Mengapa mesti dibiarkan meracun jiwa
Sedang ketabahan dan kesabaran adalah lebih utama Jikalah kebencian dan kemarahan menjadi masa lalu pada akhirnya
Mengapa mesti diumbar sepenuh jiwa
Sedangkan memaafkan dan menahan diri adalah lebih berpahala Jikalah cinta akan menjadi masa lalu pada akhirnya
Mengapa meski ingin memiliki dan selalu bersama
Sedang memberi akan lebih banyak menuai arti Jikalah hidup akan menjadi masa lalu pada akhirnya
Mengapa mesti diisi dengan kesia-siaan belaka
Sedang ketegaran akan lebih indah dikenang nantinya Jika kesedihan akan menjadi masa lalu pada akhirnya
Mengapa tidak dinikmati saja
Sedang ratap tangis tidak dapat mengubah apa-apa Jika kesalahan akan menjadi masa lalu pada akhirnya
Mengapa mesti tenggelam didalamnya
Sedang taubat itu lebih utama Jika harta akan menjadi masa lalu pada akhirnya
Mengapa mesti ingin dikukuhi sendiri
Sedang kedermawanan itu akan melipat gandakannya Jika kegagalan akan menjadi masa lalu pada akhirnya
Mengapa mesti menghantui jiwa
Sedang usaha dan ketabahan justru memberikan manfaat Jika kekurangan dan kelemahan akan menjadi masa lalu pada akhirnya
Mengapa mesti terus disesali
Sedang bersyukur akan memberi nikmat dan kekuatan Lakukanlah yang terbaik yang bisa kau lakukan
Karena waktu dan kesempatan tidak datang dua kali
“Walah ayune, rek. Mau kemana to, Dik, pagi-pagi begini kok sudah rapi?” sapa Mbak Sri, penjual sayur dari Pasuruan, dengan nada berayun-ayun. Ia sedang menjajakan dagangannya di halaman rumah.“Ndak ke mana-mana,” jawabku singkat sambil tersenyum.
“Mau ketemu doinya, ya? Hihihi…,” Mbak Sri terkikik senang seperti menemukan mainan yang lucu dan menggemaskan.
“Eh! Masih kecil kok sudah doi-doian. Iki piro, Mbak?” Ibu memotong kegembiraan Mbak Sri dengan nada tak suka. Mbak Sri memang dikenal genit oleh para tetangga. Pantas Ibu terdengar tak berkenan dengan komentarnya barusan. Takut anaknya ikutan genit, kali.
“Jangan lupa pesananku buat besok lho, ya. Bawain kerang ijo,” Ibu mengingatkan saat transaksi sudah selesai. Tumben cepet….
“Iya, Bu. Beres! Monggo Bu, Dik Ranti,” pamit Mbak Sri yang dijawab “he-em” pendek Ibu.
Ibu lalu mendekatiku.
“Belanja apa, Bu?” tanyaku basa-basi sambil berusaha meraih tangannya.
“Sop sama perkedel jagung kesenanganmu. Kamu itu lho, apa nggak lebih baik nunggu di dalam saja?” Ibu menggoyang-goyangkan tangannya yang kugenggam.
“Nggak mau, ah. Enakan di sini.”
“Masih dua jaman lagi lho, Nduk,” bujuk Ibu.
“Nggak pa-pa. Biarin. Ranti suka di sini. Ramai,” aku tetap bersikeras.
“Ya sudah kalau begitu. Kalau ada apa-apa, Ibu di dapur, ya.”
“Iya, Bu,” jawabku
Ibu pun melangkah ke dalam.
Sejak pesawat televisi kami dijual sebulan yang lalu, rumah memang jadi lebih sepi. Tinggal berdua saja sudah sepi, apalagi tanpa kotak hiburan itu. Salah seorang guruku pernah bilang kalau menonton televisi itu bisa menjadi racun. Soalnya, kalau sudah di depan televisi, perhatian kita jadi tersedot dan malas ngapa-ngapain, bahkan untuk beranjak dari tempat duduk sekalipun. Makanya, waktu luang, kata Pak Munir—guru IPA ku itu—lebih baik digunakan untuk membaca saja. Hmm, iya, sih. Apa yang dikatakan Pak Munir banyak benarnya juga, lho. Membaca memang lebih menyenangkan! Dalam satu waktu, kita bisa bertualang ke banyak tempat.
Tapi sayang, belum banyak buku yang menggunakan huruf braille. Kalaupun ada, harganya pasti mahal. Jadi, kalau sedang menganggur begini, aku harus menunggu sampai Ibu menyelesaikan order jahitan dan pekerjaan dapurnya dulu, baru bisa memintanya untuk membacakan buku, majalah, ataupun koran—meskipun seringkali hanya majalah dan koran lama.
Biasanya Mbak Alia, tetanggaku yang sudah kuliah dan kost di rumah Mpok Mimin itu juga sering membacakan dan meminjamkan buku-bukunya utnukku. Wah, bukunya banyak, deh. Aku paling suka cerita tentang anak Jepang bernama Toto Chan. Sepertinya belajar di kelas kereta asyik juga!
“Assalamualaikum,” suara berat seorang lelaki mengagetkanku. Hatiku langsung berdebar kencang. Cepat-cepat kubetulkan letak dudukku dan memeriksa jilbabku, apakah masih rapih. Jangan-jangan lelaki itu….
“Waalaikum salam,” sahutku hampir berbarengan dengan Bu RT, tetangga sebelah.
Oalaah… tamunya Bu RT, to. Aku menghela napas, kecewa. Kirain… ah, sudahlah. Memang begini kalau tinggal di gang kecil yang rumahnya bergandengan satu sama lain. Antar tetangga jadi bisa saling berbagi. Contohnya, berbagi suara seperti barusan ini. Eh, dengerin deh, sudah berada di ruang tamu pun suara mereka masih bisa aku tangkap dari kursi karet ini.
“Waduh, pegimane ye? Orangnye lagi kagak ade tuh. Lagian, Abang tau sendiri kan, tanggal tua begini mah susah! Lagi seret, Bang!” suara Bu RT terdengar kencang seperti biasa.
“Yee…dulu janjinye juga tanggal segini, Mpok. Kalau nurutin tanggal tuanye situ, anak isteri aye mau dikasih makan apa, dong?” protes lelaki bersuara berat tadi.
