Siapakah Syekh Imam Ahmad At Tijani?

Tentang pengenalan syekh Ahmad At Tijani, saya akan mengurai Sekilas Biografi Syekh Ahmad al-Tijani. Semoga bermanfaat.

Syekh Ahmad al-Tijani, dilahirkan pada tahun 1150 H. (1737 M.) di `Ain Madi, sebuah desa di Al-Jazair. Syekh Ahmad al-Tijani memiliki nasab sampai kepada Rasulullah saw. lengkapnya adalah Abu al-Abbas Ahmad Ibn Muhammad Ibn Mukhtar Ibn Ahmab Ibn Muhammad Ibn Salam Ibn Abi al-Id Ibn Salim Ibn Ahmad al-`Alawi Ibn Ali Ibn Abdullah Ibn Abbas Ibn Abd Jabbar Ibn Idris Ibn Ishak Ibn Zainal Abidin Ibn Ahmad Ibn Muhammad al-Nafs al-Zakiyyah Ibn Abdullah al-Kamil Ibn Hasan al-Musana Ibn Hasan al-Sibti Ibn Ali Ibn Abi Thalib, dari Sayyidah Fatimah al-Zahra putri Rasuluullah saw.

Beliau wafat pada hari Kamis, tanggal 17 Syawal tahun 1230 H., dan dimakamkan di kota Fez Maroko.

Sejak umur tujuh tahun Syekh Ahmad al-Tijani telah hafal al-Qur’an dan sejak kecil beliau telah mempelajari berbagai cabang ilmu seperti ilmu Usul, Fiqh, dan sastra. Dikatakan, sejak usia remaja, Syekh Ahmad al-Tijani telah menguasai dengan mahir berbagai cabang ilmu agama Islam, sehingga pada usia dibawah 20 tahun beliau telah mengajar dan memberi fatwa tentang berbagai masalah agama.

Pada usia 21 tahun, tepatnya pada tahun 1171 H. Syekh Ahmad al-Tijani pindah ke kota Fez Maroko. untuk memperdalam ilmu tasawuf. Selama di Fez beliau menekuni ilmu tasawuf melalui kitab Futuhat al-Makiyyah, di bawah bimbingan al-Tayyib Ibn Muhammad al-Yamhalidan Muhammad Ibn al-Hasan al-Wanjali. Al-Wanjali mengatakan kepada Syekh Ahmad al-Tijani : “Engkau akan mencapai maqam kewalian sebagaimana maqam al-Syazili”. Selanjutnya beliau menjumpai Syekh Abdullah Ibn Arabi al-Andusia, dan kepadanya dikatakan : (Semoga Allah membimbingmu); “Kata-kata ini di ulang sampai tiga kali”. Kemudian beliau berguru kepada Syekh Ahmad al-Tawwasi, dan mendapat bimbingan untuk persiapan masa lanjut. Ia menyarankan kepada Syekh Ahmad al-Tijani untuk berkhalwat (menyendiri) dan berzikir (zikr) sampai Allah memberi keterbukaan (futuh). Kemudian ia mengatakan : “Engkau akan memperoleh kedudukan yang agung (maqam ‘azim)”.

Ketika Syekh Ahmad al-Tijani memasuki usia 31 tahun, beliau mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah swt., melalui amalan beberapa thariqat. Thariqat pertama yang beliau amalkan adalah thariqat Qadiriyah, kemudian pindah mengamalkan thariqat Nasiriyah yang diambil dari Abi Abdillah Muhammad Ibn Abdillah, selanjutnya mengamalkan thariqat Ahmad al-Habib Ibn Muhammaddan kemudian mengamalkan thariqat Tawwasiyah. Setelah beliau mengamalkan beberapa thariqat tadi, kemudian beliau pindah ke Zawiyah (pesantren sufi) Syekh Abd al-Qadir Ibn Muhammad al-Abyadh.

Pada tahun 1186 H. Beliau berangkat ke tanah suci untuk melaksanakan ibadah haji. Ketika beliau tiba di Aljazair, beliau menjumpai Sayyid Ahmad Ibn Abd al-Rahman al-Azhari seorang tokoh thariqat Khalwatiah, dan beliau mendalami ajaran thariqat ini. Kemudian beliau berangkat ke Tunise dan menjumpai seorang Wali bernama Syekh Abd al-Samad al-Rahawi. Di kota ini beliau belajar thariqat sambil mengajar tasawuf.

Ajaran dan Dzikir Tarekat Tijaniyah

Sejauh ini at-Tijani tidak meninggalkan karya tulis tasawuf yang diajarkan dalam tarekatnya. Ajaran-ajaran tarekat ini hanya dapat dirujuk dalam bentuk buku-buku karya murid-muridnya, misalnya Jawahir al-Ma’ani wa Biligh al-Amani fi-Faidhi as-Syekh at-Tijani, Kasyf al-Hijab Amman Talaqqa Ma’a at-Tijani min al-Ahzab, dan As-Sirr al-Abhar fi-Aurad Ahmad at-Tijani. Dua kitab yang disebut pertama ditulis langsung oleh murid at-Tijani sendiri, dan dipakai sebagai panduan para muqaddam dalam persyaratan masuk ke dalam Tarekat Tijaniyah pada abad ke-19.

Tarekat Tijaniyah mempunyai wirid yang sangat sederhana dan wadhifah yang sangat mudah. Wiridnya terdiri dari Istighfar, Shalawat dan Tahlil yang masing-masing dibaca sebanyak 100 kali. Boleh dilakukan dua kali dalam sehari, setelah shalat Shubuh dan Ashar. Wadhifahnya terdiri dari Istghfar (astaghfirullah al-adzim alladzi laa ilaha illa hua al hayyu al-qayyum) sebanyak 30 kali, Shalawat Fatih (Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad al-fatih lima ughliqa wa al-khatim lima sabaqa, nasir al-haqq bi al-haqq wa al-hadi ila shirat al-mustaqim wa’ala alihi haqqaqadruhu wa miqdaruh al-adzim) sebanyak 50 kali, Tahlil (La ilaaha illallah) sebanyak 100 kali, dan ditutup dengan doa Jauharatul Kamal sebanyak 12 kali.

Pembacaan wadhifah ini juga paling sedikit dua kali sehari semalam, yaitu pada sore dan malam hari, tetapi lebih afdlal dilakukan pada malam hari. Selain itu, setiap hari Jum’at membaca Hayhalah, yang terdiri dari dzikir tahlil dan Allah, Allah, setelah shalat Ashar sampai matahari terbenam. Dalam hal dzikir ini at-Tijani menekankan dzikir cepat secara berjamaah. Beberapa syarat yang ditekankan tarekat ini untuk prosesi pembacaan wirid dan wadhifah: berwudlu, bersih badan, pakaian dan tempat, menutup aurat, tidak boleh berbicara, berniat yang tegas, serta menghadap kiblat.

Satu hal yang penting dicatat dari dzikir Tarekat Tijaniyah — yang membedakannya dengan tarekat-tarekat lain — adalah bahwa tujuan dzikir dalam tarekat ini, sebagaimana dalam Tarekat Idrisiyyah, lebih menitikberatkan pada kesatuan dengan ruh Nabi SAW, bukan kemanunggalan dengan Tuhan, hal mana merupakan perubahan yang mempengaruhi landasan kehidupan mistik. Oleh karena itu, anggota tarekat ini juga menyebut tarekat mereka dengan sebutan At-Thariqah Al-Muhammadiyyah atau At-Thariqah al-Ahmadiyyah, termanya merujuk langsung kepada nama Nabi SAW. Akibatnya, jelas tarekat ini telah memunculkan implikasi yang ditandai dengan perubahan-perubahan mendadak terhadap asketisme dan lebih menekankan pada aktivitas-aktivitas praktis. Hal ini tampak sekali dalam praktik mereka yang tidak terlalu menekankan pada bimbingan yang ketat, dan penolakan atas ajaran esoterik, terutama ekstatikdan metafisis sufi. Ciri khusu dari dzikir dan wirid yang menjadi andalan milik penuh tarekat ini adalah Shalawat Fatih dan Jauharat al-Kamal.

Sumber Website Syeikh Rohimuddin Al Bantany http://www.rohimuddin.com/?p=547

76 Responses to “Siapakah Syekh Imam Ahmad At Tijani?”


  1. 1 Harun

    Assalaamu’alaikum,

    Saya akan mencoba menceriterakan apa yang saya tahu, selebihnya anda silakan datang ke majelis di Bogor bila ingin mengetahui lebih dalam>

    Susunan silsilah masyayikh/khalifah (para syaikh) yang kami pegang dan itu selalu dibaca bila memulai wirid tertentu, yaitu :

    1. Syaikh Ahmad At-Tijani
    2. Syaikh Muhammad Al-Ghola
    3. Syaikh Muhammad Al-Fahasyim
    4. Syaikh Ali Thoyyib
    5. Syaikh Usman Dhomiri
    6. Syaikh Muhammad Sudjatma Ismail
    7. Syaikh Muhammad Syua’ib

    Pengganti dari Syaikh Ahmad Tijani disebut sebagai Khalifah, yaitu penerus perjuangan Syaikh Ahmad Tijani. Para khalifah tersebut dibantu oleh banyak muqaddam yang tersebar di beberapa tempat (daerah). Beberapa murid yang dikenal kedudukannya sebagai muqaddam di antaranya : KH. Badruzzaman ( wilayah Garut & sekitarnya dan KH. Abbas (wilayah Cirebon & sekitarnya), juga para muqaddam di wilayah lain seperti Sukabumi, Banten, dll. Untuk mengajarkan ilmu kepada orang lain para muqaddam harus seizin khalifah, pun untuk setiap ilmu dari tarekat Tijani untuk setiap orang harus seizin khalifah. Bila khalifah meninggal dunia maka para muqaddam harus bermakmum/berkhidmat kepada khalifah baru yang ditunjuk secara spiritual oleh khalifah sebelumnya. Hal ini wajib dilakukan untuk menunjukkan adab dan ketaatan seorang murid kepada khalifah. Mungkin anda mengetahui bahwa tarekat Tijani sangat menjunjung tinggi adab kepada khalifah Rasulullah/guru, dalam hal ini khalifah dalam tarekat Tijani. Sampai-sampai seorang Tijaniyah dilarang keras berziarah kepada wali-wali selain wali-wali Tijaniyah.
    Dari keenam khalifah di atas, 3 orang terakhir adalah berasal dari Indonesia, yaitu Syaikh Usman Dhomiri Al-Attas (keturunan Arab), Syaikh Sudjatma dan Syaikh Muhammad Syu’aib. Syaikh Usman bertemu dan diangkat sebagai murid Syaikh Ali Thoyyib di Mekkah ketika beliau sedang menimba ilmu di sana. Selepas belajar di Madinah, Syaikh Usman pulang ke Cimahi untuk menyebarkan tarekat. Beberapa waktu kemudian Syaikh Ali Thoyyib datang ke Indonesia dan melimpahkan pundak kekhalifahan Tijaniyah kepada murid pilihan, yaitu Syaikh Usman. Begitu pula seterusnya ketika sudah jatuh waktunya, Syaikh Usman memberikan tugas kekhalifahan kepada murid terpilih, yaitu Syaikh Sudjatma (Bogor). Dan dari Syaikh Sudjatma diteruskan kepada murid pilihan, yaitu Syaikh Muhammad Syua’ib sampai sekarang. Jadi penunjukan syaikh-syaikh dalam tarekat Tijaniyah khususnya, tidaklah berdasarkan keturunan, tetapi penunjukan langsung oleh Rasulullah SAW secara KASYAF disaksikan oleh masyayikh sebelumnya.

    Amalan dasar seorang pengikut tarekat Tijani adalah wirid Ladzimah, yang lazim dibaca ba’da sholat Subuh dan ba’da sholat Ashar. Di atas itu adalah wirid wadzifah wa hailalah, yang dibaca setiap hari Jum’at. Yang paling tinggi adalah Al-Jauharotul Kamal (Mutiara Kesempurnaan). Untuk sampai kepada Al-Jauharotul Kamal harus melewati beberapa tingkatan, di antaranya beberapa puasa. Di dalam ajaran Tijaniyah puasa dimulai dari yang 3 hari, 10hari, 45 hari hingga puasa 100 hari, dan yang terakhir puasa 3 tahun. Jadi tidak seperti makan cabe langsung terasa pedasnya. Ada juga wirid-wirid tertentu untuk tujuan tertentu, seperti hizb Al-Bahr (untuk keduniawian/rezeki), wirid untuk bertemu Rasulullah saw, wirid untuk ketabiban, wirid untuk perang, dan lain-lain yang semuanya itu harus melewati beberapa tingkatan.

    Bila seorang murid hingga meninggal dunia hanya mempunyai wirid dasar yaitu Ladzimah, itu pun sudah mencukupi, karena Rasululllah saw. pernah bersabda bahwa bila seorang murid melazimkan wirid hingga meninggal dunia maka dia, istri-istri dan anak-anaknya, berikut kedua orang tuanya akan dimasukkan surga tanpa hisab; tidak akan mengalami pertanyaan di kubur, tidak akan mengalami huru-hara di padang mahsyar dan melewati shirat secepat kilat. Dan tidak akan meninggal seorang murid kecuali dalam kedudukannya sebagai seorang wali. Oleh karena itu pula seorang murid Tijani dilarang keras berziarah kepada wali-wali yang lain.

    Segudang ilmu terdapat di dalam tarekat Tijani, baik ilmu keakhiratan, ilmu dunia (rezeki, kewibawaan, dll), ilmu tentang perang , pengobatan dll. Ilmu-ilmu tentang keduniawian dihimpun dalam 40 kitab, yang setiap kitabnya memuat/mengajarkan 50 ilmu. Jadi ilmu-ilmu keduniawian ada sekitar 2000 ilmu. Seluruh kitab-kitab Tijaniyah yang diwariskan oleh Asy-Syaikh Al-Mukarrom Ahmad At-Tijani terdapat di majelis Bogor, dalam genggaman khalifah yang sekarang Asy-Syaikh Hadji Muhammad Syu’aib. Bila saudara hendak mengetahui seluruh kitab-kitab ukhrowi & dunya Tijaniyah, silakan datang ke majelis Bogor. DAN, bila saudara hendak mencari seorang Syaikh Tijani yang menggenggam seluruh ilmu hikmah, silakan datang ke majelis Bogor dan belajarlah tarekat secara BENAR dan ADAB

    Assalamualaikum,

    HARUN PRIBADI
    tijani121@gmail.com

  2. 2 Harun

    Assalaamu’alaikum,

    Saya akan mencoba menceriterakan apa yang saya tahu, selebihnya anda silakan datang ke majelis di Bogor bila ingin mengetahui lebih dalam>

    Susunan silsilah masyayikh/khalifah (para syaikh) yang kami pegang dan itu selalu dibaca bila memulai wirid tertentu, yaitu :

    1. Syaikh Ahmad At-Tijani
    2. Syaikh Muhammad Al-Ghola
    3. Syaikh Muhammad Al-Fahasyim
    4. Syaikh Ali Thoyyib
    5. Syaikh Usman Dhomiri
    6. Syaikh Muhammad Sudjatma Ismail
    7. Syaikh Muhammad Syua’ib

    Pengganti dari Syaikh Ahmad Tijani disebut sebagai Khalifah, yaitu penerus perjuangan Syaikh Ahmad Tijani. Para khalifah tersebut dibantu oleh banyak muqaddam yang tersebar di beberapa tempat (daerah). Beberapa murid yang dikenal kedudukannya sebagai muqaddam di antaranya : KH. Badruzzaman ( wilayah Garut & sekitarnya dan KH. Abbas (wilayah Cirebon & sekitarnya), juga para muqaddam di wilayah lain seperti Sukabumi, Banten, dll. Untuk mengajarkan ilmu kepada orang lain para muqaddam harus seizin khalifah, pun untuk setiap ilmu dari tarekat Tijani untuk setiap orang harus seizin khalifah. Bila khalifah meninggal dunia maka para muqaddam harus bermakmum/berkhidmat kepada khalifah baru yang ditunjuk secara spiritual oleh khalifah sebelumnya. Hal ini wajib dilakukan untuk menunjukkan adab dan ketaatan seorang murid kepada khalifah. Mungkin anda mengetahui bahwa tarekat Tijani sangat menjunjung tinggi adab kepada khalifah Rasulullah/guru, dalam hal ini khalifah dalam tarekat Tijani. Sampai-sampai seorang Tijaniyah dilarang berziarah kepada wali-wali selain wali-wali Tijaniyah.
    Dari keenam khalifah di atas, 3 orang terakhir adalah berasal dari Indonesia, yaitu Syaikh Usman Dhomiri Al-Attas (keturunan Arab), Syaikh Sudjatma dan Syaikh Muhammad Syu’aib. Syaikh Usman bertemu dan diangkat sebagai murid Syaikh Ali Thoyyib di Mekkah ketika beliau sedang menimba ilmu di sana. Selepas belajar di Madinah, Syaikh Usman pulang ke Cimahi untuk menyebarkan tarekat. Beberapa waktu kemudian Syaikh Ali Thoyyib datang ke Indonesia dan melimpahkan pundak kekhalifahan Tijaniyah kepada murid pilihan, yaitu Syaikh Usman. Begitu pula seterusnya ketika sudah jatuh waktunya, Syaikh Usman memberikan tugas kekhalifahan kepada murid terpilih, yaitu Syaikh Sudjatma (Bogor). Dan dari Syaikh Sudjatma diteruskan kepada murid pilihan, yaitu Syaikh Muhammad Syua’ib sampai sekarang. Jadi penunjukan syaikh-syaikh dalam tarekat Tijaniyah khususnya, tidaklah berdasarkan keturunan, tetapi penunjukan langsung oleh Rasulullah SAW secara KASYAF disaksikan oleh masyayikh sebelumnya.

    Amalan dasar seorang pengikut tarekat Tijani adalah wirid Ladzimah, yang lazim dibaca ba’da sholat Subuh dan ba’da sholat Ashar. Di atas itu adalah wirid wadzifah wa hailalah, yang dibaca setiap hari Jum’at. Yang paling tinggi adalah Al-Jauharotul Kamal (Mutiara Kesempurnaan). Untuk sampai kepada Al-Jauharotul Kamal harus melewati beberapa tingkatan, di antaranya beberapa puasa. Di dalam ajaran Tijaniyah puasa dimulai dari yang 3 hari, 10hari, 45 hari hingga puasa 100 hari, dan yang terakhir puasa 3 tahun. Jadi tidak seperti makan cabe langsung terasa pedasnya. Ada juga wirid-wirid tertentu untuk tujuan tertentu, seperti hizb Al-Bahr (untuk keduniawian/rezeki), wirid untuk bertemu Rasulullah saw, wirid untuk ketabiban, wirid untuk perang, dan lain-lain yang semuanya itu harus melewati beberapa tingkatan.

    Bila seorang murid hingga meninggal dunia hanya mempunyai wirid dasar yaitu Ladzimah, itu pun sudah mencukupi, karena Rasululllah saw. pernah bersabda bahwa bila seorang murid melazimkan wirid hingga meninggal dunia maka dia, istri-istri dan anak-anaknya, berikut kedua orang tuanya akan dimasukkan surga tanpa hisab; tidak akan mengalami pertanyaan di kubur, tidak akan mengalami huru-hara di padang mahsyar dan melewati shirat secepat kilat. Dan tidak akan meninggal seorang murid kecuali dalam kedudukannya sebagai seorang wali. Oleh karena itu pula seorang murid Tijani dilarang keras berziarah kepada wali-wali yang lain.

    Segudang ilmu terdapat di dalam tarekat Tijani, baik ilmu keakhiratan, ilmu dunia (rezeki, kewibawaan, dll), ilmu tentang perang , pengobatan dll. Ilmu-ilmu tentang keduniawian dihimpun dalam 40 kitab, yang setiap kitabnya memuat/mengajarkan 50 ilmu. Jadi ilmu-ilmu keduniawian ada sekitar 2000 ilmu. Seluruh kitab-kitab Tijaniyah yang diwariskan oleh Asy-Syaikh Al-Mukarrom Ahmad At-Tijani terdapat di majelis Bogor, dalam genggaman Asy-Syaikh Hadji Muhammad Syu’aib. Bila saudara hendak mengetahui seluruh kitab-kitab ukhrowi & dunya Tijaniyah, silakan datang ke majelis Bogor. DAN, bila saudara hendak mencari seorang Syaikh Tijani yang menggenggam seluruh ilmu hikmah, silakan datang ke majelis Bogor dan belajarlah tarekat secara BENAR dan ADAB

    Assalamualaikum,

    HARUN PRIBADI
    tijani121@gmail.com

  3. 3 Harun

    Buat saudara-saudara yg selalu mengaku ahlus-sunnah dan memandang segala sesuatu bid’ah, saya punya sedikit cerita untuk anda renungkan.

    Kalau kita baca sejarah sebagian bangsa-bangsa Afrika, terutama dimana penduduknya mayoritas Islam, kita akan mengetahui bahwa perlawanan & pemberontakan rakyat Afrika thd penjajah selalu digerakkan oleh kaum sufiyah, dalam hal ini tarekat, tidak terkecuali Tijaniyah. Kalau kita MAU mencari tahu tokoh-tokoh Islam Indonesia yang terlibat dalam pergerakan kemerdekaan kita akan terperangah, bahwa sebagian besar dari mereka adalah penganut Tijaniyah. Bisa saya sebutkan beberapa di antara mereka: Presiden Soekarno, pendiri NU - KH. Hasyim Asy,ari, pendiri Muhammadiyah- KH. Ahmad Dahlan, HOS. Cokroaminoto, dll. Di zaman sekarang adalah yang memegang kendali RI - Presiden SBY. Beberapa Jenderal Islam & mantan jendral RI juga pengikut Tijani. Bila anda kurang percaya, tanyakan langsung kepada yg bersangkutan (he..he..he..), minimalnya kepada keturunannya (itupun kalau para anak cucunya tahu).
    Kita semua yakin dan harus mempunyai dasar/pondasi IMAN yang kuat. Iman itu ternyata ditunjukkan secara sungguh-sungguh oleh kaum di PERSATUAN ISLAM. Saya sangat gembira melihat perjuangan PERSIS dkk. yg ghirahnya tinggi dalam mendakwahi umat secara lisan & tulisan. Tetapi sayang, dari dulu sampai sekarang IMAN yg dibangun hanya sampai IMAN yg dasar/pondasi saja, tdk sampai naik level ke atas, seperti membangun sebuah bangunan dari pondasi yg kuat terus berdiri tembok dan naik atap genting. Tapi saya kira itu sudah mencukupi, IMAN yg kuat hanya sampai tingkat dasar/pondasi, karena Alloh SWT tdk akan menghisab melebihi kemampuan manusia.
    Adapun sebagian umat Islam yg lain yg diberi kemampuan utk membangun IMAN ke tingkat lebih atas, yaitu IMAN yg tidak bisa dibatasi oleh lisan & tulisan. Karena kemampuan lisan & tulisan (OTAK) terbatas, sejauh dan dalamnya lisan & tulisan tidak akan melebihi jauhnya/dalamnya huruf A sampai Z atau huruf Alif sampai Yaa’, dan itulah isi dari dasar/pondasi IMAN. Seluruh A-Z dan Alif-Yaa’ bisa dihimpun di otak jasmani yg terbatas. Tapi kita lupa bahwa kita dianugrahi RUH yg tingkat IMAN nya berbeda dg IMAN yg dasar tadi. Mana di antara kita yg benar? Saya yakin kedu-dua pihak yg berselisih benar, tapi satu pihak tidak menyadari bahwa pihak yg lain mempunyai kemampuan lebih untuk mengembangkan IMAN nya secara RUHani. Akibatnya pihak yg merasa bahwa ISLAM/IMAN yg benar hanyalah yg terhimpun dalam OTAK yg berisi lisan & tulisan A-Z dan Alif_Yaa’ akan mengklaim bahwa ISLAM/IMAN yg keluar dari OTAK adalah salah dan mengada-ada. Padahal sebenarnya mereka hanya ingin naik tingkat berpindah ke ISLAM/IMAN secara RUHani, mungkin mereka bosan kali ber IMAN/ISLAM secara OTAK (he..he..he..) jadi pingin naik kelas, bosan di tempat yg lama. Kita juga tidak perlu menyalahkan saudara2 kita dari PERSIS dkk, mereka dibutuhkan untuk mendakwahi umat yg masih awam dan para muallaf mengajarkan ilmu SYARIAT. Tapi, bila mereka pingin naik kelas, ber IMAN tingkat RUHani, silakan datang ke guru yg punya ilmu keRUHanian (guru tarekat). Perlu saudara2 ketahui, berdebat dan berselisih itu capeeek man! kayak anak kecil dan seperti edan eling bahwa OTAK kita terbatas sekali. Hanya RUHani yg mampu melahap ilmu-ilmu yg lebih tinggi.
    Oh ya, sekedar informasi saja, kalau tidak salah tarjih majelis Muhammadiyah yg sekarang sudah membolehkan QUNUT. Apa benar, ya? Mungkin saudara-saudara dapat membantu saya ttg kebenarannya. Dan tolong deh, jangan campur adukkan ibadah yg MAHDOH dengan yg ghair mahdoh, OKEE? Khawatir nantinya yg ghair mahdoh dianggap WAJIB hukumnya. Khan payah jadinya, bukan? Jadi dakwahnya isinya campur aduk. Imam Asy-Syafi’i pernah berkata, “Selama 11 tahun aku menelaah satu ayat ini, belum juga kutemukan makna dan kandungannya”. Untuk berijtihad diperlukan ALAT. Alatnya ada 9 ilmu. Lha, saudara2 pernah berusaha berijtihad perlu berapa lama? sejam, sehari, sebulan, setahun? waduh, terlalu singkat, mana orang percaya gaya ijtihad seperti itu. Orang sekarang baru fresh/segar keluar dari kuliah sudah berani berijtihad. Laksana orang cari kerja, hanya orang yg mempunyai pengalaman yg diterima. Makin lama pengalaman makin bagus. Beri saya kepercayaan, bagaimana saya bisa percaya kepada orang-orang seperti itu?

    Ibadah itu sudah jelas, terkandung dalam 2 Rukun; Rukun Iman & Rukun Islam, ndak usah ditambah-tambahi. Yang membuat kita berselisih dari dulu sampai sekarang, dan saya yakin juga sampai nanti……hari kiamat tiba, adalah mencampur aduk antara yg Mahdoh dgn yg ghair Mahdoh. Ibadah Mahdoh sudah jelas’ ada pada Rukun Iman & Rukun Islam. Yang ghair mahdoh…lebih banyak urusannya dengan masalah duniawi; seperti bagaimana cara membuat supaya dagangan toko saya laku dari segi interior toko sampai ke interior spiritual. Bagaimana cara membuat tameng supaya tidak tembus anak panah dan peluru; maka saya buat tameng dari benda jasmani (terbuat dari besi atau kayu??) dan tameng spritual yg terbuat dari untaian-untaian ucapan kalimat. Jangan bingung berpikirnya. Sederhana and simple….supaya mudah pakai ilustrasi, contoh-contoh. Nah, itu baru namanya logika kita jalan!

    Segudang ilmu terdapat di dalam tarekat Tijani, baik ilmu keakhiratan, ilmu dunia (rezeki, kewibawaan, dll), ilmu tentang perang , pengobatan dll. Ilmu-ilmu tentang keduniawian dihimpun dalam 40 kitab, yang setiap kitabnya memuat/mengajarkan 50 ilmu. Jadi ilmu-ilmu keduniawian ada sekitar 2000 ilmu. Seluruh kitab-kitab Tijaniyah yang diwariskan oleh Asy-Syaikh Al-Mukarrom Ahmad At-Tijani sejak lk 2 abad yg lalu tetap terpelihara terdapat di majelis Bogor, dalam genggaman Asy-Syaikh Hadji Muhammad Syu’aib. Bila saudara hendak mengetahui seluruh kitab-kitab ukhrowi & dunya Tijaniyah, silakan datang ke majelis Bogor. DAN, bila saudara hendak mencari seorang Syaikh Tijani yang menggenggam seluruh ilmu hikmah, silakan datang ke majelis Bogor dan belajarlah tarekat secara BENAR dan ADAB.

    Assalamualaikum,

    HARUN PRIBADI
    tijani121@gmail.com

  4. 4 toni

    assalamu alaikum

    kutipan dari syeikh Usman dhomiri yg pernah saya baca dari guru saya
    berkata Syeikh Usman Dhomiri ” Aku ingin Beristirahat di Bogor”
    ternyata Ahli waris tariqah tijaniyah sanad Syeikh Usman dhomiri lebih banyak di bogor
    saya kutip satu persatu ahli waris yg mendapat Izin Shoheh Izajah mutlak antara lain
    K.H M Sidiq (sukaraja)
    K.H.M Musa (ciluer ) almarhum
    K.H.M Sudjatma ismail (ciapus) almarhum
    K.H.M Abdillah (cilibende)almarhum
    K.H.M Ahmad (jakarta)

    keterangan di ambil dari tulisan syeikh Usman dhomiri yg dipegang oleh guru saya

    Wasalam

  5. 5 Harun

    Jumpailah Khalifah!

    Kepada para murid Tijaniyah di manapun saudara berada. Saya hendak menunjukkan apa yg semestinya kita lakukan sejak kita menjadi murid hingga akhir hayat nanti. Setidak-tidaknya, jumpailah khalifah kita dan minta barokah selamat dari beliau karena beliaulah yg menggenggam SELURUH keilmuan Tijaniyah. Bila Tijaniyah diilustrasikan sebagai sebuah kerajaan/kesultanan, maka Syaikh/khalifah adalah Raja/Sultan yg memimpin, dan kita murid adalah rakyatnya yg dipimpin, diberi perlindungan dan kasih sayang dari sang “Raja/Sultan”. Batas kewenangan muqaddam adalah pembantu Raja, seperti menteri. Khalifah adalah SULTHON (Pemimpin) dari seluruh rakyat (Murid & Muqaddam) - Yang menggenggam Rahasia Keilmuan Tijaniyah, yang memberi ilmu kepada “rakyatnya” dan memberi Izin Shohih Ijazah kepada para muqaddam untuk mengajarkan kepada orang lain. Bila Khalifah mangkat, maka Khalifah baru akan diangkat oleh Rasulullah SAW secara KASYAF disaksikan para khalifah terdahulu, dan “rakyat” (murid & muqqadam) harus tunduk dan berbakti kepada KHALIFAH/SULTHON yg baru, karena di tangan beliaulah semua keilmuan Tijaniyah dan seluruh kitab diwariskan.
    Oleh karena itu saya memberi nasehat, jumpailah “Raja/Sultan” kita, yang memimpin kita secara spiritual/ruhaniyah, dan memberi jalan kepada kita agar ruhaniyah kita melambung ke tempat yg “TINGGI”.
    Setiap malam Jum’at kami biasanya berkumpul di majlis untuk melakukan sholawatan berjama’ah yg dipimpin langsung oleh Sayyidi Syaikh. Beberapa muqaddam resmi dan murid berdatangan, dari sekitar Bogor, Sukabumi, Cianjur, Depok, Jakarta dan yg terjauh dari Bandung; ada juga yg dari Banten. Bila saudara mau melapangkan waktu, silakan datang ke majlis di Bogor.

    Bila sampai di kota Bogor, maka alamat yg dituju adalah;
    PERUMAHAN CIBALAGUNG INDAH No. 1 (Paling ujung)
    Dekat PT JIN
    Ciomas, BOGOR (Rumah Bpk. Muhammad Syu’aib)

    Banyak bertanya, insya Alloh akan sampai ke majlis!
    Silakan datang bila ingin mendapatkan ajaran dan amalan Tijani yang BENAR (kalau istilah sekarang: SESUAI PROSEDUR). Demikian yang dapat saya sampaikan, insya Alloh berkah selamat tetap mengalir kepada diri kita semua.

    Assalaamu’alaikum
    H. Harun

  6. 6 Ahmad

    Bismillahirrahmanirrahim

    Allahumma Shalli Ala Sayyidina Muhammadin al-Fatihi Lima Ughliqo Wal Khotimi Lima Sabaqo Nashiril Haqqi Bil Haqqi Wal Haadi Ila Shirotikal Mustaqim Wa Ala Alihi Haqqo Qodrihi Wa Miqdarihil Azhim.

