Rebo Wekasan

Klik link berikut untuk melihat amalan rabu terakhir bulan shafar
Sudah menjadi tradisi di kalangan sebagian umat Islam terutama di masayarakat Islam Jawa merayakan Rebo Wekasan atau Rabu Pungkasan (Yogyakarta) atau Rebo Kasan (Sunda Banten) dengan berbagai cara. Ada yang merayakan dengan cara bersa-besaran, ada yang merayakan secara sederhana dengan membuat makanan yang kemudian dibagikan kepada orang-orang yang hadir, namun diawali dengan tahmid, takbir, zikir dan tahlil serta diakhir dengan do’a.

Ada juga yang merayakan dengan melakukan shalat Rebo Wekasan atau shalat tolak bala, baik dilakukan sendiri-sendiri maupun secara berjamaah. Bahkan ada yang cukup merayakannya dengan jalan-jalan ke pantai untuk mandi dimaksudkan untuk menyucikan diri dari segala kesalahan dan dosa.

Waktu penulis masih kecil sekitar tahun 1960 an suka ikut-ikutan merayakan Rebo Wekasan yang dilakukan oleh para orang tua, yaitu dengan cara riungan pagi hari Rabu Wekasan sekitar jam 06.00 di masjid dengan membawa jamuan ketupat dan temannya ada ayam sayur, ayam goreng, ayam bakar dan lain-lain. Riuangan dipimpim oleh imam masjid dan diiringi dengan tahlil dan tahmid serta diakhir dengan do’a tolak bala. Dan setelah itu, jamuan tersebut dibagikan kepada peserta riungan untuk dimakan secara bersama-sama. Namun saat ini, kegiatan tersebut sudah tidak dilakukan lagi, akibat dari pergeseran nilai-nilai sosial di kalangan masyarakat setempat.

Apa yang dimaksud dengan “Rebo Wekasan” ?

Rebo Wekasan adalah hari Rabu yang terakhir pada bulan Shafar. Dari beberapa cara merayakan Rebo Wekasan ada yang mengganjal dalam pikiran penulis yaitu dengan cara melalukan shalat Rebo wekasan yang dikerjakan pada hari Rabu pagi akhir bulan Shafar setelah shalat Isyraq, kira-kira mulai masuk waktu Dhuha. Pada dasarnya Shalat Rebo Wekasan tidak ditemukan temukan adanya Hadits yang menerangkan shalat Rebo Wekasan.

Dalam Islam berbagai shalat baik wajib maupun sunnah telah disebutkan dalam Hadits Nabi saw secara lengkap yang termuat dalam berbagai kitab Hadits, namun shalat Rebo Wekasan tidak ditemukan. Shalat wajib atau shalat sunnah merupakan ibadah yang telah ditentukan Allah dan Rasul-Nya, baik tata cara mengerjakannya maupun waktunya. Tidak dibenarkan membuat atau menambah shalat baik wajib maupun sunnah dari yang telah ditentukan oleh Allah dan Rasul-Nya. Ibadah hanya dapat dilakukan sesuai dengan yang diperintahkan, jika tidak, maka sia-sia belaka.

Ada sebuah buku berjudul “Kanzun Najah” karangan Syekh Abdul Hamid Kudus yang pernah mengajar di Makkatul Mukaramah. Dalam buku tersebut diterangkan bahwa telah berkata sebagian ulama ‘arifin dari ahli mukasyafah (sebutan ulama sufi tingkat tinggi), bahwa setiap hari Rabu di akhir bulan Shafar diturunkan ke bumi sebanyak 360.000 malapetaka dan 20.000 macam bencana. Bagi orang yang melaksanakan shalat Rebo Wekasan atau shalat tolak bala pada hari tersebut sebanyak 4 raka’at satu kali salam atau 2 kali salam dan pada setiap raka’at setelah membaca surat Al Fatihah dilanjutkan dengan membaca surat Al Kautsar 17 kali, surat Al Ikhlas 5 kali, surat Al Falaq 2 kali dan surat An Nas 1 kali. Setelah selesai shalat dilanjutkan membaca do’a tolak bala, maka orang tersebut terbebas dari semua malapetaka dan bencana yang sangat dahsyat tersebut.

Atas dasar keterangan tersebut, maka shalat Rebo Wekasan tidak bersumber dari Hadits Nabi saw dan hanya bersumber pada pendapat ahli mukasyafah ulama sufi. Oleh sebab itu, mayoritas ulama mengatakan shalat Rebo Wekasan tidak dianjurkan dengan alasan tidak ada Hadits yang menerangkannya. Ada pula ulama yang membolehkan melakukan shalat Rebo Wekasan, dengan dalih melakukan shalat tersebut termasuk melakukan keutamaan amal (Fadhailul ‘amal).

