlabel sangat Islam itu bisa
menyatakan akan ikut gerakan anti Islam? Ini menunjukkan bahwa selama ini
ia cuma cari makan melalui Islam.

Mengapa Dawam begitu gigih tampil sebagai pembela Ahmadiyah.
Pengalaman Hartono Ahmad Jaiz penulis buku Aliran dan Paham Sesat di
Indonesia dapat menjelaskan hal ini.

Ketika saya bersama Haryadi (mantan anggota Jemaat Ahmadiyah), Farid
Okbah (Dai dari Al-Irsyad), dan Abu Yazid (dari Persis) masuk ke kampus
Mubarok Parung Bogor saat Thahir Ahmad ada di sana, dengan maksud ingin
bertamu mengunjungi salah seorang teman Ahmad Haryadi, kami justru
ditangkap. Ketika pihak keamanan Ahmadiyah sedang mengusut teman-
teman saya yang bertamu tapi ditangkap ini, saya
berbincang-bincang dengan sebagian dari mereka. Ketika itu, saya tanyakan,
kenapa Dawam Rahardjo datang ke London mengundang Thahir Ahmad ke
Indonesia?

Dijawab, karena Ahmadiyah membiayai Dawam Rahardjo.?

Pantaslah, di saat ada desakan dari umat Islam sekitar kampus Mubarok
Pusat Ahmadiyah agar Ahmadiyah dan kampusnya dibubarkan, maka Dawam
Rahardjo menjadi pahlawan? kesiangan. Dawam mengecam MUI, FPI, dan
LPPI. Masih kurang puas, Dawam pun menulis di Koran Indo Pos, berjudul
Teror Terhadap Ahmadiyah.Dawam tampak gusar, dengan dalih HAM (Hak
asasi manusia) maka dia tudingkan telunjuknya yang sudah menua renta itu
dengan berteriak bahwa FPI (Front Pembela Islam) dan LPPI (Lembaga
Penelitian dan Pengkajian Islam) berada di balik teror itu.

Sebagaimana diketahui, setelah terjadi pengepungan massa umat Islam
terhadap Pusat Ahmadiyah di Kampus Mubarok di Parung Bogor Jawa Barat
ba?da Jum?at 15 Juli 2005 (8 Jumadil Akhir 1426 H), berakhir dengan
keputusan Pemda Bogor untuk menutup pusat aliran sesat Ahmadiyah itu,
dan orang-orang Ahmadiyah di dalamnya dievakuasi dengan 4 bus dan 4
truk polisi.

Munas ke-2 MUI tahun 1980 memfatwakan bahwa Ahmadiyah adalah di luar
Islam, sesat menyesatkan. Diperkuat pula oleh adanya surat edaran Dirjen
Bimas Islam dan Urusan haji Departemen Agama, agar ulama menjelaskan
sesatnya Ahmadiyah.

Ahmadiyah Qadian menyusup dan datang ke Indonesia sejak 1925 ?
sedangkan Ahmadiyah Lahore hadir empat tahun kemudian (1929) ?
semula digandeng oleh Muhammadiyah karena dianggap sebagai pembaharu.
Namun di tahun 1930-an Muhammadiyah baru menyadari bahwa Ahmadiyah itu
bukan pembaharu, maka Muhammadiyah pun tidak lagi menjadikan
Ahmadiyah sebagai kawan.

Meskipun sudah sejak tahun 1930 pimpinan Muhammadiyah melalui pidato
resminya menyatakan bahwa Ahmadiyah yang selama ini dijadikan teman
ternyata bukan teman, namun sampai tahun 2000 masih ada petinggi
Muhammadiyah, yaitu Dawam Rahardjo, yang mengatas-namakan
Muhammadiyah mengundang Thahir Ahmad (Khalifah IV Ahmadiyah di
London) untuk hadir ke Indonesia di masa Presiden Abdurrahman Wahid.

Kedatangan penerus nabi palsu yang diundang oleh orang yang juga
memalsu atas nama Muhammadiyah itu disambut pula oleh bekas Ketua
Muhammadiyah yang saat itu sedang menjabat sebagai Ketua MPR, Amien
Rais. Bahkan, Thahir Ahmad dan Amien Rais sempat berangkulan di Gedung
DPR/MPR. Sementara itu yang memalsu atas nama Muhammadiyah, Dawam
Rahardjo, mengalungkan bunga kepada penerus nabi palsu Thahir Ahmad di
Bandara Cengkareng. Semua itu kemudian disiarkan oleh media Ahmadiyah.