    Salam Alaykum

    Tuan Harun yang dimuliakan Allah dengan karunia dan belas kasih-Nya. Perkenalkan saya seorang faqir dalam tariqah Tijaniyah ini. Senang membaca tulisan-tulisan anda moga Allah menjadikannya pahala bagi anda kelak di hari akhirat nanti dan bila terdapat didalamnya kekeliruan moga Allah meluruskannya dengan sebaik-baiknya. Insha Allah

    Saya sekedar memberi tambahan saja sedikit dari lautan ilmu tariqah Tijaniyah ini. Yang pertama adalah soal Khalifah dan ke-Khalifahan. Perlu diketahui bahwa Sayyidi Sheikh Abul Abbas Ahmad bin Muhammad al-Tijani al-Hassani r.a memiliki banyak sekali Khalifah dan Muqaddam semasa hidupnya. Diantaranya yang diangkat khalifah semasa hidup Sayyidi Sheikh Tijani adalah :

    1. Khalifah al-Akbar Sayyidina Ali Harazim Barradah al-Maghrobi al-Fasi r.a. Beliau adalah Khalifah terbesar tariqah Tijaniyah dan penyusun kitab pokok tariqah Tijaniyah yakni kitab Jawahirul Maani wa Bulughul Amani Fi Faidhi Sayyidi Sheikh Abul Abbas al-Tijani r.a. Beliau adalah murid kesayangan dan yang paling banyak menerima limpahan ilmu dari Sayyidi Sheikh Tijani r.a

    2. Khalifah Sayyidina al-Quthub Maulay Ali Tamasini al-Hassani r.a
    3. Khalifah Sayyidina Muhammad al-Habib bin Sayyidina Ahmad Tijani r.a
    4. Khalifah Sayyidina Muhammad bin Arabi al-Tazi
    5. Khalifah Sayyidina Muhammad bin Mishri al-Hassani
    6. Khalifah Sayyidina Muhammad al-Ghala Abu Thalib al-Hassani r.a,
    yang kemudian hijrah ke Hijaz (Mekkah dan Madinah) untuk menyebarkan
    tariqah Tijaniyah disana
    7. Khalifah Sayyidina Muhammad Hafidz al-Syinqithi r.a
    8. Khalifah Sayyidina Muhammad bin Abi Nasr al-Alawi r.a
    9. Khalifah Sayyidina Abdul Wahab al-Ahmar r.a
    10. Khalifah Sayyidina Ibrahim al-Rayahi al-Tunisiya
    dan banyak lagi.

    Sayyidi Sheikh Hassan bin Abdul Aziz Debbagh (Muqaddam dari Maroko) menngutip dari kitab Kashful Hijab li al-Khalifah Sheikh Ahmad Sukayrij r.a bahwa kurang lebih ada 350 orang yang dibai’at langsung oleh Sheikh Ahmad Tijani r.a baik itu menjadi Khalifah, Muqaddam maupun murid saja.

    Dari masa ke masa, Khalifah itu banyak sekali baik secara dalam skala geografis maupun anugrah ke-walian-nya. Di Mesir dikenal al-Khalifah Sheikh Muhammad al-Hafidh al-Tijani r.a, di Afrika ada al-Khalifah Kubro Sayyidi Sheikh Umar bin Said al-Fouti r.a (penyusun kitab Rimah Hizbirrahim) yang diangkat menjadi khalifah oleh Sayyidi Sheikh Muhammad Ghola r.a, ada pula al-Khalifah Sheikhul Islam Ibrahim bin Abdullah Niyasse r.a di Senegal, di Maroko sendiri ada al-Khalifah Sayyidi Sheikh Ahmad Sukayrij al-Iyyashi r.a (penyusun ratusan kitab tariqah Tijaniyah) dan lain-lainnya.

    Baik di Indonesia sendiri. Dalam kitab al-Lu’lu an-Nashihah yang disusun oleh Sayyidi Sheikh Usman Dhomiri r.a beliau menulis (kurang lebih demikian)

    ” Saya (Usman Dhomiri) mengambil tariqah Tijaniyah pada hari Selasa tanggal 29 Sya’ban tahun 1350 Hijriyah di Madinah al-Munawwarah dan diberi izin untuk memberi kepada orang yang meminta menjalankan tariqah Tijaniyah. Saya menerima dari guru saya Sayyidi Sheikh Ali bin Abdullah al-Thayyib..dst”

    Di Jawa Timur dikenal pula al-Khalifah Sheikh Muhammad bin Yusuf r.a (Ampel Surabaya) kemudian, al-Khalifah Sheikh Umar Baidhowi r.a, al-Khalifah Sheikh Badri Mashduqi dan al-Khalifah Habib Jafar bin Ali Baharun r.a (Probolinggo).

    Sheikh Umar Baidhowi dan Sheikh Badri Mashduqi (keduanya sudah Almarhum) diangkat menjadi khalifah oleh Sheikh Idris bin Muhammad al-Abid al-Iraqi (beliau adalah waliyullah Tijaniyah termahsyur di Maroko/Maghribi negerinya Sheikh Tijani r.a)

    Adapun al-Habib Jafar bin Ali Baharun r.a seorang ulama Tijaniyah yang menerima banyak sekali Ijazah tariqah Tijaniyah. Yang terakhir yang beliau terima adalah dari Sheikh al-Quthub Muhammad Balhassan Jakkani al-Susi (Maroko) yang menerima dari Sheikh al-Quthub al-Ahsan al-Baaqili dari Sheikh al-Quthub Haj Husein al-Ifrani r.a yang menerima dari Sheikh al-Quthub Ahmad bin Muhammad Akansous al-Qurshi r.a yang menerima dari Sheikh al-Quthub Muhammad Ghola Abu Thalib al-Hassani yang menerima dari Sayyidina Sheikh al-Quthbul Maktuum Abul Abbas Ahmad bin Muhammad al-Tijani r.a dan Sayyidul Wujud wa Qiblat al-Syuhud Rasulullah SAW. Alhamdulillah

    Di Garut, Sayyidi Sheikh Badruzzaman bin Mohammed al-Faqih r.a juga menerima dari Sayyidina Ali bin Abdullah al-Thayyib r.a dan beliau juga diakui sebagai Khalifah.

    Demikian pula, dalam anak murid Sheikh Usman Dhomiri r.a banyak diantara mereka yang telah menerima maqam yang teramat luhur dalam tariqah yang mulia ini. Namun sebagaimana umumnya kaum sufi yang lebih banyak “menyembunyikan” maqamat kewaliannya maka tidak banyak yang tahu namun bisa dikenali mereka itu oleh sebangsanya sendiri.

    Sejak Sheikh Usman Dhomiri r.a menerima Ijazah tahun 1350 H (1931) dari Sheikh Ali al-Thayyib r.a banyaklah anak murid dari golongan ulama dan orang awam yang menerima waris ilmu yang jumlahnya tidak terhitung banyaknya. Sampai beliau wafat tahun 1955. Inna Lillahi

    Dalam kitab Mafakhirul Aliyah salah satu kitab pokok tarekat Syadziliyah dikemukakan satu bahasan :

    “Bahwasanya (wali) Quthub itu banyak. Tiap-tiap Muqaddam (guru mursyid yang sah) dapat dipandang sebagai Quthub-nya.”

    Wallahu a’lam bisshawab

    Wassholatu wa Salamu ala Sayyidul Wujud Muhammad wa ala Alihi wa Shahbihi wa Sallam

    al-faqir Ahmad

  7. 7 ahmad

    Bismillahirrahmanirrahim

    Allahumma Shalli Ala Sayyidina Muhammadil Fatihi Lima Ughliqo Wal Khotimi Lima Sabaqo Nashiril Haqqi bil Haqqi Wal Haadi Ila Shirotikal Mustaqim Wa Ala Alihi Haqqo Qodrihi Wa Miqdarihil Azhim

    Sumber tulis tertua yang menulis perihal kehadiran tariqah Tijaniyah di Indonesia adalah dari seorang orientalis Belanda bernama G.F Pijper yang menulis dalam bukunya “Fragmenta Islamica” dimana G.F Pijper ini meneliti tentang gerakan tarekat baru yang muncul di Indonesia khususnya di Cirebon. G.F Pijper mengaku bertemu dan melakukan wawancara dengan Syaikh Ali Thayyib sendiri. Kebanyakan penulis sejarah tariqah Tijaniyah di Indonesia mengambil keterangan dari G.F Pijper ini. Dalam hal ini saya berpendapat bahwa meskipun G.F Pijper ini seorang orientalis Belanda namun tulisan beliau dapat dijadikan acuan menulis sejarah tariqah Tijaniyah Indonesia karena dia bertemu dan mewawancarai Syaikh Ali dan menuliskannya dalam buku yang bisa dikatagorikan sebagai buku “formal secara ilmiah”.

    1. Drs.Syamsuri, MA menulis dalam makalahnya berjudul ‘Tarekat Tijaniyah : Tarekat Ekslusif dan Kontroversial” menulis :

    “Ada dua fenomena yang menunjukkan gerakan awal tarekat Tijaniyah, yaitu kehadiran Syaikh Ali bin Abd Allah al-Thayyib dan adanya pengajaran tarekat Tijaniyah di Pesantren Buntet Cirebon…Berdasarkan kehadiran Syaikh Ali bin Abd Allah al-Thayyib ke Pulau Jawa, maka tarekat Tijaniyah ini diperkirakan datang ke Indonesia pada awal abad ke-20 (antara 1918 dan 1921 M)…Cirebon merupakan tempat pertama yang diketahui ada gerakan Tijaniyah…Perkembangan tarekat Tijaniyah di Cirebon mulanya berpusat di Pesantren Buntet di Desa Mertapada Kulon. Pesantren ini dipimpin oleh lima bersaudara diantaranya adalah K.H Abbas sebagai saudara tertua yang menjabat sebagai ketua Yayasan dan Sesepuh Pesantren dan KH Anas sebagai adik kandungnya….Atas perintah KH Abbas pada 1924 , KH Anas pergi ke tanah suci untuk mengambil talqin tarekat Tijaniyah dan bermukim disana selama 3 tahun. Pada bulan Muharram 1346 H/Juli1927 M KH Anas kembali pulang ke Cirebon. Kemudian, pada bulan Rajab 1346 H/Desember 1927, atas izin KH Abbas kakaknya, KH Anas menjadi guru tarekat Tijaniyah. KH Anas-lah yang membawa, merintis dan memperkenalkan tarekat Tijaniyah di Cirebon…K.H Anas mengambil talqin dari Syaikh Alfahasyim di Madinah. K.H Abbas yang semula menganut tarekat Syattariyah setelah berkunjung ke Madinah, berpaling kepada tarekat Tijaniyah dengan mendapat talqin dari Syaikh Ali bin Abd Allah at-Thayyib yang juga mendapat talqin dari Syaikh Alfahasyim di Madinah” (dikutip dari buku Mengenal dan Memahami Tarekat-tarekat Muktabarah di Indonesia : DR Hj.Sri Mulyati et.al)

    2. Al-Muqaddam al-AlimSheikh Ahmad Fauzan Adhiman Fath Allah (Sidogiri) menulis dalam bukunya “Thariqat Tijaniyah Mengemban Amanat Rahmatan Lil Alamin”

    Hal—225

    “Thariqat Tijaniyah masuk ke Indonesia pada tahun 1922 M yang dibawa oleh KH Anas Abdul Jamil dari Mekkah ke Jawa Barat, Cirebon (Buntet) dan dibantu oleh saudaranya KH Abbas. Dan pada tahun 1926 M gurunya datang ke Jawa Barat membawa kitab Munyatul Murid yaitu Sayyid Ali bin Abdullah at-Thayyib, beliau guru hadits di Madinah al-Munawwarah”

    3. Muktamar Jam’iyyah Nahdlatul Ulama ke 3 tahun 1928 di Surabaya memutuskan bahwa tarekat Tijaniyah adalah Muktabarah dan sah dalam agama Islam. Diperkuat lagi dengan Muktamar NU ke VI tahun 1931 di Cirebon yang intinya tetap memutuskan bahwa Tijaniyah adalah Muktabarah. Jadi ditinjau dari keputusan NU maka tarekat Tijaniyah sudah ada di Indonesia sebelum tahun 1928 karena jikalau belum hadir di Indonesia maka tidak mungkin NU akan membahasnya dalam Muktamarnya.

    Berdasarkan kronologis kejadian maka dapat diurut

    1. K.H Anas bin Abdul Jamil memperoleh ijazah Tijaniyah dari Syaikh Alfahashim di Madinah dan juga memperolehnya dari Syaikh Ali Thoyyib, kemudian gurunya Syaikh Ali Thoyyib datang ke Indonesia dan menyebarkan tarekat Tijaniyah. Diantara ulama Indonesia yang memperoleh ijazah dari Syaikh Ali Thoyyib adalah (menurut keterangan yang saya kumpulkan) adalah :

    a. K.H Nuh bin Idris (Cianjur)
    b. KH Ahmad Sanusi bin H.Abdurrahim (Sukabumi)
    c. KH Muhammad Sujai (Gudang-Tasikmalaya)
    d. KH Abdul Wahab Syarani (Jatibarang Brebes-Jawa Tengah)
    e. KH Abbas, KH Anas dan KH Akyas (Buntet Cirebon)
    f. KH Usman Dhomiri (Bandung)
    g. KH Badruzzaman (Garut) dan lain-lainnya

    2. Syaikh Usman Dhomiri pertama kali bertemu dengan Syaikh Ali Thoyyib di Jawa Barat (Bukan di Mekkah) namun beliau tidak menerima ijazah Tijaniyah di Indonesia, baru setelah sepulangnya Syaikh Ali Thoyyib ke Madinah, Syaikh Usman menyusul dan menerima ijazah Tijaniyah dari Syaikh Ali di Madinah tahun 1931. Sepulangnya Syaikh Usman ke Indonesia barulah beliau mengajarkan tarekat Tijaniyah, diantara muridnya adalah Syaikh Badruzzaman (Garut) yang kemudian ber-ziyarah ke Madinah dan bertemu dengan Syaikh Ali Thoyyib disana dan menerima Ijazah Tijaniyah dari beliau pada tahun 1935. Kemungkinan besar Syaikh Badruzzaman ini adalah yang terakhir menerima ijazah karena 5 tahun sesudahnya yakni tahun 1944 Masehi, Syaikh Ali Thayyib meninggal dunia (keterangan meninggalnya Syaikh Ali Thoyyib pada tahun 1944s aya peroleh dari guru saya Syaikh Fakhruddin Owaisi, ulama Madinah).
    Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Rajiun.

    3. Keterangan lisan dari al-Muqaddam al-Habib Luqman bin Muhammad bin Ali Thayyib r.a dimana beliau menerangkan kepada saya bahwa kakeknya Syaikh Ali Thoyyib r.a datang ke Indonesia sekitar tahun 1920-an dan berkunjung ke beberapa tempat di Pulau Jawa menyebarkan tariqah Tijaniyah. Menikah dengan penduduk setempat dan mempunyai anak-anak kandung di Indonesia. Diantaranya adalah al-Muqaddam al-Habib Muhammad bin Ali al-Thoyyib r.a. Habib Luqman Thoyyib ini disamping Muqaddam beliau juga mukim selama bertahun-tahun di tanah suci Mekkah/Madinah. Keluarga besar Syaikh Ali Thoyyib saat ini mukim di tanah suci dan sebagian tinggal di Indonesia khususnya dari keluarga Habib Muhammad bin Ali Thayyib.

    4. Keterangan lisan dari al-Muqaddam K.H Shiddiq (Bogor) yang adalah sahabat karib dari al-Muqaddam Habib Muhammad bin Ali Thayyib r.a bahwa Sheikh Ali Thayyib pertama kali datang ke Jawa Barat diantaranya ke Cianjur, Tasikmalaya dan ke Cirebon. Syaikh Ali Thoyyib dalam perjalanannya kemudian berjumpa dengan Sheikh Usman Dhomiri yang kala itu adalah seorang sufi ahli tariqah Qadiriyah (yang dibangsakan kepada Tuan Sheikh Abdul Qadir Jaylani r.a) dan Syaikh Ali Thayyib sering menginap di rumah Syaikh Usman Dhomiri r.a. Syaikh Usman Dhomiri akhirnya tertarik dan meminta di-ijazahi tariqah Tijaniyah namun oleh Syaikh Ali Thayyib tidak diberi saat itu namun menyatakan bahwa Syaikh Usman akan menerimanya di Madinah al-Munawwarah. Sepulangya Syaikh Ali Thayyib ke Madinah, Syaikh Usman kemudian menyusul ke Madinah dan di dekat Maqam Rasulullah SAW kemudian Syaikh Ali Thayyib memberikan ijazah tariqah Tijaniyah di Madinah. Perihal ini Syaikh Usman Dhomiri kemudian menuliskan pengalamannya dalam kitab beliau yakni “Lu’lu an-Nashihah” halaman 36 yakni beliau menerima ijazah dari Syaikh Ali Thayyib pada hari Selasa, 29 Syaban 1350 Hijriyah (1931 M) di Madinah al-Munawwarah. Kitab Lu’lu an-Nashihah merupakan kitab karangan Syaikh Usman yang kemudian ditulis ulang oleh muridnya K.H Shiddiq atas izin dari Syaikh Usman sendiri.

    5. Keterangan yang hampir sama saya peroleh dari Bp.Toni pr (murid dari KH Abdillah-Cilibende salah seorang murid Syaikh Usman Dhomiri di Bogor) bahwa Syaikh Usman bertemu dengan Syaikh Ali Thayyib di Indonesia namun tidak diijazahi di Indonesia namun di Madinah. Keterangan ini cocok dengan keterangan dari KH Shiddiq kawan dari KH Abdillah dan sama-sama anak murid Syaikh Usman Dhomiri.

    Wallahu a’lam bisshawab
    Allahumma Shalli Ala Sayyidina Muhammadil Fatihi Lima Ughliqo Wal Khotimi Lima Sabaqo Nashiril Haqqi bil Haqqi Wal Haadi Ila Shirotikal Mustaqim Wa Ala Alihi Haqqo Qodrihi Wa Miqdarihil Azhim
    Subhana Rabbika Rabbil Izzati Amma Yashifun Wa Salamun Alal Mursalin Walhamdulillahi Rabbil Alamin

    Wassalam
    Al-faqir Ahmad
    *Jika menemukan kesalahan mohon segera diluruskan, penulis hanya menulis sekedar pengetahuan yang ada pada kami. Adapun yang lebih mengetahui hanyalah Allah semata*

  8. 8 H. Harun

    KOREKSI TENTANG SEJARAH TIJANIYAH

    Assalaamu’alaikum.

    Akhirnya ada juga ikhwan “Tijaniyah” yang menyempatkan diri untuk berbagi pengetahuan tentang tarekat yang kita amalkan. Walaupun hanya tulisan2 yang berkenaan dengan sejarah perkembangan Tijaniyah, itu sudah menunjukkan bahwa kita bangga dengan jalan/tarekat yang kita lakoni.
    Tetapi sayang, tidak semua isi tentang sejarah perkembangan Tijaniyah yang dimuat benar. Ada sesuatu yang sengaja disembunyikan; ada sesuatu yang kita tidak mau mengakuinya secara jujur.
    Ada yang salah kaprah di sini dan dengan mudahnya menyamakan Thoriqoh seperti layaknya organisasi keagamaan (seperti NU, Muhammadiyah, Al-Irsyad, dll).

    Sebenarnya ada 2 (dua) hal yang ingin kami koreksi dan menyampaikannya kepada khalayak Tijaniyah, yaitu sejarah perkembangan dan tatacara/Adab tholaab ilmu. Namun untuk ulasan saat ini, saya hanya ingin menyampaikan tentang sejarah perkembangan Tijaniyah di Indonesia.

    Memang benar Syaikh Ahmad Tijani memberi ijazah kepada banyak murid. Dan dari banyak murid itu beliau angkat beberapa Muqaddam. Dan dari beberapa Muqaddam itu beliau angkat beberapa Khalifah (Pemimpin perguruan). Berkembangnya Tijaniyah di Indonesia lebih masyhur dikaitkan dengan perjumpaan antara Syaikh Ali Thoyib (saat itu sudah menjadi khalifah/pemimpin perguruan) dengan Kiai Usman Dhomiri. Singkat cerita, ketika Syaikh Ali Thoyib datang dan bermukim di Indonesia dalam waktu yg cukup lama, beliau memberi ijazah/taqlid/izin kepada beberapa orang menjadi murid beliau. Dari beberapa murid itu, diangkatlah beberapa Muqaddam, di antaranya :

    1. Kiai Ahmad Sanusi
    2. Kiai Muhammad Sudja’i
    3. Kiai Usman Dhomiri (Cimahi, Bandung)
    4. Kiai Anas, kiai Abbas, kiai Akhyas
    5. Kiai Badruzzaman
    6. Kiai Abdul Wahab Sya’roni

    Ada satu contoh yang bisa menggambarkan tentang ADAB murid kepada gurunya, yaitu tentang Kiai Anas. Walaupun kiai Anas memperoleh ijazah pertama kali dan murid dari Syaikh AlFahasyim, namun ketika Syaikh AlFahasyim wafat dan digantikan oleh Syaikh Ali Thoyib, maka kiai Anas dengan ikhlas mengakui Syaikh Ali Thoyib sebagai guru (Pemimpin perguruan) beliau dan ber-ijazah untuk kedua kalinya. Kita bisa membayangkan bagaimana besarnya penghormatan Kiai Anas kepada Guru, walaupun sang guru seusia atau bahkan lebih muda usia. Itu adalah contoh ADAB yang mulia kepada Guru/SYAIKH, bagi yang meyakini bahwa tarekat Tijaniyah adalah AGUNG dan TINGGI.

    Ketika Syaikh Ali Thoyib akan wafat, maka dari beberapa Muqaddam yang dipilih sebagai SYAIKH (Pemimpin perguruan) penerus adalah Kiai Usman Dhomiri. Maka sejak saat itu kiai Usman Dhomiri bergelar SYAIKH dan seluruh murid dan Muqaddam harus berkhidmat kepada SYAIKH yang baru, yaitu Syaikh Usman Dhomiri. Dengan menerima gelar SYAIKH, maka beliau menerima pula warisan Kitab JAWAHIRUL MA”ANI dan kitab2 yang lain termasuk 40 kitab yang berisi ilmu keduniawian.
    Dalam perkembangan selanjutnya, bertambahlah murid beliau dan diangkatlah beberapa Muqaddam baru, di antaranya kiai Sudjatma Ismail (Bogor). Nah, di zaman kepemimpinan perguruan di bawah Syaikh Usman inilah terjadi benturan-benturan emosional yang sulit untuk mengakui Syaikh Usman sebagai Guru perguruan Tijaniyah, terutama dari beberapa Muqaddam yang jauh lebih sepuh usianya.
    Dan hal ini akhirnya berlanjut menjadi semacam “Penyelewengan Kesetiaan” hingga kepada Syaikh yang berikut sampai sekarang. Syaikh Usman Dhomiri hanya mengangkat 4 (empat) orang Muqaddam, yaitu :
    1. Kiai Sudjatma Ismail
    2. Kiai Nu’man Dhomiri (Putra Syaikh Usman)
    3. Kiai Muallim
    4. Kiai X (maaf, kami lupa namanya)

    Beberapa murid Syaikh Usman yang merupakan tokoh2 penting Indonesia, di antaranya adalah Presiden Soekarno, KH. Hasyim Asy’ari (pendiri NU) dan KH. Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah).

    Ada satu kejadian menarik di zaman Syaikh Usman, bahwa putra dari Syaikh Ali Thoyib pernah meminta beberapa Kitab (termasuk Jawahirul Ma’ani) agar diserahkan kepada beliau, tetapi Syaikh Usman menolak dengan keras. Tetapi anehnya putra dari Syaikh Ali Thoyib tersebut bisa mengadakan semacam perguruan Tijaniyah di tempat lain tanpa seizin Pemimpin Perguruan Tijaniyah; sesuatu di luar keladziman tarekat Tijani ( sebagai pengganti istilah ADAB).

    Singkat cerita, ketika Syaikh Usman akan wafat, maka dari beberapa Muqaddam beliau yang dipilih sebagai SYAIKH (Pemimpin perguruan) penerus adalah Kiai Sudjatma Ismail. Maka sejak saat itu kiai Sudjatma Ismail bergelar SYAIKH dan seluruh murid dan MUQADDAM wajib berkhidmat kepada SYAIKH (Pemimpin perguruan) yang baru, yaitu Syaikh Sudjatma Ismail. Dengan menerima gelar SYAIKH, maka beliau menerima pula warisan Kitab JAWAHIRUL MA”ANI dan Kitab2 yang lain termasuk 40 kitab yang berisi 2000 ilmu keduniawian. Dalam perkembangan selanjutnya, bertambahlah murid beliau dan beliau mengangkat beberapa Muqaddam, di antaranya kiai Muhammad Syua’ib.

    Singkat cerita, ketika Syaikh Sudjatma akan wafat, maka Muqaddam yang beliau pilih sebagai penerus Pemimpin perguruan Tijaniyah adalah kiai Muhammad Syua’ib. Maka sejak saat itu kiai Muhammad Syua’ib bergelar SYAIKH dan seluruh murid dan Muqaddam wajib berkhidmat dan tunduk kepada SYAIKH yang baru. Dengan menerima gelar SYAIKH, maka beliau menerima pula warisan Kitab JAWAHIRUL MA”ANI dan Kitab2 yang lain termasuk 40 kitab yang berisi 2000 ilmu keduniawian.
    Syaikh Muhammad Syua’ib diangkat sebagai Syaikh dalam usia yang masih sangat muda, 30-an tahun

    Di zaman Syaikh Sudjatma Ismail dan zaman Syaikh sebelumnya, aturan2 di dalam tarekat Tijaniyah sangat keras diberlakukan. Oleh karena itu, sebenarnya secara fakta ada beberapa murid dan Muqaddam yang tidak diakui lagi sebagai murid tarekat Tijani, alias dipecat, dan dicabut seluruh barokah dan manfaat ilmunya. Sebab musababnya berbagai macam; ada yang mencuri kitab, ada yang mengamalkan ilmu tanpa izin SYAIKH, ada yang berbohong, ada yang memfitnah SYAIKH atau mengadakan kegiatan perguruan di luar perguruan pimpinan SYAIKH.

    Jadi, kepada murid2 Tijaniyah dan saudara2 yang berminat tholaab ilmu Tijani, datangilah Muqaddam yang ada di kota/daerah anda untuk meminta ijazah tarekat, tetapi carilah Muqaddam yang sanad Ijazahnya tidak meragukan, bersambung secara jelas hingga kepada SYAIKH (Pemimpin Perguruan Tijaniyah). Kalau saudara ragu2, maka sebaiknya datangilah langsung SYAIKH di tempat beliau tinggal, itu lebih utama.

    Seluruh SYAIKH tarekat- sanadnya MUTLAQ bersambung hingga kepada Rasulullah SAW. Dalam arti bahwa, semua SYAIKH tarekat adalah keturunan dari Rasulullah SAW, baik dari pihak Sayyidina Hussein r.a ataupun dari Sayyidina Hasan r.a, atau juga dari kedua-dua pihak.

    Dalam tarekat Tijaniyah, SYAIKH diangkat secara KASYAF dan mewarisi seluruh ilmu Tijaniyah tanpa mempelajarinya. Yaa, secara logika saja, bila harus dipelajari/tholaab, maka 2000 ilmu itu akan memakan waktu yang sangat lama, bahkan setelah wafatpun belum tentu tamat. Paling2 kita sebagai murid hanya kuat tamat 1-2 kitab (50-100 ilmu) saja sampai tutup usia.

    Sebagai penutup ulasan, saya ingin mengingatkan diri kita akan perkataan Rasulullah SAW:
    “Carilah ilmu (tholaab ilmu) sampai ke negeri Cina”, kita perumpamakan sebagai “tholaab-lah ilmu Tijani sampai ke negeri seberang”. Tetapi kita patut bersyukur, bahwa ada satu SYAIKH Tijani yang tidak jauh dengan tempat tinggal kita dan tidak perlu biaya yang mahal untuk mendatanginya. Bila saudara2 meyakini bahwa Tijaniyah itu kedudukannya AGUNG dan TINGGI, maka tak ada sesuatupun yang bisa menghalangi saudara2 untuk bertemu dengan SYAIKH yang menggenggam segudang ilmu.

    Assalaamu’alaikum.
    H. Harun

  9. 9 H Ibrahim

    Assalamulaiakum. Ya Akhi saya gembira sekali bergitu melihat ada ikhwan saya (Anda ) muncul dalam web ini. Saya juga seorang Tijaniah dan sering mengikuti acara idul kahtmi di jawa beberapa waktu yang lewat. Saya melihat ada beberapa oknom yang nampaknya mengutak-atik Tijanih di seputar masalah salawat fatih (kalamullah). Saya tidak bersedia menjawab dengan jelas karena saya ingat bahwa dalam Tijaniah itu ada hal-hal yang tidak boleh dibuka sembanrangan kecuali kepada ikhwan (yang sudah bertalkin) saja. Kemaren saya sempat terjadi dialog dengan DANI PERMANA lewat E-Mail. namun ternyata tidak membuahkan hasil yang baik malah sepertinya hendak membawa saya masuk kehal-hal yang sangat sensitif. Saya tidak mau. Kalau mau tau Tijaniah jangan lewat jalur ini. Karena dalam Tijaniah penuh dengan ilmu rahasia yang tidak mudah disampaikan disembarang tempat. ibrahimtijanigrogot@yahoo.co.id

  10. 10 H. Harun

    Assalaamu’alaikum.