Ah, udah, ah. Tak boleh nguping pembicaraan orang lain. Dosa, kata Mbak Alia. Nanti Allah jadi nggak sayang lagi sama kita.
“Ibu…,” aku melongokkan kepala ke dalam pintu.
“Kenapa?” sahut Ibu dari dalam.
“Sekarang jam berapa?”
“Jam 7 seperempat!”
Ha! Pagi-pagi sudah nagih utang.
Hei, kan tadi sudah dibilang nggak boleh nguping. Kok jadi nambah dosa dengan ngomongin orang, sih. Hehehe. Astaghfirullah….
Duh, masih lama, ya. Hatiku deg-degan nih. Hari ini bapakku mau datang. Begitu yang tertulis di suratnya lima hari yang lalu. Hatiku girang bukan main. Bagaimana tidak, hingga detik ini, sampai aku berumur 11 tahun, sekali pun aku belum pernah bertemu dengannya, mendengar suaranya, atau menyentuh sosoknya.
Aku rindu.
Ibu pernah cerita, sejak aku berumur delapan bulan di dalam kandungan, Bapak pergi ke Arab Saudi menjadi TKI. Aku percaya. Sebenarnya, agak curiga juga, sih. Habis Bapak lama banget nggak pulang-pulang. Sampai 11 tahun! Sudah betah kali, ya? Waktu aku tanyakan pada Ibu, Ibu bilang begini, “Kan Bapak ngumpulin uang dulu biar banyak, biar nanti kita bisa jalan-jalan dan makan enak di restoran.”
“Asyiik! Bu, di restoran Om Liang aja, Bu. Melisa pernah cerita, di sana makanannya enak-enak. Minumannya juga.”
“Hus! Itu babi, haram dimakan. Terserah Bapak aja nanti mau makan di mana. Bapak pasti tahu rumah makan mana yang enak.”
Sejak saat itu, kalau ada teman-temanku bercerita tentang rumah makan, aku hafalkan nama-nama restoran dan makanan yang mereka obrolkan. Dan sekarang aku sudah punya beberapa pilihan untuk kuusulkan pada Bapak.
Tentang Bapak, Ibu jarang bercerita. Paling-paling kalau kutanya saja. Itu pun jawabannya pendek-pendek. Tapi tak apa. Soalnya, dengan begitu aku jadi bisa mengkhayalkan banyak hal tentang Bapak. Dan hari ini dia mau datang. Bukan khayalan! Aku benar-benar akan berhadapan dengannya.
Dia baik enggak, ya? Kira-kira dia bakal membawa oleh-oleh apa, ya? Ya Allah, semoga Bapak membawa jilbab yang banyak…
9.37
Mungkin Bapak masih bingung mencari alamat rumah kami. Kan rumah ini letaknya nylempit, jadi memang agak susah dicari. Ibu sudah dua kali menengokku. Kurasa dia sama gugupnya dengan diriku. Pak, cepetan datang dong…
10.15
Kayaknya Bapak mampir di warung dulu, deh, untuk membelikanku cokelat. Kan Nana, Uli, dan yang lainnya juga sering dibelikan cokelat sama bapaknya. Oh iya, sebentar lagi aku bisa memamerkan bapakku pada mereka. Sebentar lagi kalau mereka main ke rumah, selain Ibu akan ada Bapak untuk mereka pamiti saat hendak pulang. Sebentar lagi bertambah satu orang yang akan menjadi pembaca buku untukku. Mulai besok aku akan berhenti berlangganan ojek Bang Oji, ah. Biar Bapak saja yang mengantarku ke sekolah. Bulan depan Pak Munir tidak usah membayarkan uang sekolah untukku. Kan ada Bapak. Aduh, senangnya punya Bapak.
12.21
“Ranti, shalat dulu yuk, terus makan,” Ibu mengingatkanku. Dari suaranya aku bisa menangkap kegelisahan yang sama sepertiku. Tapi, Ibu tidak bilang apa-apa. Padahal, aku tahu, Ibu pun sudah berdandan. Bajunya harum, disemprot minyak wangi yang dikasih Mbah Uti.
Aku beranjak dengan malas, dituntun oleh Ibu. Ah, Bapak mana, sih… ?
16.03
Setelah mandi dan memakai baju yang sama, aku masih menunggu di kursi karet. Sudah belasan orang yang menyapaku. Sudah tak terhitung suara motor yang lewat. Sudah banyak penjaja makanan, pengamen, tukang sol sepatu, tukang benerin panci, dan tukang-tukang lainnya yang lewat depan rumahku. Tapi, tak satu pun yang mampir ke rumah dan mengaku sebagai bapakku. Aku mulai cemas. Ada apa dengan Bapak, ya? Semoga tidak apa-apa, ya Allah. Semoga saja aku yang salah hari.
“Ibuu…,” aku melongokkan kepala ke dalam pintu.
“Ada apa?” sahut Ibu dari samping.
Masya Allah, aku sampai tidak sadar kalau Ibu ada di sebelahku.
“Sekarang hari apa?”
“Minggu.”
“Benar hari ini kan, Bu, Bapak mau datang?”
“Insya Allah,” jawab ibu dengan nada pasrah.
Aku pun menunggu lagi. Ditemani Ibu di sampingku.
Adzan Maghrib
“Sudah, Nduk. Mungkin Bapak ada keperluan mendadak, jadi tak bisa datang hari ini. Kita shalat, yuk,” Ibu menggandeng tanganku.
Aku merasakan air mataku sudah hampir jatuh, tapi kutahan mati-matian.
Ya Allah, betapa inginnya aku bertemu Bapak
***
Seusai shalat, aku terisak pelan. Kecewa, kecewa, kecewa, sedih, dan khawatir bercampur jadi satu. Bapak telah mempermainkan perasaan kami. Mendengar Ibu bertilawah, hatiku jadi agak damai. Aku tahu, Ibu pasti juga kecewa. Tapi Ibu diam saja.
“Assalamualaikum,” terdengar suara laki-laki sedang mengetuk pintu rumah kami.
Aku melompat dari sajadah dengan tergesa dan langsung menuju pintu depan. Kakiku tertabrak-tabrak buffet dan kursi, tapi aku tak peduli. Mungkin yang mengetuk pintu Bapak!
“Ranti, pelan-pelan!” seru Ibu dari belakang sambil memegang lenganku.
“Waalaikum salam,” jawabku sambil membuka pintu.
“Maaf, ini betul rumah Mbak Iis?” tanya lelaki di hadapanku.