Peristiwa itu mengundang komentar seorang pakar dari Pakistan, Manzhur
Ahmad Chinioti Pakistani, penulis buku Keyakinan Al-Qadiani, yang dengan
sengaja hadir ke Indonesia dan berpidato di Masjid Al-Azhar Jakarta. Pakar
dari Pakistan ini memprotes keras, dan menuntut agar Dawam Rahardjo
diadukan ke pengadilan, karena telah mengatas-namakan Muhammadiyah,
mengundang penerus nabi palsu ke Indonesia.

Dalam hal membela aliran sesat Ahmadiyah ini, kalangan muda
Muhammadiyah pun tak mau ketinggalan kereta. Mereka tergopoh-gopoh
mengadakan konperensi pers di kantor Pusat Muhammadiyah untuk membela
Ahmadiyah. Sukidi, yang memang kadernya Dawam Rahardjo dan aktivis
JIMM (Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah), mengambil kesempatan
untuk membela Ahmadiyah.

Kematian yang Menjijikkan

Hartono Ahmad jaiz pernah bertanya kepada Dr. Hasan bin Mahmud Audah,
mantan orang kepercayaan Khalifah Ahmadiyah ke-4 Thahir Ahmad, yang
sudah kembali ke Islam. ?Apakah benar, nabinya orang Ahmadiyah, Mirza
Ghulam Ahmad yang lahir di India 15 Februari 1835 dan mati pada 26 Mei
1906, itu matinya di kakus (WC)??

Kemudian Dr. Hasan bin Mahmud Audah pun menjawab,?Ha?, ha?, haa?
itu tidak benar. Mirza Ghulam Ahmad tidak bisa ke WC. Dia meninggal di
tempat tidur. Tetapi berminggu-minggu sebelum matinya dia berak dan
kencing di situ. Jadi tempat tidurnya sangat kotor seperti WC. Karena
sakitnya itu, sampai-sampai dalam sehari dia kencing seratus kali. Makanya,
tanyakanlah kepada orang Ahmadiyah, maukah kamu mati seperti nabimu??

Dr Hasan bin Mahmud Audah adalah mantan Muballigh Ahmadiyah dulunya
dekat dengan Thahir Ahmad (Khalifah Ahmadiyah) yang mukim di London.
Pertanyaan di atas diajukan Hartono Ahmad Jaiz seusai berlangsungnya
Seminar Nasional tentang Kesesatan Ahmadiyah dan Bahayanya yang
diselenggarakan LPPI di Masjid Istiqlal Jakarta, Ahad 11 Agustus 2002.

Selain masalah kematiannya yang menjijikkan, Mirza Ghulam Ahmad menurut
Audah punya dua penyakit: jasmani dan akal. Sakit jasmaninya sudah jelas,
berminggu-minggu menjelang matinya tak bisa beranjak dari tempat tidur,
hingga kencing dan berak di tempat tidurnya.

Adapun sakit akalnya, Mirza Ghulam Ahmad mengaku menjadi Maryam, lalu
karena Allah meniupkan ruh kepadanya, maka lahirlah Nabi Isa. Dan yang
dimaksud dengan Nabi Isa itu tak lain adalah diri Mirza Ghulam Ahmad itu
sendiri. ?Apakah tidak sakit akal itu namanya,? ujar Dr Hasan Audah yang
dulunya mempercayai Mirza Ghulam Ahmad, sehingga sempat membeli
sertifikatkuburan surga di Rabwa.

Ahmadiyah Jago Berbohong

Tentang propaganda bohong, Ahmadiyah adalah jagonya. Hartono Ahmad
Jaiz menyampaikan pengalamannya: ?Propagandis Ahmadiyah di depan saya
dan 1200 hadirin di Masjid Al-Irsyad Purwokerto, April 2002, masih bisa
ngibul (berbohong) dengan mengatakan bahwa banyak raja-raja di Afrika
yang masuk ?Islam?, yaitu masuk Jemaat Ahmadiyah. Hingga seakan-akan
orang Ahmadiyah bangga dan berjasa kepada Islam karena bisa
?mengislamkan? raja-raja di Afrika.?