    Bila saudara2 mengikuti/membaca weblognya A’Dani Permana, itu menarik untuk disimak dan kita bisa mengukur seberapa dalam pengetahuannya tentang ajaran Islam. Berikut komentar saya yang saya muat di blog ini, khawatir di weblognya Dani Permana tidak akan dimuat, sebagai berikut :

    *****************************************************************
    Hallo kang Dani yang baik! Setelah membaca dan menyimak tulisan/komentar anda dari awal sampai akhir di weblog anda sendiri, saya berkesimpulan bahwa sebenarnya anda sendirilah yang BINGUNG untuk menelaah/memahami tulisan2 pembaca blog anda.
    Kami adalah umat Islam penganut ajaran Tijani, melakukan hal2 yang sama seperti yang anda lakukan. Kami melaksanakan seluruh Rukun Iman dan seluruh Rukun Islam. Kami melaksanakan sholat fardlu 5 x sehari dan melakukan shoum Ramadhan. Kami juga dikhitan dan melakukan Qurban di hariIdul Adha. Kami juga membaca Al-Qur’an, malah kami mempunyai CARA/METODA untuk menikmati arti ayat-ayat, yang anda tidak tahu CARA/METODA nya. Apakah CARA/METODA tsb sesat/syirik? Jawabannya: TIDAK!
    Karena; MENIKMATI atau MERASAI ayat itu adalah urusan duniawi untuk RUHani kita, sebagaimana MENIKMATI atau MERASAI makanan/minuman adalah urusan duniawi untuk JASMANI kita. Dan anda belum/tidak mempunyai CARA/METODA untuk menikmati ayat. Yang bisa anda lakukan sebatas memikirkan, bertukar pikiran dengan orang lain dan cuma bisa membayangkan bagaimana nikmatnya hakikat ayat tsb. Mengapa anda tidak bersegera untuk mencari CARA/METODE untuk merasai/menikmati arti ayat-ayat mulai dari sekarang? Mengapa anda begitu sangat betah mengisi RUHani hanya dengan kemampuan AKAL anda yang begitu terbatas??
    Dalam hal mengikuti Rasulllah SAW dan mencintai beliau, tidak ada orang yang lebih DALAM dan HEBAT cintanya kepada beliau selain orang yang mampu mendayagunakan RUHaninya dengan METODA yang tepat (yaitu Orang yang BerTHORIQOH). Oleh karena itu, pengikut THORIQOH sangat sering & KONTINYU mendoakan beliau dengan untaian2 kalimat indah yang membuat hati melambung tinggi laksana orang sedang kasmaran, yang sering anda sebut dengan istilah SHOLAWAT yang di ada2 kan.
    Bagi kami, apapun istilahnya; yang pasti itu doa dan ungkapan rasa cinta kami kepada beliau. Saya sering berdoa untuk orangtua yang telah lama wafat dengan bahasa Indonesia dan kadang2 bahasa Jawa (karena saya orang Jawa) dengan pengharapan agar Alloh menempatkannya di tempat yang mulia. Doa saya ini tidak ada contohnya dalam Al-Qur’an dan Hadits. Tetapi bila anda mengatakan bahwa doa saya ini sesat dan bid’ah, maka MUTLAQ saya harus katakan bahwa anda belum memahami ajaran Islam dengan begitu baik (Mohon maaf…).
    Kami penganut ajaran Tijani mempunyai CARA/METODA untuk bertemu Rasulullah SAW, walaupun dalam mimpi; sesuatu yang sangat diharapkan/diinginkan oleh setiap mukmin yang mencintai beliau. Apakah CARA/METODA tsb sesat/bid’ah? Jawabannya: TIDAK! Karena keinginan untuk bertemu dengan Rasulullah SAW walau dalam mimpi adalah urusan duniawi /keinginan duniawi setiap mukmin. Beberapa ikhwan Tijani telah mengalami pengalaman bertemu dengan Rasulullah SAW walaupun dalam mimpi dengan bentuk yg ber-beda2. Ada yg sebatas disapa Rasul dalam jarak sejengkal, ada yang disapa beliau dalam jarak 5 jengkal kaki dan ada pula yang mengalami mencium tangan NABI yg mulia tersebut dengan aroma wangi yang belum pernah dirasakan. Memang ini adalah pengalaman pribadi setiap orang. Tetapi, apakah anda akan mengatakan bahwa orang tersebut bertemu dengan syetan yang menyerupai beliau? atau orang tsb sedang kesurupan? atau anda hendak katakan bahwa orang tsb sedang mabuk arak?
    Apakah anda tidak berkeinginan mencari CARA/METODA untuk berjumpa dengan NABI SAW, yang kata anda bahwa anda mencintai beliau? Anda jangan bingung! Kalau anda menjawab bahwa anda ingin bertemu dengan beliau, maka itu adalah keinginan duniawi anda yang sangat wajar dan bersegeralah mencari CARA nya, jangan khawatir…hal tersebut bukanlah sesuatu yang sesat atau bid’ah! Ataukah anda merasa cukup puas hanya dengan memikirkan/membayangkan/berkhayal tentang bagaimana indahnya bertemu Rasulullah SAW, tanpa ada sedikit pun minat untuk merasakan keindahan tersebut?
    Kang Dani, kami penganut Tijani mengikuti Syaikh Ahmad Tijani, karena beliaulah yang mengenalkan semua CARA/METODA
    tersebut! Yaitu, tentang cara bertemu Rasulullah SAW, cara menikmati arti ayat2 Al-Qur’an, dll. Karena beliau juga, kami tahu CARA untuk membuat tameng kebal senjata tajam dan peluru. Kami buat dari untaian2 kalimat; yang bekerja adalah lisan kami dengan diwirid. Anda juga bisa membuat tameng/anti senjata tajam dan peluru. Tetapi yang hanya bisa anda lakukan adalah membuat dengan benda jasmani(kayu atau logam)dan terciptalah tameng anti senjata tajam dan baju anti peluru. Dan semua itu anda buat dengan jasmani anda (tangan). Tetapi kami tidak mau membawa anti senjata tajam dan baju anti peluru tsb kemana-mana; karena pasti repot dan resiko berurusan dengan yg berwajib. Cukuplah lisan kami yang berzikir melakukannya!
    Oleh karena itu, saya memberi NASEHAT kepada anda; amalan2 Tijani patut anda coba (Trial & Error) - karena amalan2 tersebut berkaitan dengan masalah duniawi.
    Jadi saya berkesimpulan bahwa;
    -anda BINGUNG karena menganggap amalan2 Tijani berkaitan erat dengan Rukun IMAN & Rukun ISLAM yang merupakan tuntunan Ibadah MAHDOH, dan itu SALAH!
    -anda tidak/belum MENGERTI bahwa amalan2 TIJANI adalah CARA/METODOLOGI lebih ditujukan untuk mengarungi kehidupan dunia ini dengan tenang dan nyaman.
    Bila anda mau dengan ikhlas mempraktekkan amalan2 Tijani sesuai dengan aturan yang BENAR, insya Allah anda akan dapat mengalami kondisi “merasai/menikmati” dan bukan sekedar “memikirkan/membayangkan/berkhayal”. Dan anda tidak akan merasa RUGI 100%, saya jamin, bahwa anda tidak akan terjerumus ke dalam wilayah sesat atau bid’ah seperti yang selama ini anda tuduhkan. Bila anda amalkan CARA/ILMU Tijani dengan disiplin, anda hanya perlu waktu 3 tahun untuk merasakan kenikmatan ajaran Nabi SAW. Tetapi bila anda malas dan tidak disiplin, maka perlu waktu yang lebih lama lagi.
    Praktekkan ILMU Tijani supaya anda mengerti dan paham! Sebagaimana bila anda seorang dokter bedah, maka anda harus praktek membedah agar merasai/menikmati bagaimana nikmatnya membedah, tidak cukup hanya dengan membayangkan dan membicarakannya saja.
    MOH0N KOMENTAR SAYA INI, YANG BERDASARKAN DALIL AQLI (AKAL) SAYA - DAPAT DIMUAT DENGAN KEIKHLASAN ANDA, SUPAYA PENGGEMAR BLOG ANDA BERTAMBAH WAWASANNYA.

    Terima kasih kang Dani.
    Assalaamu’alaikum.
    H. HARUN

  11. 11 H. Harun

    Berikut ini komentar saya yang terakhir di weblognya Dani Permana, sbb:

    ***************************************************************

    SARAN dan NASEHAT

    Wah, maaf yaa kang Dani, ada yang ketinggalan!
    Saya memberi Nasehat kepada anda dan seluruh teman anda untuk masuk Thoriqoh TIJANI! Saya ingin anda merasakan dan menikmati keindahan ajaran Rasulullah SAW seperti yang kami alami. Kami tidak mengharapkan anda cukup hanya dengan “membayangkan/mengira-ngira atau berkhayal” tentang kenikmatan tersebut.
    Saya rasa sudah cukuplah semua komentar tentang Tijaniyah sampai di sini. Karena menurut saya, tak ada yang perlu kang Dani komentari - kecuali CARA/METODA kami untuk urusan duniawi yang anda tidak punyai.
    Saya NASEHATKAN anda untuk mengamalkan ajaran Tijani dengan benar dan adab, supaya dapat memetik buahnya yang manis. Dan untuk urusan yang anda belum pahami dan menjadi tanda tanya besar, nanti juga anda akan menemukan jawabannya. Yang penting, anda masuk Thoriqoh Tijani dulu, amalkan ilmu2 dasarnya dulu, kemudian tingkat menengah, kemudian semakin ke atas; maka lambat-laun anda akan menemukan jawaban pertanyaan2 anda yang bagi anda aneh dan musykil.
    Dan dimohon berhenti untuk mencari-cari kelemahan ajaran Tijaniyah, karena semakin anda berNAFSU untuk mencari kelemahan TIJANI maka semakin terlihat dan terbuka lebar kekurangan dan aib anda. Dan lagi, sampai hari kiamat tiba…komentar2 seperti ini tidak mewujudkan sesuatu yang bermanfaat, hanya menimbulkan kemungkaran dan mudharat.
    Oleh karena itu, kang Dani harus cepat sadar dan segera memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Yaitu, pelajari metoda/ilmu/cara yang diamalkan di dalam thoriqoh Tijani supaya anda mampu mengalami kondisi “merasai” seperti yang kami alami.
    Sebenarnya, saya sudah merasa bosan dan capek membaca adu pendapat antara Tijaniyah dengan yang kontra. Mengapa?? Karena dari dulu sampai sekarang, pendapat dan pertanyaan yang diungkapkan sama atau hampir serupa - dan hal itu yang membuat rasa bosan, tidak ada sesuatu yang baru. Jadi, kalau setelah komentar saya ini, masih ada lagi pro kontra, maka saya mau pensiun berkomentar - karena capek dan tidak memberi manfaat buat saya.

    Kang Dani, terima kasih atas waktu dan kebaikan anda memuat ulasan/komentar saya selama ini. Saya mungkin tidak lagi hadir di weblog anda, karena capek/lelah! Sudah yaa, terima kasih dan sayonara….

    Assalaamu’alaikum.
    H. Harun

    Komentar oleh H. Harun | Desember 9, 2008

  12. 12 Harun

    Hari ini 10 Desember, Sdr. Dani permana merespon semua komentar saya bertanggal 9 Desember dengan jawaban melalui email yang menunjukkan kebuntuannya untuk memberi jawaban yang masuk akal.
    So pasti, karena kemampuannya hanya terbatas dengan menggunakan akalnya semata dan merasa mampu menguak tabir rahasia kehebatan Al-Qur’an hanya dengan jalan berpikir. Dia merasa sederajat dengan Imam Syafi’i, Imam Hambali, Imam Hanafi dan ulama besar lainnya. Ini adalah hal yang menggelikan bagi kita dan membuat kita tersenyum, bahwa salah satu keturunan Imam Syafi’i atau Imam Hambali ternyata ada yang hidup di Indonesia (tanah Sunda) dan mengaku-aku sederajat dengan mereka.
    (he..he..he..)

    Hari ini, saya melihat di zaman sekarang mulai bermunculan satu demi satu manusia2 yang merasa sehebat Imam-imam terdahulu, yang selalu ingin berijtihad dengan kemampuan akalnya yang dangkal dan merasa bangga bisa mendakwahi suatu KAUM YANG TELAH SADAR bahwa AKAL mereka tidak akan mampu menguak tabir rahasia Al-Qur’an hingga ke dasarnya.
    Menurut saudara2 - Bagaimana mungkin orang yang belum sadar memberi penerangan (dakwah) kepada orang yang telah sadar??

    Oh yaa, berikut isi jawaban Dani Permana :

    “Saya tidak akan Approve kedua tulisan anda karena saya ingin anda menggunkan dalil dari Al Qur’an dan Hadist. Bukan dengan Dalil Aqli anda. Kebenaran itu diukur oleh Al Qur’an dan As Sunnah bukan dengan akal anda.

    Demikian dari saya…dan saya tidak akan lelah unutk meneggakkan hujjah as Sunnah hingga akhir hayat….”

    Pernyataan Sdr Dani di atas menunjukkan keinginannya dan menggiring ke arah berijtihad, bahwa saya harus menggunakan dalil Al-Qur’an dan Hadits, tidak boleh memakai Akal saya.
    Hal ini menunjukkan bahwa sdr. Dani tidak mengerti apa itu ijtihad dan perangkat2 untuk berijtihad dan syarat2 berijtihad. Nah, fakta ini saja sudah menunjukkan kebingungannya yang luar biasa bahwa sdr. Dani sudah kehabisan akal untuk mendakwahi kaum Tijaniyah (suatu kaum yang telah sadar bahwa AKAL itu kemampuannya terlalu terbatas). Dia menghendaki saya untuk sederajat dengan Imam Syafi’i bahkan melebihi beliau. Masih ingat dengan pernyataan Imam Syafi’i yang menyatakan bahwa beliau belum juga berhasil berijtihad dalam kurun 11 tahun tentang suatu ayat??

    ATAU, bolehlah saya hanya gunakan dalil Al-Qur’an dan Hadits semata, tanpa mempergunakan akal saya alias tidak berakal. Ini artinya sdr. dani meminta saya mentadaburi Al-Qur’an tanpa memakai akal. Atau barangkali menginginkan saya dalam kondisi tidak waras untuk memahami Al-Qur’an dan Hadits. Untuk zaman sekarang, di mana manusia masih ada banyak yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya (RUKUN IMAN), kondisi seperti itu susah untuk diciptakan. Kondisi/keadaan seperti itu HANYA terjadi di zaman akhir atau menjelang hari kiamat tiba!! Yaitu, suatu hari di mana makin banyak orang yang mengaku-aku sebagai NABI dan MUJTAHID (Alias NABI PALSU dan MUJTAHID PALSU).

    Jadi, cukuplah bagi kami pengamal Tijaniyah untuk membuktikan bahwa:

    - Sdr. dani mengalami kebingungan yang luar biasa secara AKAL untuk merespon komentar2 saya yang SANGAT SEDERHANA seperti itu.
    - Sdr. dani kehabisan akal untuk berbicara yang masuk akal sekalipun dengan bahasa yang sangat sederhana.
    - sdr. dani (maaf yaa)….TIDAK memahami ajaran Islam yang KAFFAH itu dengan sangat baik.
    - Saling lempar pendapat seperti ini (walaupun sdr. Dani TIDAK FAIR, karena ada beberapa comments saya yang tidak beliau muat), menunjukkan kehebatan Tijaniyah di atas segelintir kaum yang membanggakan AKALnya.
    DAN SEKARANG, kaum Tijaniyah (mayoritas) menjadi semakin tahu seberapa dalam dan tingginya pengetahuan kaum yang mengaku-aku Ahlu Sunnah atau kaum Salafi (biasanya keluaran PERSATUAN ISLAM) dan senantiasa gampang memvonis bid’ah dengan kemampuan AKAL mereka yang dangkal.

    Untuk saudara2 pengamal Tijaniyah, saya memberi NASEHAT, jangan habiskan waktu saudara2 untuk hal2 yang tidak berguna dan tidak memberi manfaat sedikit pun buat saudara2, yaitu berdiskusi dengan orang2 yang kemampuan berpikirnya terbatas, yaitu kaum yg mengaku Salafi/Ahlu Sunnah.
    Caapek deeeh!

    Sebagai penutup dari semua komentar saya (the Last of my comments), saya akan akan menyitir ayat2 Al-Qur’an, yang barangkali COCOK dengan kultur dan kondisi kaum seperti sdr. dani. Karena terlalu panjang, silakan anda buka Surah 30 Ar-Rum ayat 51 s/d 60 (kaum Tijaniyah silakan juga buka Al-Qur’an).

    Tapi saya akan ungkapkan 3 ayat kunci dari 10 ayat tsb di atas, yaitu (artinya saja yaa..) :

    1. Ayat 52 : “Maka sungguh, engkau tdk akan sanggup menjadikan orang2 yang mati itu dapat mendengar, dan menjadikan orang2 yang tuli dapat mendengar seruan, apabila mereka berpaling ke belakang”
    Penjelasan : Yang dimaksud dengan orang mati adalah yang mati hatinya,
    karena mereka menuhankan akalnya
    Yang dimaksud berpaling ke belakang adalah bahwa mereka
    selalu tak peduli dengan penjelasan KITA

    2. Ayat 56 : “Dan orang2 yg diberi ilmu dan keimanan berkata (kepada orang2
    yang jahil, “Sungguh, kamu telah berdiam menurut ketetapan Alloh, sampai hari berbangkit…..”
    Penjelasan : Kaum Tijaniyah dianugerahi 2000 ilmu keduniawian dan juga ilmu
    keakhiratan, sementara kaum Salafi baru mencari ilmu dengan
    akalnya yg dangkal. Kaum Tijaniyah sangat mencintai Rasulullah
    SAW dan menunjukkan keimanan kpd beliau dengan sungguh2,
    sementara kaum salafi baru MENCOBA mencintai Rasul dan
    bingung untuk mencari METODAnya.
    Makna dari “…kamu telah berdiam menurut ketetapan Alloh,
    sampai hari berbangkit” adalah bahwa kaum salafi akan tetap
    dalam keterbatasan kemampuan AKALnya dan selalu mencari
    cara untuk bercengkrama dgn Rasulullah SAW sampai hari
    kiamat tiba. Atau juga bisa dimaknai, bahwa mereka tetap dalam
    kultur & kebiasaan membid’ahkan kaum lainnya dan mereka yg
    mengklaim diri mereka benar sampai hari kiamat tiba.

    3. Ayat 59 : “Demikianlah Alloh mengunci hati orang2 yang tidak (mau) memahami”
    Penjelasan : Kaum salafi/ahlu Sunnah adalah suatu kaum yg kalau diamati,
    kultur/kebiasaan mereka adalah tdk mau mendengar penjelasan
    lawan bicaranya. Dalam komentar2 saya, saya mengajak sdr
    Dani utk masuk tarekat Tijaniyah & mencoba merasakan manis
    nya ajaran Rasulullah SAW agar beliau bisa paham dan mengerti
    bahwa selama ini apa yg mereka lakukan adalah SALAH.
    Tetapi sdr. Dani tidak mau menerima ajakan saya untuk mema-
    hami amalan2 pecinta Rasulullah SAW dan mempelajarinya, yaitu
    amalan2 kaum Tijaniyah. Beliau enggan BELAJAR!!
    Padahal BELAJAR adalah kewajiban setiap muslim, lhoo!

    Kalau dalil Naqli hadits, saya tidak hapal redaksi tulisannya, tetapi kurang lebih tentang himbauan (atau perintah?) Nabi SAW kepada kita, untuk menjauhi orang2 yang jahil (bodoh) dan tidak mau mendengarkan keterangan yang benar.

    Naah, baru saja saya kemukakan Dalil Naqli Al-Qur’an & Hadits yang sebenarnya menggambarkan kondisi faktual yang memprihatinkan dari sdr. Dani dan kaum Ahlu sunnah/salafi. Dengan demikian, berarti saya baru saja melakukan suatu tindakan IJTIHAD yang sangat gampang & sederhana, seperti yang dikehendaki oleh sdr. Dani Permana.

    Demikianlah my last comment untuk WEBLOG Dani Permana, suatu weblog yang hanya membuang-buang waktu kita (kaum Tijaniyah) untuk menulis komentar2 yang tidak pernah didengar oleh kaum yang hatinya tertutup tidak mau memahami. Dan saya merasa bangga telah menyelesaikan tugas saya dengan sebaik-baiknya; yaitu berIJTIHAD mengenai diri sdr. Dani & kaum ahlu sunnah/salafi dengan menggunakan dalil Naqli, seperti yang dikehendaki oleh sdr. Dani. Terima kasih atas kepercayaan anda untuk memberi tugas ini kepada saya dan….jangan lupa setiap purna tugas berhak memperoleh bintang kehormatan tanda jasa, karena saya telah menyia-nyiakan waktu dan menghabiskan 5 gelas kopi untuk menulis komentar ini. He..he..he…

    Assalaamu’alaikum.
    H. HARUN, S. Ag

  13. 13 H. Harun

    TERTUJU kepada sdr Dani Permana:

    Maafkan saya karena sudah menyinggung perasaan anda dalam email2 kita. Tetapi lagi-lagi saya harus memberi pencerahan kepada anda.
    Dulu saya punya tetangga, seorang tunanetra yg baik & bersahaja, namun sudah meninggal. Mata KASATnya tidak bisa melihat benda2 yang bagi kita kelihatan, tetapi dia mengaku bisa melihat benda2 yang bagi kita TIDAK kelihatan. Beliau dulu dekat dengan bpk Latief Muchtar (dulu Ketua PERSIS Bandung) dan mengaku senang mengikuti ajaran2 beliau, walaupun tetangga saya ini hanya berprofesi sbg tukang pijit (profesi kebanyakan tunanetra saat itu). Walaupun beliau seorang simpatisan PERSIS, tetapi pernah suatu hari beliau mengatakan kepada saya bahwa beliau melihat suatu makhluk yang berpakaian jubah putih bersorban, berjenggot panjang dan bersorban, mirip manusia tetapi terdapat tanduk kecil di kepalanya. Saya tanyakan: “Apakah yang bapak lihat itu Jin?” Beliau menjawab: “Nggak tahu yaa dik Harun, tetapi saya yakin itu bukan manusia. Masa manusia punya tanduk? dan lagi saya khan tidak bisa melihat?”
    Beliau adalah contoh seorang manusia yang mati mata KASATnya, tetapi hidup mata BATINnya. Kemampuan beliau itu anugrah Alloh tanpa belajar. Tetapi bagi anda, harus anda tholaab (belajar) sehingga mata BATIN anda juga bisa seperti beliau. Makin tinggi kemampuan mata BATIN anda, maka akan semakin terbuka jelas hal2 yang tidak bisa dilihat oleh mata KASAT/DZAHIR. Dan hal seperti ini tidak perlu dicari dalilnya. Kesimpulannya: Kalau kita bisa melihat benda KASAT mapun BATIN, yaa silakan dilihat.
    Dan kalau kita baru bisa melihat benda KASAT, tetapi belum bisa melihat benda BATIN, maka carilah ALATnya atau ILMUnya. Entah alat itu mikroskop, teleskop, teropong bintang atau ALAT/ILMU untuk bisa melihat benda2 halus seperti malaikat & jin.

    Saya berbicara apa adanya, lugas dan sesuai fakta bahwa anda masih banyak kekurangan. Cirinya: Anda lebih doyan meragukan kemampuan orang lain di atas kemampuan anda. Anda lebih menyukai beragama secara ilmiah seperti para scientist dan para atheis. Kami kaum tarekat, sudah tidak lagi pernah untuk beragama dengan ilmiah (laksana 2 2=4, pisau bisa menusuk tubuh dan api itu panas, dll). Kami sudah memasuki kondisi beragama kontra ilmiah, yg bagi kami pisau (makhluk) kami tundukkan supaya tidak menusuk tubuh dan api (makhluk Alloh) kami tundukkan supaya tidak panas di badan. Itu adalah ILMU, sehingga akan jelas terpampang kelebihan manusia dibanding makhluk ciptaan Alloh yang lainnya. kami tundukkan Jin untuk membuktikan bahwa manusia lebih baik dari jin.
    Saya juga berbahagia bahwa anda berbahagia masih mau MEMBACA (Iqra’)/BELAJAR dari komentar2 yang saya utarakan kepada anda. Untuk menyatakan bahwa kemampuan anda di bawah kemampuan rata2 kaum Tijaniyah, saya tidak perlu mengeluarkan energi untuk TAKABUR. Anda pasti tahu bahwa mengeluarkan energi itu capek. Oleh karena itu saya hanya menyatakan kondisi anda apa adanya seperti yang saat ini anda alami. Dan sebagai manusia yang berakal, adalah hal yang masuk akal bagi kami bahwa untuk mengerti apapun (termasuk Al-Qur’an & hadits) haruslah memakai akal yang sehat dan logika yang kuat.
    Kaum Tijaniyah sangat menjunjung tinggi ADAB (lebih tinggi dari sekedar sopan santun), terutama ADAB kepada gurunya. Dan sebagai orang yang juga dianggap Ustadz oleh kawan2 saya, kami diharuskan berkata kepada orang lain dengan melihat kemampuan akalnya, dengan hikmah dan bahasa yang baik, KECUALI…….kepada orang2 yang keras hatinya (untuk memperhalus istilah Buta mata hati) dan sedikitpun tak mau mengambil pelajaran yang baik dan petunjuk dari orang2 yang lebih mengerti.

    Salah satu ciri orang yang bertakwa adalah bahwa dia beriman dan berilmu, serta mengakui bahwa kemampuan ILMUnya tidak sebanding dengan orang yang pernah dia aniayai. Lihatlah (alm) tetangga saya itu. Beliau ternyata orang yang bisa mengambil HIKMAH dari segala sesuatu, bisa SABAR dengan benar meski serba kekurangan, dan memiliki kemampuan melebihi orang2 yang normal secara jasadi.
    “Sesungguhnya Alloh meninggikan DERAJAD orang2 yang berILMU” , yaitu orang2 yang JASADnya tunduk kpd-Nya, AKALnya tunduk dan RUHaninya tunduk kpd Alloh. Dan mereka itulah orang2 yang mulia di sisi Alloh, bahwa walaupun berILMU hingga secara RUHaniyah, diri mereka tidak ada apa2 nya di hadapan Alloh.

    Sudahi saja rasa penasaran anda untuk mendakwahi kaum Tijaniyah, dan sadarilah kekurangan diri anda. Karena semakin anda berNAFSU untuk mencari-cari letak kelemahan kaum tarekat (Tijaniyah), maka akan semakin terlihat dan terbuka lebar kekurangan dan aib anda. Bertobatlah!

    Anda sepertinya hobby/berkecimpung di dunia tulis menulis. Itu bagus! Di saat usia anda saat ini belum 40-an tahun (mohon maaf bila salah), tak ada salahnya anda berlatih menulis dengan pengetahuan yang berhubungan. Maksud saya, bila anda menulis tentang otomotif mobil maka setidaknya anda mesti mengerti ILMU permesinan mobil luar dalam, seperti itu…

    KATA TERAKHIR DARI SAYA: carilah teman yang sekhufu dengan anda, supaya perbincangan anda dan dia nyambung. Dan saya merasa harus berterima kasih dengan tulus ikhlas kepada anda, karena sore ini ba’da Ashar saya mendapat tawaran untuk mengerjakan 2 (dua) proyek dengan profit cukup memuaskan. Saya berprasangka baik saja, jangan2 saya mendapat tiban rezeki setelah peristiwa debat dengan anda. Di zaman krisis seperti ini, rezeki mah dari mana saja. Sekali lagi terima kasih!
    Dan mohon maaf, saya tidak bisa lagi melayani anda karena harus berkonsentrasi pada pekerjaan. Akhirul kalam, sebagai seorang muslim saya memohon maaf bilamana anda tersinggung dengan ucapan dan gaya bahasa saya. Saya anggap hal yang terjadi antara saya dan anda tidak pernah terjadi. Saya hapus dari ingatan saya.

    Assalaamu’alaikum Akhi!
    H.HARUN

  14. 14 nami

    Golongan Tijaniyah termasuk salah satu firqah sufiyah. bahkan aliran sufiyah yang ekstrim. Nama kelornpok ini dinisbatkan dari penggagasnya, yaitu Ahmad bin Muhamniad At Tijani. Dia meninggal pada tahun 1230 H. Jadi, tidak berlebihan kalau disebut sebagai aliran baru.

    Kelahiran aliran yang dirintis oleh orang dipanggil Abul Abbas ini,
    bermula saat ia melangsungkan perjalanan ritualnya, ia berjumpa dengan
    banyak tokoh Sufi pada masanya. Mereka berlatar belakang beragam thoriqot.
    Pengaruh para panutan itu begitu membekas dalam diri Ahmad At Tijani.
    Namun, ternyata ia tidak ingin mengadopsi salah satu dari thoriqot
    itu. Dia kemudian mendeklarasikan thoriqot barunya dengan label namanya
    sendiri, yaitu At Tijaniyah. Hal itu, nienurutnya. selelah pertemuan
    antara dirinya dengan Nabi dalam keadaan terjaga. Konon katanya, Nabi
    telah mengizinkannya untuk mentarbiyah manusia dan memerintahkannya
    uiituk membentuk aliran baru. Inilah salah satu kcbohongan yang biasa
    diusung oleh semua aliran thoriqot..

    Faktor Yang Mendukung Penyebaran Aliran Tijaniyah

    Adanya dukungan kuat dari pemerintah yang berkuasa. Adalah Amir Sulaiman,
    penguasa Maroko saat itu, ia sangat berperan mengembangkan ajaran
    Ahmad At Tijani dan firqah produknya.

    Kedangkalan pemaharnan umat terhadap agama Islam dan minimnya jurnlah
    ulama dari kalangan Ahli Sunnah.

    Simpati penjajah terhadap aliran sufiyah di Afrika. Ini termasuk strategi
    penjajah. Menurut mereka, sarana paling efektif untuk meruntuhkan
    Islam ialah dengan menyebarkan bid’ah dan khurafat.

    Referensi Utama Thoriqot Tijaniyah

    Kitab terpenting yang menjadi rujukan utama mereka adalah Jawahirul
    Ma’ani Wa Bulughi Al Amani. Mereka mengklaim, bahwa kitab ini bingkisan
    dari Nabi yang diterima oleh para tijaniyyun. Berkaitan dengan kitab
    pedoman tersebut, menurut mereka, Nabi pernah berkata “Ini
    kitab milikku. Aku menyusunuya”. Disamping itu juga terdapat
    kitab lainnya yang menjadi rujukan mereka, yaitu Rimahu Hizbi Ar Rahim
    ‘Ala Nuhuri Hizbi Ar Rajim, karya Umar bin Said Al Futi. Tidak berbeda
    dcngan kitab sebelumnya, karangan ini juga berisi seabreg kesesatan,
    kekufuran dan kesyirikan.

    Pokok-pokok Pikiran Aqidah Thoriqot Tijaniyah

    Pada prinsipnya, mereka beriman kepada Allah tetapi keimanan ini banyak
    ternoda dengan berbagai kesyirikan yang mereka lakukan, seperti:

    Mayoritas para pemeluk thoriqot ini meyakini aqidah wihdatul wujud.
    Yaitu suatu keyakinan menyimpang yang substansinya mengajarkan bahwa
    Sang Pencipta adalah juga sekaligus makhluk ciptaanNya, dan sebaliknya
    makhluk itu juga sekaligus Khaliq, Sang Pencipta. Bandingkan dengan
    aliran kebatinan di Jawa yang memperkenalkan istilah manunggaling
    kawula lan gusti (bersatunya hamba dan Tuhan).

    Para peineluk thoriqot ini berkeyakinan, bahwa para tokoh Tijaniyah
    mampu mengetahui rahasia alam ghaib dan kata hati manusia. Dan ini
    sudah banyak tertera di dalam buku-buku milik mereka.

    Mereka mengamalkan bacaan shalawat yang populer dengan nama Shalat
    Al Fatih. Menurut mereka Shalat Al Fatih ini lebih afdhal daripada
    Al Qur’anul Karim. Mereka juga mengklaim bacaan sholawat itu merupakan
    kalamullah, dan lebih afdhol enam ribu kali dibandingkan dengan AI
    Qur’anul Karim.

    Mereka mengatakan bahwa Nabi melarang Ahmad At Tijani bertawasul dengan
    nama-nama Allah. Sebagai gantinya, ialah bertawasul dengan Shalat
    Al Futih di atas.

    Para penganut thoriqot ini mengklaim, bahwa mereka dapat melihat Nabi
    dengan mata telanjang dalam keadaan terjaga dan bisa berjumpa dengan
    Beliau setelah wafatnya.

    Keyakinan mereka lainnya yang juga sangat berbahaya, yaitu mereka
    menganggap adanya unsur syariat yang masih disembunyikan Rasulullah.
    Menurut mereka Nabi belum menyampaikan risalah secara tuntas. yang
    berasal dari wahyu Allah.

    Lebih parahnya lagi, para penganut thoriqot Tijaniyah ini beranggapan,
    bahwa sang pencetus ide Tijaniyah (Ahmad bin Muhamniad At Tijani)
    mempunyai kekuasaan untuk memberi atau menahan rezeki, menyembuhkan
    penyakit dan sekaligus mengirim penyakit, mampu mengabulkan doa orang
    yang terjepit dan keampuhan-keampuhan lain, yang sebenarnya merupakan
    hak rububiyah Allah.

    Secara pribadi, Ahmad bin Muhammad At Tijani menyatakan bahwa Nabi
    telah memberikan jaminan masuk surga tanpa hisab dan tanpa siksaan
    sedikit pun untuk dirinya dan orang-orang yang mengikuti thoriqot
    Tijaniyah, meskipun kesalahan dan dosa mereka bertumpuk-tumpuk.

    At Tijani mengklaim, bahwa dirinya meraih tingkatan nubuwah (kenabian)
    pada hari Kiamat kelak. Dia berkata:

    “Akan dibuatkan untuk diriku sebuah mimbar yang terbuat dari
    cahaya pada hari Kiamat kelak. Kemudian ada panggilan yang didengar
    oleh setiap orang yang berada di Mahsyar,

    ‘Wahai, manusia. Ini adalah imam kalian yang sangat kalian dambakan
    tanpa kalian sadari’.”

    Ajaran yang tidak pernah dikenal sahabat Nabi ini juga menganjurkan
    para pengikutnya untuk larut dalam maksiat.

    Mereka juga mempunyai dzikir khusus yang mereka baca pada pagi dan
    sore hari. Ada juga dzikir yang khusus dibaca waktu sore pada hari
    Jum’at sampai terbenamnya matahari. Juga masih ada dzikir-dzikir lain
    yang dibaca pada acara-acara tertentu.

    Para penganut thoriqot ini juga mengklaim bahwa Ahmad bin Muhammad
    At Tijani merupakan khatamul auliya’ (penutup para wali Allah).

    Sang perintis ini juga mengatakan: “Barangsiapa melihatku,
    niscaya ia masuk surga”.

    Demikian di antara kesesatan mereka. Masih banyak lagi keyakinan lain
    yang bertentangan dengan prinsip-prinsip aqidah Islamiyah, yang berisi
    kedustaan atas nama Allah dan RasulNya, pembodohan intelektual dan
    penyesatan terhadap para pengikutinya.

    Sumber Rujukan Aqidah dan Keyakinan Tijaniyah

    Secara umum, yang mendominasi thoriqot Tijaniyah ini ialah pemikiran
    golongan Sufi dengan tambahan kodifikasi dari rnereka. Demikian juga,
    tulisan-tulisan Abdul Qadir Al Jailani, Ibnu Arabi dan Al Hallaj menjadi
    rujukan utama aqidah mereka. Selain itu, kitab Al Maqshadul Ahmad
    Fi At Ata’rif Bi Sayyidi Abi Abdilluh Ahmad, karya Abu Muhammad Abdus
    Salam bin Ath Thayyib Al Qadiri Al Husaini juga banyak mempengaruhi
    ajaran thoriqot Tijaniyah.

    Wilayah Penyebaran Thoriqot Tijaniyah

    Aliran yang kental dengan aroma sufinya ini menyebar di beberapa negara
    Islam, seperti di negara Maroko, Nigeria, Sudan, Mauritania, Mesir,
    Senegal dan negara di benua Afrika lainnya. Menurut data statistik,
    pada tahun 1401H (1981M) jumlah penganut Tijaniyah di Nigeria saja
    menembus angka sepuluh juta jiwa.