“Benar,” sahut kami berbarengan.
“Ehm…begini Mbakyu, anu, saya Gunawan, teman Mas Suripto.”
Itu dia, itu nama Bapakku!
“Tadi saya dan Mas Suripto mau ke sini, tapi sempat nyasar sampai ke… Pejompongan, kalau ndak salah. Maklum, ndak hapal jalan. Nah, di perjalanan itulah, ngng… itu… kan ada truk, ngebut, terus… ngng… ndak tahunya bukan mau belok yaa… soalnya, kan itu tadi. Tapi, ndak ini kok, Mbak…,” Pak Gunawan bercerita dengan gugup dan berbelit-belit.
“Kenapa? Kecelakaan? Sekarang dirawat di mana?” tembak Ibu langsung.
“I… Iya,” sahutnya lemas. “Sekarang ada di Cipto Mangunkusumo.”
“Ayo ke sana, Bu,” kataku tegas sambil menggandeng tangan ibu.
“Tunggu sebentar, Mas,” kata Ibu pada Pak Gunawan.
Kami membuka mukena dan mengenakan jilbab bertali. Baju yang tadi masih belum diganti. Meski kaget mendengar kabar Bapak kecelakaan, tapi bagiku itu lebih baik daripada tak ada kabar sama sekali.
“Gimana keadaannya sekarang?” tanya Ibu dengan nada khawatir saat mengunci pintu sambil tergesa-gesa.
“Waktu saya mau ke sini, sih, sudah siuman. Makanya, dia minta saya menjemput Mbak Yu sama Dik Ranti.”
Kami naik mobil. Entah mobil jenis apa. Di dalamnya sudah ada orang yang menunggu, mungkin teman Pak Gunawan. Entahlah. Aku sudah tidak peduli apa-apa lagi selain bapakku. Ya Rabbi, selamatkan dia….
***
Sesampainya di rumah sakit, tanganku tak pernah lepas dari jari-jemari ibu yang berkeringat dingin. Kami berjalan bergegas, kami sama tidak sabarnya ingin segera mengetahui kondisi Bapak. Saat memasuki kamar yang ditunjukkan Pak Gunawan, kami mulai berjalan pelan-pelan. Bau-bau asing menjejali hidungku.
“Assalamualaikum,” Ibu mengucap salam pelan saat kami berhenti di depan ranjang besi. Jantungku berdetak sangat kencang, sampai-sampai terasa sesak. Tangan kananku memegang ranjang yang ditiduri Bapak.
“Waalaikum salam,” jawabnya lemah. Ya Allah, itu dia. Itu dia suara bapakku yang selama ini hanya bisa kubayangkan dalam mimpi. Alhamdulillah, akhirnya kami bertemu juga. Meski terdengar lemah, masih tersirat kegagahan dalam suara Bapak.
“Apa kabar, Mas?” sapa Ibu dengan suara menahan isak. Rupanya Ibu yang biasanya tegar itu sudah tak kuasa membendung air matanya lagi. Tangan kanan Ibu melepas tanganku.
“Dik…,” sahut Bapak dengan suara tercekat.
Ibu menangis tersedu-sedu sambil berbicara dengan suara tidak jelas. Aku tidak pernah mendengar Ibu menangis, jadi aku hampir tidak yakin kalau suara perempuan yang sedang mengadu itu adalah ibuku. Kudengar Bapak berkali-kali minta maaf. Aku hanya terpaku di ujung ranjang sambil tetap memegang besinya. Air mataku meleleh ke mana-mana. Aku tidak pernah menyangka pertemuan kami akan seperti ini.
“Ini Ranti, Mas. Anak kita,” Ibu menarik tanganku setelah tangisnya mereda.
Aku maju selangkah. Aku tidak yakin, ada rasa takut menjalari hatiku.
“Nak,” kata Bapak dengan suara lemah.
Ya Tuhan, “nak” katanya. Aku dipanggil nak oleh bapakku. Itu sungguh-sungguh panggilan terindah yang pernah kudengar seumur hidupku. Air mataku semakin deras, isakku semakin keras.
“Ba-pak…,” kataku terbata.
“Sini, Nak… Cantik….”
Cantik, katanya! Ya Allah, aku rela memberikan semua uang celengan yang sudah kukumpulkan sejak TK demi mendengar bapakku mengatakan itu. Bahkan Nuri, bonekaku satu-satunya pun rela kuberikan.
Aku menghampirinya. Meraba, mencari tangannya dan menciumnya. Rupanya seperti ini tangan seorang Bapak itu. Kuat, besar. Aku terus menggenggamnya. Bapakku mengusap kepalaku sambil berkata maaf. Yah, kalau permasalahannya karena ia terlambat datang sih, aku tak menyalahkannya. Bahkan sopir truk yang menabrak Bapak pun sudah kumaafkan.
Bapak mendekatkan mukaku padanya dan menciumku. Pipinya basah.
“Anakku… Kesayanganku…,” ujarnya.
Aku meraba mukanya. Keningnya, matanya, hidungnya, bibirnya yang sedang tersenyum. Indah.
Aku tidak tahu seperti apa tersenyum itu—bahkan wajahku sendiri pun aku tak tahu—tapi aku yakin, senyuman Bapak pasti manis sekali. Jauh lebih manis dari es sirup Mang Jaja yang biasa mangkal di ujung gang.
Aku ikut tersenyum. Aku tidak peduli dengan besok. Tidak juga dengan restoran dan lamunan-lamunanku yang lain. Asal ada saat seperti ini saja, aku sudah sangat bersyukur.
Aku punya Bapak!
Bila aku mencintai Ibu, itu semata-mata karena dari rahimnya yang suci aku terlahir. Alasan itu sudah cukup bagiku untuk mencintainya sepenuh jiwa. Jika kemudian cintaku berkembang dan terus bermekaran, itu karena Ibu selalu menitipkan kasihnya padaku tanpa pernah ada keinginan untuk mengambilnya kembali. Sungguh aku merasa mendapat kemuliaan tak terkira berkesempatan menjaga cinta itu agar terus bersemi di bilik hati.
Ibu memang teramat istimewa bagiku. Dia adalah matahari yang tak pernah lelah menghangatkan bumi. Dia juga bulan yang selalu setia memantulkan cahaya cinta sang matahari dalam pekatnya malam. Bahkan Ibu adalah angin pembawa kesejukan bagi nuraniku. Dan adalah Ibu, sosok wanita yang selalu kukagumi sepenuh hati karena ketegaran dan ketulusan cintanya.