Ketika hal itu dikemukakan Hartono kepada Dr Hasan Audah, kontan mantan
petinggi Ahmadiyah ini kembali tertawa dan berkata: ?Itu bohong besar. Di
Afrika, kepala-kepala dusun (desa) memang disebut raja. Jadi hanya tingkat
kepala dusun, bukan berarti raja yang sebenarnya. Nah itulah yang dijadikan
propaganda. Ahmadiyah memang penuh kebohongan dan propaganda,?
tegasnya.

Kalau disimak, keterangan Dr Hasan Audah itu bisa dicocokkan dengan
aneka ajaran Ahmadiyah, bahkan slogan-slogannya. Kebohongan memang
ada di mana-mana. Di kitab sucinya, Tadzkirah, di sertifikat kuburan surga,
bahkan di spanduk-spanduknya pun penuh kebohongan.

Satu contoh kecil, spanduk yang dipasang di berbagai tempat dalam
lingkungan Al-Mubarok, sarang Ahmadiyah di Parung Bogor Jawa Barat,
waktu kedatangan Khalifah Ahmadiyah Thahir Ahmad, Juni-Juli 2000, masa
pemerintahan Gus Dur, adalah slogan Semua Dicintai, Tiada yang Dibenci.
Tetapi itu slogan bohong. Buktinya, ketika Ahmad Haryadi mantan
propagandis Ahmadiyah bersama Hartono Ahmad Jaiz, Farid Okbah da?i Al-
Irsyad, dan Abu Yazid pemuda Persis(Persatuan Islam) dari Bekasi Jawa
Barat masuk ke sarang Ahmadiyah di Parung saat ada upacara besar-
besaran mendatangkan Khalifah Ahmadiyah IV Thahir Ahmad dari London
itu, tiba-tiba seorang tua bekas teman Haryadi membentaknya, ?Bagaimana
kamu bisa masuk ke sini?!?

Ahmad Haryadi menjawab, ?Itu kan ada spanduk, Semua Dicintai, Tiada yang
Dibenci.?

?Tidak bisa! Dicintai itu kalau kamu cinta kami. Kamu kan tidak cinta kami!?

Ujar lelaki Ahmadiyah keras-keras.

Belum berlanjut perdebatan antara mantan dan aktivis Ahmadiyah itu tahu-
tahu Ahmad Haryadi dan kawan-kawan ditangkap oleh kepala keamanan
Ahmadiyahyang membawa 25 pemuda keamanan Ahmadiyah malam itu.

Slogan Semua Dicintai, Tiada yang Dibenci itu menurut Dr Hasan Audah,
pertama kali diucapkan oleh khalifah sebelum Thahir Ahmad.
Kata-kata itu adalah perkataan yang bertentangan dengan Islam. Karena
Islam bersikap Asyidaau ?alal kuffar ruhamaau bainahum (bersikap keras
terhadap orang-orang kafir dan saling berkasih sayang sesama Muslim).

Bohong dan bertentangan dengan Islam itulah inti ajaran Ahmadiyah.
Karenanabinya, Mirza Ghulam Ahmad, adalah seorang pembohong dan
pembuat ajaran yang bertentangan dengan Islam.

Pengakuan Palsu Bertahap

Mirza Ghulam Ahmad menyampaikan beberapa pengakuan palsu secara
bertahap.

Pertama, ia mengaku sebagai mujaddid (pembaru).

Kemudian ia mengaku sebagai nabi yang tidak membawa syari?at.

Kemudian ia mengaku sebagai nabi dan rasul membawa syari?at, menerima
wahyu seperti Al-Qur?an dan menerapkannya kepada dirinya.

Setelah itu ia mengikuti cara-cara kebatinan dan zindiq (kufur) dalam
ungkapan-ungkapannya. Ia mengikuti cara-cara Baha?i dalam mengaburkan
ucapannya.

Kemudian ia mulai meniru mu?jizat penutup para nabi, Nabi Muhammad saw.

Lalu menjadikan masjidnya sebagai Masjid Al-Aqsha, dan desanya sebagai
Makkah Al-Masih.

Ia jadikan Lahore sebagai Madinah, dan menara masjidnya diberi nama
menara Al-Masih.

