<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress/wordpress-mu-1.2.1" -->
<rss version="2.0" 
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
<channel>
	<title>Comments on: MENYAMBUT BULAN MUHARRAM (bag 1)</title>
	<link>http://blog.its.ac.id/syafii/2009/11/23/menyambut-bulan-muharram-bag-1/</link>
	<description>Allahumma sholli alaa sayyidina muhammad wa aalihi washohbihi wassalim</description>
	<pubDate>Tue, 16 Mar 2010 23:02:51 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=wordpress-mu-1.2.1</generator>

	<item>
		<title>By: rd</title>
		<link>http://blog.its.ac.id/syafii/2009/11/23/menyambut-bulan-muharram-bag-1/#comment-1452</link>
		<author>rd</author>
		<pubDate>Thu, 17 Dec 2009 08:18:43 +0000</pubDate>
		<guid>http://blog.its.ac.id/syafii/2009/11/23/menyambut-bulan-muharram-bag-1/#comment-1452</guid>
		<description>o...gt penjelasannya sdri choirun niza..trims
tp,tentang fadhilahnya yg tertulis di atas,,,kira2 sumbernya dari mana y...
klo bner ttg fadhilah di atas sumbernya dr Rosulullah,brarti harusnya d jaman Rosulullahpun dah ada doa ttg akhir tahun.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>o&#8230;gt penjelasannya sdri choirun niza..trims<br />
tp,tentang fadhilahnya yg tertulis di atas,,,kira2 sumbernya dari mana y&#8230;<br />
klo bner ttg fadhilah di atas sumbernya dr Rosulullah,brarti harusnya d jaman Rosulullahpun dah ada doa ttg akhir tahun.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: abdul</title>
		<link>http://blog.its.ac.id/syafii/2009/11/23/menyambut-bulan-muharram-bag-1/#comment-1442</link>
		<author>abdul</author>
		<pubDate>Wed, 16 Dec 2009 03:22:02 +0000</pubDate>
		<guid>http://blog.its.ac.id/syafii/2009/11/23/menyambut-bulan-muharram-bag-1/#comment-1442</guid>
		<description>ini sekalian ijazahnya juga nggak untuk semua ,.... dari Kholasah,... Wirid Latif,..Ratib Hadad dsb.,,,,

ditunggu jawabannya

Terima kasih,...

Abdurachman</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>ini sekalian ijazahnya juga nggak untuk semua ,&#8230;. dari Kholasah,&#8230; Wirid Latif,..Ratib Hadad dsb.,,,,</p>
<p>ditunggu jawabannya</p>
<p>Terima kasih,&#8230;</p>
<p>Abdurachman</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Choirun Niza</title>
		<link>http://blog.its.ac.id/syafii/2009/11/23/menyambut-bulan-muharram-bag-1/#comment-1429</link>
		<author>Choirun Niza</author>
		<pubDate>Mon, 14 Dec 2009 22:11:55 +0000</pubDate>
		<guid>http://blog.its.ac.id/syafii/2009/11/23/menyambut-bulan-muharram-bag-1/#comment-1429</guid>
		<description>Yang mempunyai inisiatif penanggalan /kalender Hijriyah adalah khalifah Umar bin Khattab. Sejak zaman Rasulullah sampai masa Abu Bakar ash Shiddiq, kaum muslimin belum mepunyai kalender sendiri. Waktu itu kaum muslimin disamping memakai kalender masehi juga menggunakan “suatu peristiwa” sebagai nama tahun.

 ***Alkisah, pada suatu ketika Umar bin Khattab berkirim surat kepada Abu Musa Al Asy’ari sebagai gubernur di Basroh. Surat yang tidak ada tanggal dan tahunnya itu menjadikan Abu Musa bingung, akhirnya dia membalas kepada khalifah Umar r.a. Sesudah menerima surat balasan itulah, Umar mengumpulkan cerdik pandai untuk mnentukan kalender Islam. 