“Kamu nggak malu Tres,”
“Malu kenapa,Bu?”
“Kamu nggak malu jalan bareng sama Ibu seperti ini?”
“Bahkan Tresna bangga, Bu,” jawabku sambil membantu Ibu naik ke dalam angkot. Lalu aku duduk di sisinya. Aku merasakan tatapan aneh dari orang-orang yang ada di dalam angkot kepada Ibu. Tapi aku tidak peduli karena aku tahu, ketulusan hati Ibu yang tidak pernah marah sedikit pun kepada orang-orang yang memandangnya aneh, sebelah mata, atau bahkan ngomongin terang-terangan. Jadi aku pun sama sekali tidak merasa terganggu.
“Justru Tresna selalu sangat menginginkan kesempatan seperti ini, Bu, berjalan-jalan berdua dengan Ibu, memperkenalkan Ibu dengan teman-teman Tresna. Hal ini sangat membuat Tresna bahagia,” sambungku kemudian.
Selalu senyuman yang kemudian mengembang di bibir yang legam dan berkerut itu. Dan aku, tidak akan pernah tahan untuk tidak membalasnya dengan ciuman terhangat. Hanya saja sayang, sekarang kami di angkot, tentu saja hal itu tidak aku lakukan.
Bukan salah Allah jika Ibu diciptakan dengan kaki yang begitu ringkih, bengkok dan teramat kecil. Bukan maksud Allah menjadikan Ibu sebagai bahan tertawaan anak-anak kecil karena ia hanya mampu ngesot untuk mencapai suatu tempat.
Yah, Ibu, karena kecacatannya itu, tidak bisa berjalan secara normal.Bukan juga kehendak Ibu bila dalam keadaan seperti ini kami mengalami kehidupan yang sulit. Menjadi pembatik di tempat Ibu Sungkowo adalah cara Ibu untuk mendapatkan penghasilan untuk membesarkan dan menyekolahkanku. Tidak jarang aku juga membantu Ibu membatik, atau ngleraki. Namun sejak aku kuliah di Tata Busana IKIP dan bisa menjahit, aku lebih senang menerima jahitan untuk meringankan beban biaya kuliahku. Sebenarnya aku tidak begitu berminat kuliah karena aku kasihan pada Ibu. Lagipula aku sadar akan kemampuanku yang sedikit di bawah rata-rata. Aku tidak punya banyak waktu untuk belajar, apalagi untuk ikut bimbingan belajar atau les privat seperti teman-teman yang lainnya. Tidak ada uang. Makanya aku cukup nrimo menjadi pembatik seperti Ibu. Tapi Ibu memaksa.
“Ibu ndak pengen melihat kamu tidak punya bekal untuk hidupmu nanti, Nduk. Ibu sudah bekerja keras, siang-malam, agar Ibu bisa nabung untuk biaya kuliahmu. Ibu harus laksanakan amanah almarhum bapakmu untuk membekalimu ilmu.”
“Tapi ilmu kan nggak hanya didapat di bangku kuliah saja tho, Bu.”
“Ibu ngerti. Tapi selagi bisa, berusahalah, Nduk. Ibu ingin agar kerja keras Ibu ini bisa panjang manfaatnya, bukan cuma buat kamu saja, tapi juga buat masyarakat. Paling tidak nanti Ibu bisa menunjukkan sama Gusti Allah bahwa dengan kedua kaki Ibu yang cacat pun Ibu bisa menjaga titipan-Nya dengan baik. Ibu yakin bahwa Gusti Allah tidak main-main menitipkan kamu ke Ibu. Ibu bahagia banget mendapat kepercayaan ini. bahkan Ibu nggak peduli menjadi bahan tertawaan orang-orang sekampung saat hamil kamu. Apalagi ketika hamil dua bulan, bapakmu yang selama ini jadi sandaran hidup Ibu dipundut Gusti Allah, Ibu semakin dilecehkan masyarakat. Tapi Ibu punya keyakinan, sekalipun tanpa bapakmu, Ibu akan bisa menyelesaikan tugas dengan baik. Ibu yakin Gusti Allah nggak pernah salah ketika menetapkan keadaan Ibu seperti ini. Gusti Allah ora sare, dan akan selalu mengawasi Ibu. Makane Nduk, sekarang Ibu harap kamu ambil kesempatan kuliahmu selagi Ibu mampu. Ibu akan terus bantu kamu. Hanya itu yang bisa Ibu lakukan buat kamu.”
Aku menghela napas panjang. Ah, kata-kata bijak yang diucapkan Ibu saat aku lulus SMU, tiga tahun yang lalu itulah yang menjadi pemompa semangatku selama ini. Dan itu terus akan terekam dalam hatiku sampai kapan pun. Dan dengan niat untuk berbakti pada Ibu akhirnya aku ikut UMPTN, dengan pilihan IKIP jurusan Tata Busana. Aku tidak mau berspekulasi mengambil jurusan yang terlalu tinggi. Aku tahu kemampuanku, juga kemampuan keuangan Ibu. Aku tidak ingin membuat Ibu bersedih karena kegagalanku. Aku rela melakukan apa saja untuk Ibu.
Dulu aku berkelahi dengan teman-temanku karena mereka mengejek dan menghina Ibu. Aku bela Ibu habis-habisan, tapi mereka menertawakan Ibu terus-terusan. Perih hatiku saat itu. Dan hanya nasihat Ibulah yang bisa menyembuhkan luka itu.
“Kamu nggak perlu marah pada mereka, Tres. Ibu bisa maklum mengapa mereka mentertawakan Ibu. Lagipula Ibu juga nggak malu. Justru Ibu bangga diciptakan dalam bentuk yang istimewa seperti ini. Setiap saat Ibu bisa tersadarkan akan kebesaran Gusti Allah. Kalau Ibu ikhlas menerimanya, maka Gusti Allah pun akan ikhlas menerima Ibu nanti. Kalau Ibu tersenyum saat menerima ejekan dan hinaan ini, maka Gusti Allah juga akan tersenyum kepada Ibu.”
Aku terdiam sejenak. Ah… Ibu….
Lamunanku dibuyarkan oleh tepukan Ibu. “Kita turun sini aja, Tres. Udah sampai.”