Ia membangun pemakaman yang diberi nama pemakaman al-jannah, semua
yang dimakamkan di sana adalah ahli syurga. (Syaikh Muhammad Yusuf Al-
Banuri, ahli Hadits di Karachi Pakistan, dalam kata pengantar buku Manzhur
Ahmad Chinioti Pakistani, Keyakinan Al-Qadiani, LPPI, 2002, hal xxii).

Cukuplah jelas apa yang ditegaskan Nabi Muhammadsaw: ?Kiamat tidak akan
tiba sebelum dibangkikannyat para Dajjal pendusta yang jumlahnya hampir
tiga puluh orang. Setiap mereka mendakwakan bahwa dirinya adalah Rasul
Allah.? (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Ahmadiyah Mengkafirkan Muslimin

Seorang Muslim yang tidak percaya akan da?wah pengakuan Ghulam Ahmad
sebagai ?nabi? dan ?rasul?, maka orang Muslim itu dikafirkan oleh Mirza
Ghulam Ahmad dengan aneka ucapannya dan ucapan pengikutnya. Bahkan
ucapan yang dinisbatkan kepada Allah swt dalam Kitab Tadzkirah Wahyu
Muqoddas, wahyu suci yang dianggap dari Allah kepada Mirza Ghulam
Ahmad:

1.Sayaquulul ?aduwwulasta mursalan. Musuh akan berkata, kamu bukanlah
(orang yang) diutus (oleh Allah). (Tadzkirah, halaman 402). Lalu perkataan
Mirza Ghulam Ahmad:
Seseorang yang tidak beriman kepadaku, ia tidak beriman kepada Allah dan
Rasul-Nya. (Haqiqat ul-Wahyi, hal. 163).

?Sikap orang yang sampai da?wahku kepadanya tapi ia tak mau beriman
kepadaku, maka ia kafir. (S.k. al-Fazal, 15 Januari 1935).

Basyiruddin, adik Mirza Ghulam Ahmad, berkisah: ?Di Lucknow, seseorang
menemuiku dan bertanya: ?Seperti tersiar di kalangan orang ramai, betulkah
anda mengafirkan kaum Muslimin yang tidak menganut agama Ahmadiyah??
Kujawab: ?Tak syak lagi, kami memang telah mengafirkan kalian!?
Mendengar jawabanku, orang tadi terkejut dan tercengang keheranan.?
(Anwar Khilafat, h. 92).

Ucapannya lagi: ?Barangsiapa mengingkari Ghulam Ahmad sebagai ?nabi?
dan ?rasul? Allah, sesungguhnya ia telah kufur kepada nash Quran. Kami
mengafirkan kaum Muslimin karena mereka membeda-bedakan para rasul,
mempercayai sebagian dan mengingkari sebagian lainnya. Jadi, mereka itu
kuffar!? (S.k. al-Fazal, 26 Juni 1922).

Katanya lagi: ?Setiap orang yang tidak beriman kepada Ghulam Ahmad,
maka dia kafir, keluar dari agama walaupun dia Muslim, walaupun ia sama
sekali belum mendengar nama Ghulam Ahmad?. (Ainah Shadaqat, h. 35).

Dan Basyir Ahmad meningkahi ucapan abang kandungnya: ??.. Setiap orang
yang beriman kepada Muhammad tapi tidak beriman kepada Ghulam Ahmad,
dia kafir, kafir, tak diragukan lagi kekafirannya?. (Review of Religions,No.

35; Vol. XIV, h. 110).

Lebih Berbahaya dari Bandar Narkoba

Mirza Ghulan Ahmad, selain mengaku nabi, di samping bohong, ia menulis
buku dan selebaran untuk mendukung Penjajah Inggris, dan menghapus jihad
sampai sebanyak 50 lemari.

Pantaslah kalau Rabithah Alam Islami (Liga Dunia Islam) yang berpusat di
Makkah tahun 1394 H menghukumi aliran Ahmadiyah itu kafir, bukan Islam,
dan tak boleh berhaji ke Makkah. Karena memang syarat-syarat sebagai
dajjal pendusta dalam diri Mirza pendiri Ahmadiyah ini telah nyata. Tinggal
penguasa di negeri-negeri Islam menghadapinya, dengan mencontoh Abu
Bakar ra yang telah mengerahkan 10.000 tentara untuk memerangi nabi
palsu, Musailamah Al-Kadzdzab, hingga tewas.