    Fatwa Lajnah Daimah Tentang Imamah Tokoh-tokoh Tijaniyah

    Lajnah Daimah pernah mengeluarkan fatwa berkaitan tentang tokoh Tijaniyah
    bila menjadi imam shalat. Apakah sah shalat orang yang menjadi makmumnya?

    Komisi Fatwa ini menjawab, bahwa thoriqot Tijaniyah termasuk golongan
    yang paling fatal kekufuran, kesesatan dan bid’ahnya dalam agama.
    Maka tidak sah shalat di belakang orang yang memeluk thoriqot ini
    (menjadi makmum). Hendaknya seorang muslim mencari imam lainnya yang
    tidak berpedoman thoriqot Tijaniyah. HREF=”#foot45″>1

    Penutup

    Tidak diragukan lagi jika thoriqot Tijaniyah ini disebut sebagai ahli
    bid’ah dalam berbagai aspek ibadah. Beragam dzikir dan wiridnya semakin
    mengukuhkan klaim Tljuniyah, bahwa Rasulullah, belum tuntas dalam
    menyampaikan risalah Islam. Apalagi kalau hal itu dipadukan dengan
    kebobrokan aqidah yang menguasai jiwa mereka, yang sebagiannya sudah
    dapat mengeluarkan seseorang dari gerbang agama Islam. Wallahi Musta
    ‘an.

    Maraji’:

    Al Mausu’ah Al Muyassarah Fi Al Adyani Wal Madzahibi Wal Ahdzabi AL
    Mu’ashiarah, hlm. 285-290.

    Ath Thaifah At Tijaniyah, susunan Lajnah Daimah (Komisi Kajian Iliniah
    dan Fatwa Kerajaan Arab Saudi ) Cet.II,Th.l423H/2002M.

  15. 15 ahmad

    bwt ikhwan yang ingin mencari info tijani di jakarta klik link ini http://4binajwa.wordpress.com or http://turampuh.blog.freidnster.com

  16. 16 agung

    Kalau posisi saya di cirebon, kira2 dimana ya tarekat tijaniyah ini berada? denger-denger di buntet pesantren ada, kalau memang ada mungkin saya ke sana.

  17. 17 nurodi anwarih

    ikhwan tijani sebagai sesama muslim dan juga watga Nu saya hanya berpesan cukuplah Allah yang maha pintar dan maha segalanya. jangan pernah merasa bahwa hanya tijanilah yang paling dan ter dari segalanya karena itu hanya memunculkan kesombongan yang jelas-jelas Allah murka atas hambaNya yang menyombongkan diri. ingat surga itu milik Allah bukan milik syaikh At-tijani. berjhentilah untung menyombongkan diri wahai saudaraku……
    cukuplah keyakinan yang saudara miliki menjadi milikmu, tidak harus menghujat kesana kemari… Allah maha tahu apa-apa yang ada dalam lubuk hati kita… saya bukan pengikut tijani tp sy merasa risih dengan ekslusifisme ikhwan tijani dilingkungan sy yang juga rasanya hampir sama merasa paling taqwa paling sholeh dibanding non tijani. saya hanya mengingatkan da’wah dengan cara demikian tidak akan efektif dan senantiasa membuka peluang kontradiksi terus menerus. insyaAllah sy tidak menganggap thoriqoh tijani adalah sesat karena thoriqoh adalah jalan menuju Allah. Banyak hamba Allah yang tidak masuk tijani tp juge memilki kelembutan hati dan dekat dengan Allah yang tercermin dari amalannya …
    sebagai pemimpin komunitas muslim dilingkungan sy juga lelah untuk terus menjadi penengah antara penganut tijani dengan penentangnya… apalagi steelah sya baca blog ini ..astaghfirullah saya kaget … ternyata bumbu kesombonganpun tampak nyata disini… beristighfarlah bukankah hakikat istighfar itu bukan cuma di lisan ??? sy yakin dan percaya ikhwan tijani lebih banyak ilmunya daripada saya… ini hanya nasihat dari sy hamba yang fakir ilmu miskin amal dan sedikit pahala…. semoga Allah menampuni dosa hambamu ini….

    DKM Al-Ikhlas
    Komp. Panghegar Permai Kec. Panyileukan
    Kota Bandung…

  18. 18 Zuhry Basyaiban

    assalamu alaikum,
    semoga kerukunan selalu berada diantara kita dan semoga kesejukan payung laa ilaha illallah selalu kita rasakan. permasalahan thariqat memang menjadi pro dan kontra dari masa ke masa. ana tak berani memvonis mana yang benar dan mana yang salah, karena memang ana cuma manusia bodoh yang tak punya otoritas untuk menyimpulkannya, baik secara keilmuan maupun secara amaliyah. namun, setau ana, yang wajib kita pegang teguh adalah ukhuwwah islamiyyah. kita boleh merasa benar jika kita memang memiliki dasar atas keyakinan dan kebenaran itu karena memang kita dibekali hati dan pikiran oleh Allah. namun di sisi lain, kita juga diharuskan berprasangka baik kepada orang lain. jangan sampai -hanya karena masalah khilafiyah- menjadikan kita saling mencurigai satu dengan yang lain. bukankah islam sendiri sangat menghargai kebebasan untuk memeluk agama islam, laa ikroha fid diin. bagi mereka yang telah mendapatkan keyakinan dan kesejukan hati dengan pilihan mereka mencari ridlo Allah dan sealu berusaha mendekatkan diri kepada-Nya, hormatilah mereka. kepada seluruh muslimin, coba renungkan. orang tijani atau bukan, cobalah berdiskusi tentang bagaimana kita melakukan sholat secara benar, bermusyawarohlah tentang bagaimana kita terselamatkan dari penyakit hati, bertukar pikirlah dengan sesama saudara kita kaum muslimin bagaimana upaya kita mengatasi saudara-saudara kita sesama muslim yang tergencet masalah ekonomi. (”wa la taqfu ma laisa laka bihi ilm”)
    permasalahan khilafiyah selamanya akan tetap ada.
    bagi saudara-saudaraku, para pencari ridlo Allah, tijaniyyah, qodiriyyah, naqsabandiyyah, atau apapun nisbah kalian. izinkan ana menitipkan pesan:
    1. batu permata hanya akan bernilai bagi orang-orang pecinta permata.
    2. jangan pernah membicarakan suatu masalah bagi orang yang tidak menyukai masalah.
    3. tashowwuf, thoriqat adalah niat, amaliyah, dan keikhlasan, dan bukan perdebatan. ingatlah akan sebuah hadit Nabi yang maksudnya (kira-kira): orang-orang yang tidak menggunanak tata krama akan diberi cobaan oleh Allah berupa perdebatan.
    4. jangan pernah kita mengukur kebaikan dan keburukan seseorang dari sesuatu selain ketaqwaan, sementara ketaqwaan seseorang akan berbias kepada akhlak mulia. tutur katanya sopan, tidak mencela dan berkata kasar, selalu berbaik sangka.

    semoga kita selalu mendapatkan hidayah Allah agar kita selalu beramal yang diridloi oleh Allah dan semoga kita diberikan kekuatan untuk berbaik sangka kepada saudara-saudara kita…amiin.

    dari seorang yang merindukan kedamaian,
    syamsuddin zuhri basyaiban

  19. 19 iqbal

    assalamualaikum
    ane mau nanya, dulu ane ikut thoriqoh tapi ane meninggalkan toriqoh ini, lalu apakah ane harus dibaiat ulang oleh muqodam?
    tolong balas, balsan dari anda penting bagi ane?
    tlng balas ke email babaytarungderajat@yahoo.com

  20. 20 yodis

    Jangan merasa lelah pak untuk mempersatukan umat…., apalagi bapak d lingkungannya jadi Ketua DKM..,

    Semenjak awal kehadirannya ke Indonesia, Thariqat Tijaniyah ini mendapat tantangan dari para ahli thariqat yang lain (non-Tijaniyah) yang cukup keras sehingga menimbulkan pertentangan diantara para ahli thariqat di Indonesia. Pertentangan dilakukan dengan berbagai cara. Pertentangan itu timbul karena adanya anggapan dari para penentang bahwa di dalam Thariqat Tijaniyah terdapat kejanggalan-kejanggalan.

    Pada tahun 1928 –1931 pertentangan terjadi dalam bentuk pamflet-pamflet yang berisikan tuduhan-tuduhan para penentang. Dan mereka mendapatkan rujukan ulama dari Madinah, Sayyid Abdullah Dahlan.

    Pada tahun 1930 terjadi perselisihan antara pesantren Buntet, pusat Tijaniyah, dengan Pesantren Benda Kerep, anti Tijaniyah –yang sebenarnya keduanya masih mempunyai hubungan keluarga. Pada tahun yang sama, Syekh Ahmad Ganaim, guru dari Mesir datang ke pesantren Tebu Ireng Jombang, Jawa Timur. Dalam kedatangannya ini, ia menyerang Thariqat Tijaniyah dengan alasan bahwa penyebar Tijaniyah menjamin para pengikutnya masuk surga. Pertentangan terhadap Tijaniyah juga diungkapkan melalui penulisan kitab-kitab sanggahan. Misalnya, Sayyid Abdullah Dahlan menulis kitab sanggahan Tanbih al-Ghafil wa Irsyad al-Mustafid al-Aqil, yang kemudian diringkas menjadi kitab Wudluh ad-Dala’il: Muhammad al-Hilali menulis kitab al-Hidayah al-Hadiyah Li al-Tha’ifah al-Tijaniyah, yang berisikan hampir sama dengan kitab sanggahan Sayyid Abdullah Dahlan .
    Sayyid Abdullah Dahlan menyanggah beberapa masalah dalam Thariqat Tijaniyah. Secara umum ia mengatakan bahwa dalam Thariqat Tijaniyah terdapat banyak kejanggalan dan bertentangan dengan syari’at Islam. Muhammad Al-Hilal, dalam kitabnya al-Hidayah al-hadiyah,….., dan Ali Dakhilullah dalam kitabnya al-Tijaniyat mengupas kritikan yang hampir sama dengan Sayyid Abdullah Dahlan.

    Pertentangan tentang Thariqat Tijaniyah pernah dibahas dalam forum NU dan seminar Thariqat Tijaniyah di Cirebon. NU pernah membahas Thariqat Tijaniyah dalam dua kali muktamarnya: Muktamar III dan VI. Muktamar III memutuskan keabsahan (kemu’tabaran) Thariqat Tijaniyah dan muktamar VI menguatkan hasil keputusan muktamar III.

    Hasil keputusan kedua Muktamar itu menetapkan bahwa (1) Thariqat Tijaniyah mempunyai sanad Muttasil kepada Rasulullah saw., bersama bai’ah barzakhiyah-nya.(2) dapat dianggap sebagai thariqat yang sah dalam Islam,
    Polemik ini sengaja disajikan, untuk lebih melihat bagaimana kehadiran Thariqat Tijaniyah di Indonesia.

    Mengapa Terjadi Polemik ???

    Masalah yang terpenting dalam beberapa sanggahan terhadap Thariqat Tijaniyah adalah tentang : keunggulan maqam kewalian Syekh Ahmad al-Tijani, keistimewaan Thariqat Tijaniyah, dan keistimewaan pengamal Tijaniyah.

    Dalam melihat tiga hal di atas,
    ada beberapa kelemahan dari para penentang Thariqat Tijaniyah Kelemahan dimaksud adalah : (1) Tidak tuntasnya mereka dalam membaca dan memahami ungkapan-ungkapan Syekh Ahmad al-Tijani dan ajaran Tijaniyah, (2) Pemahaman mereka terhadap pernyataan-pernyataan Syekh Ahmad al-tijani lebih bersifat tekstual,
    sedangkan kalimat-kalimat ungkapan Syekh Ahmad al-Tijani banyak yang harus difahami berdasarkan pendekatan kontekstual, dan (3) mereka penentang Tijaniyah tidak mempelajari langsung dari guru-guru Tijaniyah, tetapi mereka mempelajarinya melalui pemahamannya sendiri sehingga penafsiran pemikiran mereka yang dominan lebih cenderung kurang relevan, menjadi subjektif dan bias. Tiga kelemahan para penentang dalam melihat Thariqat Tijaniyah sebagaimana disebutkan, memunculkan polemik. Sampai sekarang pertentangan dalam Thariqat Tijaniyah belum berakhir terutama melalui buku-buku yang diterbitkan dari Kerajaan Saudi Arabia, yang diikuti oleh majalah al-Risalah yang terbit di Solo.

    Penyelesaian Polemik
    Untuk dapat mengikuti dan atau memahami dengan baik dan benar mengenai persoalan tadi, ada tahapan-tahapan pemikiran yang harus dilalui. Lantaran penilaian, pengertian dan pemahaman yang didapat dari tahapan pemikiran akan menjadi pintu masuk dalam memahami pernyataan dan fatwa-fatwa Syekh Ahmad al-Tijani, tahapan dimaksud adalah :
    Tahapan pertama, pemahaman tentang al-Haqiqat al-Muhammadiyah dan atau masyrab al-Nabawi yang melekat dalam diri Khatm al-Nabiyyin yakni Nabi Muhammad saw., sebagai sumber kenabian seluruh para nabi. Seluruh para nabi sejak Nabi Adam as., hingga Nabi Isa as., mengambil cahaya kenabian dari Nabi Muhammad saw. Oleh karena itu seluruh nabi hanyalah melakukan peran kenabian Nabi Muhammad saw., sebelum lahirnya jasad beliau. Berdasarkan hadis “kuntu Nabiyyan wa Adamu Bain al-Mai’ wa al-Thin”.
    Tahapan ini perlu dipahami terlebih dahulu sebagai bahan perbandingan memahami khatm al-Wilayah. Tahapan berikutnya memahami dan meyakini tentang khatm al-Wilayah dan atau masyrab kewalian yang melekat dalam diri seorang wali yang memperoleh maqam wali khatm, sebagai sumber kewalian seluruh wali-wali Allah. Seluruh wali-wali Allah sejak Nabi Adam hingga akhir zaman mengambil cahaya kewalian dari wali khatm ini, oleh karena itu seluruh wali hanya melakukan peran kewalian seorang wali yang memperoleh maqam wali khatm; yang menurut Ibn Arabi “… wa kadzalika khatm al-Awliya kana waliyyan wa Adamu bain al-Mai’ wa al-Thin”. Tahapan pemikiran ini merupakan hal yang sangat mendasar untuk bisa memasuki dan memahami pernyataan-pernyataan seorang wali yang memperoleh maqam wali khatm. Apabila pada dataran ini belum dipahami, maka sangat sulit untuk bisa memahami pemikiran dan pernyataan Syekh Ahmad al-Tijani sebagai wali yang mengaku memperoleh maqam wali khatm. Sebab pernyataan-pernyataan Syekh Ahmad al-Tijani yang terkait dengan keunggulan dirinya muncul dalam kapasitasnya sebagai wali khatm. Keunggulan yang melekat dan dimiliki syekh Ahmad al-Tijani sebagai wali khatm mengantarkan pada keunggulan ajaran thariqatnya, yakni Thariqat Tijaniyah.
    Keunggulan ajaran Thariqat Tijaniyah yang diajarkan wali khatm mengantarkan keunggulan ummat Islam yang mengikuti ajarannya. Dengan demikian pemahaman dan penerimaan terhadap pengakuan Syekh Ahmad al-Tijani tentang maqam kewaliannya merupakan syarat mutlak untuk bisa memahami terhadap pernyataan-pernyataan Syekh Ahmad al-Tijani, baik tentang dirinya, ajaran thariqat dan pengikutnya. Oleh karena itu sepanjang teori kewalian khususnya teori wali khatm belum diterima, terlebih pengakuan Syekh Ahmad al-Tijani terhadap maqam ini, selama itu pula Thariqat Tijaniyah akan terus dipermasalahkan dan tidak akan ada ujungnya.
    Namun apabila ada kelompok ummat Islam yang memahami wali khatm sekaligus menerima dan meyakini terhadap pengakuan Syekh Ahmad al-Tijani terhadap maqam wali ini, hemat saya tidak ada yang perlu dipersoalkan, karena persoalan tersebut merupakan hak intelektual seseorang dalam mengimani masalah kewalian sebagai mana paparan al-Qur’an dan hadis.
    Sungguhpun demikian dalam penyelesaian polemik tentang Thariqat Tijaniyah tidak sederhana, sebab pembahasan al-Haqiqat al-Muhammadiyah dan Khatm al-Wilayah termasuk pada wilayah pemikiran dan ummat Islam khususnya kaum tarekat yang mempunyai kemauan dan kemampuan memasuki wilayah ini sangat terbatas, keterbatasan ummat Islam khususnya pengikut tarekat wali Allah dalam memahami wali ini akan melihat bahwa pernyataan Syekh Ahmad al-Tijani tentang wali khatm dianggap asing dan akan semakin mengagetkan apabila dihadapkan dengan pengakuan Syekh Ahmad al-Tijani, yakni tentang keunggulan dirinya, thariqat dan muridnya dan akan muncul kebingungan ketika lebih banyak melihat pernyataan Syekh Ahmad al-Tijani.
    Oleh karena itu sepanjang ummat Islam khususnya kaum tarekat belum mamahami apalagi menerima dan taslim terhadap pengakuan Syekh Ahmad al-Tijani, terhadap wali khatm, selamanya akan terus bertabrakan dan atau bersebrangan dengan pernyataan Syekh Ahmad al-Tijani tentang wali khatm. Dan mereka akan menganggap sebuah hal yang aneh kelompok ini tidak akan aman dari mengkritik terhadap Syekh Ahmad al-Tijani. Disarankan kepada intelektual Thariqat Tijaniyah yang menggeluti dunia keilmuan untuk lebih banyak mengkaji dan mensosialisasikan teori wali Khatm.
    Hal ini bisa dilakukan melalui hal-hal berikut : pertama memasukan teori kewalian menjadi Silabi Mata Kuliah Tasawuf; kedua, menyelenggarakan seminar tentang teori kenabian dan teori kewalian diluar kalangan ahli Tijaniyah, terutama dikalangan Perguruan Tinggi; ketiga mengembangkan pusat kajian tasawuf yang berkedudukan di Jakarta.
    Hal ini diharapkan untuk lebih bisa menyelesaikan masalah Thariqat Tijaniyah secara bertahap, khususnya yang berkembang di Indonesia. Sebab hemat saya penyelesaian masalah Thariqat Tijaniyah, mesti dilakukan melalui pendekatan ilmiyah, melalui kajian tasawuf terutama teori kenabian dan kewalian. Sebab ada hal yang menarik dari Syekh Ahmad al-Tijani, beliau menggabungkan dua sisi dari tasawuf yang berkembang dalam sejarah Pemikiran Islam yakni tasawuf amali dan tasawuf falsafi. Sungguhpun secara amaliyah, hemat penulis Thariqat Tijaniyah dengan wirid istighfar, shalawat, dan dzikirnya merupakan hal yang disepakati oleh seluruh ummat Islam bahwa wirid tersebut merupakan amalan yang diperintahkan oleh Qur’an dan hadis.
    Persoalan ajaran Thariqat Tijaniyah tidak hanya sampai disitu melainkan menembus memasuki wilayah tasawuf falsafi terutama menyangkut hakekat nabi Muhammad saw., dan wali khatm. Hal ini hanya akan bisa diselesaikan melalui pendalaman tentang teori kenabian dan kewalian.
    Demikianlah setitik pokok-pokok pikiran untuk bahan diskusi pada forum yang mulia ini, semoga mendorong kita untuk memahami lebih jauh tentang keagungan Syekh Ahmad al-Tijani dan keuntungan murid Syekh Ahmad al-Tijani Ra. Amin.
    Sanggahan, lecehan dan hujatan terhadap ikhwan tijani adalah effect thariqah, hadapi dengan tersenyum dan tetap istiqomah beramal. ingat “semakin dihujat, semakin kuat”

  21. 21 Suryono Alviano

    As wr wb…..

    saya yg fakir akan Ilmu…hanya bisa berkata bahwa tidak ada yang menjamin amalan seseorang di dunia ini untuk mendapatkan surga dari Allah swt….kecuali atas RIDHONYA……

    untuk Ketua DKM Al-Iklas Panghegar terus jaga kerukunan umat dan yang arif dan bijaksana

    specially untuk seniour saya Yodis terus berkaya lewat tulisan anda dan jgn pernah menyerah untuk berdakwah……

    Wasalam….

    Jamaah Al-Iklas

  22. 22 Apih

    Ari teu nulis ateul, ari nulis teu ari-ari, ngan ari pacogregan mah geus biasa pikeun jalma-jalma nu embung ngarti, tapi maranehna teh ka asup jalma-jalma nu ngalarti. hanjakal teu dilarapkeun eta elmu sakumaha ilaharna para elmuwan.
    Gampang pisan maluruh tijani mah loba nu ngarti, lamun hese ka zawiyah-zawiyah tijani, geura daratang atuh ka MUI,NU atawa ka Depag anu leuwih kompeten cenah. lamun lambaga-lambaga eta teu bisa nerangkeun atawa mere nyaho kulantaran teu nyaho, hartina tarekat tijani lain tarekat nu mutabar ayana di dunya, heueuh sebut we dunya, sabab lain ukur di indonesia wae dalah nagara kafir sagede Amerika Sarekat oge aya muqodam tijani diantarana muqodamah (Istri).
    Teu kacipta mun tijani tarekat anu nyimpang, meureun dunya bakal geunjleung ku jamaah tijani anu jumlahna ratusan juta jelema, kasaha nya nempuhkeun. Tapi da moal hese nempuhkeun da loba keneh muqoddam anu tarapis ngajawab.
    Sakadang muqoddam teh ngajawab ; “maraneh teu kudu riweuh, lain biasa ti baheula ge rariweuh ka tijani teh”. “Apan ngeunah cicing dinu riweuh lamun maraneh teu riweuh”, “Lamun hayang betah cicing dinu riweuh maraneh geura dzalikir!”
    Antukna ikhwan jeung akhwat tijani lain bubar kalahka nambahan bari jeung ngagerentesna da kamimah cinta Alloh (geura hartikeun tah ari cinta Alloh teh kumaha). Kaasup ceuk budaya sunda mah guru ratu wongatua karo kudu disembah, lain hartina ngacung-ngacung leungeun nyembah jiga ka raja dunya, hormat ka guru, kasasama jeung makhluk lain, apan eta sareat.

    Meunteun tijanimah lain make uteuk tapi make hate sabab hese neuleumannana. Leuleutikannana, tijaniyyin mah batur masih papuket luut leet kesang neangan duit bisi teu dahar isuk, ieu kalahka wirid di masigit jiga nu teu beuki dalahar.tapi lain kitu ari tijaniyyin mah neangan duit teh ka nu Boga Na lain ka jelema jadi tenang we da puguh waktuna ongkoh kulak canggeum bagja awak teh geus dicuntangan ti dituna jadi ni’mat we nu aya.

    Ngan untung na masjid jadi makmur sabab jaman kiwarimah jelema ngan ukur bisa nyieun masjid ari ngeusian pada mugen. Bohong eta jelema lamun ngedul ka masjid alatan aya tijaniyyin sareukseuk
    , dimana mana aya tijaniyyin geus dipastikeun bakal aya di masjid sabab geus jadi persyaratan.
    Di masjid lain ukur ngaheurinan wungkul lamun ngartimah eta teh umajak “hayu geura areling ka Gusti” da urang bakal maot, dunya mah sakeudeung jeung leutik deuih. Jadi lamun hayang bisa ngomong yen dunya teh leutik (b Ind. keciiil bari ngadelek)geura kanyahokeun tah tijani teh.

    Lamun di masjid umum tijaniyyin teh cenah exclusive, nya heueuh da eusina masjid tijaniyyin wungkul, lain diturutan sangkan masjid pinuh. da teu kudu asup tijani. Alloh mah maha welas jeung asih nu penting bisa ngucapkeun laa ilah ha illalloh, tinangtu asup sawarga teu kudu hese ngan meureun beda bobotna.

    Lamun cenah tijaniyyin jadi sarombong,eta teh ceuk jelema anu hatena teu narima jeung pinuh ku kaadigungan, sanyatamah teu kitu dilingkungan teh.

    Kagiatan sosial positif mun tijaniyyin teu ngilu hartina lain tijaniyyin, jadi aya wae diwidang naon oge nu sifatna kahadean nu penting mangfaat da sunah rosul etateh, ngan wayahna lamun patali jeung katarekatan teu bisa ngilu da boga sorangan.

    cag… ah….. loba teuing bisi ateul kana letah, ieu mah itung itung silaturrohim ti apih…..

    Wassalaam Wr Wb.

  23. 23 Alviano

    As wr wb…

    seorang bijak mengatakan bahwa seseorang yang mencari kesalahan orang lain adalah lalat,dimana dia hanya akan hinggap di tempat yang busuk.beberapa orang terbiasa mengucapkan kata “TAPI”. Tiap kali anda menyebut seorang,mereka akan mengatakan,Dia punya beberapa hal yang baik,tapi…” apa pun yang mengikuti “Tapi” Biasanya berupa kritik,kesalahan dan kecaman,atau bahkan celaan.

    “kecelakaan besarlah bagi setiap pengumpat lagi pencela.” ( al-humazah (104):1 )

    ” Yang banyak menyela,yang kian kemari menghamburkan fitnah” ( Al Qalam (68):11)

    “….dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain.” (al hujarat (49):12 )

    makin adil kita kepada orang lain, makin besar pula hormat mereka kepada kita. begitu juga sebaliknya .tak ada orang yang pintar yang berpikir bahwa dia akan mendapat kehormatan dan pujian dari orang lain dengan menhina dan merendahkan mereka.

    ” kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang” (al-muthaffifin (83): 1 )

    jadi pesan yang akan saya sampaikan janganlah kita memvonis atau menjelekan….sesuatu sebelum kita intropeksi diri kita dulu….

    kepada semua yang memberikan comments pakailah bahasa Indonesia karena tidak semua orang mengerti dalam bahasa sunda. maaf ya Pak Apih

    wassalaam…..

  24. 24 wow gold

    Excellent tips .I really appreciate all these points, and I agree completely…

  25. 25 raksa

    Assalamualaikum wrw wb,
    Saya pernah membaca suatu aturan yang ketat dari zawiyah tijaniyah yang mana intinya adalah merupakan syarat mutlak untuk mengikuti tijaniah;
    1. Tidak boleh mengunjungi/silaturahmi kepada wali baik yang masih hidup maupun yang sudah wafat selain wali dari tijani.
    “Menurut hemat saya, ziarah /silaturami merupakan amalan baik sebab hal tersebut diperintahkan dalam syariat islam, yang pada intinya harus menyambung tali silaturahmi”

    Nah hal ini menimbulkan image yang kurang bagus terhadap kelompok tersebut karena kelompok tsb merasa exclusive / lebih mulia disisi Allah dibandingkan kelompok lain. Sikap tersebut sudah diabadikan didalam al-qur’an merupakan kesombongan iblis tidak mau sujud/hormat kepada adam karena dirinya merasa paling mulia karena sudah menjadi imam ibadahnya para malaikat muqorobin, makanya dia menolak untuk sujud kepada adam.
    Nah apakah aturan yang diterapkan di tijani tidak menyimpang dari koridor hukum islam? dan apakah pernyataan syekh Ahmad Tijani yang dijadikan acuan persyaratan masuk tijani hanya dilihat dari dhohir ucapan Syech Ahmad Tijani saja? Saya yakin bahwa ucapan para wali tersebut termasuk Syekh Ahmad Tijani mengandung pernyataan yang metafora (dalam alquran disebut ayat mutasabihat) yang harus dicerna lebih dalam. Sebagai contoh ” seorang mursid suatu thoriqot berkata kepada muridnya; tinggalkan semua urusan dunia, kerjaanmu cuma dzikir kepada Allah”.
    Ucapan mursyid tersebut merupakan kalimat metafor karena maksud yang sesungguhnya adalah ” bukan memerintahkan muridnya supaya meninggalkan kasab/usaha tapi memerintahkan muridnya supaya urusan dunia/kasab/usaha tidak diletakan dihati, hati hanyalah tempat berdzikir, sedangkan kasab/usaha adalah pekerjaan fisik, dalam hal tersebut kasabnya kasabnya menjadi ibadah (berusaha sambil berdzikir)
    Nah ucapan Syech Ahmad Tijani pun tidak jauh beda seperti itu karena dia adalah seorang wali besar, hendaknya kita tidak melihat dari lahiriah ucapanya saja tapi harus dicerna lebih dalam lagi agar tidak terjadi taklid. Jadi aturan tersebut perlu direvisi lagi supaya tidak menjadikan keragu raguan bagi peminat seperti saya. Kurang lebih mohon maaf. Saya mohon pencerahan dari para ahli tijani. amin

  26. 26 Harun

    Bertarekat adalah mengamalkan ilmu/ajaran yang sah diizinkan (izazah) untuk diamal dan bukan ilmu/ajaran untuk dipikir/didiskusikan. Ajaran Tijaniyah lebih berkisar kepada istighfar, sholawat dan dzikir. Sedangkan hizib2 adalah ilmu atau alat untuk membantu kebutuhan duniawi kita. Jadi ilmu2 hizib tidak akan kita bawa ke akhirat, yang kita bawa hanyalah istighfar-sholawat-dzikir. Itu semua baru kita rasakan manfaatnya setelah kita amalkan dengan benar. Dalam arti susunan bacaannya benar, susunan hadiah hadroh (ila hadroti…) benar, dan yang memberi izazah pun orang yang memang sungguh2 asli/resmi diberi wewenang untuk memberi izazah, tidak boleh sembarang orang, tidak boleh mengamalkan dari kitab tanpa izin/izazah - karena tidak akan memberi manfaat, malah menjadi racun bagi yang mengamalkan. Kitab2 Tijaniyah umumnya ditulis dalam bahasa Arab yang sebagian besar kita orang Indonesia tidak mengerti artinya dan membacanya.
    Dan kalau pun dipaksakan untuk mengerti artinya, maka harus menyisihkan sebagian besar waktu hariannya untuk belajar dan itu akan membuang waktu dalam MENCARI NAFKAH. Dan mungkin pekerjaan yang lebih utama daripada membaca kitab, yaitu WIRID akan tersisihkan/terabaikan. Kecuali, kita memang belajar ilmu2 syari’at (fiqh, ushul, mutholaah hadits, masa’il, tafsir dll) maka berarti kita mengkhususkan diri, dan ilmu2 syari’at adalah ILMU PIKIR/AKAL bukan ILMU RASA. Jadi kerjaan orang2 tarekat bukan melulu wirid/zikir dari subuh ke subuh. Wirid/zikir itu ada waktunya masing2.
    Jadi, bagus sekali bila kita bisa membaca kitab untuk ditelaah dan didiskusikan (dan juga diperdebatkan). Bagi yang tidak bisa berbahasa Arab, yaa…cukuplah mengamalkan saja untuk manfaat dunia akhirat tiap individunya. Sebagai bukti karya orang2 Tijaniyah, seperti Presiden Soekarno dan Hasyim Asy’ari (pendiri NU). Kalau kerjaan beliau2 ini cuma wirid/zikir saja, bangsa ini tidak akan kenal dengan mereka 2 abad ke depan. Pendiri Al-Azhar Cairo Mesir, sebagian besar adalah orang2 Tijaniyah. Orang2 Tijaniyah di Maroko dan Afrika Utara sekitarnya juga berperang melawan Perancis.
    Saran saya, bila anda ingin mendapatkan manfaat yang sesungguhnya dari ilmu2 Tijaniyah, maka ambillah dari guru yang benar, bukan dari orang2 yang mengangkat dirinya (mengaku-aku) sebagai guru. Sehingga istighfar -sholawat dan dzikir akan memberi bekas atau manfaat pada diri anda. Demikian juga dengan hizib2 akan menampakkan kegunaannya. Kalau masih penasaran, datang aja yaa..ke Perum Cibalagung Indah No. 4 , Kel. Pasir Jaya, Ciomas (dekat kantor Kelurahan Pasir Jaya) dan bertanya langsung kepada Sayyidi Syaikh, terutama tentang kitab2 yang ada pada beliau. Atau kalau ingin bertanya mengenai masalah2 ruhaniah, silakan kontak dengan sdr. Muhammad Ikhsan di HP 08128354999. Bertanyalah tentang semua hal tentang Tijaniyah yang ingin anda ketahui.
    Mudah-mudahan penjelasan saya ini memberi arti dan manfaat.