Aku turun duluan untuk membantu Ibu turun dari angkot. Jalan setapak menuju ke pasar yang kami lalui tidak terlalu ramai.
“Kita belanja kain sidomukti dan parangrusak pesenan Bu Padmo dan Bu Singgih dulu. Setelah itu kita nyari bahan baju.”
“Bahan baju buat siapa, Bu?”
“Ya buat kamu. Nanti kamu jahit sendiri, ya. Selama ini kan kamu lebih sering menerima pemberian dari Bu Sungkowo daripada dari ibumu sendiri.”
“Siapa bilang? Pemberian Ibu kepada Tresna nggak bisa dibandingkan dengan pemberian orang lain. Bahkan Ibu terlalu banyak memberi dan berkorban buat Tresna. Dan itu lebih dari cukup bagi Tresna, Bu.”
“Tapi kamu mau kan Ibu belikan bahan ini,” tanya Ibu sambil memilih bahan chiffon warna dasar biru dengan motif kembang-kembang kecil.
Aku mengangguk. Setelah belanjanya selesai, aku dan Ibu memutuskan untuk segera pulang.
Masih di bawah tatapan-tatapan aneh, penasaran dan juga kekaguman, aku dan Ibu terus berjalan berdua beriringan melewati los-los pasar. Namun tiba-tiba dari arah seberang aku mendengar letusan diikuti hiruk-pikuk suara orang-orang berteriak.
“Kebakaran…! Kebakaran…! Lari…!”
Aku panik menghadapi situasi seperti ini. Orang-orang berlarian, berebutan ingin cepat-cepat keluar dari pasar. Aku berpikir bagaimana caranya bisa membawa Ibu keluar dari pasar dengan cepat. Akhirnya aku putuskan untuk menggendong Ibu. Hanya itu cara yang paling memungkinkan yang bisa aku lakukan.
“Bu, Tresna akan menggendong Ibu!”
Dan dalam sekejap Ibu sudah ada di punggungku. Sekuat tenaga aku berlari menghindari kobaran api yang semakin membesar. Namun karena membawa beban berat, lariku tidak bisa cepat. Aku sangat kelelahan, terhimpit dalam desakan massa, aku tidak bisa leluasa bergerak. Tiba-tiba ada seorang laki-laki menabrakku dan aku terjerembab bersama Ibu. Aku berusaha berdiri, tapi tidak bisa. Kulihat Ibu pingsan terinjak-injak orang. Aku menangis, berteriak minta tolong. Namun tak seorang pun peduli. Dan DUARR…! Sebuah ledakan memperbesar kebakaran itu. Api menjilat-jilat di depanku. Hawa panasnya menyapu wajahku. Sekuat tenaga aku berusaha menggapai tubuh ibu. Namun serta merta ada tangan kokoh menyeretku menghindar dari jilatan api. Aku meronta. Yang kumau hanyalah Ibu. Aku berteriak-teriak memanggil-manggil Ibu. Tapi aku tidak melihat bayangannya lagi. Akhirnya aku hanya bisa menangis. Kupandangi jilatan api yang melahap pasar dan isinya. masih banyak orang yang ada di dalam yang tidak sempat menyelamatkan diri. Dan salah satunya adalah ibuku… Aku terisak, tersedu menyadari hal itu.
Hampir satu jam, kebakaran itu baru bisa diatasi. Asap masih mengepul di sebagian sudut pasar. Jerit tangis dan hiruk-pikuk orang berbaur dengan hingar-bingar suara ambulan dan mobil pemadam kebakaran. Pelan aku mulai beranjak dari tempat duduk. Kususut air mata yang sedari tadi menganak sungai di pipi. Aku melangkah terseok-seok menyeruak di antara kerumunan orang yang berusaha mengidentifikasi jenazah sanak saudara mereka. Jejeran tubuh yang sudah gosong itu rata-rata sudah sangat sulit dikenali. Aku sebenarnya agak ngeri. Begitu cepat tragedi itu terjadi di depanku, melenyapkan pasar, memutus keriuhan menjadi jerit tangis, mencabut nyawa-nyawa para pembeli dan penjual tanpa ada tawar-menawar lagi.
Aku amati mereka. Kucari sosok yang berkaki bengkok dan kecil. Aku menahan napas, hatiku berdebar-debar dan jantungku terus berpacu.
Semoga tak kutemukan, batinku. Begitu samapai pada ujung barisan, hatiku terlonjak. Ibu tidak termasuk dalam jajaran korban yang gosong itu. Harapan untuk bisa menemukan Ibu dalam keadaaan selamat kembali muncul.
Gontai langkahku kuseret menuju Rumah Sakit Dharma Pertiwi. Kata petugas kesehatan, korban yang luka dievakuasi ke sana. Jarak rumah sakit yang hanya satu setengah kilometer terasa sangat jauh. Langkahku sebenarnya tersa sangat berat.
Namun aku butuh kepastian tentang orang yang teramat kucintai itu. Orang yang selama ini selalu berhasil memompakan semangatnya kepadaku.
“Korban luka bakar semua sudah dibawa ke bangsal tiga lantai satu, Mbak,” begitu terang perawat yang kutemuai di pintu UGD, sesampaiku di rumah sakit.
“Ada pasien dengan kaki kecil dan bengkok, Suster?”
“Ada, kebetulan tadi saya yang menanganinya. Lukanya sangat parah. Mari saya antar.”
Aku mengikuti langkah perawat yang masih seumuran denganku itu ke bangsal tiga lantai satu. Ternyata di sana sudah penuh dengan orang
“Di sebelah sana, tempat tidur baris ketiga dari jendela.”
“Apakah lukanya sangat parah, Suster?” keheranan aku melihat tubuh Ibu yang sudah dibalut semua dengan perban putih. Semuanya, kecuali lubang hidung.
“Yah… memang sanagt parah.”
”Tapi… masih bisa hidup kan, Suster…?”
Perawat itu mengangguk. Tapi kemungkinan dia akan mengalami cacat di wajah dan gangguan penglihatan.”
“Maksud suster… buta?”
Kembali perawat itu mengangguk. Aku tersedu. Lengkap sudah penderitaanmu, Bu. Puaslah mereka yang ingin mentertawakanmu. Ya Allah… beginikah cara-Mu menyayangi ibuku…? Seandainya penderitaan ini bisa kuganti, bairlah ya Allah, aku yang menanggungnya asal Kau bahagiakan ibuku. Kembali tangisan kepedihan mengguncangku. Hatiku teriris, miris dan perih. Aku tidak akan bisa tahan melihat penderitaan Ibu.