Karena nabi palsunya, Mirza Ghulam Ahmad, telah mati dengan dihinakan
oleh Allah Swt, maka penguasa kini tinggal melarang ajarannya,
membekukan asset-asset pendukungnya, dan membubarkan aktivitasnya.
Penguasa adalah pelindung, sebagaimana berkewajiban melindungi
masyarakat dari perusakan jasmani misalnya narkoba, perusakan mental
misalnya judi, maka perusakan aqidah, penodaan, dan pemalsuan yang
dilakukan Ahmadiyah mesti dihentikan, dilarang dan diberantas tuntas.

Membiarkannya, berarti membiarkan kriminalitas meruyak di masyarakat,
bahkan bisa diartikan mendukung rusaknya masyarakat. Padahal sudah ada
contohnya, negeri jiran, Malaysia telah melarang Ahmadiyah sejak 1975.
Sedang MUI (Majelis Ulama Indonesai) pun telah memfatwakan sesatnya
Ahmadiyah sejak 1980. Forum Ukhuwah Islamiyah terdiri dari sejumlah
Ormas Islam telah mengajukan suratke kejaksaan Agung untuk dilarangnya
aliran sesat Ahmadiyah, September 1994.Permohonan yang sama juga
dilakukan oleh LPPI pada tahun 1994. Larangan Ahmadiyah oleh beberapa
Kejaksaan Negeri (Subang 1976, Selong Lombok Timur 1983, Sungai Penuh
1989, dan Tarakan 1989) serta larangan Ahmadiyah oleh Kejaksaan Tinggi
Sumatera Utara 1984. Jaksa Agung masih menunggu apa lagi? (Abu Qori)

 

Sumber : http://www.opensubscriber.com/message/urangsunda@yahoogroups.com/1798786.html

 

Alawiyyin

Alawiyyin adalah sebutan bagi kaum atau sekelompok orang yang memiliki pertalian darah dengan Rasulullah SAW. Sebutan lain untuk alawiyyin adalah ba’alwi. Ba’Alawi ialah gelar yang diberi kepada mereka yang memiliki keturunan dari Alawi bin Ubaidullah bin Ahmad bin Isa Al-Muhajir.

Ahmad bin Isa Al-Muhajir telah meninggalkan Basrah di Iraq bersama keluarga dan pengikut-pengikutnya pada tahun 317H/929M untuk berhijrah ke Hadhramaut di Yaman Selatan. Cucu Ahmad bin Isa yang bernama Alawi, merupakan orang pertama yang dilahirkan di Hadramaut. Oleh itu anak-cucu Alawi digelar Ba ‘Alawi, yang bermakna Keturunan Alawi. Panggilan Ba ‘Alawi juga ialah bertujuan memisahkan kumpulan keluarga ini daripada cabang-cabang keluarga yang lain yang berketurunan daripada Nabi Muhammad. Ba ‘Alawi juga dikenali dengan kata-nama Saiyid (Sadah bagi bilangan lebih daripada seorang). Keluarga yang bermula di Hadhramaut ini, telah berkembang dan membiak, dan pada hari ini ramai di antara mereka menetap disegenap pelusuk Nusantara, India dan Afrika.

bukan saiyid tetapi adalah sayid yang bermakna tuan atau sejenisnya,dan juga banyak dikenal dengan sebutan HABIB. dan kalangan saiyid atau habib ini mempunyai nasab atau silsilah keturunan yang langsung sampai kepada datuknya rasul saw.karena banyak yang mengatas namakan sayid atau habib tetapi mereka tidak mempunyai nasab atau silsilah yang sampai kepada rasul saw. karena rasul sangat marah dan benci apabila ada yang mengaku-ngaku keturunan tetapi kenyataannya bukan.

Habib adalah panggilan khas kepada seorang sayyid dari Hadhramaut yang bernasab kepada Imam Ali Zainal Abidin bin Al-Husain bin Ali. Kesahihan nasab Alawi di pelihara oleh Rabithah Alawiyyin di Jakarta Selatan. Di kalangan saadah Alawiyyin ada yang telah berhijrah pada abad-abad 16 dan 17 Masehi umpamanya bahkan lebih awal lagi ke India dan Indonesia. Daftar nasab mereka mungkin tidak di catat bahkan mungkin hilang sama sekali.