Dalam pertemuan itu ada beberapa usul tentang nama kalender Islam. 
Sebagian mengusulkan, agar kalender Islam dihitung sejak kelahiran Rasulullah SAW, dengan nama Miladiyah. Ada pula yang mengusulkan kalender Islam dimulai dari Nuzulul Qur’an, dengan nama Nuzuliyah?Qur’aniyah. Ada pula yang mengusulkan dimulai dari wafat Rasulullah SAW dan ada pula yang mengusulkan tahun Islam dimulai dari Hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah. Usul terakhir itulah yang akhirnya disetujui oleh musyawirin, yang kemudian ditetapkan oleh Umar bin Khattab.

Kalender Islam itu merupakan bid’ah, yang tidak ada tuntunannya dalam zaman Nabi Muhammad SAW. Jadi, jika mencari dalil shahih tentang do’a tersebut tentu tidak ada. Namun bid’ah tersebut adalah bid’ah hasanah (bid’ah yang baik). Dan mengikuti tahun Hijriyyah, sudah menjadi kesepakatan ummat Islam, adalah wajib.

Do’a sesuai tuntunan Nabi SAW memang bagus karena Nabi SAW mahir merangkai kata puitis yang tiada tertandingi.  Tapi jika tidak, pada dasarnya do’a diserahkan ke masing masing individu, apa sebenarnya yang ingin dikehendaki dari masa lalu dan masa yang akan datang karena keinginan tiap-tiap individu tidaklah sama, selama hal itu memenuhi syarat-syarat dan adab dalam berdo’a.

***Dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah SAW bersabda :”Allah senantiasa memperkenankan do’a seorang hamba, selama do’a itu tidak mengandung dosa, atau memutus tali silaturahmu, dan selama tidak minta cepat-cepat diperkenankan.” Lalu beliau ditanya orang,”Apa maksudnya cepat-cepat?” Jawab beliau,”Umpamanya seorang berkata dalam do’anya, ‘Aku telah mendo’a, aku telah mendo’a tetapi aku belum melihat do’aku diperkenankan. Lalu ia putus asa dan berhenti berdo’a.”--- HR. Muslim.

Dari anas r.a., Rasulullah SAW bersabda :”Apabila kamu mendo’a, hendaklah yakin dalam do’a (bahwa Allah mendengar dan mengabulkan). Janganlah kamu mendo’a dengan kalimat : Ya Allah, jika Engkau mau berilah aku!’ Karena sesungguhnya Allah Ta’ala tidak dipaksa memenuhi suatu do’a.”--- HR. Muslim.