Namun sikap yang baik terhadap shalat Rebo Wekasan adalah kembali kepada aturan bahwa semua ibadah didasarkan atas perintah. Sesuai dengan penjelasan yang telah diuraikan di atas, tidak ditemukan dasar perintah atau keterangan yang menjelaskan tentang shalat Rebo Wekasan atau shalat tolak bala, maka shalat Rebo Wekasan tidak perlu dilakukan. Bukankah semua shalat yang kita kerjakan baik wajib maupun sunnah dapat menolak bala? (aby)

Sumber http://bimasislam.depag.go.id/?mod=article&op=detail&klik=1&id=115

Baca juga artikel ttg rabu terakhir shafar

1. Amalan Rabu Terakhir di Bulan Shafar (insya allah 25 Februari 2009)

2. Rebo Wekasan

3. Sayyid Muchsin Ibn Hamid: Benarkah Shafar Menakutkan dan Bulan Kesialan?

4. TATA CARA PELAKSANAAN SHOLAT SUNAT LIDAF’IL BALA PADA HARI RABU TERAKHIR BULAN SHOFAR (10 Pebruari 2010)

11 Responses to “Rebo Wekasan”


  1. 1 hanafi2020

    alhamdulillah ketemu juga pembahasannya. baru dengar shalat rabu wekasan yang dikhutbahkan imam masjid jumat kemarin. Imam masjid begitu menyakinkan menjelaskannya. tapi banyak keraguan ttg hal itu meski saya baru dengar. kenapa ada hari baik dan hari buruk ?. bagaimana bisa menghindar dari bencana hanya dengan doa khusus ?. bukankah shalat tiap hari wajib maupun sunah merupakan tolak balak ?. terima kasih

  2. 2 dhikadhuan

    Alhamdulillah terjawab juga ganjalan unek2 yg selama ini mengganjal. Di kampung sy dan umumnya masyarakat Banten pada hari Rabu akhir bulan Shafar selalau diadakan ritual bagi2 ketupat + sayurnya dan shalat rebo wekasan, yg sy bingung termasuk shalat sunnah apa?lalu niat shalatnya bagaimana? dan pada hari Rabu pagi ini sy tidak melakukannya krn msh ragu. Kalau do’anya yg khusus dibaca di bulan shafar slalu sy baca setelah shalat subuh dan setelah shalat magrib. Terima kasih pa Ustadz atas pencerahannya semoga Allah Ta’ala selalu melindungi kita sampai bulan Shafar tahun2 selanjtnya, Amiiin.

  3. 3 KaiToU KiD

    wah, thanks infonya, saya juga lagi nyari2 inih..

  4. 4 herman

    memang sebagai umat islam, kita hrs tau ilmu dari apa yang akan kita kerjakan, apalagi yg termasuk ibadah shalat.

    jd jgn kayak umat yg terdahulu yg menyembah patung, lantaran pendahulu mereka jg melakukan hal yg demikian. kita hrs cari tau ilmunya..

    mksh udah berbagi ilmu… teruskan…

  5. 5 Ridwan MCG

    memang perlu berbagi keilmuan untuk semua hamba Allah..bukankah harus demikian jika ingin menjadi mahkluk yang sempurna.Ayo membaca ha.ha.ha. Sudahkah kita melakukan sholat sunnah yang muakkadah? ex: Qobliyah dan ba’diyah atau tahajjud dll. kalau belum istiqomahkan sunnah muakkad dulu baru sholat sunnah lain sebagai tambahan nilai ibadah. yakini dan cari literaturnya..karena kita tidak tau amalan sunnah atau apa! yang diterima oleh Allah. sudahlah perbanyak ibadah dan yakini insyaAllah buahnya akan muncul, asal kuncinya “Karena Allah” Bukan yang lain. Ngapunten

  6. 6 Estoe

    Yang menjadi masalah bagaimana kita mengajak mereka untuk mendahulukan yang ma`tsur (yang datang dari Rosulukkoh)padahal bagi mereka hal tersebut sudah mendarah daging ? itu sulitnya minta ampun, super tlaten,sabar,dan sebagainya dan sebagainya…….. butuh waktu yang panjang…………………… mari saling berbagi!

  7. 7 dayat hidayat

    saya mengucapkan terima kasih atas penjelasan ini. sehingga dari penjelasabn tersebut kita bisa bersikap bijaksana menghadapi dan bergaul di tengah masyarakat yang biasa melakukan shalt rebo wekasan.
    menurut hemat saya. kebiasaan shalat Rebo wekasan ini bermula dari kebiasaan pra-islam yang suka melakukan “pantang” (kebiasaan di daerah Banten Selatan). Sehingga para ulama pada awal islam menggantinya dengan shalat tolak bala dengan istilah sholat rebo wekasan.

    Dayat Hidayat. Banten Selatan.

  8. 8 Muh Mubasyir

    Apanya yang salah ya…Sholatnya juga sesuai syariat kok, diawali takbirotul ihrom, di akhiri salam, menghadap kiblat, bukankah itu yang di ajarkan kanjeng Nabi….doa tolak balak juga doanya minta pada Alloh, gak minta pada selain Alloh.

    Soal, niat Lidaf’il Bala’ atau sholat sunat rebo wekasan menurut saya itu sah2 saja, sebagai sholat sunat mutlaq yang kalau di panjangkan bunyinya akan menjadi begini: “Sya berniat sholat Sunnat mutlaq di hari rebo wekasan ….roka’at supaya di jauhkan dari bala’ karena Alloh”

    Gitu aja lah

  1. 1 TATA CARA PELAKSANAAN SHOLAT SUNAT LIDAF’IL BALA PADA HARI RABU TERAKHIR BULAN SHOFAR (10 Pebruari 2010) at Pecinta Rasulullah - M Syafii
  2. 2 Amalan Rabu Terakhir di Bulan Shafar (insya allah 25 Februari 2009) at Pecinta Rasulullah - M Syafii
  3. 3 TATA CARA PELAKSANAAN SHOLAT SUNAT LIDAF’IL BALA PADA HARI RABU TERAKHIR BULAN SHOFAR (10 Pebruari 2010) at Pecinta Rasulullah

Leave a Reply

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture.
Anti-Spam Image