Pustaka

Isi dari blog ini diambil dari

http://www.albayyinat.net
http://baalawi.simplyhaddad.com/
http://kisahwali.blogspot.com/
http://id.wikipedia.org

Marga Arab Hadramaut

Secara umum penggolongan Marga Arab Hadramaut itu dikategorikan dalam 4 golongan:

  1. Alawiyin (golongan yang mengaku keturunan Rasulullah via keturunan Ahmad bin Isa (AlMuhajir))
  2. Qabili / Qabail / Qabayl (golongan yang memegang senjata)
  3. Masaikh / Dhaif (gologang pedagang / petani / rakyat kebanyakan)
  4. Abid (golongan pembantu / hamba sahaya)

Latar Belakang

Alkisah, golongan Alawiyin karena desakan politik di persia (iran) terpaksa hijrah mencari penghidupan yang lebih baik ke daerah Hadramaut. Disana mereka menyampaikan kepada beberapa muqaddam (kepada suku) mengenai maksud untuk tinggal di Hadramaut dan juga menerangkan jati diri mereka (sebagai turunan Rasulullah). Sebelum secara resmi mereka diterima, muqaddam disaat itu mengirim utusan ke Hejaz untuk mengecek mengenai keberadaan mereka (terutama status turunan Rasul). Namun, setelah beberapa waktu, ada satu keluarga di Hadramout tersebut yang langsung menerima golongan Alawiyin ini untuk tinggal tanpa menunggu kepulangan utusan yang dikirim dan penerimaan secara resmi. Selanjutnya keluarga ini dikenal dengan nama keluarga Bafadhal, yaitu “golongan yang menerima”

Di bawah ini adalah daftar nama marga orang Arab keturunan Yaman (suku Arab Hadramaut):

A

  • Abbad, Abdul Aziz, Abudan, Aglag, Al Abd Baqi, Al Aidid, Al Ali Al Hajj, Al Amri, Al Amudi, Al As, Al As-Safi, Al Ba Abud, Al Ba Faraj, Al Ba Harun, Al Ba Raqbah, Al Baar, Al Bagdadi, Al Baiti, Al Bakri, Al Bal Faqih, Al Barak, Al Bargi, Al Barhim, Al Batati, Al Bawahab, Al Bin Jindan, Al Bin Sahal, Al Bin Semit, Al Bin Yahya, Al Bukkar, Al Fad’aq, Al Falugah, Al Gadri, Al Hadi, Al Hadi, Al Halagi, Al Hasani, Al Hasyim, Al Hilabi, Al Hinduan, Al Huraibi, Al Aydrus, Al Jabri, Al Jaidi, Al Jailani, Al Junaid, Al Kalali, Al Kalilah, Al Katiri, Al Khamis, Al Khatib, Al Kherid, Al Madhir, Al Mahdali, Al Mahfuzh, Al Matrif, Al Maula Dawilah, Al Maula Khailah, Al Munawwar, Al Musawa, Al Mutahhar, Al Qadri, Al Qaiti, Al Qannas, Al Rubaki, Al Waini, Al Yafi’ie, Al Yamani, AlMathori, AlMukarom, Ambadar, Arfan, Argubi, Askar, Assa’di, Assaili, Asy Syarfi, Attamimi, Attuwi, Azzagladi,al Dames