Kiranya, do’a di atas telah memenuhi hal-hal tersebut. Sehingga, bukan masalah jka ingin melafalkannya tanpa mempermasalahkan dari mana itu sumbernya.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Yang mempunyai inisiatif penanggalan /kalender Hijriyah adalah khalifah Umar bin Khattab. Sejak zaman Rasulullah sampai masa Abu Bakar ash Shiddiq, kaum muslimin belum mepunyai kalender sendiri. Waktu itu kaum muslimin disamping memakai kalender masehi juga menggunakan “suatu peristiwa” sebagai nama tahun.</p>
<p> ***Alkisah, pada suatu ketika Umar bin Khattab berkirim surat kepada Abu Musa Al Asy’ari sebagai gubernur di Basroh. Surat yang tidak ada tanggal dan tahunnya itu menjadikan Abu Musa bingung, akhirnya dia membalas kepada khalifah Umar r.a. Sesudah menerima surat balasan itulah, Umar mengumpulkan cerdik pandai untuk mnentukan kalender Islam. </p>
<p>Dalam pertemuan itu ada beberapa usul tentang nama kalender Islam.<br />
Sebagian mengusulkan, agar kalender Islam dihitung sejak kelahiran Rasulullah SAW, dengan nama Miladiyah. Ada pula yang mengusulkan kalender Islam dimulai dari Nuzulul Qur’an, dengan nama Nuzuliyah?Qur’aniyah. Ada pula yang mengusulkan dimulai dari wafat Rasulullah SAW dan ada pula yang mengusulkan tahun Islam dimulai dari Hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah. Usul terakhir itulah yang akhirnya disetujui oleh musyawirin, yang kemudian ditetapkan oleh Umar bin Khattab.</p>
<p>Kalender Islam itu merupakan bid’ah, yang tidak ada tuntunannya dalam zaman Nabi Muhammad SAW. Jadi, jika mencari dalil shahih tentang do’a tersebut tentu tidak ada. Namun bid’ah tersebut adalah bid’ah hasanah (bid’ah yang baik). Dan mengikuti tahun Hijriyyah, sudah menjadi kesepakatan ummat Islam, adalah wajib.</p>
<p>Do’a sesuai tuntunan Nabi SAW memang bagus karena Nabi SAW mahir merangkai kata puitis yang tiada tertandingi.  Tapi jika tidak, pada dasarnya do’a diserahkan ke masing masing individu, apa sebenarnya yang ingin dikehendaki dari masa lalu dan masa yang akan datang karena keinginan tiap-tiap individu tidaklah sama, selama hal itu memenuhi syarat-syarat dan adab dalam berdo’a.</p>
<p>***Dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah SAW bersabda :”Allah senantiasa memperkenankan do’a seorang hamba, selama do’a itu tidak mengandung dosa, atau memutus tali silaturahmu, dan selama tidak minta cepat-cepat diperkenankan.” Lalu beliau ditanya orang,”Apa maksudnya cepat-cepat?” Jawab beliau,”Umpamanya seorang berkata dalam do’anya, ‘Aku telah mendo’a, aku telah mendo’a tetapi aku belum melihat do’aku diperkenankan. Lalu ia putus asa dan berhenti berdo’a.”&#8212; HR. Muslim.</p>
<p>Dari anas r.a., Rasulullah SAW bersabda :”Apabila kamu mendo’a, hendaklah yakin dalam do’a (bahwa Allah mendengar dan mengabulkan). Janganlah kamu mendo’a dengan kalimat : Ya Allah, jika Engkau mau berilah aku!’ Karena sesungguhnya Allah Ta’ala tidak dipaksa memenuhi suatu do’a.”&#8212; HR. Muslim.</p>
<p>Kiranya, do’a di atas telah memenuhi hal-hal tersebut. Sehingga, bukan masalah jka ingin melafalkannya tanpa mempermasalahkan dari mana itu sumbernya.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: rahmaa</title>
		<link>http://blog.its.ac.id/syafii/2009/11/23/menyambut-bulan-muharram-bag-1/#comment-1390</link>
		<author>rahmaa</author>
		<pubDate>Wed, 09 Dec 2009 00:35:18 +0000</pubDate>
		<guid>http://blog.its.ac.id/syafii/2009/11/23/menyambut-bulan-muharram-bag-1/#comment-1390</guid>
		<description>do'a2 diatas sumbernya dari mana ya??
Mohon lengkapi dengan sumber . . .</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>do&#8217;a2 diatas sumbernya dari mana ya??<br />
Mohon lengkapi dengan sumber . . .</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: rayhan</title>
		<link>http://blog.its.ac.id/syafii/2009/11/23/menyambut-bulan-muharram-bag-1/#comment-1385</link>
		<author>rayhan</author>
		<pubDate>Tue, 08 Dec 2009 09:03:58 +0000</pubDate>
		<guid>http://blog.its.ac.id/syafii/2009/11/23/menyambut-bulan-muharram-bag-1/#comment-1385</guid>
		<description>Mohon penjelasannya dong... doa2 tersebut sumbernya yang shohih ada ngga sih ya? 
saya selalu baca doa tersebut setiap pergantian tahun tapi sampai sekarang belum ketemu jawabannya apakah doa tersebut bersumber dari Rasululloh SAW, sahabat atau hanya karangan ulama saja.
Terima kasih.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Mohon penjelasannya dong&#8230; doa2 tersebut sumbernya yang shohih ada ngga sih ya?<br />
saya selalu baca doa tersebut setiap pergantian tahun tapi sampai sekarang belum ketemu jawabannya apakah doa tersebut bersumber dari Rasululloh SAW, sahabat atau hanya karangan ulama saja.<br />
Terima kasih.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