  27. 27 raksa

    Al-hamdulillah wasyukurillah, terimakasih kepada sdr Harun yang telah memberikan respon terhadap saya. Tapi sayangnya belum tepat pada sasaran yang sebenarnya. Yang itu saya ngerti.
    Maksud saya, saya pernah membaca di web (bukan kitab)yang menyatakan bahwa persyratan untuk menjadi seorang tijaniyin itu adalah ” Tidak boleh mengunjungi wali2 lain selain dari wali tijani karena berdasarkan pernyataan dari Syekh Ahmad Tijani. Sedangkan bersilaturahmi itu diwajibkan dalam syari’at agama.
    Saya cuma hawatir sikap exclusive itu akan menimbulkan penyakit yang sangat halus yang tidak terasa yaitu “Ujub Riya,Takabur” yang akhirnya menjadi sebab timbulnya murka Allah aja wajala.
    Baiklah kalau sdr. Harun tidak keberatan tolong saya minta no.HPnya sayidi syaikh (namanya siapa?). Sebelumnya terimakasih atas bantuanya.
    Salam

  28. 28 Harun

    Saya kisahkan sebuah peristiwa ketika Syaikh Ahmad Tijani dikunjungi oleh 300 raja-raja Jin Islam dan 60 raja-raja waliyullah. 300 raja2 jin tersebut mengutarakan keinginan mereka untuk diangkat menjadi murid dari Sayyidi Syaikh. Tetapi Sayyidi Syaikh menjawab bahwa beliau ditugaskan hanya untuk kalangan bangsa manusia. Maka semua raja jin tersebut memohon agar diizinkan mengkhodam / menghamba kepada beliau. Dan beliaupun mengizinkan dengan syarat bahwa para raja jin tsb juga mengkhodam kepada syaikh/guru keturunan beliau. Tentunya yang dimaksud adalah syaikh/guru yang BENAR dan SAH secara ruhaniah. Demikian pula dengan 60 raja2 waliyullah, termasuk Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani, memohon kepada Sayyidi Syaikh agar diizinkan untuk berguru (alias diangkat sebagai murid) kepada beliau. Dan Sayyidi Syaikh pun berkata bahwa bagaimana bisa mereka berguru kepada Sayyidi Syaikh sementara derajat mereka adalah raja wali Allah. Dan Sayyidi Syaikh pun berkata bahwa beliau hanya mengayomi dan mendidik orang-orang yang masih hidup.
    Dari kisah di atas dapat kita bayangkan dan tarik kesimpulan bahwa betapa tinggi derajat beliau di atas derajat para raja waliyulah, serta betapa luas dan dalam ilmu dari Sayyidi Syaikh Ahmad Tijani. Kita bisa bayangkan, bahwa untuk para murid beliau sudah disediakan 2000 macam ilmu. Silakan para murid tholaab ilmu2 tsb sesuai kebutuhan tiap individu, tentunya dengan izin dan bimbingan dari GURU yang BENAR dan SAH secara ruhaniah.
    Syarat menjadi murid dari tarekat Tijaniyah adalah
    1. Harus taat kepada Allah & RasulNya
    2. Harus taat kepada Guru
    3. Harus taat kepada kedua orang tua
    4. Harus taat kepada Ulil Amri (pemerintahan yang
    BENAR dan SAH)
    Para pengikut Tijaniyah dianjurkan untuk bergaul dengan sesama manusia dari golongan manapun. Kalau tidak demikian, bagaimana mungkin Bung Karno bisa menjadi presiden dalam waktu yang lama? Bagaimana mungkin Hasyim Asy’ari mengembangkan Nahdhatul Ulama (NU) tanpa sosialisasi kepada masyarakat? Bagaimana mungkin HOS Cokroaminoto mendirikan pergerakan tanpa bantuan kawan2nya? Bagaimana mungkin Pesiden kita sekarang (SBY) dapat mempunyai relasi yang begitu luas dan kuat?
    Yang tidak boleh (dilarang keras) adalah mengunjungi wali-wali selain Tijaniyah, baik yang hidup maupun yang sudah meninggal. Sayyidi Syaikh Ahmad Tijani berkata bahwa tidak akan meninggal seorang Tijaniyah sebelum mendapat derajat kewalian (tentunya derajatnya sesuai amalan). Dan kisah 60 raja wali yang ingin berguru kepada Sayyidi Syaikh, termasuk Syaikh Abdul Qodir Jaelani. Silakan kita semua berpikir dengan keras dan mengambil kesimpulan, mengapa para pengikut Tijaniyah dilarang keras berziarah kepada wali2 selain Tijaniyah, pun kepada wali sekelas Syaikh Abdul Qodir (kecuali ada izin dari GURU), apalagi berziarah kepada wali2 kecil-menengah (wali wilayah)!! Seorang Tijaniyah yang BENAR amalannya, yang tekun dalam ibadahnya, sesungguhnya Nabi SAW akan hadir ketika mereka meninggal dunia dan ketika ditanya di dalam kubur, serta 70.000 malaikat akan berzikir untuknya. Mereka tidak akan meninggalkan dunia kecuali sudah sampai pada tingkat keWaliannya. Orang yang berziarah kepada wali2, tidak ada yang mereka harapkan kecuali keberkahan dan doa. Jadi, bagaimana bisa pengikut Tijaniyah yang dianugerahi mutiara keilmuan yang sangat tinggi harus memohon doa dan keberkahan dari wali2 selain Tijaniyah?? Apakah Guru2 / Syaikh2 mereka (termasuk Syaikh Ahmad Tijani) tidak cukup untuk dimintai doa dan keberkahan sehingga harus menghabiskan tenaga dan waktu untuk ziarah kepada wali2 lain?? Mengapa harus berziarah kepada wali2 lain, sementara 60 raja wali berziarah dan ingin berguru kepada Syaikh Ahmad Tijani?? Jika pengikut Tijaniyah ziarah pada Wali selain gurunya maka hubungan antara mereka dan guru2nya menjadi putus. Juga seluruh pemberian ilmu dari gurunya menjadi putus pula adanya. Mereka tidak ada apa-apanya di hadapan gurunya dan tidak ada yang akan mereka peroleh dari ziarah kepada orang lain. Allah tak menjadikan sesuatu pada seseorang yang bercabang dari dua hati.
    Dan patut pula disimak perkataan dari Sayyidi Syaikh, bahwa semua tarekat akan berakhir (hilang) di akhir zaman, kecuali tarekat Muhammadiyah (alias Tijaniyah). Nama Tijaniyah pada akhir zaman akan berubah menjadi Muhammadiyah. Semua tarekat di akhir zaman akan menjadi tarekat Muhammadiyah/Tijaniyah.
    Kepada semua pembaca yang simpati & empati kepada Tijaniyah, saran saya…….kalau pembawaan kita masih suka banyak bertanya, maka lebih cocok belajar saja dulu seterusnya tentang ilmu2 syari’at (seperti fiqh, ushul, tafsir, muthola’ah hadits, ilmu tentang ma’rifat, ilmu tentang tarekat, dll). Kalau sudah bulat hati masuk tarekat, tinggal diamal saja ilmu2/amalan tarekatnya (bukan ilmu yang membahas & membicarakan tarekat yaa..). Kalau manfaatnya dapat kita rasakan positif buat diri kita, yaa amalkan terus sampai tutup usia. Kalau tidak cocok dengan pembawaan kita, yaa tinggalkan saja.
    Tholaab yang BENAR dan semangat, ibadah yang tekun, biar qolbu terbuka lebar dan mengerti tanpa diberitahu.
    Untuk sdr. raksa, sebaiknya anda hubungi saja dulu sdr. Muhammad Ikhsan (putra dari Syaikh Muhammad Syu’aib) via HP 08128354999.

  29. 29 Harun

    Buat sdr. babaytarungderajat, sebelumnya saya mohon maaf, karena postingan saya sekarang juga mengutip beberapa email kita supaya pembaca2 yang lainnya juga mengerti dan semakin paham. Nggak apa-apa khan ?

    Assalaamu’alaikum.

    Dalam postingan saya terdahulu telah saya kemukakan bahwa, seorang Tijaniyah yang BENAR amalannya dan tekun dalam ibadahnya, sesungguhnya Nabi SAW akan hadir ketika mereka meninggal dunia dan ketika ditanya di dalam kubur, serta 70.000 malaikat akan berzikir untuknya. Mereka tidak akan meninggalkan dunia kecuali sudah sampai pada tingkat keWaliannya.

    Yang dimaksud dengan amalan yg BENAR adalah :
    - susunan bacaannya (redaksi) BENAR, tidak boleh ditambah atau dikurangi
    - susunan hadiah hadroh (ilaa hadroti…) BENAR, sesuai aturan Tijaniyah
    - menerima amalan harus dari orang yang BENAR Tijaniyah. Yaitu orang yang
    benar2 menerima izin/wewenang untuk memberi izazah, bukan sembarang
    orang walaupun dia murid Tijaniyah senior/sepuh. Atau paling bagus
    menerima izazah langsung dari MURSYID (Guru tarekat), yang biasa kita
    panggil SAYYIDI SYAIKH atau SYAIKH saja. Tidak boleh mengamalkan tanpa
    izazah dari kitab atau dari ikhwan2 seperguruan.

    Oleh karena itu, kepada saudara2 yg bercita-cita untuk memperdalam, menambah, mempertinggi keilmuan Tijaniyahnya, saya anjurkan untuk melihat dan menilai dahulu amalan2 Tijaniyah anda selama ini, terutama yg ladzim (dzikir ladzimah), sudahkan BENAR sesuai kriteria di atas? Kalau tidak, maka apa yang saudara2 amalkan selama ini setiap hari sore & subuh, hanyalah kesia-siaan belaka tanpa manfaat. Bahkan hanya menjadi RACUN bagi anda yang mengamalkan!
    Saya ingin menjelaskan dan mendudukkan kedudukan/jabatan MUQADAM. Arti muqadam yang sederhana adalah pembantu atau asisten dari seorang MURSYID (Guru Tarekat). Seorang muqadam hanyalah seorang murid, yang diberi izin atau keistimewaan saja oleh Mursyid untuk melakukan 2 (dua) hal saja, tidak lebih, yaitu :
    - memberi izazah aurod dan hizib2 kepada murid lain atau mengangkat murid
    baru, atas izin mursyid. Tentunya aurod & hizib2 yg diberikan oleh muqadam
    kepada murid lain adalah sebatas/sebanyak aurod & hizib2 yang telah
    muqadam tholaab/miliki.
    - mengajarkan ajaran Tijaniyah secara teori. Tentunya sebatas kemampuan
    akalnya untuk berbicara & mengkomunikasikannya dengan orang lain.

    Kalau kedua hal tersebut di atas tidak ada pada orang yang disebut muqadam, maka mutlak dipastikan bahwa dia bukanlah seorang muqadam, dan tidak akan pernah diakui. Dan apabila seorang muqadam berkhianat/ melakukan pelanggaran berat terhadap mursyid, maka status dia sebagai muqadam bisa dicabut kapan saja, bahkan bisa pula dipecat dari status murid. Apabila sudah tidak lagi menjadi murid, maka boleh2 saja dia mengamalkan aurad dan hizib2, pun tanpa minta izin, dengan segala resiko yg harus dia tanggung sendiri.
    Dan apabila setelah bukan lagi sebagai murid Tijaniyah, tetap memberi izazah kepada orang lain berupa aurad & hizib2, boleh2 saja dengan segala resiko yg harus dia tanggung.
    Dan patut diingat bahwa seorang muqadam tidak bisa mengangkat murid lain untuk menjadi muqadam baru. Yang berhak mengangkat muqadam hanyalah mursyid (guru tarekat).
    Jadi sdr babay, bila benar bahwa dulu anda pernah masuk-keluar “Tijaniyah”, apabila anda ta’liknya dari muqadam yang tidak sah, yaaa tidak apa-apa. Kalau anda ta’liknya dari muqadam yang sah (apalagi dari mursyid), jangan coba-coba mempermainkan diri (tidak serius) melakukan akhlaq seperti itu, karena nanti anda akan menerima resikonya yang hanya anda sendiri mengalaminya.
    Sekarang anda mencari-cari orang yang bisa/memiliki dzikir Ikhtiariyah untuk mengambil izazahnya. Ikhtiariyah khan bisa anda dapatkan ke kiai Yunus yg anda sebut sbg muqadam itu?? Dan anda sebut Kiai Badri Masduqi (alm) dan Habib Ja’far bin Ali Baharun adalah guru anda bukan? Anda juga sebut Syaikh Soleh Basalamah dan kiai Abdul Rasyid sebagai guru anda juga. Mengapa anda tidak minta izazah saja kepada orang2 tersebut yg anda hormati sebagai guru anda? Seperti yg pernah saya informasikan, bahwa di tarekat tijaniyah ada 2000 macam ilmu yang bisa ditholaab dan diizazahkan kepada murid2 Tijani. Mengapa anda tidak minta izazah saja kepada beliau2 tersebut semua ilmu Tijaniyah yang jumlahnya 2000 hizib, kalau beliau2 itu memang sebagai muqadam apalagi mengaku sebagai mursyid?
    Kalau saya tidak boleh memberi izazah kepada anda, karena saya bukan muqadam (apalagi mursyid juga bukan), harus ada izin dari guru untuk memberikan kepada anda walaupun HANYA bacaan sebuah wirid.. Sebaik-baik muqadam, menurut saya adalah yg sudah mengambil izazah puasa 100 hari, bukan dari usianya yang sudah sepuh/tua dan hapal/mahir dalam ilmu2 syariat. Tetapi, walaupun sudah izazah puasa 100 hari dan tidak mendapat izazah sebagai muqadam, yaa tetap tidak boleh memberi izazah kepada orang lain. Dan perlu anda ketahui, KH Badri Masduqi (alm) hanyalah seorang muqadam (murid plus), bukan mursyid, dan beliau tidak berhak mengangkat orang lain untuk menggantikannya sebagai muqadam, juga tidak berhak mengangkat muqadam untuk daerah lain. Jadi, saya kasihan kepada orang2 yg sudah “diangkat” murid oleh bapak YUNUS. Susah payah mengamalkan aurad/hizib setiap hari, tetapi tidak akan memberi faedah. Tetapi saya maklum, karena tidak adanya pengetahuan dan pemahaman yang benar mengenai aturan bertarekat Tijaniyah dan banyak disalahgunakan oleh murid-murid yg lancang dan melanggar aturan. Banyak dari murid2 yang diangkat sebagai muqadam, kemudian di belakang hari di depannya menyandang gelar dan mengaku-aku sebagai guru mursyid atau syaikh.

    Kalau saya perhatikan, di majlis Cibalagung Bogor , murid yang menjabat status sebagai muqadam rata-rata minimal telah izazah puasa 100 hari, plus beberapa aurad yang diamalkan. Kalau persyaratan menjadi muqadam sedemikian gampang menurut anda……maka saya kira di antara kami sudah banyak yang pantas menjadi muqadam. Dan belum tentu pula murid yg sudah izazah puasa 100 hari akan diangkat menjadi muqadam. Segala sesuatu terletak pada pandangan bathin dan kebijaksanaan guru (mursyid).

    Dari paparan saya di atas, saya kira anda akan bertanya-tanya; apa perbedaan dan keistimewaan antara murid yg ambil izazah Ikhtiariyah (atau amalan lain) tanpa izazah puasa 100 hari dengan murid yg ambil ikhtiariyah (atau amalan lain) tetapi sudah izazah puasa 100 hari (apalagi puasa 3 tahun). Jawaban saya adalah: perbedaannya yaitu laksana pisau yg sangat tumpul lagi sangat berkarat dengan pisau yg sangat tajam lagi sangat mengkilat.

    Oleh karena itu, bila anda ingin mengambil izazah aurod & hizib2 kepada semua orang yang memegang AMANAH Syaikh Ahmad Tijani, maka carilah dan datangilah muqadam2 yang BENAR, yang menerima ta’lik dari keturunan MURSYID yang BENAR atau datangilah langsung GURU/MURSYID Tijaniyah yang SHOHIH & HAQ. Dan saya juga menyayangkan, apabila orang-orang yang anda sebut di atas sebagai muqadam atau guru tarekat sudah pada meninggal dunia, maka timbul pertanyaan : GURU anda sekarang siapa yaa?
    Apakah guru anda sekarang murid2 lain yg mengangkat dirinya sendiri/ mengaku-aku sebagai muqadam bahkan sebagai mursyid? Atau bahkan anda sendiri yang kemudian mengangkat diri anda menjadi muqadam? lho, bukankah anda sebelumnya ingin mengambil izazah Ikhtiariyah & ilmu lainnya?
    Lalu apa yang akan anda katakan kepada “murid” anda kelak, bila dia ingin tholaab ilmu Ikhtiariyah atau bahkan ilmu2 yang lebih TINGGI lagi tingkatannya?

    Harapan saya, mudah-mudahan pikiran saudara2 semakin terbuka dengan penjelasan saya selama ini. Jangan biarkan waktu saudara2 terbuang percuma setiap hari, hanya untuk mengamalkan aurad/hizib2 Tijaniyah yg sama sekali tidak akan memberi faedah secara ruhaniah kepada anda, hanya dikarenakan saudara2 menerima dari orang yang tidak SAH untuk memberi izazah atau saudara2 baca dari kitab tanpa izazah.

    Kepada sdr. babay, sekali lagi mohon maaf, tulisan di atas bukan untuk anda seorang, tetapi untuk seluruh pembaca setia blog ini.

    Wassalam.

    HARUN
    tijani121@gmail.com

  30. 30 Tilmidz Sidi Genoun

    @Harun,

    Sudikah kiranya, jika semua postingan2 anda, akan saya sampaikan (diterjemahkan) kepada Masyaikh Tijaniyyah di Maroko, karena apa yang anda sampaikan sungguh2 menakjubkan, sayangnya anda tidak menyebutkan dalam kitab apa anda mengutip pernyataan2 anda dan segala ajaran2 yang anda sampaikan, sangat janggal bagi kami.

    Sanad saya dalam tariqah Tijaniyyah ini adalah dari Allamah Sultan al-Muqaddam Sayyidi Sheikh Muhammad Ar-Radhi Genoun (Rabat-Maroko), beliau memiliki lebih dari 50 sanad muttashil kepada Sayyidi Sheikh Abul Abbas Ahmad al-Tijani r.a

    Alhamdulillah, kami sempat pula berbincang2 empat mata dengan Sayyidi Sheikh Muhammad Thohir bin KHALIFAH ALI TIDJANI bin KHALIFAH MAHMOUD TIDJANI bin KHALIFAH MUHAMMAD BASYIR TIDJANI bin KHALIFAH MUHAMMAD HABIB TIDJANI bin SAYYIDI SHEIKH ABUL ABBAS AHMAD BIN MUHAMMAD TIDJANI R.A. dan menerima ajaran zikir dari beliau.

    Perlu anda ketahui, bahwa semasa hidupnya Sayyidi Sheikh Ahmad Tidjani r.a, telah memberi wasiyat bahwa keKhalifahan tariqah Tijaniyah akan diurus oleh Zurriyat (keturunannya) dan Sayyidi Sheikh Ali bin Isa Tamasini (Aljazair). Ke-Khalifahan Aam, saat ini dipegang oleh SAYYIDI SHEIKH MUHAMMAD BIN MAHMOUD TIDJANI (AIN MADHI - ALJAZAIR).

    Saya sempat bertemu dan berbincang2 dengan Ulama2 Muqaddam Tijaniyyah lainnya dari berbagai belahan dunia. Dan sayangnya “ajaran” Tijaniyyah seperti anda jelaskan di blog ini, cuma anda saja yang mengajarkan, DAN TIDAK YANG LAINNYA….oleh karena itu ajaran anda agaknya VERSI ANDA SENDIRI…

    Wasalam

  31. 31 Harun

    Sidi Genoun,

    Mohon kiranya anda berkenan memberitahu saya, mengenai perihal apa dalam postingan2 saya yang anda anggap janggal; yang anda sebut sebagai VERSI SAYA sendiri ? Apakah mengenai silsilah guru/MURSYID thoriqot Tijaniyah di Indonesia (dari Maroko hingga ke Indonesia) atau mengenai aturan/adab dalam tholaab ilmu-ilmu Tijaniyah ? Mohon lebih diperinci karena beberapa postingan telah dimuat di dalam weblog ini.
    Bila mengenai silsilah guru mursyid di Indonesia, maka KAMI sampaikan kepada khalayak ramai bahwa sanad/silsilah yang benar mengenai guru mursyid thoriqot Tijaniyah di Indonesia adalah seperti yang diposting oleh rekan saya di blog luluvikar.wordpress.com, sebagai berikut,

    Silsilah Guru Thoriqot At-Tijani dari Maroko sampai masuk ke Indonesia:

    1.Syeikh Ahmad Tijani
    2.Syeikh Muhammadil Ghola
    3.Syeikh Alfa Hasyim
    4.Syeikh Ali At-Thoyyib
    5.Syeikh Maulana Al-Haji Utsman Dhomiri (Cimahi, Bandung)
    6.Syeikh Maulana Al-Haji Muhammad Sujatma Al-Ismail (Parakan, Bogor)
    7.Syeikh Maulana Al-Haji Muhammad Syu’aib bin Mamat(Cibalagung, Bogor). Majelis Ta’lim Baitur Rokhmat. Jl. Cibalagung Indah I No.4, di belakang Kantor Kelurahan Pasir Jaya, Bogor barat.

    Mungkin anda sudah mengetahui, bahwa sejak wafatnya Syaikh Usman Dhomiri, sanad/silsilah guru mursyid seperti terputus dan saya merasa bahwa sebagian besar murid kala itu beranggapan bahwa tidak ada lagi mursyid sepeninggal Syaikh Usman. Sehingga beberapa murid (terutama yang senior/sepuh) mengangkat diri atau diangkat oleh murid2 lainnya untuk menjadi muqadam2 sebagai penerus perjuangan Syaikh Usman. Kondisi seperti ini sebenarnya sangat mudah untuk dipahami, mengingat kala itu Indonesia dalam masa penjajahan, di mana alat/perangkat komunikasi sangat minim atau boleh dikata tidak ada, sehingga pengkhabaran tentang kelanjutan operasional perguruan boleh dikatakan sangat sulit untuk dilakukan. Akibatnya penunjukkan Syaikh Muhammad Sudjatma Ismail oleh Syaikh Usman sebagai guru mursyid penerus tidak banyak yang mengetahui dan kemudian terjadi penolakan2 atas kepemimpinan Syaikh Muhammad Sudjatma. Dan kondisi seperti tersebut si atas berlaku sampai sekarang kepada penerus Syaikh Muhammad Sudjatma, yaitu Sayyidi Syaikh Al-Hajj Muhammad Syu’aib. Adapun mengenai guru mursyid di wilayah/negara lain, tentunya mempunyai sanad/silsilah tersendiri.

    Berangkat dari soal pengangkatan Syaikh Muhammad Sudjatma disertai penolakan2 oleh sebagian murid Syaikh Usman serta beberapa adab mengenai tholaab (menimba ilmu) ilmu2 Tijaniyah, maka saya mulai menulis postingan2 untuk memberi tanggapan dan penjelasan tentang sanad/silsilah guru mursyid di Indonesia dan aturan bertarekat Tijaniyah (Anda mungkin bisa menyebut hal ini sebagai ajaran ??).

    Saya berterima kasih atas tulisan anda Sidi Genoun, yang anda tujukan kepada diri saya. Dan hal ini menjadi saksi bahwa postingan2 saya ternyata banyak dibaca dan diperhatikan oleh pengikut2 dan simpatisan Tijaniyah. Tetapi saya merasa bahwa kedudukan saya yang hanya seorang MURID tidaklah sebanding dengan kedudukan Sidi Genoun yang adalah seorang guru sekaligus memiliki silsilah dengan Syaikh Muhammad Ar-Radhi Genoun. Oleh karena itu, saya merasa bahwa inilah saatnya Sidi Genoun berkenan untuk berkomunikasi dengan guru saya Sayyidi Syaikh Hajji Muhammad Syu’aib. Bila komunikasi antara Sidi Genoun dengan Syaikh Muhammad Syu’aib terjadi, maka ini adalah peristiwa yang sangat menggembirakan. Pertama, dapat terjalin tali persaudaraan yang baik antara Sidi Genoun dengan kami, dan yang kedua adalah untuk meluruskan postingan2 saya selama ini.

    Mohon Sidi berkenan untuk memberikan alamat email Sidi (email saya : tijani121@gmail.com) agar saya dapat memberikan nomor handphone Syaikh Muhammad Syu’aib (dengan izin beliau) kepada Sidi, sehingga suatu saat Sidi Genoun dapat menghubungi dan berkomunikasi dengan beliau. Dan tulisan anda akan saya sampaikan kepada Sayyidi Syaikh pada hari lusa, pada dzikir sholawatan terakhir qobla Ramadhan hari Kamis tanggal 20 Agustus di Bogor. Dan mohon saya diberitahu; Sidi Genoun berdomisili di mana (kota/negara) ??

    Mengenai keinginan anda untuk menyampaikan postingan2 saya kepada Masyaikh Tijaniyah di Maroko, maka saya sangat gembira bila hal itu sampai terjadi. Paling tidak para Masyaikh di Maroko dapat mengetahui tentang postingan2 saya kepada kaum anti Tijaniyah dan tentang kebanggaan saya sebagai seorang pengikut Tijaniyah.

    Apabila ada kata-kata yang kurang berkenan, sudilah kiranya Sidi Genoun memaafkan.

    Wassalam.

  32. 32 Tilmidz Sidi Genoun

    @ Harun

    Apakah anda mengetahui bahwa sekitar tahun 1984, dua orang Ulama besar Indonesia telah berziyarah ke Fez Maroko, bernama (alm) KH.Mas Umar Baidhowi Ba’syaiban r.a dan (alm) KH Badri Mashduqi r.a (keduanya dari Jawa Timur). Dan mereka berdua juga telah di-Ijazahi dan diberi Izin mengangkat Muqaddam dari Allamah Sayyid Sheikh Idris bin Muhammad al-Abid al-Husayni al-Iraqi r.a, beliau adalah masyaikh besar Tariqah Tijaniyyah sekaligus IMAM ZAWIYAH KUBRO SAYYIDINA SHEIKH AHMAD TIJANI R.A di Fez - Maroko. Pada tahun 1995, Allamah Sayyidi Sheikh Idris al-Iraqi r.a berkunjung ke Indonesia, salah satunya ke Pesantren Badridduja (Kraksaan - Jatim) yang diasuh muridnya KH Badri Mashduqi r.a.

    Kami, tanya apakah anda kenal (dalam artian bertemu tatap muka dan bercakap2) dengan KH Badri Mashduki ?

    Sanad KH Badri Mashduki r.a
    1. Dari KH Muhammad bin Yusuf (Surabaya) dari KH Khawi (Buntet Cirebon) dari KH Abbas (Buntet) dari Sayyidi Sheikh Ali al-Thayyib dst

    2. Dari Sayyid Makawi (Sudan) bersambung hingga Sayyid Muhammad Hafidz Synqithy dari Sayyidi Sheikh Ahmad al-Tijani r.a (maaf tidak disebutkan lengkap sanadnya karena keterbatasan waktu dan tempat). KH Badri bertemu Sayyid Makawi (Sudan) di Mekkah, tepatnya di rumah Allamah Abuya Sheikh Muhammad bin Alwi al-Maliki (Mufti Maliki Mekkah)

    3. Dari Sayyidi Sheikh Idris al-Iraqi dari Sayyid Ahmad Sukairij dari Sayyid Ahmad Abdallawi dari Sayyid Ali Tamasini dari Sayyidi Sheikh Ahmad Tidjani r.a

    Guru2 yang kami sebutkan diatas memberi Izin Ijazah Lengkap (termasuk mengangkat Muqaddam) kepada Sayyid Badri Mashduki (Allah Yarham)….

    Perlu diketahui, bahwa di Indonesia sendiri, walaupun diakui bahwa Sayyidi Sheikh Ali bin Abdullah al-Thayyib r.a adalah perintis tariqah Tijaniyyah di Indonesia. Namun dalam perjalanan masa, banyak ulama-ulama Indonesia yang mengambil tidak melalui jalur sanad Sheikh Ali at-Thayyib r.a, dan mengembangkannya di Indonesia. Contoh sederhana, saudara saya kuliah di Mesir dan mengambil tariqah Tijaniyyah dari Masyaikh Tijaniyyah di sana.

    Saya sarankan anda mengkoreksi dahulu tulisan anda, sebelum menuangkannya ke Blog, apalagi menyangkut nama ulama.
    Tasawwuf itu ilmu ahlaq, saudaraku..Menyinggung apalagi mendiskreditkan ulama Tijaniyyah akan sangat berbahaya, karena anda secara tidak langsung mendiskreditkan guru dan sanad mereka. Na Udzu Billahi Min Dzalika…

    Perihal Guru kami, Allamah Sayyid Muhammad Genoun al-Hassani r.a, beliau mukim di kota Rabat (Ibu kota Maroko)..

    Wassalam

  33. 33 Harun

    Bapak/Sdr. anonim, murid dari Sidi Genoun.

    Terima kasih atas perhatian bapak/sdr terhadap tulisan saya di blog, walaupun tidak selalu benar. Tetapi itulah manfaat dari blog yaitu; menyampaikan keinginan menuangkan pikiran dalam bentuk tulisan & menerima reaksi atas tulisan tsb (baik kritik, saran, teguran, cacian, makian, dll)

    Saya telah bertanya dan sampaikan tulisan bapak/sdr kepada Sayyidi Syaikh Muhammad Syu’aib; dan beliaupun MEMBENARKAN bahwa KH. Badri Masduqi (Allah yarham) dan KH Umar Baidhowi (Allah yarham) adalah guru mursyid yang BENAR dan HAQ yang juga mewarisi seluruh keilmuan dari Sayyidi Syaikh Ahmad Tijani. Beliau membenarkan bahwa kedua masyaikh tsb datang ke Al-Fez dan menerima izazah sbg guru mursyid dari Sayyidi Syaikh Idris bin Muhammad al-Abidal-Husayni.
    Dengan adanya pemberitahuan tsb, saya mohon maaf atas kekeliruan saya terutama kepada guru mursyid penerus dari (alm) KH Badru Masduqi, kalau tidak salah bernama KH Jakfar (mohon maaf & dibenarkan bila salah sebut).
    Tetapi apa yang saya lakukan semata-mata ingin memberi penjelasan yang benar, terutama kepada “penganut2 Tijaniyah” yang masih menyimpang agar paham tentang sanad/silsilah dari guru2 mursyid yang ada di Indonesia.

    Dengan demikian, melalui bloq ini para pembaca menjadi tahu, bahwa tarekat Tijaniyah semakin ramai dan berkembang di Indonesia. Jadi para ikhwan dan peminat Tijaniyah, terutama yang bermukim di Jawa Timur dan sekitarnya, berbahagialah & berbanggalah bahwa ternyata seorang guru mursyid Tijaniyah yang HAQ ada di dekat saudara2.

    Melalui blog inilah, beberapa pengamal Tijaniyah dari tempat lain telah datang ke majlis kami di Cibalagung Bogor (sebagai perguruan Tijaniyah tertua) dan merevisi amalan2-nya. Dan mudah-mudahan demikian pula di daerah timur, para pengamal Tijaniyah dapat merevisi amalan2nya di majlis Kraksan PROBOLINGGO (sebagai perguruan Tijaniyah termuda).

    Kepada bapak/sdr, bila anda tidak berkeberatan, saya mohon bisa dikirim photo dari masyaikh berikut: Syaikh Badri Masduqi, Syaikh Umar Baidhowi, Syaikh Muhammad Ar-Radhi Genoun, dan guru mursyid majlis Kraksan yang sekarang. Bila ada biaya yang harus dikeluarkan mohon saya diberitahu kemudian, ke alamat: Jl. Purwakarta No. 121 Bandung 40291

    Demikian sambung rasa antara kita, mudah-mudahan Allah mengampuni kita berdua dan menghimpun sebagai keluarga besar Syaikh Ahmad Tijani.
    Salam dari KAMI untuk sayyidi Syaikh dan ikhwan2 di sana.

    Assalaamu’alaikum warohmatullohi wabarokaatuh.

    HARUN
    Bandung

  34. 34 tilmidz Sidi Genoun

    @H.Harun,

    Sekedar tambahan, bahwa di Jawa Tengah dan Jawa Timur, merupakan basis tariqah Tijaniyyah yang cukup kuat dan memiliki pengikut yang banyak, jika mengadakan acara rutinan bisa mencapai ribuan orang. Beberapa ulama Tijaniyyah yang bisa disebut disini (berikut sanadnya adalah)

    1. Habib Jafar bin Ali Baharun al-Husaini r.a (Ponpes Tarbiyatu Tijaniyyah - Probolinggo), menerima Ijazah dari Sayyid Muhammad Bal Hassan al-Jakkani (Maroko) dari Sayyid al-Ahsan Baaqili dari Sayyid Husein al-Ifrani dari Sayyid Sayyid Muhammad Akansous al-Qurshi dari Sayyid Muhammad al-Ghola dari Sayyidna Abul Abbas Ahmad at-Tijani r.a dari Sayyidul Wujud Rasulullah S.A.W

    2. Sayyid Sholeh bin Muhammad Basalamah (Ponpes Darussalam - Brebes), menerima Ijazah dari Sayyid Hassan bin Ali Cisse (Senegal) dari Sayyid Ibrahim Niasse dari Sayyid Ahmad Sukairij dari Sayyid Ahmad Abdallawi dari Sayyid Ali Tamasini r.a dari Sayyidna Ahmad Tijani r.a dari Rasulullah SAW. Sayyid Sholeh Basalamah, menerima Ijazah Taqdim dari Syaikh Hassan Cisse di Fez - Maroko. Sebelumnya Syaikh Sholeh belajar di Makkah kepada Abuya Muhammad bin Alwi al-Maliki (Mufti Makkah).