B

  • Ba Abdullah, Ba Attiiyah, Ba Atwa, Ba Awath, Ba Dekuk, Ba’ Dib, Ba Faqih, Ba Sendit, Ba Siul, Ba Sya’ib Bin Ma’tuf Bin Suit, Ba Syaiban, Ba Tebah, Ba Zouw, Ba’asyir, Babadan, Babten, Badegel, Badeges, Ba’dokh, Bafana, Bafadual, Bagaramah, Bagarib, Bagges, Bagoats, Bahafdullah, Bahaj, Bahalwan, Bahanan, Baharmus, Baharthah, Bahfen, Bahmid, Bahroh, Bachrak, Bahsen, Bahwal, Bahweres, Baisa, Bajabir, Bajened, Bajerei, Bajrei, Bajruk, Bakarman, Baksir, Baktal, Baktir, Bal Afif, Baladraf, Balahjam, Balasga, Balaswad, Balfas, Baljun, Balweel, Bamakundu, Bamasri, Bamasak , Bamatraf, Bamatrus, Bamazro, Bamu’min, Banaemun, Banafe, Bana’mah, Banser, Baraba, Baraja, Barakwan, Barasy, Barawas, Bareyek, Baridwan, Barjib, Baruk, Basalamah, Basalim, Basalmah, Basgefan, Bashay, Ba’sin, Baslum, Basmeleh, Basofi, Basumbul, Baswel, Baswer, Basyarahil, Batarfi, Bathef, Bathog, Ba’Tuk, Bawazier, Baweel, Bayahayya, Bayasut, Bazandokh, Bazargan, Bazeid, Billahwal, Bin Abd Aziz, Bin Abd Samad, Bin Abdat, Bin Abri, Bin Addar, Bin Afif, Bin Ajaz, Bin Amri, Bin Amrun, Bin Anuz, Bin Bisir, Bin Bugri, Bin Coger, Bin Dawil, Bin Diab, Bin Duwais, Bin Faris, Bin Gannas, Bin Gasir, Bin Ghanim, Bin Ghozi, Bin Gozan, Bin Guddeh, Bin Guriyyib, Bin Hadzir, Bin Hafidz, Bin Halabi, Bin Hamid, Bin Hana, Bin Hatrash, Bin Hilabi,Bin Hizam, Bin Hud, Bin Humam, Bin Huwel, Bin Ibadi, Bin Isa, Bin Jaidi, Bin Jobah, Bin Juber, Bin Kartam, Bin Kartim, Bin Keleb, Bin Khalifa, Bin Khamis, Bin Khubran, Bin Mahri, Bin Mahfuzh, Bin Makki, Bin Maretan, Bin Marta, Bin Mattasy, Bin Mazham, Bin Muhammad, Bin Munif, Bin Mutahar, Bin Mutliq, Bin Nahdi, Bin Nahed, Bin Nub, Bin On, Bin Qarmus, Bin Sadi, Bin Said, Bin Sanad, Bin Seger, Bin Seif, Bin Syahbal, Bin Syaiban, Bin Syamil, Bin Syamlan, Bin Syirman, Bin Syuaib, Bin Tahar, Bin Ta’lab, Bin Sungkar, Bin Tebe, Bin Thahir, Bin Tsabit, Bin Ulus, Bin Usman, Bin Wizer, Bin Zagr, Bin Zaidan, Bin Zaidi, Bin Zimah, Bin Zoo, Bukkar,Badziher.

T

  • Thalib

G

  • Ghana’

H

  • Haidrah, Hamde, Hamadah, Harhara, Hatrash, Hubeisy,Hayaze, Hasni, Humaid

J

  • Jawas, Jibran, Jabli

K

  • Karamah, Kurbi

M

  • Magadh, Makarim, Marfadi, Martak, Mashabi, Mugezeh, Munabari, Mahdami,Machdan

N

  • Nabhan

S

  • Sallum, Shahabi, Shogun, Sungkar, Syaiban, Syammach, Syawik,Syagran.

U

  • Ugbah, Ummayyer

Z

  • Za’bal, Zaidan, jurhum, Zeban, Zubaidi

Makam Syekh Abdul Qadir Al Jailani

Protected: Apa perbedaan antara Ahlussunnah Waljamaah dengan Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah ?

This post is password protected. To view it please enter your password below:


Naqshbandi-Haqqani Sufi Order
Naqshbandi-Haqqani Sufi Order

Sulthanul 'Awliyya Shaykh Abdullah al-Fa'iz ad-Daghestani
Sulthanul ‘Awliyya Shaykh Abdullah al-Fa’iz ad-Daghestani

Sulthanul 'Awliyya Shaykh Muhammad Nazim Adil al-Qubrusi al-Haqqani
Sulthanul ‘Awliyya Shaykh Muhammad Nazim Adil al-Qubrusi al-Haqqani

Qutbh-ul-Ghawts Shaykh Muhammad Hisham Kabbani ar-Rabbani
Qutbh-ul-Ghawts Shaykh Muhammad Hisham Kabbani ar-Rabbani

Bilakah lahirnya nama Ahlus Sunnah Waljamaah ?

Dahulu di zamaan Rasulullaah SAW. kaum muslimin dikenal bersatu, tidak ada golongan ini dan tidak ada golongan itu, tidak ada syiah ini dan tidak ada syiah itu, semua dibawah pimpinan dan komando Rasulullah SAW.