Kutunggui Ibu sepanjang hari ini. Kutatap putih perban yang melilit seluruh wajah dan tubuhnya. Aku ingin jika nanti Ibu siuman ia tahu bahwa putri satu-satunya ada di sisinya. Dalam shalat asharku tadi aku berdoa khusus untuk Ibu. Aku minta agar aku diberi kesempatan untuk membahagiakananya. Aku ingin Ibu melihatku lulus kuliah, memakai toga dan diwisuda. Tiba-tiba aku melihat gerakan lemah pada jemari ibu. Ibu sudah sadar! sorakku dalam hati. Kusentuh jemari Ibu pelan. Kubisikkan kalimat-kalimat penyemangat.
“Ini Tresna, Bu…”
kembali gerakan lemah jemarinya muncul. Hatiku girang. Berulangkali ucapan hamdalah mengalir dari bibirku.
“Ibu ada di rumah sakit. Ibu kena luka bakar dalam kebakaran di pasar tadi pagi. maafkan Tresna yang tidak sempat menyelamatkan Ibu. Semua terjadi begitu cepat…”
Tak ada reaksi. Tapi aku bisa menebak apa yang sedang berkecamuk di hati Ibu. Ibu sedang benar-benar sedih. Kulihat perban penutup matanya basah oleh airmata ibu. Hatiku yang memang sudah runtuh sejak melihat keadaan Ibu, kini makin hancur.
“Ibu jangan menangis…” kuelus lalu kucium jemarinya.”Ibu, Tresna sudah belajar menjadi tegar seperti Ibu. Tresna sudah berusaha untuk tidak menjadi cengeng. Tapi Ibu jangan menangis seperti ini. Kalau ibu menangis… Tresna… hik…hik….
Tangisku benar-benar meledak. Dadaku berguncang menahan kesedihan yang mendera. Kutelungkupkan wajahku pada tempat tidur Ibu. Kenangan-kenangan manis saat bersama-sama Ibu berkelebat memerihkan hatiku. Betapa ingin aku memeluknya.
Akhirnya aku hanya bisa menelumgkupkan wajahku di kasur Ibu. Aku takut membayangkan hidup seorang diri tanpa bimbingan kasih Ibu. Aku tak peduli walau ibuku tidak senormal wanita-wanita lain. Apa pun keadaannya, tak akan ada yang sanggup menggantikannya, cintanya, ketulusannya, nasihat-nasihatnya, juga senyumnya. Di balik ringkih tubuhnya, ibuku adalah seorang wanita yang kuat. Kuat dalam arti yang sebenarnya. Air mata yang tadi kutahan terus berjatuhan satu-satu.
Tiba-tiba sebuah tangan menyentuh bahuku dan sebuah suara memanggil namaku. Suara itu… aku sangat mengenalnya. Perlahan kuangkat wajahku, dan kuperhatikan tubuh berbalut perban putih di depanku. Masih diam.
“Tresna, kenapa kamu menangis di situ, Nduk…? Ibu di sini, Cah Ayu…”
Aku menoleh. Kaget setengah mati. Dis amping kiriku ada sesosok yang sangat kukenal. IBU! Benar dia ibuku. Jadi yang kutunggui dan kutangisi sepanjang hari ini siapa?
“Maaf, Mbak, orang yang terbaring itu bukan ibu Mbak. namanya Fitri, usianya 30 tahun. Dia anak saya,” seorang ibu-ibu setengah baya memahami keterjutanku. Seorang perawat yang tadi mengantarkanku pun mengangguk pelan.
Akhirnya penuh rasa syukur aku menghambur ke pelukan Ibu yang telah hadir di sisiku.
“Bu, Tresna nggak mau ditinggal sendirian. Tresna belum bisa… Tresna terlalu sayang pada Ibu…!”
Aku melanjutkan tangisku yang sudah terlanjur meledak. Ibu menyambutku sambil tersenyum. Ya… senyuman khas Ibu. Senyuman yang tidak dimiliki oleh orang lain….
Tia
“Nggak mungkin lah dek! Kak Tia kan udah … nggak ada!” ujarku emosional. Kukira Nala hanya ingin mempermainkan aku.
“Pengumuman! Udah pada tahu kan, kalo tradisi asrama kita itu ada pengangkatan adik? Jadi, besok anak-anak kelas XI dan XII kumpul di kapel jam tujuh malam. No molor!” ujar Devi, Koordinator Asrama Putri di akhir acara Welcome Party, acara penyambutan penghuni baru asrama putri alias anak kelas satu, yang diadakan di lapangan basket asrama.
Besok?! Hmm… rasanya baru kemarin aku jadi adik bungsu di sini. Waktu berlalu dengan cepat, tahun pertama telah kulewati tanpa terasa. Dan … besok aku sudah jadi kakak!
Satu tahun berlalu dengan sedih dan tawa. Sejuta peristiwa yang beberapa di antaranya menyisakan bekas yang tak mungkin sirna.
Kutarik napas dalam-dalam. “Kak Tia, seandainya kakak masih di sini,” batinku. Mendadak rasa kangen menyergapku, disusul dengan air mata yang mulai jatuh dari pelupuk mataku.
Kak Tia, kakak angkatku di sini. Di sini, ya seharusnya ia di sini. Tapi, kecelakaan itu telah memisahkan aku darinya. Kak Tia, kapten basket putri sekolah ini. Yang gila basket, tapi juga girlie. Yang berani melawan kakak tergalak waktu pendadaran Pramuka. Hmm… kutarik nafasku dalam-dalam sekali lagi, sambil menyapu air mata dengan punggung tanganku. Kak Tia….
Setahun yang lalu pada acara pengangkatan adik, kurasakan kelegaan dan kegembiraan karena kakak angkatku adalah Tia. Tapi tak genap setahun ia telah pergi meninggalkanku untuk selamanya. Kak Tia pergi ke surga menjelang ujian kenaikan kelas.
“Li, balik yuk!” ajak Meidy, teman satu rumahku. Di sini yang dimaksud dengan rumah adalah asrama.
“Emang acaranya udah selesai?” tanyaku.
“Udah dari tadi. Tuh, lapangan basket udah sepi. Kamu dari tadi ngelamun melulu, sih!” ujarnya.
Aku pun bangkit dari tempatku duduk dan berjalan bersama Meidy menuju rumahku.