    Untuk Pulau Madura dan Sekitarnya,

    1. Ikhwan Tijaniyyah disana umumnya mengambil kepada KH. Ahmad Jauhari Khatib (Ponpes Al-Amin Sumenep) yang menerima Ijazah Taqdim kepada Syaikh Muhammad bin Abdul Hamid Al-Futi r.a (Madinah) yang menerima dari Syaikh Alfa Hashim (Madinah), jadi tidak melalui Syaikh Ali at-Thoyyib r.a yang juga menerima dari Syaikh Alfa Hashim.

    Adapun Zurriyah Sayyid Ali at-Thoyyib r.a bernama Sayyid al-Habib Luqman bin Muhammad bin Ali at-Thoyyib r.a, menerima banyak sekali Ijazah Muqaddam, yang terakhir adalah dari Sayyidi Sheikh Basyir bin Allal (Zurriyah Sayyidna Sheikh Ahmad Tijani r.a). Beliau mukim di Bogor Jawa Barat.

    Jika boleh tahu, bagaimana perkembangan Tijaniyyah di Jawa Barat, anda menyebut Sayyid Sheikh Usman Dhomiri r.a, bisa jelaskan lebih lanjut kepada kami, perihal beliau dan muqaddam-muqaddamnya, masih adakah muqaddam lainnya selain dari jalur Sayyid Syuaib? dan adakah Zurriyah Sayyid Sheikh Usman Dhomiri yang masih aktif?

    Ikhwan Tijaniyyah yang cukup banyak kami ketahui berada di Garut Jawa Barat dan Cirebon.

    Wallahu a’lam bissahwab

  35. 35 juned

    ..Asaalamualaikum wr wb,..

    …Hanya ingin dapat pencerahan dari kalian semua disini,..tntang Tarekat Tijaniyah,….yg didirikan Syekh Ahmad al-Tijani. ,..adapun pernah baca dlm boigrafi nye tentang,,,:

    1>>Muhammad Sayyid At-Tijani meriwayatkan dari Nabi  bahwasa beliau bersabda:
    رَأَيْتُ رَبِّي فِي صُوْرَةِ شَابٍ
    “Aku melihat Rabbku dlm bentuk seorang pemuda.”

    Padahal Allah  telah berfirman:
    لَيْسَ كَمِثْلِه شَيْئٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
    “Tidak ada sesuatu pun yg serupa dgn Allah dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”
    قَالَ رَبِّ أَرِنِي أَنْظُرْ إِلَيْكَ قَالَ لَنْ تَرَانِي ..
    “Berkatalah Musa: ‘Wahai Rabbku nampakkanlah kepadaku agar aku dapat melihat-Mu.’ Allah berfirman ‘Kamu sekali-kali tdk akan sanggup melihatku’”

    ….Hanya ingin minta pencerahanya???

  36. 36 Tilmidz Sidi Genoun

    Wa Alaykum Salaam

    Dalam biografi yang mana yang pernah anda baca? Dari kitab2 Muktabar Tariqah Tijaniyyah? atau hanya kutipan dari kutipan dari fihak penentang Tijaniyyah? Banyak yang sekedar mengutip asal-asalan, tanpa tabayyun, klarifikasi dari ahlinya? Mohon disebutkan dalam kitab apakah anda temukan?

    Semata-mata agar anda menjauhi buruksangka sama ulama-ulama..
    Syeikh Muhammad Sayyid at-Tijani r.a itu bukan orang yang sama dengan Sayyidna Sheikh Ahmad bin MUhammad Tijani r.a.

    Nama “Tijani” dinisbatkan pada sebuah qabilah di Ain Madhi-Aljazair, disebut Kabilah Tijani, dimana Sayyidna Ahmad Tijani al-Hassani r.a adalah salah seorang keturunan darinya.

    Seperti, ada yang mengaggap bahwa Dr.Muhammad Tijani Samawi adalah pengikut tariqah Tijaniyyah, padahal bukan. Dr.Tijani Samawi adalah salah seorang penganut Mazhab Syiah yang berasal dari Maghrib.

    Kadang-kadang kalam para Awliyaa seperti Ahli-ahli Sufi Tariqah memang sukar difahami, ada beberapa yang seakan menyalahi syariat padahal tidak. Husnudzon adalah wajib atas mereka.

    Mereka yang ingin memahami kalam para sufi…harus duduk bersama mereka..dan belajar dengan adab kepada mereka..

    Wallahu a’lam bisshawab
    Wassalammu’alaykum

  37. 37 juned

    Wa Alaykum Salaam

    …Sabar² Mas,..ane hanya minta pencerahan aja,..Klo emank itu tidak benar,dan bisa di klarifikasi,..Yo wes..apa masalah nya,..????…Jadi memang di tempat ane ini,..apalagi tepatnya dirumah ane ya,..sering bgt diadakan Perkumpulan Tharikat Atiijani,..Dan termasuk abang ane semuanya,..termasuk ikut dlm Tharikat ini,..Nah yg jdi Msalah klo udah TahliL,..dRI ASHAR smpe Bedug Magrib yg ada terus Tahlil,..smpe adzan pun mungkin ga didenger x,…Yahh trus ga tau deh pde sholat magrib jam brape….Kutipan ane diatas ,ane ambiL dri Blog sebelah,..

    للَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْفَاتِحِ لِمَا أَغْلَقَ وَالْخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ, نَاصِرِ الْحَقِّ بِالْحَقِّ الْهَادِي إِلَى صِرَاطِكَ الْمَسْتَقِيْمِ وَعَلىَ آلِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارُهُ عَظِيْمٌ

    “Ya Allah berikanlah shalawat kepada Baginda kami Muhammad yang membuka apa yang tertutup dan yang menutupi apa-apa yang terdahulu, penolong kebenaran dengan kebenaran yang memberi petunjuk ke arah jalan yang lurus. Dan kepada keluarganya, sebenar-benar pengagungan padanya dan kedudukan yang agung.”

    Berkata At-Tijani tentang shalawat ini
    “….Kemudian (Nabi shallallahu alaihi wasallam) memerintah aku untuk kembali kepada shalawat Al-Fatih ini. Maka ketika beliau memerintahkan aku dengan hal tersebut, akupun bertanya kepadanya tentang keutamaannya. Maka beliau mengabariku pertama kalinya bahwa satu kali membacanya menyamai membaca Al Qur’an enam kali. Kemudian beliau mengabarkan kepadaku untuk kedua kalinya bahwa satu kali membacanya menyamai setiap tasbih yang terdapat di alam ini dari setiap dzikir, dari setiap do’a yang kecil maupun besar, dan dari Al Qur’an 6.000 kali, karena ini termasuk dzikir.”

    Telah bersabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:
    خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
    “Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al Qur’an dan mengajarkannya.”
    (HR. Bukhari dan Tirmidzi dari Ali bin Abi Thalib. Dan datang dari hadits’Utsman bin ‘Affan riwayat Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah)
    Dan juga Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:

    مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لاَ أَقُوْلُ : { ألم } حَرْفٌ، وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيْمٌ حَرْفٌ

    “Barangsiapa yang membaca satu huruf dari kitab Allah, maka baginya satu kebaikan. Dan satu kebaikan menjadi sepuluh kali semisal (kebaikan) itu. Aku tidak mengatakan: alif lam mim itu satu huruf, namun alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim itu satu huruf.” (HR.Tirmidzi dan yang lainnya dari Abdullah bin Mas’ud dan dishahihkan oleh Al-Albani rahimahullah)

    http://attanzil.wordpress.com/2008/07/20/sholawat-fatih-kebanggaan-tarekat-tijaniyah/

    Nah Loh,..Klo mo komplein silahkan kmplein ke Blog na,…ane mah cuma minta pencerahan disini,..Masa c minta pencerahan harus dteng ke Bogor mas,.

  38. 38 juned

    Pada hal 52-53, tertulis …….Bagi seseorang yang mengikuti tarekat tijaniyah ini akan di berikan jaminan, beberapa jaminan tersebut akan mendapatkan, diantaranya No# 8 Derajad kewalian ketika meninggal, No# 9 Keamanan pada hari kiamat, No# 10 Jaminan masuk surga tanpa hisab,

    Semua jaminan tersebut tentunya akan di peroleh jika sesorang telah memenuhi syarat dan kewajibannya. Dan diantara syarat dan kewajiban tersebut diantaranya

    No# 2 Mendapat izin dari ibu bapak dan suami, No# 3 Guru (muqadam, khalifah) yang memberi ijazah dan mentalkin/membai’at telah mendapat izin Syaikh Ahmad bin Muhammad Tijani dan penerusnya, No#4 harus lepas dari wirid lain, selain gurunya.

    …Wew Yg ini ane tambah pusing bin bingung,…Apalagi yg Nomer 10 jaminan masuk surga tanpa Hisab,..

    Tidak sangat masuk Logika Mas,..Klo tarekat tijaniyah ini akan mendapatkan derajad kewalian, masuk surga tanpa hisab dan juga mendapatkan keamanan pada hari kiamat dengan ketentuan untuk masuk tarekat ini harus ada ijin orang tua dan suami, Guru (muqadam, khalifah) yang memberi ijazah dan mentalkin/membai’at telah mendapat izin Syaikh Ahmad bin Muhammad Tijani dan penerusnya dan juga harus lepas dari wirid lain.

    Apakah bila kita mengikuti sunnah rasulullah harus ada izin dari siapapun dan juga harus lepas dari wirid yang lain, atau guru yang mengajarkan sunnah Rasulullah harus mendapat izin dari rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam ? jawabnya adalah TIDAK,..

    Allah menyatakan dalam firmannya:

    Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan. (An-Nur 52)

    Dan barangsiapa di antara kamu sekalian (isteri-isteri Nabi) tetap taat pada Allah dan Rasul-Nya dan mengerjakan amal yang saleh, niscaya Kami memberikan kepadanya pahala dua kali lipat dan Kami sediakan baginya rezki yang mulia.(al Ahzab : 31)

    …….Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya; niscaya Allah akan memasukannya ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai dan barangsiapa yang berpaling niscaya akan diazab-Nya dengan azab yang pedih. (Al Fath 17).

    ..Apakah ga terlalu berlebihan Mas,(klo anak gaul skrang bilang na Lebay)..Pengikut THARIKAT ini jaminan Surga tanpa Hisab,..Sdngkan Al-Quran saya Sudah Bawa Loh mas,…

  39. 39 Tilmidz Sidi Genoun

    Akan menjadi sangat panjang membahasnya..blog At-Tanzil membahas buku susunan KH Sholeh Basalamah dan KH Misbahul Anam, sayangnya si pembuat blog tidak tabayyun ke pengarangnya langsung, agar dapat pencerahan (seperti yang anda inginkan)…jadi si pembuat blog mengutip dan menyimpulkan sendiri, tidak masalah kalo untuk sendiri. Hanya saja kalau mau disebarluarkan lewat blog..sebaiknya klarifikasi/tabayyun ke ahlinya…semata2 menjauhi prasangka jelek..Dulu sekitar tahun 1928 sempat terjadi salah faham soal tariqah Tijaniyyah. Sampai akhirnya Nahdlatul Ulama dalam Muktamar-nya membahas soal Tariqah Tijaniyyah, jadi para ulama berkumpul, dari kedua pihak baik yang pro maupun kontra..membahas soal2 seperti yang anda sebutkan tadi..dengan begitu menghilangkan prasangka…dan membahas apa-apa yang menjadi ganjalan.

    1. Tahun 1928…memutuskan bahwa Tariqah Tijaniyyah itu dipandang Sah sebagai salah satu tariqah Muktabarah
    2. Tahun 1931..kembali memutuskan bahwa Tariqah Tijaniyyah itu sah

    Namun, hal semacam ini, e.q Sufi, Tariqah, Tasawwuf dsb hanya akan mudah difahami bagi orang yang memang memiliki pemahaman Sunni sebagaimana difahami jumhur ulama contohnya Sunni sebagaimana difahami kalangan Nahdlatul Ulama. Bagi yang berpandangan Wahabi/Salafi dan sejenisnya akan menjadi sangat sulit difahami…

    Kalaupun anda memang berminat mencari pencerahan, mengapa anda tidak meniru para ulama terdahulu, datang baik-baik, klarifikasi, tabayyun, dan diskusi bersama soal tariqah ini bersama para ahlinya…

    Seperti yang saya katakan tadi :

    Masukilah rumah melalui pintunya…

    Tilmidz Sidi Genoun

  40. 40 tilmidz Sidi Genoun

    Seorang Ulama Ahli Zahiri, bersyair perihal kaum Sufi :

    KALAM AL-AWLIYA LASTU AFHAMU

    LI ANNANI ANA ANA WA HUMU HUMU

    UCAPAN PARA WALI ITU, TIDAKLAH AKU MENGERTI

    KARENA AKU HANYALAH AKU SENDIRI..DAN MEREKA ADALAH MEREKA

    Untuk belajar Fikih secara mendalam e.q Ushul Fiqh..tentunya harus datang dan belajar kepada ahlinya…demikian pula ilmu tasawwuf khususnya tariqah Sufi dan sejenisnya…

    Sekian

  41. 41 juned

    ,,Masukilah rumah melalui pintunya…Sebelum ane Masuk Rumah melalui pintunya ane Lebih dahulu Mengucapkan Salam mas…

    …Yo wes,….Thks Atas pencerahanNya,..Ane mo kupas tuntas dulu Buku² na dirumah,..Dan ketika ingin minta pencerahan ane balik lagi kesini,..

    الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِينًا

    “Pada Hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu, dan telah Kuridhai Islam sebagai Agamamu.” (Al-Maidah: 3)

    Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (Al Ahzab/33:21).

    Maka dari itu tidaklah sempurna iman seseorang apabila ia lebih mencintai anaknya, ayahnya, istrinya dan seluruh manusia dibandingkan Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa sallam, seperti diriwayatkan oleh Anas bin Malik ra: Aku pernah mendengar Rasulullahi sholallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    لاَ يُئْمِنُ أَحَدُ كُمْ حَتّي أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَا لِدِهِ وَوَلَدِهِ وَ النَّاسِ أَجْمَعِيْنَ (متفق عليه)

    “Tidak (sempurna) iman seseorang diantara kamu sehingga aku lebih ia cintai dari ayahnya, anaknya dan dari manusia seluruhnya. ( HR Bukhari Dalam Kitab Iman & Muslim dalam Kitab Iman, dan hadist ini juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Ibnu majah, An Nasai, dan Ibnu Hiban dan hadist ini adalah Sahih)

    Thks,…
    .Asaalamualaikum wr wb,..

  42. 42 Harun

    Assalaamu’alaikum semuanya!

    Hallo juned, pertanyaan2 anda adalah hal yang usang/lama dan selalu berulang, sepertinya anda baru dalam hal ini. Saya mau mencoba membantu anda untuk mendapatkan pencerahan seperti yang anda inginkan. Tetapi anda harus berjanji, bahwa setelah pencerahan yang saya berikan kepada anda selesai, maka anda harus berterima kasih kepada saya. Setuju ?

    1, Anda menukil perkataan Muhammad Sayyid At-Tijani, yg menyatakan bahwa Nabi SAW pernah melihat Allah dalam bentuk seorang pemuda. Jawaban saya: “Kita bukan Nabi SAW/setingkat dg Nabi SAW, maka jangan berharap hal yg sama bisa anda alami. Benar tidaknya Nabi SAW mengalami hal tsb, saya kira biarkan saja, karena tetap tidak akan memberi faedah kepada anda bukan? Dan kalau Nabi SAW mengalami hal tsb, apa faedah terbesar yg dapat anda nikmati? Atau anda bisa tanyakan langsung hal tsb kepada beliau SAW. Bukankah beliau masih hidup, begitu juga orang2 shalih dan yg mati syahid?
    Lalu, dalam bahasa Arab (pasti anda sangat fasih), Allah selalu di tulis dengan perlambang seorang laki-laki (pemuda) dalam bentuk tulisan HUWA, HU…..(mohon maaf saya tak punya software arab). Dan tak pernah ada penulisan kata ganti untuk Allah dengan tulisan HIYA, HA….. Jadi wujud Allah dalam bentuk laki-laki dan penulisan Allah dalam bentuk laki-laki, semata-mata untuk menunjukkan/melambangkan keperkasaan, kekuatan, kebesaran, kegagahan, dll.

    Bila anda berpikir apakah Syaikh Ahmad At-Tijani pernah mengalami hal yang sama seperti yg dialami oleh Nabi SAW? Saran saya: anda harus bertanya kepada Syaikh Ahmad At-Tijani, bagaimana cara supaya anda bisa/mampu untuk mengalami hal tsb, yaitu melihat Allah dalam bentuk seorang pemuda. Cara yg saya maksud disini adalah cara yg khusus (bukan cara umum seperti yg anda punya), yaitu METODA untuk melakukan suatu pekerjaan guna mencapai sesuatu maksud. Saya tidak perlu mengabarkan kepada anda apa METODAnya itu? Karena, sebelum anda melakukan pekerjaan seorang Jendral militer, anda harus mampu & mengerti dahulu tentang pekerjaan (hak & tanggung jawab) prajurit & kopral militer. Bagaimana anda hendak melakukan “pekerjaan” besar, sementara “pekerjaan” kecil & sederhana belum/tidak anda kuasai seluruhnya?

    2. Anda menukil ayat : “tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Allah………”
    Yaaa, anda memang benar, dan saya kira semua orang yang bisa membaca mengerti hal ini. Oleh karena itu, anda jangan membayangkan bahwa Allah itu adalah dalam bentuk seorang laki-laki, ganteng, berperawakan gemuk atau kurus dengan tinggi sekian meter. Kalau hal itu anda paksa lakukan, bisa-bisa anda ditertawakan oleh orang lain.

    3. Anda menukil ayat tentang keinginan Musa untuk dapat melihat Allah dan Allah jawab bahwa MUSA tidak akan bisa melihat-Nya. Menurut anda bagaimana dengan ISA, lalu IBROHIM, atau MUHAMMAD ? (bukan MUSA lho). Sampai disini anda khan bisa mengolah otak anda agar bisa sedikit berpikir lebih maju, bahwa Allah hanya men-judment MUSA tidak bisa melihat-NYA. Kalau anda berkesimpulan bahwa jawaban Allah itu untuk semua manusia, termasuk yang bukan/NON nabi, maka itu adalah hasil dari berpikir anda (tingkat kemampuan anda mengolah otak). Dan apabila MUSA diberi kemampuan oleh Allah untuk dapat melihat-NYa, maka kerugian apa yang akan anda tanggung? Kalau MUSA bisa melihat Allah, apakah hal tsb akan mempengaruhi keimanan anda dan akal anda? Kalau benar yaa, maka berarti keimanan anda bergantung sepenuhnya kepada gerak-gerik/tingkah laku orang lain. Jadi, apakah anda tidak punya kemandirian dalam beriman dan berpikir ? Dan saya menyatakan dengan serius, bahwa kemampuan MUSA, dalam arti derajat dan kemuliaannya jauh di bawah Nabi SAW.

    4. Anda menukil perkataan Nabi SAW: “Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Qur’an dan mengajarkannya”. Jawaban saya: Anda seharusnya mampu untuk memainkan logika anda, bahwa perkataan Nabi tsb ditujukan hanya kepada kaumnya (Quraisy) yang masih terbelakang, bodoh. Artinya; jika anda beranggapan bahwa perkataan Nabi tsb juga berlaku untuk kaumnya sekarang, maka saya rasa hal ini hanya cocok untuk anda dan kaum anda yang sekelas/sederajat. Karena kami kaum tarekat, khususnya Tijaniyah, rata-rata sudah tidak lagi berada pada level/kelas “mempelajari” teori. Kami sudah pada level mengamalkan/melakukan metoda dari apa-apa yg tertulis (diteorikan) dalam Al-Qur’an. Tolong, apakah anda bisa mengabarkan kepada saya, bagaimana metoda yang anda pergunakan untuk supaya doa “robbisyrohli sodhri wa yassirli amri…….” bisa terjadi/terwujud dalam diri anda? Atau mungkin anda sudah merasa cukup hanya dengan meminta-minta dg ucapan setiap ba’da sholat : “robbisyrohli shodri……” 3kali, 10 kali atau 100 kali ucapan, tanpa anda harus berikhtiar/berusaha utk mendapatkannya? Bukankah anda diwajibkan untuk berikhtiar, dan pekerjaan meminta-minta adalah pekerjaan yang buruk? Anda mengerti melapangkan dada? Anda tahu bentuk dari lapang dada itu? dan bagaimana rasanya?
    Oleh karena itu, tolong anda bisa pertegas dalam ingatan anda, bahwa seluruh ibadah maghdoh yg anda & kaum anda lakukan, sudah dan selalu kami lakukan dalam kehidupan sehari-hari. Yang kurang dari anda/kalian adalah: kalian tidak punya METODA untuk mewujudkan/mempraktekkan apa-apa yang diteorikan (ditulis) dalam Qur’an. Mau memakai metoda kalian sendiri selalu gagal dan tak punya stok metoda yang bermutu. Mau menjiplak metodanya kaum Tijaniyah tidak bisa dan selalu dirahasiakan. Jadinya ngiri kalian kepada kaum Tijaniyah! (he…he…he…)

    Dan yg terakhir,
    5. Selain tugas2 di atas yg sebaiknya anda laksanakan, saya punya PR (pekerjaan rumah) yg harus anda kerjakan dg sebaik-baiknya, dan diusahakan jangan salah! Nabi SAW: “Man arofa nafsahu faqod arofa robbahu” (barangsiapa mengenal dirinya, maka dia akan mengenal tuhannya). Coba anda uraikan dengan terperinci, metoda apa yg anda pergunakan dalam kehidupan sehari-hari anda sehingga anda kenal diri anda sendiri? Mengenal diri dalam arti: apakah anda yakin mengetahui/melihat bahwa watak binatang (ternak, babi, monyet, anjing, dll) atau syetan ada dalam diri anda? Dan menurut anda, rupa wajah ruh anda mirip dengan apa/siapa? Saya sebut wajah ruh, karena wajah asli anda sesungguhnya adalah yg berada di balik topeng (fisik jasmani) anda.
    Lalu, metoda apa yang anda pergunakan sehingga anda dapat mengenal tuhan anda? Barangkali metoda anda bisa saya pakai, apabila merupakan metoda yg cepat, aman dan ternyaman di hati.
    Saya kira waktu 6 hari, cukup untuk anda pergunakan guna berpikir, mengasah logika dan menuliskannya di forum ini. Dan bila anda mengalami kesulitan atau menyerah karena khawatir jawaban tidak sempurna anda mendapat nilai merah, maka saya anjurkan anda untuk mendaftar sekolah di sekolah yang bernama “Thoriqot Tijaniyah”. Bila anda fasih berbahasa Arab dan punya kelebihan uang, maka sebaiknya anda belajar ke Maroko masuk sekolah Tijaniyah di sana. Jangan belajar ke Arab Saudi, karena saya jamin kalau anda belajar di Saudi, akal pikiran anda akan sangat sulit untuk berkualitas, beku, stagnan dan selalu mengalami kesulitan untuk beradaptasi dengan lingkungan anda yg lebih tinggi tingkatannya. Oleh karena itu, anda sepatutnya juga menjauhi “ulama2 akal” mereka dan alumni2 mereka.
    Tak ada salahnya anda belajar di sekolah thoriqot Tijaniyah, karena toh…ibadah maghdoh sudah anda kuasai & praktekkan. Mau mencoba ?

    NB : “Hidup adalah mutiara yang terindah & agung yang membuat dirimu tentram, nikmat dan nyaman. Apabila sudah tidak kau rasakan lagi tentram, nikmat dan nyaman, maka sesungguhnya yang kau jalani adalah hidup yang semu, bukan yang sebenarnya.” Selamat menikmati HIDUP, dan berharaplah agar sepanjang HIDUP kita dihampiri pekerjaan bermutu, proyek dan obyekan2 yang menghasilkan uang yang banyak, sehingga di akhir bulan tabungan kita bertambah banyak dan kita jadi kaya raya. He…he…he……

    Wassalaamu’alaikum yaaa…..!

  43. 43 juned

    Assalaamu’alaikum,

    ..Iya dan Memang Benar,dan saya akui .pertanyaan2 saya adalah hal yang usang/lama dan selalu berulang, ..dan Bukan nya semua iTu harus berawaL dari AwaL nya kan,..Begitu pun Mas Harun melwati Tahap² Metamorfosis dulu, unTuk menjadi yg skrang,…,.Dan semuaNya supaya bisa nyambung dan jelas,..Dan yg baca Blog ini bukan hanya kita Berdua saja mas,..Mungkin Ratusan Orang pernah membaca Blog ini mas,..Dan tapi kiTa tidak tau tingkat akademik para pembaca semuanya,maka saya membahas dri titik yg paling awal dulu,…,

    Tetapi anda harus berjanji, bahwa setelah pencerahan yang saya berikan kepada anda selesai, maka anda harus berterima kasih kepada saya. Setuju ?Harun Wrote >Terma kasih

    2>>Iya emank bENAR,.yg mengatakan Itu bukan saYa mas,.Lah kan Ente yg lbih tau,..ati² nTr diketawain orang Mas.,..

    3>>Oia,.saya minta sumber nya dimana ada peryataan Selain Musa ,..Ada yg bisa melihat Allah ….

    4>>Karena kami kaum tarekat, khususnya Tijaniyah, rata-rata sudah tidak lagi berada pada level/kelas “mempelajari” teori. Kami sudah pada level mengamalkan/melakukan metoda dari apa-apa yg tertulis (diteorikan) dalam Al-Qur’an>>>Seperti apakah,..sdikitna bisa dijabarkan,..klo ga Rapot anda Merah….

    5>>maka saya anjurkan anda untuk mendaftar sekolah di sekolah yang bernama “Thoriqot Tijaniyah”.

  44. 44 juned

    ..Lanjut,..

    5>>maka saya anjurkan anda untuk mendaftar sekolah di sekolah yang bernama “Thoriqot Tijaniyah”. Bila anda fasih berbahasa Arab dan punya kelebihan uang, maka sebaiknya anda belajar ke Maroko masuk sekolah Tijaniyah di sana

  45. 45 juned

    ..wah,….Blog na error neh,..ane posting beerapa x,..tapi ga tampil semUa,..NtR laen x samBung lagi,….

    …Ydah,..Terima kasih ,Mas Harun…

    …Assalaamu’alaikum,

  46. 46 Harun

    Assalaamu’alaikum Joned,

    Yaa syukurlah kalau anda mulai bertambah sedikit mengerti, dibandingkan dengan orang yang sampai usia tuanya belum juga mampu mengerti. Setidaknya anda bertambah maju…..

    Untuk lebih membantu anda dan siapapun yg mengikuti forum ini (termasuk pengikut Tijaniyah yg masih dasar), saya ilustrasikan sbb :

    Di kehidupan ini ada ilmu2/pengetahuan yang bersifat boleh untuk umum dan ada pula yang hanya khusus untuk orang2 tertentu, apapun bentuk ilmu/pengetahuan itu. Saya ambil contoh pengetahuan/ilmu yang familier atau tak asing dalam kehidupan kita. Ilmu tentang pemerintahan, itu hanya bisa anda dapatkan di institusi/lembaga/sekolah yg khusus mengajarkannya, dan orang2 yang berhasil/mampu/sukses mempelajarinya (sebagai murid) tentu adalah orang2 yg terpilih, sesuai bakat dan pengetahuan dasarnya. Dan yang berhasil/lulus sebagai profesional dengan predikat/level/tingkat terbaik adalah yang serius mendalami ilmu tersebut, tidak setengah2 mempelajarinya dan pantang bermalasan. Ilmu2/pengetahuan seperti ini hanya bisa anda dapatkan di sekolah seperti STPDN dan sejenisnya.
    Ilmu tentang kemiliteran, itu hanya bisa anda dapatkan kalau anda memasuki institusi/lembaga/sekolah militer dan tidak akan anda dapatkan informasi/pengetahuan tentang militer yang lengkap, kecuali di institusi atau lembaga tersebut.
    Kalau anda berbakat, tidak pemalasan, dan menyenangi ilmu/pengetahuan/bidang militer, anda pasti akan mendapatkan ilmu2nya dengan kemudahan (tanpa kesulitan yg berarti) dan tanpa memakan waktu yang lama anda bisa menguasainya dengan baik, serta mampu anda praktekkan dalam kehidupan sehari-hari sebagai seorang PENGIKUT Militer yang tangguh dan kuat.

    Kurang lebih, demikian juga kalau saudara2 hendak/ingin mengetahui tentang ilmu2/pengetahuan tarekat (Tijaniyah). Ilmu2-nya tidak akan saudara2 dapatkan dengan informasi dan pengetahuan yang lengkap, kecuali saudara2 mempelajarinya di institusi/lembaga/tempat yang mengajarkannya. Kalau saudara2 mencoba mempelajarinya di luar tempat/institusi yang seharusnya, maka dapat dipastikan saudara2 akan mendapatkan informasi/pengetahuan yang bias, yang bersifat menduga-duga, yang pada akhirnya saudara2 hanya menelorkan kesimpulan2 yang tidak sesuai dengan kenyataan sebenarnya. Yaitu; kenyataan hidup sebagai aparat pemerintahan (kalau anda pengikut pemerintahan), kenyataan hidup sebagai militer (kalau anda pengikut militer), atau kenyataan hidup sebagai Tijaniyah (kalau anda pengikut tarekat Tijani).
    Orang yang bukan militer akan mengalami kesulitan apabila mencoba untuk berlaku hidup seperti hidupnya seorang militer; yang berimage keras, disiplin tinggi, berjalan tegap gagah dan selalu digambarkan sebagai orang yang berani dan tak kenal takut. Anda tidak akan berhasil untuk menyamai gaya hidup seorang militer yang asli. Demikian juga dengan orang yang bukan Tijaniyah, akan mengalami kesulitan apabila memaksakan diri untuk berlaku hidup layaknya pengikut Tijaniyah. Saudara2 juga tidak akan berhasil untuk menyamai gaya hidup seorang Tijaniyah yang sebenarnya.

    Jadi kalau saudara2 hendak menyamai hidup sebagai aparat pemerintah/ militer/Tijaniyah, maka saudara2 harus (tidak boleh tidak) menceburkan diri ke dalamnya. Di situ saudara2 akan merasakan suasana hidupnya, aral rintangan hidupnya, ujian-cobaan di dalamnya dalam bentuknya yang selalu berbeda.
    Kemudian saudara2 harus berjuang untuk menceburkan diri dan menyelam lebih dalam seiring dengan perkembangan waktu (usia & waktu luang anda)
    sehingga saudara2 berada pada tempat/level yg lebih dalam (tinggi), di bandingkan tempat/level anda sebelumnya yang dangkal. Dan kalau saudara2 malas dan tidak mau berusaha, maka saudara2 akan tetap dalam kondisi dangkal dan tidak akan mengetahui, merasakan, menghayati isi kehidupan yang lebih tinggi. Akibatnya saudara2 hanya bisa meraba-raba tentang tingkat/level kehidupan yg lebih dalam (tinggi) dan hanya mampu untuk berbangga-bangga di tempat yang dangkal (tingkat rendah).

    Oleh karena itu, saran saya kepada saudara2 semua; hiduplah anda dengan bakat dan kemampuan maksimal yang anda miliki serta nikmati hidup anda itu dengan sebaik-baiknya karena itu adalah anugrah terbesar yang diberikan oleh Sang HIDUP (ALLAH).
    Janganlah anda memaksakan diri untuk hidup di luar kemampuan anda, atau memaksakan diri menyamai hidupnya orang lain yang tidak seperti anda. Kalau anda tetap paksakan, maka dapat dipastikan anda akan mengalami kesulitan yang pada akhirnya akan merusak kehidupan anda yang sesungguhnya. Mengapa? Karena hal itu menyalahi kodrat kemampuan atau ketidakmampuan saudara2 yang telah diberikan oleh Sang HIDUP.