 

Bila ada masalah atau beda pendapat antara para sahabat, mereka langsung datang kepada Rasulullah SAW. itulah  yang membuat para sahabat saat itu tidak sampai terpecah belah, baik dalam masalah akidah, maupun dalam urusan duniawi.

 

Kemudian setelah  Rasulullah SAW. wafat, benih-benih perpecahan mulai tampak dan puncaknya terjadi saat Imam Ali kw. menjadi khalifah. Namun perpecahan tersebut hanya bersifat politik, sedang akidah mereka tetap satu yaitu akidah Islamiyah, meskipun saat itu benih-benih penyimpangan dalam akidah sudah mulai ditebarkan oleh Ibin Saba’, seorang yang dalam sejarah Islam dikenal sebagai pencetus faham Syiah (Rawafid).

 

Tapi setelah para sahabat wafat, benih-benih perpecahan dalam akidah tersebut mulai membesar, sehingga timbullah faham-faham yang bermacam-macam yang menyimpang dari ajaran Rasulullah SAW.

 

Saat itu muslimin terpecah dalam dua bagian, satu bagian dikenal sebagai golongan-golongan ahli bid’ah, atau kelompok-kelompok sempalan dalam Islam, seperti Mu’tazilah, Syiah (Rawafid), Khowarij dan lain-lain. Sedang bagian yang satu lagi adalah golongan terbesar, yaitu golongan orang-orang yang tetap berpegang teguh kepada apa-apa yang dikerjakan dan diyakini oleh Rasulullah SAW. bersama sahabat-sahabatnya.

 

Golongan yang terakhir inilah yang kemudian menamakan golongannya dan akidahnya Ahlus Sunnah Waljamaah. Jadi golongan Ahlus Sunnah Waljamaah adalah golongan yang mengikuti sunnah-sunnah nabi dan jamaatus shohabah.

 

Hal ini sesuai dengan hadist Rasulullah SAW : bahwa golongan yang selamat dan akan masuk surga (al-Firqah an Najiyah) adalah golongan yang mengikuti apa-apa yang aku (Rasulullah SAW) kerjakan bersama sahabat-sahabatku.

 

Dengan demikian akidah Ahlus Sunnah Waljamaah adalah akidah Islamiyah yang dibawa oleh Rasulullah  dan golongan Ahlus Sunnah Waljamaah adalah umat Islam.  Lebih jelasnya, Islam adalah Ahlus Sunnah Waljamaah dan Ahlus Sunnah Waljamaah itulah Islam. Sedang golongan-golongan ahli bid’ah, seperti Mu’tazilah, Syiah(Rawafid) dan lain-lain, adalah golongan yang menyimpang dari ajaran Rasulullah SAW yang berarti menyimpang dari ajaran Islam.

 

Dengan demikian akidah Ahlus Sunnah Waljamaah itu sudah ada sebelum Allah menciptakan Imam Ahmad, Imam Malik, Imam Syafii dan Imam Hambali. Begitu pula sebelum timbulnya ahli bid’ah atau sebelum timbulnya kelompok-kelompok sempalan.

 

Akhirnya yang perlu diperhatikan adalah, bahwa kita sepakat bahwa Ahlul Bait adalah orang-orang yang mengikuti sunnah Nabi SAW. dan mereka tidak menyimpang dari ajaran nabi. Mereka tidak dari golongan ahli bid’ah, tapi dari golongan Ahlus Sunnah.

 

Demikian sekilas lahirnya nama Ahlus Sunnah Waljamaah.

Apa yang dimaksud dengan akidah Ahlus Sunnah Waljamaah dan siapakah golongan Ahlus Sunnah Waljamaah

Akidah Ahlus Sunnah Waljamaah adalah akidah yang diyakini oleh Rasulullah SAW bersama sahabat-sahabatnya, yang saat itu dikenal dengan akidah Islamiyah.

 

Sedang golongan Ahlus Sunnah Waljamaah adalah golongan yang berpegang dengan apa-apa yang diyakini dan dikerjakan oleh Rasulullah SAW bersama sahabat-sahabatnya.

 

Dasar mereka adalah sabda Rasulullah SAW yang berbunyi :

 

الفرقة الناجية : هى ما انا عليه واصحابى

 

“ Golongan yang selamat dan akan masuk surga adalah golongan yang berpegang dengan

 apa-apa yang aku kerjakan bersama sahabat-sahabatku.”