“Elo kenapa, Li? Kok nangis gitu?” tanyanya.
“Kangen, Mei…” jawabku.
“Kangen ama kak Tia?”
“Iya… Acara ini membuatku ingat dia, habis-habisan…”
“Sabar ya Li…” ujar Meidy sambil mengelus punggungku.
***
Pukul 18.45. Lima belas menit lagi pengambilan undian adik. Tapi sedari jam belajar dimulai, penghuni rumahku tidak ada yang bisa berkonsentrasi dengan pelajaran masing-masing dan memilih untuk bergosip-ria tentang adik kelas. Malahan, Vidia yang sudah bolak-balik ke teras untuk belajar, akhirnya menyerah dan ikut nimbrung bergosip.
“Mei, elo ada anak baru yang diincer nggak?” tanya Sisca, teman satu rumahku juga.
“Nggak ada sih. Gue pasrah. Siapapun adek gue, bakal gue terima,” jawab Meidy.
“Kalo elo, Sis?” tanya Vidia sembari memijit-mijit jerawat mungilnya yang sudah bandel selama sepekan lebih.
“Gue sih penginnya anak di rumah depan. Tina. Abis anaknya cute banget sih, kayak gue,” ujarnya.
“Narsis!!!” ujar anak-anak yang lain serempak.
“Vidia, elo siapa incerannya?”
“Pengennya sih kalo nggak Sheila, ya… Tesa”
“Hah?! Tesa? Yang nyolot itu?” tanyaku.
“Emang tu anak nyolot ya?”
“Nyolot aja pake banget,” ujar Rosi, yang memang panitia MOS.
“Tapi kalo elo ama Sheila pantes-pantes aja. Mirip!” ujarku.
“Kok bisa?” tanya Vidia.
“Potongan rambut sama, ukuran badan sama, gembul. Narsisnya sama, nggak tahu malunya sama. Apalagi coba?” ujarku.
Vidia hanya bisa mengelus dada.
“Nah, kalo elo siapa?” tanyanya padaku.
“Kayaknya adek gue itu Nala deh…” jawabku.
“Nala?! yang mana sih?” tanya Sisca.
“Itu lho, anak rumah Mawar yang putih, tinggi, punya tahi lalat di hidung itu lho!” uraiku
“Kok kayaknya elo yakin gitu, sih?” tanya Rosi.
“Soalnya, dulu tuh waktu kak Tia masih ada, dia suka sok jadi peramal dan ngeramal kalo adek gue bakal dari rumah Mawar, trus badannya tinggi gitu,” jelasku
“Oooo…!!!” Koor dari yang lain menyambut. Semua sudah paham akan kedekatanku dengan almarhum kak Tia.
“Duh, gue jadi pengin nangis lagi, nih” ujarku sambil mengelap pelupuk mataku.
“Jangan gitu dong …” ujar Vidia sambil memelukku disusul dengan yang lain.
Teeettt! Sudah jam tujuh malam.
***
Kapel mulai ramai, dipadati oleh anak-anak kelas XI dan XII yang aku tahu, pasti tengah penasaran. Siapa yang akan menjadi adik angkatnya. Setelah doa singkat dan pengantar dari kepala asramaku, pengambilan undian pun dimulai. Dimulai dari kakak kelas yang tahun kemarin belum dapat adik, sedang yang lain berbaris di belakangnya.
Kulihat Sisca terbingung-bingung dengan nama yang tertera di kertas undiannya. Atau barangkali ia mendapatkan adik angkat yang sama sekali di luar dugaannya.
Kulihat, tinggal tiga orang lagi di depanku. Kulihat Vidia menghampiri kakaknya, Kak Gloria, sambil menunjukkan kertas undiannya. Kulihat Kak Gloria tengah tersenyum puas. Tiba giliranku, kuambil salah satu kertas yang tergulung di atas keranjang rotan yang kecil. Saat kubuka, aku hampir terlonjak. Gembira, karena nama yang tertera itu NALA. Aku menghampiri Vidia yang sudah bergabung dengan yang lain.
“Siapa, Li?”
“Nala! Apa gue bilang. Adek gue Nala! N-A-L-A!” ujarku disambung dengan sorakan yang lain.
Ketika yang lain masih sibuk membayangkan adik barunya, aku tercenung. Kubayangkan di suatu tempat, kak Tia tengah tersenyum, puas karena ramalannya terbukti benar.
***
Aku, Rosi, Vidia, dan Meidy bersepakat untuk mengenakan jumper saat acara Pencarian Kakak di lapangan basket nanti. Sejak adik kelas X berkumpul di kapel untuk mendengarkan pengumuman, kami sudah standby di lapangan basket. Tak berapa lama, mereka sudah keluar dari kapel dan berhambur menuju lapangan basket.
“Kak Lily ya?” dari balik jumperku, aku tahu itu suara Nala.
“Kak Lily itu gue,” ujar Vidia
“Kak Vidia boong ah … Kak Lily kan nggak gendut,” cetusnya.
“Ayo dong kak Lily …” Nala mengguncang tubuhku.
“Seberapa yakin, dek?” tanya Rosi.
“Yakin dong! Kak Lily kan MC waktu MOS,” ujarnya.
“Lily kan ada dua dek,” ujar Sisca.
“Lily yang satu lagi itu kelas XII, kak” jawabnya mantap. Pinter juga adek gue, pikirku.
“Udah aja Li, elo ngaku aja deh. Adek elo kepinteran,” ujar Meidy. Aku pun segera membuka topi jumper yang menyamarkanku.
“Kita di teras rumahku aja yuk!” ajakku, lalu kugandeng Nala menuju rumahku yang ada di sebelah utara lapangan basket. Kami duduk di kursi panjang putih yang ada di teras. Tak perlu waktu lama untuk akrab dengannya. Sampai akhirnya aku teringat lagi akan kak Tia.
Kulihat, tinggal tiga orang lagi di depanku. Kulihat Vidia menghampiri kakaknya, Kak Gloria, sambil menunjukkan kertas undiannya. Kulihat Kak Gloria tengah tersenyum puas. Tiba giliranku, kuambil salah satu kertas yang tergulung di atas keranjang rotan yang kecil. Saat kubuka, aku hampir terlonjak. Gembira, karena nama yang tertera itu NALA. Aku menghampiri Vidia yang sudah bergabung dengan yang lain.
“Siapa, Li?”