    Dalam bakat terdapat sifat tekun, sifat malas, kreatifitas, keinginan untuk hidup unggul dan sebagainya. Kalau kita mampu mendayagunakan bakat kita, maka kita akan mengalami kemajuan hidup, dari tempat dangkal hingga sampai tempat yang terdalam (tinggi). Nah, itulah gambaran dari derajat dan kemuliaan setiap manusia.

    Kira2 saudara2 mengerti dengan tulisan saya di atas? Kalau tidak mengerti, yoo wis….maka berarti tulisan ini hanya bisa dimengerti dan dinikmati oleh saya sendiri. Dan supaya saudara2 mengerti, maka saudara2 harus berpikir, berlogika dengan kemampuan maksimal anda sendiri, agar bisa memproduksi tulisan/ulasan/ucapan yang dapat dimengerti oleh saudara2 sendiri. Syukur-syukur orang lain dapat juga ikut menikmati sifat mengerti anda!

    Jangan lupa pula, bahwa tulisan saya di atas adalah murni dari hasil berpikir saya sendiri, tidak menjiplak atau mengutip tulisan/ucapan orang lain yang saya tidak mengerti. Saya olah di dalam otak akal saya yang begitu kecil, dan pada akhirnya menghasilkan suatu tulisan yang indah, yang dapat saya nikmati sendiri. Dan saya hanya bisa bersedih karena banyak orang yang tidak bisa menikmati tulisan saya, karena kemampuan dan bakat setiap individu berbeda.
    Walhasil, kalau saudara2 ingin bahagia, maka berpikirlah tekun dengan kemampuan maksimal anda dan hiduplah dengan cara berpikir saudara2 yang ternyata hanya saudara2 sendiri yang menikmatinya.

    Salam saya untuk saudara2 semua; Nikmatilah hidup anda masing2 yang telah diberikan oleh Sang HIDUP karena itu adalah kenikmatan hidup yang paling besar yang anda miliki. Dan hiduplah sesuai dengan kehendak Sang HIDUP, supaya anda mendapatkan kemudahan dalam hidup seperti usaha & pkerjaan bermutu, proyek2 ataupun obyekan2 yang menghasilkan uang yang banyak, agar tangan anda selalu di atas dan bukan di bawah. He..he…he…

    Assalaamu’alaikum yaa…

  47. 47 Harun

    Hi piano ! You are entering in the wrong site. This site has been talking about religion (sufiism), not music. Meanwhile, you are talking about music and the instruments especially piano. Pardon me !

  48. 48 Harun

    Assalaamu’alaikum.

    Saya ingin melakukan pembetulan (bukan menyalahkan, lho!) alias ralat atas beberapa tulisan saya di atas. Setelah melihat photo2 para muqadam dan pengikut thoriqoh yang mulia ini di FACEBOOK, maka ada beberapa hal yang ingin saya betulkan (bukan disalahkan yaa..!). Seluruh nama-nama yang pernah disebut sebagai muqadam, memang betul bahwa beliau-beliau adalah muqadam dari thoriqoh tijaniyah. Di antara mereka termasuk: KH. Badri Masduqi, KH. Umar Baidhowi dan Sayyid Muhammad Radhi Genoun, serta Syaikh Iddrisi al-Iraqi dan Sayyid M. al-Bashir. Semoga Alloh SWT menganugerahi keselamatan, kemuliaan dan keberkahan kepada beliau2.

    Juga saya ingin menampilkan email yang saya kirimkan kepada mereka2 yang bertanya melalui email. Inilah salah satu email yang saya rasa bisa mewakili seluruh pertanyaan dari saudara2 yang bertanya kepada saya, sbb :

    “Syekh hanyalah sebuah sebutan yang dihubungkan kepada orang lain untuk menunjukkan secara khusus pekerjaan, profesi, aktifitas yang dilakukannya. Apapun sebutan yang anda berikan kepada seseorang, baik sebutan : pak ustadz, pak guru, pak syekh, pak lebay dll, yang penting orang tsb mampu dan menguasai bidang tugas/pekerjaan yg gelar tsb disandangkan kepadanya.

    Bidang keilmuan thoriqot lebih berkaitan dengan hal2 spiritual/ghoib. Maka dari itu, Guru Besar thoriqot, yang lebih dikenal dengan sebutan MURSYID, adalah orang yang mampu menguasai hal2 yg bersifat ghoib; memiliki kemampuan untuk melihat, berkomunikasi dan yang terpenting mengendalikannya. Kita sebagai murid, dalam tingkatan yang sudah mapan sekalipun, hanyalah bisa melakukan bashiroh (melihat) dan komunikasi, itupun dalam wilayah yang masih sempit/sedikit/kecil. Dan kita tidak punya kemampuan untuk mengendalikan/menguasai hal2 yang ghoib. Anda sebaiknya juga baca tulisan saya di :

    http://blog.its.ac.id/syafii/2008/10/06/siapakah-syekh-imam-ahmad-at-tijani/
    (copy&paste saja)

    Disitu saya sebut bagaimana 300 raja jin Islam dan 60 raja waliyullah memohon kepada Syaikh Ahmad Tijani agar diizinkan menjadi murid beliau. Walaupun pada akhirnya mereka diizinkan hanya untuk mengkhodam (membantu); tetapi di sini menunjukkan dan mempertegas bahwa Syaikh Ahmad Tijani memiliki (memegang) kemampuan/kekuasaan untuk mengendalikan dan menguasai 300 raja jin Islam dan 60 raja wali. Yang perlu digarisbawahi adalah bahwa jin adalah anasir ghoib dan waliyullah adalah ghoib juga (walaupun secara jasadiah sudah meninggal). Dan kemampuan/ilmu yang dimiliki oleh syaikh Ahmad Tijani, seluruhnya diwariskan/diturunkan kepada mursyid2 sesudah beliau. Coba anda hilangkan dulu istilah muqodam dari pikiran anda, karena sebutan muqodam adalah sebutan yang diberikan oleh mursyid kepada murid yang diberi izin untuk melaksanakan pekerjaan2 mursyid dalam wilayah yg terbatas. Mengapa terbatas? Karena kemampuan/ilmu yang dimiliki oleh muqodam adalah terbatas. Jadi muqodam adalah pembantu/asisten dari seorang mursyid.

    Jadi, boleh2 saja kita memanggil seseorang yang berjubah, berjenggot, bersorban dan selalu pegang tasbih, apalagi yang bertampang arab; dengan sebutan syaikh dan anda menghormati orang tersebut. Tetapi yang perlu anda cermati dan pikirkan dengan lebih matang adalah atas dasar apa anda menghormati orang tsb? apakah atas dasar kostum jasmaninya? atau atas dasar keilmuannya yang dalam?

    Dan di majlis Tijaniyah Cibalagung Bogor, seorang muqadam, pada khususnya diangkat setelah yang bersangkutan khatam puasa hingga 100 hari, plus beberapa aurod dan hizib yang menyertainya. Puasa 100 hari, diantaranya dimaksudkan untuk membersihkan dosa2 ruhani kita. Dan alangkah lebih bagus bila setelah itu, melakukan puasa 3 tahun untuk pembelajaran/pengisian ilmu2 tentang ma’rifat secara ruhaniah. Dan bagaimana dengan keilmuan Tijaniyah anda dan rekan2 selama ini? Apakah anda merasakan manfaat keilmuan anda dalam kehidupan sehari-hari?

    Baca juga di (copy - paste) :
    http://luluvikar.wordpress.com/2004/08/22/tarekat-tijaniyah/#comments

    saudara Iyan, keilmuan seseorang bisa diukur tingkatannya. Paling tidak “diraba”, tentu bukan dengan tangan. Maksud saya bisa dilihat, seperti melihat perbedaan warna putih, merah dan hitam. Atau dirasa seperti perbedaan rasa dingin, hangat atau panas.
    Di facebook, saya diperlihatkan foto2 para muqodam Indonesia yg sedang berkunjung ke maqam Syaikh Ahmad Tijani dan disitu saya komentari isi photo tsb (anda bisa baca sendiri yaa di facebook). Juga ada photo dari seorang cucu sayyidi syaikh Ahmad Tijani yang sedang memberi izazah 2(dua) orang Indonesia. Maaf-maaf, bukannya merendahkan keilmuan beliau2 yang photo2nya saya lihat, tetapi memang faktanya demikian, bahwa keilmuan atau tingkatan derajat beliau2 masih sangat terlalu jauh bila dibandingkan dengan MURSYID2 seperti : Sayikh Usman Dhomiri, Syaikh Haji Muhammad Sudjatma Ismail dan Sayyidi Syaikh Haji Muhammad Syu’aib. Jadi keilmuan Tijaniyah diwariskan kepada penerus, bukan atas dasar NASAB (keturunan), tetapi atas dasar perintah dari kanjeng Nabi SAW kepada Syaikh Ahmad Tijani dan seterusnya. Seluruh Mursyid diangkat oleh Syaikh Ahmad Tijani atas izin/persetujuan dari Nabi SAW dan mereka diberi minuman air pengetahuan oleh Nabi Khidir alaihissalaam.

    Atas seizin dari sayyidi Syaikh Muhammad Syua’ib, maka di sini saya ingin memberitahu anda bahwa Kiai Badruzzaman, dulu adalah seorang murid dari syaikh Usman Dhomiri, pernah minta izin pinjam kitab (kalau gak salah Jawahirul Ma’ani) kpd syaikh Usman, tetapi sayyidi syaikh tidak mengizinkan. Yang pasti di kemudian hari, penerus sayikh Usman yaitu syaikh Muhammad Sudjatma diamanati untuk mengambil kitab tsb dari tangan kiai Badruzzaman. Singkat cerita, dari kisah yang pernah saya dengar dari Sayyidi Syaikh Muhammad Syua’ib, bahwa syaikh Muhammad Sudjatma Ismail kemudian mengucapkan taklik; yaitu mencabut izin keilmuan Tijaniah dari kiai Badruzzaman dan seluruh barokahnya.

    Jadi, kalau anda bertanya apakah perlu berbaiat lagi bila pernah berbaiat kepada seorang “syaikh” dalam thoriqot Tijaniyah? Maka anda perlu melihat apakah keilmuan “syaikh” tsb dapat dipertanggungjawabkan, syukur2 anda mampu untuk melihat tingkat derajat keilmuannya. Atau, anda bisa mempertimbangkan pengalaman pribadi yang pernah saya alami. Saya ditaklik thoriqot tijaniyah pada akhir tahun 1993 oleh salah seorang muqodam dari Syaikh Muhammad Syua’ib. Tetapi ketika saya berjumpa dengan sayyidi syaikh pada pertengahan tahun 1994, beliau mentaklik/mengizazah saya secara langsung sebagai seorang murid beliau.

    Demikian mudah-mudahan penjelasan saya ini dapat membantu anda untuk lebih paham.”

    Saya merasa bahwa tulisan ini adalah tulisan terakhir saya di internet, karena saya merasa bahwa apa2 yang saya sampaikan sudah cukup untuk membuka pemahaman dan pengetahuan sebagian kecil pembaca yang concern dan mencintai jalan keruhanian dari Syaikh Ahmad Tijani. Bagi saudara2 yang masih bingung, silakan dilanjutkan saja kehidupan anda seperti semula dan anggap saja tulisan2 saya tidak pernah ada. Bagi saudara2 yang mulai mengerti dan paham, silakan saja datang ke majlis (zawiyah) kami di Cibalagung Bogor seperti beberapa orang yang telah berkunjung dan berguru.
    Kami akan selalu “welcome” dan merasa bahwa kunjungan anda itu adalah lebih baik daripada anda sekadar bertanya-tanya melalui media internet.

    Akhirul kalam, selamat menikmati hidup anda yang indah. Dan jangan lupa, untuk mendapatkan hidup yang “indah” itu diperlukan pengorbanan dan perjuangan yang didasarkan pengertian dan pemahaman yang tulus. Maafkan saya atas ungkapan2 yang kurang pantas dalam setiap tulisan yang saya muat.

    Assalaamu’alaikum warohmatullohi wabarokaatuh !!!!!!!!!!!

    HARUN PRIBADI
    There is no comment for you anymore
    It’s boring and make me tired

  49. 49 Harun

    You waste my latest comment whereas it is very important for the follower of tijjaniyah to perform their knowledge about the thoriqot. You are not fair at all.

    Anda menyia-nyiakan komentar/artikel saya yang paling terakhir, dimana saya tidak akan lagi menulis artikel apapun tentang tijaniyah. Padahal artikel terakhir itu saya anggap yang paling penting untuk perbaikan pengetahuan dan pemahaman para pengikut tijjaniyah. Anda tidak fair/adil sama sekali, saya kira!

  50. 50 Syafii

    Assalamualaikum warahmatullahi wbarakatuh

    Pak Harun

    di blog ini, klo ada ketikan panjang, itu tidak otomatis tampil …

    sy sebagai admin, harus meng-approve terlebih dahulu .. krn ketikan bapak sangat panjang … jadi tidak otomatis tampil

    klo pendek2 langsung tampil…

    ini semata2 dari segi teknis blog

    jadi begitu Pak Harun

    saya sangat berharap bapak menulis lagi ttg tijaniyah

    krn bbrp orang masuk ke halaman ini krn mereka2 sedang mencari informasi ttg tijaniyah

    jadi ebgitu pak..

    wassaalm

  51. 51 fahmi

    wah..mas harun..ungkapan2 anda sangat luar biasa..saya baru tau ada istilah mursyid di thoriqoh tijany..yg saya tau kholifah terus di bawahnya muqoddam. Kalau ga salah istilah mursyid di thoriqoh tijany belum pernah di gunakan. Kalau boleh saya menyarankan, gimana kalau setiap komen dari mas harun disertai dengan dalil atau sumbernya (maksudnya dari kitab tijany yang mana? Halaman berapa?) jadi bukan anggapan menurut mas harun pribadi..

  52. 52 Fahmi

    “Atas seizin dari sayyidi Syaikh Muhammad Syua’ib, maka di sini saya ingin memberitahu anda bahwa Kiai Badruzzaman, dulu adalah seorang murid dari syaikh Usman Dhomiri, pernah minta izin pinjam kitab (kalau gak salah Jawahirul Ma’ani) kpd syaikh Usman, tetapi sayyidi syaikh tidak mengizinkan. Yang pasti di kemudian hari, penerus sayikh Usman yaitu syaikh Muhammad Sudjatma diamanati untuk mengambil kitab tsb dari tangan kiai Badruzzaman. Singkat cerita, dari kisah yang pernah saya dengar dari Sayyidi Syaikh Muhammad Syua’ib, bahwa syaikh Muhammad Sudjatma Ismail kemudian mengucapkan taklik; yaitu mencabut izin keilmuan Tijaniah dari kiai Badruzzaman dan seluruh barokahnya.” …
    Apabila sy cermati artikel dari mas harun ini..keliatannya ada yg janggal. sdh jelas bahwa syaikh usman tidak mau meminjami kitab yg diminta..tpi kok kemudian mengamanatkan kepada syaikh m.sudjatma untuk mengambilnya dari tangan syeikh badruzzaman..jadi seolah-olah kitab itu di curi..Apa mas harun bisa menjelaskan hal ini? Lalu bukankah hanya sayyidi syeikh tijany sendiri yang bisa mencabut keilmuan dan barokah tijaniah?
    Thanks mas harun..

  53. 53 Choirun Niza

    Ck…ck…ck…uraian yang panjang dan mantab. Hanya bisa numpang lewat dan meninggalkan ini. Barangkali ada pustaka dalam daftar pustaka yang besangkut paut bagi yang ingin tahu lebih lanjut. Terima kasih…

    http://www.homeartikel.co.cc/search/label/TAREKAT%20TIJANIYAH

  54. 54 Harun

    Waduh, terpaksa deh saya mesti memberi penjelasan yg harus lebih sederhana supaya lebih bisa “dimengerti” dengan hati.

    Sdr fahmi, apapun istilah/gelar yg anda berikan kepada seseorang, silakan saja, sah-sah saja, maka jawaban saya (kutipan dari tulisan saya di atas) : “keilmuan seseorang bisa diukur tingkatannya. Paling tidak “diraba”, tentu bukan dengan tangan. Maksud saya bisa dilihat, seperti melihat perbedaan warna putih, merah dan hitam. Atau dirasa seperti perbedaan rasa dingin, hangat atau panas”. Jadi, kalau anda bisa melihat tingkat keilmuan seseorang, maka anda akan bisa melihat maqam/kedudukannya ada dimana. Anda boleh mengirim photo anda ke email/facebook; setidaknya saya bisa melihat rupa wajah saudara seperguruan saya dan melihat tingkat keilmuan anda. Saya cuma bisa mengatakan tentang keilmuan seseorang dengan istilah dangkal/sedikit, sedang/lumayan, cukup tinggi/cukup dalam, tinggi/dalam, sangat tinggi/sangat dalam, atau “perbedaannya laksana langit dan bumi”, dsb. Seperti murid2 sekolah yg duduk di kelas 3, masing2 punya tingkat kemampuan “melahap” ilmu yg berbeda pula, punya ranking kelas yg berbeda pula, bahkan ada pula yg tidak naik kelas. Nah, ilmu yg saya maksudkan di atas adalah ilmu rasa (thoriqot), bukan ilmu akal (ilmu tentang thoriqot). Jadi kalau anda hendak memahami tentang kedudukan/maqam seseorang, maka anda mesti memakai “rasa atau thoriqot” anda, bukan dengan akal anda. Apakah anda bisa memahami bahwa orang yang selama ini anda hadapi adalah orang yg berilmu tinggi, cukup, sedang, atau dangkal; atau barangkali tak berisi alias NOL. Tentu yg saya maksudkan di sini adalah rasa/thoriqot, bukan ilmu tentang thoriqot tijaniyah yg kebenarannya selalu diukur dengan kitab2 atau daftar pustaka. Ilmu2 yang kebenarannya selalu diukur dengan tulisan orang lain (dalam bentuk kitab/pustaka) hanya anda temui di perguruan tinggi (ie; IAIN, dll). Tetapi jangan berharap kita akan dapati di sekolah semacam itu yg mengajarkan tentang thoriqot, karena obyeknya tidak bisa “diukur” dengan akal. Sebenarnya tulisan2 saya bisa anda kumpulkan dan dijilid menjadi sebuah buku kecil, yang saya kira masih layak untuk dijadikan sebagai “Ilmu Pengantar tentang Thoriqot Tijaniyah”, menambah khazanah kitab2 karangan pengikut tijaniyah yg sudah ada. Mungkin, buku kecil tsb hanya memiliki derajat “cukup bagus” atau mungkin lebih rendah sebagai “kurang bagus”. Setidaknya buku/kitab referensi atau daftar pustaka tentang tijaniyah bertambah satu. Dulu kita belajar tentang “ilmu agama”, segalanya selalu (bahkan wajib) disandarkan kepada dalil2 naqli dan aqli. Tetapi ternyata dalil2 naqlipun disandarkan pula kepada aqli (akal2) kaum cendekiawan/ulama/pak ustad/pak lebay/dll (apapun sebutan gelarnya). Saya memaklumi bahwa masih banyak di antara kita yg masih menyandarkan segala hal yg berkaitan dengan tijaniyah kepada dalil2 (kitab), karena menurut saya atmosfir hidup kita masih kental dengan ilmu2 yg didapat di bangku sekolah/kuliah.
    Kalau anda perhatikan, tujuan awal saya menulis di media internet adalah untuk meng-counter-attack tulisan2 orang non tijaniyah (yg selalu mengaku sbg ahli sunnah); di saat sedikit sekali (atau bahkan tidak ada) di antara kita (kaum tijaniyah) yg mau dan mampu menjawab tulisan2 mereka yg bernada mencemooh dan mengadili kita. Dimana keberadaan saudara2 waktu itu?? Saudara2 baru muncul dengan tulisan2 saudara ketika tulisan2 saya tidak sesuai (tidak sama dengan) dengan “kebenaran” yg selama ini saudara2 dapatkan. Penyebabnya tak lain karena, “kebenaran” yang saudara2 dapatkan hanya didasarkan kitab2 atau daftar pustaka.

    Kalau masih belum paham dengan apa yang saya sampaikan di atas, maka saya beri penjelasan dengan ilustrasi sbb:

    “Kita semua adalah kaum tijaniyyah, murid dan anggota keluarga dari “Sang Raja” Syaikh Ahmad Tijani. Di antara murid masih banyak yg belajar theori/ilmu tentang bagaimana caranya menerbangkan pesawat (membutuhkan kecerdasan otak) dan mereka sama sekali belum mengalami pengalaman terbang. Tetapi ada beberapa di antara murid yg tidak lagi sama sekali mempelajari theori/ilmu terbang tsb. Mengapa? Karena mereka sudah pada kondisi menerbangkan pesawatnya masing2. RASA-nya terbang bagaimana? Itu bergantung kepada kemampuan masing2 dan kualitas pesawat yg dimilikinya.
    Buat saudara2 yg sampai usia tuanya (bahkan sampai tutup usia) belum juga mampu menerbangkan pesawat (hanya bisa theori ttg cara menerbangkan pesawat), janganlah berkecil hati, karena saudara2 pun tetap sebagai bagian dari anggota keluarga besar Syaikh Ahmad Tijani dan ikut juga menikmati “fasilitas umum” (di akhirat) sebagai Tijaniyyin mengikuti kualitas diri saudara2. Bagi saudara2 yg sudah menerbangkan pesawat anda, maka saudara2 pun ikut menikmati “fasilitas umum”, di samping “fasilitas khusus” karena derajat diri anda.
    Bila saya memposisikan diri Syaikh Ahmad At-tijani sebagai “raja”, maka beliau di bantu oleh beberapa “perdana menteri” di tiap wilayah yg luas. Dan dibawah “perdana menteri” terdapat beberapa “menteri-menteri” yang biasanya bertugas untuk berhubungan langsung dengan “rakyat” untuk memahami dan memenuhi kebutuhan “rakyat”. Menurut saya, kedudukan muqadam adalah ibarat “menteri-menteri” tersebut. Didasarkan atas tingkat keilmuannya, maka menurut saya seorang muqadam adalah seorang murid yg senior (bukan diukur USIAnya, tapi “isi/rasa” seberapa dalam/tinggi tentang tijaniyah) meskipun dia adalah seorang anak ingusan yg berusia 17 tahun. Juga bukan diukur dari gelar ilmu akal/ilmiah sbg sarjana, master atau doktoral. Jadi, andaikata pada saat ini, misalkan usia anda 10 tahun (usia saya 42 thn) dan kedudukan/posisi/maqam keilmuan anda di atas saya, maka dengan bangga dan berbesar hati saya wajib menghormat anda, dikarenakan kedudukan dan kemuliaan ilmu anda.

    Adapun tentang kiai Badruzzaman atau syaikh/ustad, dll (apapun anda sebut gelarnya), maka saya kutip kembali tulisan anda sbb:
    “sdh jelas bahwa syaikh usman tidak mau meminjami kitab yg diminta..tpi kok kemudian mengamanatkan kepada syaikh m.sudjatma untuk mengambilnya dari tangan syeikh badruzzaman..jadi seolah-olah kitab itu di curi..Apa mas harun bisa menjelaskan hal ini?”.
    Untuk hal ini saya tidak perlu jelaskan; cukuplah anda pahami sendiri dengan kekuatan logika anda ttg apa yg saya maksud. Dan berita ttg hal tsb saya sandarkan kepada ucapan dari Hadrotussyaikh Muhammad Syua’ib. Siapa-siapa yg penasaran dan ingin yakin akan kebenaran ucapan tsb, yaa…silakan saja datang langsung dan temui beliau.
    Untuk mencabut ilmu seseorang laksana mencabut jarum yg nempel di bantal, tidak mesti oleh Syaikh Ahmad Tijani. Kalau anda sudah tahu caranya (ilmunya), anda pun akan bisa melakukannya. Kalau anda belum mengerti cara (ilmu) menembak, maka anda tidak akan mampu melakukannya. Untuk bisa menembak, maka anda harus belajar dan mengasah kemampuan menembak sampai menjadi penembak jitu.

    Yaa, begitulah sdr fahmi, apa2 yg saya tulis di weblognya sdr.M.Syafi’i ini, adalah berdasarkan ilmu pikir yang saya dapat dan “rasa” yang saya rasakan. Oleh karena itu saya mohon maaf yang sebesar-besarnya bilamana anda dan saudara2 semua masih ada yg belum mengerti (alias bingung), dikarenakan ilmu pikir saya tidak terdapat di dalam kitab2 dan ketidakmampuan saya untuk menuliskan “rasa” yang saya alami. Mohon saudara2 jangan berprasangka bahwa saya sombong dan merasa “benar”. Sebab kalau saudara2 beranggapan demikian, maka berarti saudara2 belum bisa “merasa” atau “melihat warna” dari hati/qalbu saya.
    Dan seperti inilah cara dan gaya saya menulis tentang sesuatu; itupun saya mohon saudara2 dapat maklumi bahwa ketidakmampuan saya menulis dengan cara dan gaya menulis seperti yg saudara2 kehendaki tidak bisa saya wujudkan.

    Akhirulkalam, sebagai murid, meskipun “nakal” dan “keliru”, yang penting saudara2 tidak keluar dari “pagar wilayah” (thoriqot) dan tetap sebagai gembalaan (murid) dari Syaikh Ahmad Tijani. Syukur2 bila saudara2 tekun dalam tholaab ilmu, kemudian mampu memiliki “pesawat” dan “menerbangkannya”.

    Semoaga berkah dan selamat atas saudara2 semua!

  55. 55 Choirun Niza

    Amin…. Terima kasih… Tak disinggung tapi sepertinya diperhatikan….hehe… Akhirnya, datang lagi….

    Menariiik…. Soalnya senang dengan kalimat ini…
    “Kalau manfaatnya dapat kita rasakan positif buat diri kita, yaa amalkan terus sampai tutup usia. Kalau tidak cocok dengan pembawaan kita, yaa tinggalkan saja.”

    …. Penjelasan yang lumayan gamblang tentang melatih ungkapan2 mendalam, sugesti diri dalam hubungan secara vertikal dan pengolahan2 indera ke 6, setelah menguasai suatu teori2 dan latihan2 dasar…yang itu akan dikembalikan ke masing-masing tipikal2 seseorang (atau berdasar kepribadian-kepribadian). Namun, hal itu akan lebih terarah jika melalui teknik yang sudah terpraktekkan (terbukti) dari yang pernah ada…jadi tinggal Napak Tilas…. Melatih empati dan menghargai sesuatu tidak berdasar fisik/materi…. (Ini yg saya tangkap).

    Hmm….terima kasih untuk semuanya ya….terutama Sdr. Harun… ^_^

  56. 56 Harun

    Hello Zaki! Saya kira anda tidak mengerti esensi dari tulisan saya dan 5 postingan anda di facebook (yg sudah anda delete) hanya berisi kecurigaan dan tuduhan. Wajar sekali kalau saya nanya, apakah El Hassane itu putra dari Sidi Genoun? Sebab wajah mereka kok mirip2, menurut saya. Rasa heran anda diletakkan dimana? Tentang 40 kitab, nggak percaya? yaa sudah… kalau anda nggak percaya. Silakan anda percayai saja jumlah kitab yg anda percayai. Tentang 2000 macam ilmu (hizib) anda juga nggak percaya, yaa silakan saja anda percayai jumlah macam ilmu yg anda percayai. Saya tidak menyerang saudara2 yg berderajat “muqadam”. Saya menyatakan apa adanya bahwa mereka memang “muqadam”. Lalu apanya yg salah dari tulisan saya? Saya hanya melihat tingkatan ilmu/keilmuan mereka. Yaa gimana lagi, memang kelihatan…..kok anda merasa heran?? Adapun mengenai kiai Badruzzaman, silakan saja langsung tanya kpd bapak Syuaib yaa…?! Kalau saya memaki, merendahkan atau berkata kotor tentang saudara2 sesama tijaniyah, barulah itu termasuk “tidak adab”. Lha wong saya cuma melihat tingkat ilmu mereka,…masak disebut tidak adab sih! Ada2 saja anda ini…., seperti ini lho, melihat macam2 warna di jagat raya. Warna putih saja ada beberapa macam, juga merah ada beberapa macam, dll. Jadi, apanya yg salah?!
    Tentang keilmuan yg saya miliki, khan sudah saya tulis di facebook ketika saya komentari photo2; beliau2 ilmunya memang di atas saya, dengan kata lain ilmu saya berada di bawah beliau2. Apa anda belum baca? may Allah be pleased with you, Zaki!

  57. 57 Harun

    Hello sdr/sdri Choirun Niza! Saya senang saja bahwa anda senang membaca sepenggal kalimat dari tulisan saya dan saya kira andalah satu2-nya pembaca yang mengerti isi/esensi/maksud dari tulisan saya.

    Dalam thoriqot Tijaniyah, ilmunya tinggal di wirid (baca) saja dengan teratur dan jangan ditinggal. Kalau tekun, nanti juga “wujud ilmu” akan “nyamperin” kita dan barulah kita merasakan manfaat dari ilmu tersebut. Jadi kita nggak perlu latihan2 seperti latihan fisik angkat besi. Jadi, ilmu fisik harus sering dilatih untuk mendapatkan manfaat dan tujuannya. Ilmu akal juga harus sering dilatih dan dipraktekkan supaya menjadi manfaat. Sedang ilmu spiritual/ruhaniyah, kita cuma tekun wiridan saja supaya mendapatkan manfaatnya, karena nanti “manfaat”nya yang akan nyamperin kita. Saya kira saudara2 sudah mulai bisa memahami yaa?!

    Saya mau istirahat dari menulis (pinginnya), karena…lama kelamaan membosankan juga dan capek hati. Mungkin sdr. fahmi atau sdri. Niza bisa melanjutkannya dengan artikel2 yg menarik, supaya weblognya bapak M.Syafi’i ini tidak sepi…….

    Terima kasih semuanya, semoga selamat dan berkah atas kita semua!

    HARUN PRIBADI

  58. 58 Choirun Niza

    “Amin. Ok deh…sama-sama…Bapak Harun…Met istirahat… Tetap setia dengan ini web…klo dah fresh…mungkin akan nulis lagi…Wallahu’alam…”

    (Klo dah capek, apalagi klo ada yang nggak kebeneran….lucu jg je…kata2nya…hehehe…. Eits! Maaf…dan kembali terima kasih…)

  59. 59 Harun

    Assalaamu’alaikum pak Yunus,

    Menurut saya, apa yang bapak ceritakan di facebook memang benar (berdasarkan kitab). Dan pertanyaan bapak tentang ilmu atau keterangan2 tersebut saya dapat darimana/darisiapa, maka saya jawab bahwa semuanya dari guru saya. Selama acuannya kitab, maka semua keterangan harus masuk akal/logis dan itu tidak salah. Saya mau … See Morememberi penjelasan dengan ilustrasi tentang seorang sufi Al-Hallaj (ada di dalam buku/kitab) yg selalu berkata “Anaa al-Haq”. Apa yang diucapkan oleh Al-Hallaj, oleh penguasa waktu itu dianggap menyalahi kitab, sesat dan kafir. Di belakang hari barulah diketahui (dikira-kira dengan akal) bahwa maksud Al-Hallaj adalah bahwa dirinya mengalami rasa menyatu dengan Tuhan (Allah). Peristiwa yang dialami Al-Hallaj ini, menurut saya suatu peristiwa nyata yang HANYA dialami oleh yang bersangkutan, yang orang lain tidak mengalaminya. Itu adalah suatu kebenaran peristiwa yang bagi orang orang lain merupakan suatu kekeliruan atau kesalahan. Dan “rasa dari peristiwa” seperti itu tidak akan kita dapati di kitab/buku manapun. Yang bisa mengalami dan menikmati “rasa” dari peristiwa itu hanyalah yang mengalaminya saja. Demikianlah kira2 tentang kejadian Khiddir terhadap syaikh2 dalam thoriqot tijaniyah. Karena saya belum mengalaminya, maka sebaiknya bapak pertanyakan langsung kepada bapak Syuaib (guru saya). Berkali-kali bapak Syuaib berkata, bahwa siapa-siapa yang ingin bertanya tentang suatu hal tentang tijaniyah, silakan saja datang langsung menemui beliau, terutama tentang hal-hal yang tidak terdapat di dalam kitab. Segala hal yang masuk akal memang harus melihat buku/kitab sebagai referensi, empiris dan bisa diukur. Lalu, bagaimana dengan kejadian2 yang dialami oleh sebagian murid tijaniyah yang ruhaniah/spiritual dan tidak masuk akal? Akan susah mencari acuannya di dalam kitab.
    Begitulah kira2 penjelasan saya, pak Yunus. Mudah2an bapak bisa memahami dengan apa yang saya maksudkan. Terima kasih. Wassalaamu’alaikum

    Mungkin seperti yang sdr. Choirun Niza bilang; bahwa memang lucu bila hal yang benar secara “rasa” (ruhaniah) harus diukur dengan kekuatan logika (akal). Saya kira anda sependapat dengan saya, sdr.Niza! Kembali terima kasih……….^=^

  60. 60 Harun

    Saudara2 sekalian! Kalau sekiranya semua artikel2 saya tidak bisa diterima dan dipahami oleh saudara2, yaa…silakan diabaikan saja dan anggaplah oleh saudara2 tidak ada manfaatnya dan tidak pernah ada. Dan saudara2 tetaplah berpegang teguh dengan apa yg selama ini saudara2 jalani. Saya kira hal seperti itu, nggak perlu direpoti.

