ketika minum susu mulai mengkhawatirkan
ada info bagus dari milis ni, sebuah fakta sisi lain kebaikan susu sapi :
Riani Susanto, dokter naturopati, enggan memberi anaknya susu sapi hasil
perahan industri. Menurut dia, selama cukup mengkonsumsi makanan sehat
dan berkualitas, orang akan tetap sehat. Dia memandang susu bukan
sebagai makanan pokok.
Ia lebih memilih memberi keluarganya susu organik.
Pasalnya, dia melihat ketidakwajaran dalam proses industri sapi perah.
Menurut Riani, proses pemerahan susu sapi dari industri itu dipaksakan.
Alaminya, kalau sapi–seperti juga manusia-melahirkan dahulu, baru
mengeluarkan susu.Tapi demi mengejar target, sapi disuntik hormon
tertentu agar bisa menghasilkan susu. Otomatis susu mengandung
hormon.”Apalagi sapi juga diberi antibiotik untuk mencegah infeksi,”ujar
Rani.
Nah, pengaruh hormon dan antibiotik itu pasti dosisnya besar dan tidak
cocok untuk manusia. Karena itu, kata dia, banyak penyakit aneh timbul.
Berdasarkan sejumlah studi luar negeri, disebutkannya, penyakit aneh itu
seperti perempuan yang berjakun.”Ada pula wanita usia 10-11 tahun
suaranya berubah seperti laki-laki,”ia bercerita.
Susu yang baik, menurut Riani, tidak mengandung hormon, antibiotik, dan
rekayasa genetika. Dan juga tanpa tambahan perasa serta pemanis buatan.
Sedangkan pada susu industri banyak ditambahkan segala macam tambahan,
seperti vitamin dan DHA.”Tambahan hanya mempunyai nilai jual,”kata
dokter naturopati lulusan dari Negeri Abang Sam ini.
Tak aneh jika sejumlah orang mulai mengeluarkan susu sapi dari daftar
menu makanannya.
Mereka bersikap apatis terhadap kualitas susu hasil perahan dari sapi
yang juga diduga memakan makanan selain rumput.
Memang, kata Hendro Horijogi Poejono, Direktur Human Resources and
Corporate Affair PT Frisian Flag Indonesia, sapi di Indonesia tak
seperti di Belanda, yang dilepas di padang rumput.
Di Indonesia, kebanyakan sapi dikandangkan karena kurangnya lahan.
“Sehingga cuma mendapatkan rumput secukupnya dari sekelilingnya, ” kata
Hendro di Surabaya beberapa waktu lalu.
Masalahnya, saat musim kemarau sapi tidak mendapat rumput sebagaimana
mestinya. Akhirnya, karena kurangnya ketersediaan lahan, banyak sapi
makan pelet-makanan khusus untuk hewan yang terbuat dari terigu.
Menurut Hendro, sapi Jawa Timur lebih beruntung, karena banyak
perkebunan seperti cokelat.
“Ampasnya bisa untuk campuran pakan,”Hendro melanjutkan. Kalau di Jawa
Tengah dan Jawa Barat, banyak sapi makan pelet. Namun demikian, dia
tidak melihat sapi Indonesia makan makanan berbahan kimia.”Apalagi
disuntik hormon,”dia menegaskan.
Makanan sapi memang mempengaruhi kualitas susu. Tengoklah studi
Persatuan Ahli Gizi di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Menurut Ketua
Persatuan Ahli Gizi Jawa Timur Andryanto, MKes, studi itu menunjukkan
bahwa air dan tanah di Ponorogo yang rendah yodium mempengaruhi kualitas
susu dan daging sapi di sana.
Namun, Persatuan Ahli Gizi belum meneliti sapi yang diberi makanan
berbahan kimia dan suntikan hormon.Yang jelas, kata Andryanto, apa pun
yang dimakan sapi, susunya sudah berproses sedemikian rupa.
Dianalogikan, seorang ibu yang makan sambal tapi air susu ibu (ASI)nya
tidak berasa pedas. “Apakah bisa disamakan dengan sapi, bisa saja
iya,”ujarnya.
Sebuah studi yang dilansir situs Toronto Vegetarian Association pada
2005 menemukan bahwa ada sesuatu dalam susu yang dapat menyebabkan
reaksi imunitas yang merusak produksi sel insulin pada anak diabetes.
Studi itu juga melihat bahwa bayi yang diberi ASI dan tidak diberi susu
sapi memiliki perlindungan terhadap diabetes.
Studi pada 2003 yang melibatkan 4.701 sampel usia 10-16 tahun dari 11
negara Eropa itu menyimpulkan, menghindari susu sapi diindikasikan bisa
menunda atau mencegah diabetes pada individu yang rentan. Lebih jauh
ditemukan, susu sapi dan konsumsi produk hewan terkait dengan tingkat
risiko lebih tinggi pada diabetes tipe 1.
Profesor Hiromi Shinya, dari Surgery at Albert Einstein College of
Medicine, New York, berpendapat lebih ekstrem lagi. Dalam bukunya, The
Miracle of Enzyme, ia mengatakan susu adalah makanan paling buruk buat
manusia. “Mana ada anak sapi minum susu manusia,”ujarnya.
Hiromi beralasan susu itu mengganggu fungsi enzim di dalam tubuh dan
membuat tugas usus semakin berat. Tubuh terpaksa mengeluarkan cadangan
enzim induk yang seharusnya dihemat. Nah, enzim induk ini untuk
pertumbuhan, termasuk pertumbuhan tulang. Namun, karena enzim induk
banyak dipakai membantu mencerna susu, peminum susu, menurut dia, lebih
berisiko terkena osteoporosis.
Sementara itu, ahli gizi dan pangan Institut Pertanian Bogor, Profesor
Dr Ir Hardinsyah, mengatakan orang yang terlalu banyak makan protein
hewani, termasuk susu sapi, memang bisa meningkatkan pembuangan kalsium
atau terjadi pemborosan kalsium dalam tubuhnya. Jadi banyak makan
makanan hewani membuat tubuh berisiko kekurangan kalsium.
Tapi, menurut Hardinsyah, hal itu berlaku bagi penduduk yang banyak
mengkonsumsi pangan hewani. Sedangkan umumnya penduduk Indonesia,
menurut dia, masih kekurangan kalsium dan makanan hewani. “Jadi aman
saja minum susu.”
HERU TRIYONO
http://epaper. korantempo. com/KT/KT/ 2009/12/02/ ArticleHtmls/ 02_12_2009_ 122_003.shtml? Mode=1
Comments(1)