“Nala! Apa gue bilang. Adek gue Nala! N-A-L-A!” ujarku disambung dengan sorakan yang lain.
Ketika yang lain masih sibuk membayangkan adik barunya, aku tercenung. Kubayangkan di suatu tempat, kak Tia tengah tersenyum, puas karena ramalannya terbukti benar.
***
Aku, Rosi, Vidia, dan Meidy bersepakat untuk mengenakan jumper saat acara Pencarian Kakak di lapangan basket nanti. Sejak adik kelas X berkumpul di kapel untuk mendengarkan pengumuman, kami sudah standby di lapangan basket. Tak berapa lama, mereka sudah keluar dari kapel dan berhambur menuju lapangan basket.
“Kak Lily ya?” dari balik jumperku, aku tahu itu suara Nala.
“Kak Lily itu gue,” ujar Vidia
“Kak Vidia boong ah … Kak Lily kan nggak gendut,” cetusnya.
“Ayo dong kak Lily …” Nala mengguncang tubuhku.
“Seberapa yakin, dek?” tanya Rosi.
“Yakin dong! Kak Lily kan MC waktu MOS,” ujarnya.
“Lily kan ada dua dek,” ujar Sisca.
“Lily yang satu lagi itu kelas XII, kak” jawabnya mantap. Pinter juga adek gue, pikirku.
“Udah aja Li, elo ngaku aja deh. Adek elo kepinteran,” ujar Meidy. Aku pun segera membuka topi jumper yang menyamarkanku.
“Kita di teras rumahku aja yuk!” ajakku, lalu kugandeng Nala menuju rumahku yang ada di sebelah utara lapangan basket. Kami duduk di kursi panjang putih yang ada di teras. Tak perlu waktu lama untuk akrab dengannya. Sampai akhirnya aku teringat lagi akan kak Tia
“Nala, mau liat foto kak Tia?” tanyaku. “Kak Tia itu bekas kakak angkatku. Dia meninggal waktu mau kenaikan kelas. Tragis.”
“Mau!” jawabnya antusias setelah sesaat sempat tertegun.
Nala kuajak masuk ke rumahku. Menuju lokerku. Loker nomor tujuh, angka favoritku.
“Ini nih kak Tia,” ujarku sambil membuka pintu lokerku. Di bagian dalam pintu lokerku, kupasang banyak sekali foto kak Tia. Nala tertegun. Lama ia memandangi foto-foto itu. Mulutnya berkomat-kamit tapi tak bersuara.
“Kenapa, La?” tanyaku
“Ini… ini… kak Tia? Yang bener, kak?” Wajah Nala pucat seperti mayat.
“Ya bener dong dek! Ini kak Tia-ku. Emang kenapa?”
“Kapten basket itu, kan? Yang suka warna pink? Nomer punggung 12?”
“Kok tau?”
Nala tercenung dan berkumam:
“Aku tuh pernah ngobrol ama dia! Malah terkadang dia dateng ke rumahku.”
“Nggak mungkin lah dek! Kak Tia kan udah … nggak ada!” ujarku emosional. Kukira Nala hanya ingin mempermainkan aku.
“Bener kok Kak! Dia dulu juga di rumah Mawar, kan? Nomer loker 12?”
“Jangan bohong! Adek dikasih tau siapa?”
“Nala kan udah bilang kak, kak Tia itu kadang ngobrol ama Nala! Dia bahkan ada waktu perkenalan dengan kakak kelas.”
Aku terhenyak. Mana mungkin?
“Dia juga ada kok waktu Welcome Party kemarin,” lanjut Nala, yang membuatku semakin bingung.
“La, emang kak Tia itu gimana?” tanyaku
“Rambutnya di-rebonding, tingginya itu sekitar 170-an, trus telinganya ditindik tiga lobang, kan?” ujarnya lancar. Aku semakin bingung. Tak ada yang salah dari kata-kata Nala. Memang seperti itulah kak Tia.
“Lagi ngeliatin foto kak Tia ya?” tiba-tiba Vidia masuk sambil tersenyum. Aku tersenyum sambil mengangguk.
“Tau nggak? Kalian itu nggak ikutan doa bareng.”
“Nggak denger suara bel kok,” ujarku
“Emang nggak di-bel. Doa barengnya di lapangan basket kok”
“Biarin aja, nggak ketahuan kan, Vi?”
“Emang nggak ketahuan, tapi Tuhan tau! Li, udah jam sepuluh malem lho. Elo nggak kasian ama adek elo?” tanya Vidia.
Kulirik Nala, kulihat ia masih tercenung.
“Udah jam sepuluh? Ya udah deh, gue nganter Nala dulu. Vi, jangan tidur dulu.”
“Why?” tanyanya bingung.
“Ada deh! Ada yang ingin gue bicarain sama elo.”
Di kamar Vidia.
“Vi, masak adek gue tau banyak soal mbak Tia?” kataku tak ingin berbasa-basi lagi.
“Maksud elo?”
“Katanya, kak Tia tuh kadang dateng ke rumahnya trus ngobrol sama dia gitu.”
“Abis itu, dia cerita apa lagi?”
“Makanya gue bingung. Oh iya, masak katanya lagi, kak Tia tuh ada waktu Welcome Party kemarin”
“Emang ada,” jawabnya singkat
“Hah?!”
“Dia itu masih sering ke sini Li.”
“Elo tau dari siapa?”
“Gue liat sendiri. Nggak cuma gue, anak-anak lain juga ngeliat dia, tapi kami sengaja merahasiakannya dari kamu. Kami nggak ingin kamu terpukul lagi…”
***
Lima puluh hari kemudian, hari ini.
Misa peringatan seratus hari meninggalnya Tia Subiyanti.
Aku dan Nala bergandengan menuju kapel sekolah untuk mengikuti misa. Kulihat teman-teman sekelas kak Tia mengenakan seragam kelas mereka, kemeja dengan dasi merah. Seragam untuk menghormati mendiang Tia Subiyanti. Belum banyak yang memasuki kapel, saat kulirik Nala yang tengah melambaikan tangannya. Pandangannya tertuju ke salah satu sudut lapangan basket sekolah.
“Nala, ngapain sih?”
“Itu lho, kak Tia lagi melambaikan tangan ke kita. Dia kayaknya mau pergi deh.”
Di sudut lapangan basket yang ditunjuk oleh Nala tak kulihat siapa-siapa.
Kosong. Sunyi semata. Misteri.
