Hukum Ucapan Selamat Natal oleh Habib Munzir bin Fuad Al Musawwa

  1. masalah ini adalah masalah sikon dan kekuatan iman, seseorang jika mengucapkan selamat hari natal pada nasrani tidak berarti ia murtad dan kufur, kecuali jika didasari pengakuan atas trinitas dan atau agama mereka,namun kebiasaan ini baiknya ditinggalkan oleh muslimin dan bukan dilestarikan. (Sumber)
  2. Rasul saw mengucapkan doa untuk non muslim, diantara doa beliau : yahdiina wayahdiikumllah wayushlih baalakum (Semoga Allah memberi petunjuk pada kami dan pada kalian, dan membenahi keadaan kalian) (HR Imam Bukhari pada Adabul Mufrad). (Sumber)
  3. mengenai ucapan natal, hal itu dilarang dan haram hukumnya jika diniatkan untuk memuliakan agama lain, namun jika diniatkan untuk menjalin hubungan baik agar mereka tertarik pada islam atau tidak membenci islam, maka hal itu ada sebagian ulama yg memperbolehkan. (Sumber)
  4. mengucapkan selamat untuk menyambut kemuliaan agama lain haram hukumnya secara mutlak.namun jika tidak untuk memuliakan agama lain, seperti ingin mempererat hubungan dg mereka, apakah itu keluarga atau teman, atau siapapun agar mereka tertarik pada kebaikan dan keramahan agama islam maka hal ini khilaf, sebagian ulama memperbolehkan dan sebagian tetap mengharamkan,kelompok yg membolehkan ucapan Natal / tahun baru / waisak dlsb jika betul betul diyakini perbuatan itu bisa membuatnya tertarik pada islam.

    toh kita sama sekali tak memuliakan selain Allah swt.

    jika ragu, maka lebih baik jangan dilakukan. (Sumber)

3 Responses to “Hukum Ucapan Selamat Natal oleh Habib Munzir bin Fuad Al Musawwa”


  1. 1 Choirun Niza

    Memberi ucapan “Selamat” terhadap luar Islam, terutama oleh tokoh public(misalnya Ulama) seyogyanya tidak perlu dilakukan. Bukan lantaran tidak mengakui kekuatan keimanan mereka. Namun apa yang mereka lakukan akan dilihat oleh khalayak/generasi umum. Karena yang sangat disayangkan jika public meniru dalam memberi ucapan selamat tidak tahu dasarnya kenapa. Tetapi lantaran melihat hal itu pun dilakukan oleh seorang tokoh sehingga dianggap hal wajar dan bisa menjamur.

    Mereka pun akan menirunya sehingga akan berkembang menjadi sesuatu yang lazim tanpa ada tendensi untuk Syi’ar. Karena hal ini bisa merambat ke hal-hal lain pula, seperti perayaan ‘valentine’ yang tanpa disadari telah merasuk ke generasi muda Islam. Persahabatan bisa dijalin missal dengan tetap menjaga hubungan baik dengan tetap menjaga tutur kata ataupun kontak dengan memberi hadiah/hal2 yang mubah dengan tetap hati2 dalam mengeluarkan suatu ucapan.

    Kata “Selamat” identik dengan mendo’akan. Seorang anak jika orang tuanya kafir saja tidak boleh mendo’akan, hanya boleh tetap berbakti dan menjaga hubungan baik. Kenapa musti memberi ucapan do’a jika hal itu bisa dihindari. Termasuk Paman Nabi SAW yang jelas2 berjasa sama Nabi SAW, juga berjasa terhadap perjuangan Islam, mereka saling berkasih sayang…. Sampai Nabi menangis karena ingin mendo’akannya, tapi karena Sang Paman tak bersyahadat, Allah pun tak berkenan. Kenapa kita musti mendo’akan……

    Toh kita juga nggak butuh ucapan dan do’a balik dari mereka pada Hari Raya… Mencari simpati tidak perlu dengan saling mendo’akan, semoga kita bisa menemukan alternatif lain dalam menjalin hubungan baik…

    Maaf dan Terima Kasih….

  2. 2 MAs DOT

    Bukankah Islam Rahmatan Lil ‘alamin??? Atau Rahmatan Lil Muslimin?….”Ihdinassirotol mustaqiem” Hanya Engkau Yang maha tahu lubuk hati manusia..

  3. 3 Choirun Niza

    yahdiina wayahdiikumllah wayushlih baalakum (Semoga Allah memberi petunjuk pada kami dan pada kalian, dan membenahi keadaan kalian) (HR Imam Bukhari pada Adabul Mufrad)….

    ….. Do’a itu tidak mengandung kata2 selamat, hanya harapan. Jika digambarkan, do’a itu masih di luar gerbang suatu rumah. Sedang ucapan ‘Selamat’ apalagi pada hari spesial ibarat seseorang itu telah melewati suatu pintu sehingga layak diberi ucapan selamat(do’a).

    Dari ‘Aisyah, ia berkata: “Orang Yahudi tidak dengki kepadamu karena apa pun sebagaimana mereka merasa dengki atas salam dan ucapan amin(yang terdapat dalam ajaran Islam).”— HR. Bukhary.
    Dari Abu Umamah , ia berkata : Allah menjadikan salam sebagai (cara) menghormat untuk umat kami.”— (HR. Thabrani dan Baihaqi.)

    “Tidak boleh Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (mendo’akan) untuk kaum musryrikin walaupun mereka itu (tergolong) sanak-keluarga yang dekat.”— at-Taubah :113.

    Dari Abu Hurairah, bahwasanya Nabi SAW bersabda: “Janganlah kamu mulai(memberi) salam kepada orang yahudi dan Nasrani.”— HR. Muslim.

    ……..apabila mereka datang kepadamu, mereka memberi salam kepadamu dengan (ucapan) yang Allah tidak hormati dengannya.”— al Mujadilah : 8….. (maksud : bahwa mereka memberi salam tidak dengan niat yang benar.)

    Dari ‘Abdullah bin ‘Umar ia berkata: “Sesungguhnya orang Yahudi memberi salam kepadamu, maka hanyasanya seorang dari mereka itu berkata:’Assamu ‘alaikum’ (mudah-mudahan kematian atasmu). Maka katakanlah :’wa’alaika.’”— HR. Bukhary, FB. 11 : 42.

    …Dari dalil2 tersebut, kita telah diperingatkan bahwa orang kafir dalam mengucap salam kepada kita apa pun kalimatnya, terkandung niat yang tidak baik. Oleh karenanya, kita mesti berhati-hati pula dalam berucap salam-salaman yang sebetulnya hanya terjalin hubungan baik namun sebenarnya malah semu belaka, yang mungkin malah memberi peluang bagi mereka untuk membangun maksud2 terselubung.

Leave a Reply

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture.
Anti-Spam Image