  61. 61 tilmidz sidi genoun

    (kutipan dari facebook : al-Muqaddam KH Yunus Abdul Hamid - Jakarta)

    Assalamu’alaikum wr wb.

    Pak Harun, membaca tulisan antum al:

    1. Mursyid (guru thariqah) yang bertugas sebagai pengganti Sayyidi Syeikh dan dia dilantik oleh Sayyidi syeikh dengan persetujuan dari Rasulullah SAW dan mendapat minuman/masyrab ilmu dari Nabi at wali Khidir as. (apapun dia apa nabi at wali tetap khidir). maaf,ini adalah sebuah pernyataan yang gnlantur terlalu jauh dan menyimpang dari thariqah, karena Sayyidi Syeikh adalah orang yang secara khusus menjelaskan bahwa Al Khidir bukan Nabi, dan ini sangat prinsip (bukan terserah apakah dia nabi atau bukan), ini masalah aqidah Islam yang shahih. Al Qur’an dan Hadits Nabi SAW yang shahih menyatakan bahwa NABI MUHAMMAD ADALAH NABI TERAHIR dan TIDAK ADA NABI LAGI SETELAHNYA. artinya barangsiapa yang berkeyakinan masih ada Nabi setelah Rasulullah SAW, maka KEYAKINAN ITU SESAT dan MENYESATKAN. (INI PERNYATAAN sAYYIDI SYEIKH AHMAD AT TIJANI RA.
    dalam kitab JAWAHIRUL MAANI).

    2. pARA MURSYID mendapatkan MASYRAB ILMU dari AL KHIDIR AS, pernyataan ini juga benar benar menyimpang jauh dari thariqah Tijani. dlm kitab RIMAH pada bab KEUTAMAAN SAYYIDI SYEIKH, ada bahasan tentang AL MASYRAB AL KITMANI yang tersusun dalam tujuh tingkatan. 1. Hadrat Hakekat Ahmadiyyah 2. Hadrat Hakekat Muhammadiyyah, 3. Hadrat Jami’ Ambiya’ 4. HADRAT HAKEKAT HATMUL AULIYA’ (Maqam Sayyidi Syeikh Ahmad At Tijani sebagai Al Khatmul Auliya’). 5. Hadrah muridiin At Tijani 6. Hadrah para Wali Quthub 7. Hadrah muridiin para wali Quthub yang lain (diluar At Tijani). Maqam Al Khidir ra ada pada hadrah ke7 ini jauh dibawah ihwan Tijani, apalagi Muqaddam dan Sayyidi Syeikh. lalu dimana logikanya kalau Musyid at Muqaddam harus ambil ilmu dari Al Khidir?… keterangan dari mana itu?????? kalau ada kitabnya saya pingin tahu kitab apa dan halaman berapa?… kalau pernyataan itu dari Mursyid antum, yang bener siapa?.. Sayyidi Syeikh yang pendapatnya selalu di dasari Al Qur’an dan Hadits atau Mursyid antum???? terus terang aja. banyak orang bingung baca tulisan antum itu…maaf saya ini bukan arogan, tapi mau meletakkan masalah pada porsinya.

    3. antum menyatakan: Khidir’s role is a sign that someone has become a wali. ini apa dasar hukumnya?… maaf ini masalah agama, jangan main main. kalau tidak tahu jangan ngomong. kalau antum ingin tahu, Tanda tanda kewalian itu ada dalam Al Qur’an surat Yunus ayat 62-64 dan silahkan baca tafsir IBNU KATSIR DAN TAFSIR SHAWI, disitu terdapat berbagai hadits shahih yang melengkapi.

    4. Antum nulis bahwa guru thariqah setelah Sayyidi Syeikh adalah para Mursyid. sekali lagi saya tegaskan penggunaan istilah itu ada tempatnya, istilah KOMANDAN itu untuk pemimpin di MELTER, kalau SIPIL - KEPALA, organisasi masy namaya KETUA. jadi istilah MURSYID dalam TIJANI tidak ada, yang ada KHALIFAH DAN MUQADDAM. MURSYID TIJANI hanya 1 (satu) RASULULLAH SAW. jadi kalau ada orang Tijani menyataka diri sebagai MURSYID artinya mau nyaingi Rasulullah SAW. Bisa???… See More

    5. Antum bilang seorang Mursyid seharusnya menguasai isi 40 kitab (Tijani tentunya kan?..) mohon maaf, yang antum terangkan dalam berbgai artikel di internet itu, ilmu atau penjelasan dari siapa??? apa antum sendiri ngarng atau dari Mursyid antum??…

    6. Tulisan ini bukan hanya untuk antum, tapi untuk semua yang baca artikeL Tijani di intrnet dan facebook. kalau antum penasaran, saya siap diskusi dengan catatan pakai acuan kitab TIJANI YANG MU’TABAR (sahiih) bukan katanya katanya. dan perlu antum ketahui, penjelasan masalah thariqah Tijani yang diakui oleh para Muqaddm dan Ulama Tijani di seluruh dunia rujukan utamanya adalah kitab JAWAHIRUL MA’ANI dan RIMAH dan satu lagi yang dianggap sangat penting yaitu kitab IRA’ATU ‘ARAAISY.

    Semoga Allah SW membuk hati kita dengan kebenaran haqiqi, bekat Syafaat Rasulullah SAW dan madad Sayyidi Syeikh Ahmad At Tijani radliyallaahu anhu. amiin…

    Wassalamu’alaikum wr wb.

    Sun at 11:03am · Report

  62. 62 tilmidz sidi genoun

    terusan dari tanggapan al-Muqaddam KH Yunus Abdul Hamid - Jakarta

    Ass wr wb. Terima kasih atas tanggapan Pah Harun. tapi sekali lagi kiami mohon maaf, karena perumpamaan yang Bapak sampaikan itu jauh panggang dari api.masalahnya bukan masuk akal atau tidak pak. dan kebetulan juga keterangan bapak tidak masuk akal. perumpamaan pak harun yang menyamakan antara Al Hallaj, Ibnul Araby dan wali lainnya yang bilang sesuatu yang tidak masuk akal serta bertentangan dengan syeriah tidak bisa dijadikan jawaban untuk masalah yang saya sampaikan. Perlu diketahui pula, bahwa dalam thariqah Tijani kalau amalan dan i’tikad serta sanadnya benar “IHWAN TIJANI TIDAK AKAN PERNAH MENGALAMI JADZAB DAN SATHAHAT” seperti AL HALLAH, IBNUL ARABY DLL. karena Syayidi Syeikh Ahmad Attijani itu adalah pewaris tunggal RaSULULLAH saw dalam kapasitasnya sebagai AL KHATMUL AULIYA’ AL QUTHBUL MAKTUM, tidak pernah mengalami JADZAB DAN SATHAHAT.seperti ketika Rasulullah SAW ketika bertemu dengan Allah SWT, dia tidak JADZAB, BAHKAN DALAM KEADAAN AKAL YANG SEMPURNA. lain halnya Nabi Musa AS ketika berbicara dengan Allah (baru bicara) dia sudah lupa diri. sama seperti Al Khidir ketika membunuh, merusak kapal dll, dia kerjakan diluar kontrol akalnya.
    Tapi untuk Sayyidi Syeikh Ahmad At Tijani berada dalam puncak pengalaman ruhaninya sebagai Al Quthbul Maktum beliau ditanya oleh muridnya Sayyidi muhammad Al ghala ra, Apakah Sayyidi Syekh dalam sadar dan sehat akal atau dalam keadaan fana’?… Beliau menjawab “Al Hamdulillah, saya dalam keadaan sadar dan sehat akal tanpa kekurangan sedikitpun. (lihat Rimah hal 496)
    Syeikh Siti Jenar mengalami hal yang sama dengan Al Hallaj karena dia memang pengikut Thariqah Al Hallaj dan Ibnul Araby. tapi kalau ihwan Tijani apalagi Mursyid (katanya) mengalami fana dan ngomong sesuatu diluar syariatatau sesuatu yang keluar dari ketentuan thariqah Tijani, ya perlu dipertanyakan :Benarkan dia Tijani?… karena Sayyidi Syeikh tidak pernah fana’ dan murid muridnya sampai kiamat juga tidak akan mengalami fana’.
    Dalam pertemuan “KONFRENSI MUQADDAM SELURUH DUNIA” di Zawiyah FES MAROKO 17 - 20 Syawal 1431H sebulan yang lalu, dan Alhamdulillah, saya hadir diundang dalam pertemuan tersebut. salah satu topik bahasannya adalah seruan Sayyidi Syeikh Ahmad At Tijani yang menyatakan “JIKA KAMU MENDENGAN SESUATU DARIKU, MAKA TIMBANGLAH DENGAN SYAREAT (AL QUR’AN DAN HADITS), kalau cocok maka ambillah tapi jika tidak maka tinggalkanlah.
    Disini jelas masalahnya Pak Harun, Kalau Guru Besar kita Sayyidi Syeikh Ahmad At Tijani ra saja minta dikoreksi dengan syareat, lalu kalau ada muridnya yang nglantur, APA DIA BISA BEBAS DARI SYAREAT?… lebih konyolnya lagi kalau dinisbatkan kepada wali lain AL HALLAJ, APAKAH GURU ANTUM INI MURIDNYA SYEIKH TIJANI ATAU MURID AL HALLAJ ?…… … See More
    Dalam mkomentar antum yang terahir: Kalau sekiranya artikel2 saya tidak bisa dipahami oleh saudara2, yaa…silakan diabaikan saja dan anggaplah oleh saudara2 tidak ada manfaatnya. Dan saudara2 tetaplah berpegang teguh dengan apa yg selama ini saudara2 jalani. Saya kira hal seperti itu, nggak perlu direpoti.
    3 hours ago · Report
    “Saya bukan tidak faham dengan artikel saudara, justru saya sangat faham bahwa ITU BANYAK SALAHNYA. kalau saya biarkan, saya kasihan dengan orang orang yang butuh informasi benar malah kesasar.
    Yang terahir, saya bukan takut atau tidak mau berhadapan gengan guru antum, tapi sebelum itu terjadi, coba copy lagi seluruh komentar dan artikel antum, konfirmasikan kepada guru antum, kalau memang itu yang beliau benarkan, maka insyaAllah suatu saat saya akan menemuinya. tapi lebih baik dalam sebuah forum diskusi resmi, agar teman teman yang selama ini penasaran gara gara artikel antum itu bisa hadir juga. Ihdinash shirathal mustaqiim, wassalamu’alaikum wr wb.

    Yesterday at 2:48am · Report

  63. 63 tilmidz sidi genoun

    perihal al-Muqaddam KH Yunus Abdul Hamid (Jakarta)

    H.harun menulis :

    “Jadi, saya kasihan kepada orang2 yg sudah “diangkat” murid oleh bapak YUNUS. Susah payah mengamalkan aurad/hizib setiap hari, tetapi tidak akan memberi faedah.”

    Masya Allah, bagaimana orang yang (saya yakin H Harun) tidak kenal, tidak tahu tidak pernah tatap muka dengan KH Yunus, bisa mem-vonis KH Yunus sedemikian?

    Untuk diketahui, bahwa guru kami, KH Yunus Abdul Hamid, memiliki banyak sanad shahih dan diangkat sebagai Muqaddam yang sah oleh Muqaddam yang berhak: kami sebutkan salah satu sanad beliau :

    KH Yunus Abdul Hamid dari KH Badri Masduqi dari Sayyidi Syeikh Idris al-Iraqi (Maroko) dari Sayyidi Syeikh Ahmad Sukairij (Maroko) dari Sayyidi Syeikh Ahmad Abdallawi dari Sayyidi Syeikh Ali Tamasini dari Sayyidna Abul Abbas Ahmad al-Tijani RA dari Rasulullah SAW.

    disamping itu banyak lagi sanad lainnya. Dan KH Yunus ini sudah mewakili Indonesia dalam Konferensi Internasional Tariqah Tijaniyyah di Maroko tahun 2007 dan 2009 lalu.

    Mudah-mudahan H.Harun dalam tulisannya kelak apalagi menyangkut Muqaddam lain, bisa lebih teliti, koreksi dan cross check ke pihak terkait, jadi tidak dari satu sumber informasi saja..karena banyak informasi yang keliru dan fatal…seperti status KH Badri, KH Umar Baidhowi, Habib Jafar dan lainnya…

    wassalam

  64. 64 Harun

    Yaa sudahlah! Saya kira kita berpedoman hidup sebagai pengikut Sayyidi Syaikh Ahmad Tijani sesuai dengan kadar akal dan ruhani masing2, serta tidak boleh dipaksakan, maka saya rasa tukar pandangan seperti ini tidak perlu diperpanjang lagi. Yang paling penting kita sebagai pengikut dari Sayyidi Syaikh Ahmad Tijani, tetap bakal memperoleh “fasilitas” di kehidupan setelah dunya ini. Saya rasa itu kesimpulan akhir yang paling tepat. Saya kira demikian yaa “murid Sidi Gennoun”? (Anda namanya siapa yaa..?)

    Kepada saudara2 sekalian pembaca weblognya pak M.Syafi’i, semoga berkah dan selamat atas kita semua !
    Kepada pak M.Syafi’i, saya haturkan terima kasih karena anda telah mengijinkan artikel2 saya dimuat di weblog anda. Allah yang membalas!

    ASSALAAMU’ALAIKUM WAROHMATULLOHI WABAROKAATUH

    H. HARUN

  65. 65 alek

    assalamu’alaikum

    bingung mau nulis apa…
    semua cangih2 bahasa tasawufnya…
    bismillah…semoga berkenan tulisan ini.
    ketika pertama kali mendengar bahwa: pengambil bai’at tijany yang muttasil dijamin masuk surga bersama orang tua dan anak keturunan…
    hati ini berbicara “ce’ pedene”…
    tapi ternyata setelah membaca salah satu syarat di manaqib Syaikh Ahmad, saya menjadi paham, bahkan sebagai orang bodoh… saya menjadi sangat menyadari
    bahwa wajar kalau misalkan jaminannya seperti disebutkan saudara saudara di atas….
    syarat tersebut adalah “IKHWAN TIJANIYYIN TIDAK BOLEH MERASA AMAN DARI ADZAB ALLAH” walaupun dijamin masuk surga tanpa hisab….
    semata2 menekankan kepada ikhwan bahwa wirid,puasa,beribadah,dan yang baik2… tidak akan mungkin tanpa idzin dari Allah SWT.
    begitu pun sebaliknya… tidak akan mungkin menghindari ma’asy tanpa diberi kekuatan oleh Allah untuk-nya.
    maaf kalo mngkin hanya seperti menggarami air laut…
    dan bagi para ikhwan dan muhibbin semoga menjadi murid2 sayyid ahmad yang selalu “tidak merasa aman dari adzab Allah…”
    karena qta memang bukan siapa2…

    assalamu’alaikum

  66. 66 HARUN

    Salinan jawaban saya terhadap surat/email dari seorang penanya, sbb :

    Assalaamu’alaikum Adit,

    Begini yaa, anda pada saat ini senantiasa diliputi keraguan dan anda sepertinya sulit untuk memutuskan sesuatu hal sebagai suatu kepastian. Saya kira suasana yang sedang anda alami sekarang merupakan hal yang wajar bagi seseorang yg sedang mencari suatu “kebenaran hakiki”. Adalah hal yg wajar apabila kita mengagumi/menyenangi sosok seseorang yg menurut kita bagus, hebat atau super. Tapi apakah anda sudah mengetahui dan meyakini bahwa sosok tersebut merupakan sosok/tokoh asli/original yg kita kagumi selama ini.

    Buya Hamka dikenal oleh sebagian muslim Indonesia sebagai tokoh besar, bergelar doctor honoris causa dan diakui sebagai cendekia muslim oleh negara2 lain. Bagi orang2 yg bergaul dengan beliau secara fisik (bertemu muka) dan selalu mengikuti kegiatan2nya, pasti punya penilaian lebih daripada yg mengenal beliau hanya sekilas melalui media massa dan dari mulut ke mulut. Bagaimana dg anda? seberapa jauhkah anda mengenal sosok buya Hamka yg anda kagumi itu secara detail? Saya rasa, anda hanya mengenal beliau hanya dari sejarah, buku2 ttg beliau, karya2nya dlm bentuk buku & kaset. Anda pernah berjumpa dan mendengar suara orisinil beliau ketika berbicara tanpa melalui media apapun, selain gerak-gerik bibir beliau ketika berbicara? Ada yang menyebut bahwa beliau tergolong sebagai seorang wali Alloh. Apakah anda yakin bahwa beliau itu wali Alloh? Kalau anda yakin, apakah yg mendasari keyakinan anda tsb? Apakah berdasarkan media2 yg saya sebutkan di atas? atau anda sudah melihat kualitas ruhani beliau dg mata bathin anda (bukan mata dzahir) yg menjadi sebab bahwa beliau tergolong wali Alloh?

    Syekh Abdul Qadir Al-Jilani, dikenal oleh masyarakat muslim di seluruh dunia dan mayoritas dari mereka menganggap bahwa beliau adalah seorang wali Allah. Kalau beliau seorang cendekiawan muslim; maka karya2 tulis beliau membuktikan hal itu. Kalau sebagai wali Alloh, mengapa anda meyakininya? apakah karena mayoritas muslim menyatakan sbg wali, maka andapun ikut juga menyatakan hal yg sama. Ataukah karena anda sudah melihat kualitas ruhani beliau dan berjumpa, serta merasakan betapa tinggi kualitas ruhaninya?
    Dalam sejarah Tijaniyyah, Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani adalah termasuk salah satu dari 60 raja wali yang pernah mengajukan permohonan kepada Syaikh Ahmad Tijani agar diangkat sebagai murid Tijaniyyah.

    Habib Rizieq, sekilas saja; kalau saya tidak keliru bahwa guru kami pernah menyatakan bahwa habib Rizieq pernah ditalqin tarekat tijaniyyah. (Kalau di kemudian hari pendapat saya ini keliru, mohon dimaafkan).

    Katakanlah ketiga orang di atas punya derajat sebagai wali Allah (wallohu a’lam). Apa yang anda inginkan dari ketiga orang tsb? Sekedar mengaguminya; dengan melihat gambar/photo2 nya, membaca buku sejarah ttg mereka, mengikuti amalan2 mereka (maka anda mesti menjadi muridnya)? Atau anda hanya mengikuti diskusi, seminar ttg mereka? Saya rasa, hal yang terbaik untuk anda lakukan adalah menjadikan diri anda sendiri sebagai wali Alloh.
    Mengapa orang lain bisa mencapai derajat /maqam wali Alloh (bertingkat2) sementara anda tidak bisa? Yaah, minimalnya derajat sebagai wali kecil/wilayah sudah anda dapatkan.

    Penjelasan anda membingungkan juga; mengapa hanya karena “seorang wanita” anda sampai stress/frustasi, sementara di sisi lain anda menyinggung ttg kehebatan/kualitas diri para wali Alloh, keinginan mati syahid? Pada kondisi seperti inilah, maka saya menyatakan bahwa jalan hidup anda pada saat ini adalah ’sempit’. Perang jihad itu berat medannya lho! Menjadi wali/menapaki jalan (tarekat) kewalian itu juga berat lho! Dan lagi, apakah anda sudah memahami dan melihat kualitas diri “wanita” tsb. Apakah anda cuma melihat “kostumnya” (wajah cantik rupawan & body seksi, mungkin?). “Kostum”, kalau pada diri manusia saya sinonimkan sebagai “jenazah”. Isinya “jenazah” tsb adalah ruh. Anda sudah pernah melihat jati diri orisinil ruh dari “wanita” tsb? Atau, anda semata-mata cuma melihat “jenazah”nya saja dan gerak-gerik daripada “jenazah”nya?
    Demikian pula, anda jangan terkecoh dengan “jenazah2″ yang dibungkus dengan jubah & sorban, atau jilbab atau dibungkus dengan jas rapi serta berdasi. Sebab, jangan2 isi dari “jenazah2″ tersebut hanyalah anasir/ruh yang berkualitas rendah. Sedangkan “jenazah2″ yang berbalutkan kain sederhana (bahkan kelihatan kumal), ternyata isinya ruh2 yang bersinar dan berkualitas waliyulloh.

    Jadi, kalau anda sudah pernah melihat, atau paling tidak “merasakan” kualitas daripada orang2 tsb yg saya sebut di atas, tidak ada lain sebutan bagi anda bahwa anda adalah seorang Wali (meskipun derajat wali paling rendah).

    Anda tidak perlu bingung dengan istilah2 ciptaan manusia; tasauf modern atau tradisional. Dalam tarekat, jalankan metodanya dan nanti rasakan sendiri nikmat dan keharuannya.
    Seperti, saya ingin menceritakan ttg perbedaan rasa asin antara laut Mati dan laut yg lain. Saya hanya bisa omong bahwa laut Mati rasa airnya lebih asin bahkan sangat asin, berbeda dg laut2 lainnya. Hal ini susah diterima dg baik, susah diceritakan. Maka hal yg terbaik adalah; Anda datangi lautnya dan anda melihat lautnya (ainul yaqin) dengan mata kepala anda sendiri (bukan melalui photo/gambar) dan anda merasakan sendiri rasa asinnya (bukan melalui lidah orang lain) (haqqul yaqin). Setelah anda merasakan asinnya air laut Mati, maka apa yg anda mampu ceritakan kpd saya? Saya rasa anda cuma mampu berucap: ASIN, sangat asin, memang lebih asin dari laut yg lain; tidak lebih bukan? Jadi dimana letak kenikmatannya? Jawabannya: ada pada merasakannya dan bukan menceritakannya!

    Anda menyatakan bahwa anda mencintai Rasulullah SAW. Apakah anda sudah pernah berjumpa dg beliau, walaupun hanya melalui mimpi? Atau semata-mata karena keyakinan berdasarkan kitab suci? Kalau anda mengenal sesuatu/seseorang hanya berdasarkan cerita/tulisan maka anda baru mengenal yg sifatnya sosok yg imaginer. Mengapa? karena anda belum tahu jati diri sosok tsb yg sebenarnya (orisinil), anda belum pernah melihat wajah beliau dan cara beliau berbicara. Apakah hal tsb salah? Tidak, karena memang cuma sampai sebatas itulah kemampuan anda untuk dapat mengenal sosok orisinilnya. Nah, agar supaya anda mampu melihat sosok orisinil, maka kemampuan diri anda harus anda tingkatkan kualitasnya.

    Begitulah Adit, sekilas yg bisa saya sampaikan. Memang sebaiknya kita bertemu bila ingin membicarakan hal ini lebih lanjut, dan bila anda ingin jumpa sahabat saya tsb, saya dg senang hati mengantarkan anda. Tapi jangan lupa, bahwa dalam tarekat kita sebaiknya menjalani (amal) dari metodanya (cara) dan kemudian merasakannya, bukan mengutamakan membicarakannya atau membanggakan kemampuan kita untuk membicarakannya.
    WASSALAM

  67. 67 Harun

    Tulisan di bawah ini adalah tulisan saya di facebook yang terpaksa saya pindahkan ke dalam blog ini, dikarenakan facebook akan saya pergunakan sepenuhnya untuk kegiatan usaha/bisnis khususnya di bidang trading forex. Semoga tulisan ini bermanfaat khususnya bagi saudara2 yang memerlukan informasi tambahan tentang tarekat Tijaniyah di Indonesia.

    1. Perguruan Tijaniyah tertua di Indonesia adalah yang melalui jalur Syekh Maulana Al-Hajj Usman Dhomiri. Syekh Usman Dhomiri diangkat sebagai guru besar tarekat Tijaniyah oleh Syekh Ali Thoyyib pada tahun 1920. Beliau mengemban tugas & tanggung jawab tsb sampai wafat beliau pada tahun 1955. Syekh Usman memiliki 3 orang guru muqadam yg bertugas membantu beliau; yaitu Syekh Nu’man Dhomiri (putra Syekh Usman), Syekh Hasbullah dan Syekh Muhammad Sudjatma Al-Ismail. Dari ketiga guru muqadam tsb yg menggantikan kedudukan beliau sebagai guru besar adalah Syekh Muhammad Sudjatma Al-Ismail pada tahun 1955 – 1981. Setelah Syekh Muhammad Sudjatma Ismail wafat, kedudukan sbg guru besar diteruskan oleh seorang murid beliau (guru muqadam) yaitu Syekh Maulana Al-Hajj Muhammad Syu’aib pada tahun 1981 sampai sekarang.

    Jadi urutan guru besar tarekat Tijaniyah adalah sebagai berikut :

    a. Syekh Ahmad Tijani
    b. Syekh Muhammad Al-Ghola
    c. Syekh AlFaahasyim
    d. Syekh Ali Thoyyib
    e. Syekh Usman Dhomiri
    f. Syekh Muhammad Sudjatma Al-Ismail
    g. Syekh Muhammad Syu’aib

    Jadi tarekat tijaniyah di Indonesia sudah berumur kl.90 tahun dan Syekh Al-Hajj Muhammad Syu’aib sudah kl. 30 tahun menjadi guru besar tarekat tijaniyah. Syaikh Al-Hajj Muhammad Syua’ib adalah guru besar Tijaniyah ke-7 (ketujuh) di dunia dan guru Tijaniyah ke-3 (ketiga) di Indonesia.

    2. Kitab2 dari tarekat tijaniyah cukup banyak; ada yg membahas politik, ekonomi perdagangan dsb. Ada kitab2 yg berisikan hizib-hizib, perbintangan – falak, dsb. Kitab yang berisikan hizib2 ada 40 kitab, yang satu kitabnya berisikan 50 hizib. Jadi keseluruhannya dalam tijaniyah ada 2000 hizib. Sedangkan Sughon (hizib sughon) hanyalah salah satu hizib yg terdapat dalam kitab tsb. Dan hizib sughon sendiri itu ada 9 (sembilan) tingkatan. Alangkah nikmatnya bila kita telah menguasai, minimalnya 50 hizib saja (satu kitab hizib), dan setelah itu mengambil hizib Al-Ka’bah yg membuat kita dapat mengerti & paham akan hakekat Ka’bah dan kemudahan berjalan menuju ka’bah.
    Dalam tijaniyah juga ada kitab yg membahas ilmu falak dalam kitab TAAJUL MULUK. Kitab tsb berisikan hakikat penciptaan manusia, jin, malaikat, surga & neraka; hakikat penciptaan nabi & rasul; membahas 18.000 macam alam yang diciptakan oleh Alloh. Kitab tsb juga mengajarkan perhitungan tentang berbagai macam peristiwa yg terjadi pada manusia dan alam, perhitungan tentang jodoh & rezeki manusia; bahkan dapat menghitung dengan tepat kapan seorang manusia akan mati termasuk tanggal-bulan & tahun dia akan mati dan di mana dia akan mati. Jadi menurut saya, inilah satu-satunya kitab yg dapat menghitung dengan JITU karena didukung oleh ilmu bathin.

    3. Syekh Ahmad Tijani cuma menulis 2 kitab yaitu: JAWAHIR AL-MA’ANI dan BULUGH AL-MA’ANI. Sedangkan nama2 kitab yang lain adalah tulisan dari guru2 besar tijaniyah. Tarekat tijaniyah itu ada 12 tingkatan, yang dimulai dengan tingkat awal/dasar yaitu ladzimah, dan seterusnya, dan seterusnya, dan dst dst.
    4. Jauharotul Kamal arti sederhananya (leksikal) adalah “Mutiara Kesempurnaan”. Jauharotul kamal bisa anda kenali kalo anda sudah mengambil Wadzifah.

    Photo2 dari 5 orang guru besar tarekat tijaniyah bisa anda lihat di situs :
    http://ngamumule-islam.blogspot.com/2009/06/mursyid-thoriqoh-at-tijani.html

  68. 68 Muhammad Ari Ahmad

    Assalamualaikum wa Rahmatullahi Taala wa Barakatuh.
    Alhamdulillah :-) saya sudah membaca pendapat2 diatas, dan Alhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulillah. :-) Semoga samudra Rahmat dan Berkah ALLAH tetap untuk saudaraku semua, keluarga kalian dan orang2 disekitar kalian.

  69. 69 firman sidik

    assalamualaikum

  70. 70 dadang

    Assalaamu’alaikum

    assholatu wassllam bi adadima fil ilmilah ilayika wa alayika ya sayyidinna ya rosulullah aghisni syarian bi izatillah
    allahumma sholi ala sayyidinna muhammadin fatihhi iman ukhliqo wakhotimi waliman sabaqona shiril haq bil haq wa mi daril aziim

    perknalkn sya adalh hmba yg sdng blajar briman….adapun sholawat yg trtulis diats sya dpat dri ustad sya,bliau mnyebut’a sholawat fatih….?

    dan stiap akan mulai tolab ilmu sya diajrkan tuk slalu krim al fthah tuk para syeh/guru diantara’a;

    - syekh abbul abbas
    - syekh ali bin abi tholib
    - syekh alfa hasyim
    - syekh muhammad firghola
    - syekh imam domiri
    - syekh afdillah(guru dri ustad sya di bogor)
    - ustad acim (kakak sprguruan ustad)

    bliau blang ilmu yg diajrkan’a kpda sya adalah tarekat tijani,dan syapun di anjurkan mengamalkan:

    - sholawat fatih
    - dzikir :* istgfar 100x
    * sholawat ats nabi 100x
    * dzkir(sbhanallh,wlhmdllah,walaillah ha ilallah,waullahu
    akbar) 100x

    tpi sya tdk tahu tntang doa jauharatul kamal?
    trus terang sya mrasa jauh lbih baik ktika mngikuti dan mngamalkn ajaran ini,tetapi sbalik’a jikalau sya tdak mngikti dan mngamalkan’a…..
    godaan sngat brat dkala sya mngamlkan ajaran ini…?
    tpi sulit bngkit dikala sya jauh….nasehat dan saran: achillas@ymail.com trima kasih
    wasslm muallkm wrhmtllhi ta’ala wbrktu

  71. 71 alan

    bapak guru syech syu’aib adalah imam saya

  72. 72 abuy

    Inti dari semua pembahasan di atas adalah:

    - Carilah guru dan muqadam tijaniyyah yang benar, bukan yang gadungan.
    Guru gadungan hanya bisa memberi bacaan suatu wirid tapi tidak mengerti hakikat dari wirid tersebut.
    - jangan melihat seorang guru dikarenakan semata-mata karena berpakaian seperti pakaian nabi2 atau syekh2; tapi guru yang benar adalah yang mampu membimbing murid2nya hingga ke tingkat keilmuan tijaniyyah yang paling tinggi.
    - Guru tijaniyah yang benar atau sesungguhnya adalah yang mampu membimbing murid2nya untuk mendalami hakikat dan ma’rifat secara spiritual/ghoibiyah. Kalau ada yang mengaku sbg muqadam atau guru tijaniyyah tetapi tidak bisa mengajarkan ilmu hakikat dan ilmu ma’rifat secara spiritual (tapi CUMA sebatas konsep), maka untuk apa anda menghabiskan waktu anda untuk sesuatu yang tidak memberi manfaat sama sekali. Carilah GURU yang BENAR …..
    - Guru tijaniyyah yang sesungguhnya adalah yang mengerti dan memahami hakikat dan ma’rifat secara spiritual; bukan hanya sekedar pengetahuan atau konsep. Sebab, kalau ingin sekedar mendapatkan pengetahuan, maka cukuplah dengan membaca kitab2 referensi.

    Kalimat di atas adalah pembicaraan H.Harun yang saya ringkas supaya saudara2 lebih paham. Kalau menurut istilah pak harun; tinggal anda pilih…. belajar kepada guru/muqadam yang benar atau kepada guru/muqadam abal-abal (berlagak menjadi guru/muqadam tapi tiada isi). Bisa saudara2 lihat di sini : http://blog.its.ac.id/syafii/2008/10/06/siapakah-syekh-imam-ahmad-at-tijani/

  73. 73 abuy

    maaf… maksud saya bisa saudara2 lihat di sini : http://luluvikar.wordpress.com/2004/08/22/tarekat-tijaniyah/#comments

  1. 1 Piano
  2. 2 jafar umar thalib
  3. 3 Webhosting Vergleich

Leave a Reply

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture.
Anti-Spam Image